The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Seperti Anak Kecil



Nathan sedang duduk di samping ranjang ranjang rumah sakit milik Eil. Beruntung kala itu banyak ruang rawat VVIP yang kosong. Eil merajuk dan tidak ingin pulang. Dia memaksa untuk tidur di rumah sakit. Eil mengatakan dia tidak mau pulang kalau dia belum melihat Sulli sadar. Dokter mengatakan kalau Sulli baru bisa dijenguk besok pagi. Alhasil Eil memaksa untuk tidur di rumah sakit.


"Maafkan aku Eil. Aku bisa mengiyakan permintaan mu. Namun aku tidak yakin Jerome akan mau menikah dengan Sulli atau tidak. Dia manusia Eil, punya hati dan pemikiran sendiri. Tidak mungkin kita memaksa dia untuk menikahi wanita yang tidak dia cintai."


Nathan mengecup kening Eil sekilas. Dia meraba ponsel yang ada di dalam saku celananya. Setelah menemukan ponsel itu, Nathan menelpon seseorang.


"Halo Tuan," sapa orang di sebrang telepon.


"Tolong minta pengurus rumah untuk menyiapkan pakaian Nyonya. Dan ya, belikan beberapa pasang pakaian pria lalu bawa le rumah sakit xxx ukurannya sama dengan mu."


"Baik Tuan."


Nathan kembali berbalik menatap Eileria yang sedang tertidur pulas. Perlahan dia membuka selimut yang dikenakan Eil lalu naik ke atas ranjang dan ikut berbaring di belakang Eil. Tangannya terulur mengusap perut Eileria yang masih ramping seperti biasanya, mungkin sekarang sudah mulai ada tonjolan di bawah perut Eil. Namun itu sama sekali belum terlihat.


"Kalian harus selalu sehat," gumam Nathan. Dia mengecup pundak Eileria lalu ikut tidur.


Sementara di tempat lain. Jerome, laki-laki itu menatap Sulli dari balik pintu. Dia belum bisa menjenguk Sulli karena wanita cantik itu masih dalam masa observasi pasca operasi.


"Aku mohon sadarlah Sulli. Kau harus kuat. Aku yakin kau bisa melewati ini semua. Kau adalah wanita terhebat yang pernah aku temui. Aku mohon bangunlah!"


Jerome kembali duduk di kursi tunggu. Dia tidak akan mau pulang sebelum melihat Sulli sadar dan memastikan kalau dia baik-baik saja. Jerome sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan menjaga Sulli. Jadi dia tidak akan pergi kemanapun sebelum melihat Sulli siuman.


****


Keesokan paginya. Bara berjalan dengan tergesa menuju kamar Eilaria di rumah sakit. Semalam dia tidak tahu kalau Eil dan Nathan pergi dari rumah. Dia sudah tidur karena kelelahan. Padahal semalam Eil sempat mengirim pesan padanya. Namun dia tidak sempat membaca pesan itu.


Brakkkkkk.


Nathan dan Eileria menoleh saat pintu kamar mereka dibuka dari luar. Nathan yang kala itu sedang memakaikan sweater tipis pada Eileria langsung menarik sweater iti sampai atas. Kelakuan Bara ini sungguh sangat membuat Nathan jengkel. Semakin hari dia semakin minim attitude. Dia sudah seperti tanaman benalu yang selalu mengganggu ke romantis an Nathan dan Eileria.


"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu lebih dulu Bara!" Nathan menatap Bara tidak suka. Dia benar-benar ingin menenggelamkan Bara di sungai nil saat ini juga.


"Apa kau baik-baik saja Eil?" tanya Bara mendorong tubuh Nathan dan menggantikan posisi Nathan di depan Eileria. Bara memegang kedua bahu Eil dan menelisik setiap bagian tubuh wanita cantik itu untuk memastikan kalau Eil baik-baik saja.


"Eil baik-baik saja Bara." Nathan menyenggol dan mendorong Bara menjauh dari hadapan istrinya.


"Kau," ucap Bara menyenggol Nathan kembali.


"Kau!" Nathan melakukan hal yang sama kembali.


Eileria terkekeh melihat tingkah Nathan dan Bara yang sedang ribut di depannya. Mereka terlihat sangat lucu. Tom and Jerry dalam versi manusia. Benar-benar sangat menggemaskan.


"Stop!" titah Eileria menghentikan perseteruan yang sedang terjadi.


Nathan dan Bara langsung berhenti dan berdiri dengan tegap seperti seorang prajurit yang mendapat komando dari atasan mereka.


"Aku lapar," ucap Eileria.


"Aku akan membantu mu." Nathan dengan segera menggendong Eileria. Sementara Bara mengambil kursi roda dan memegang kursi roda itu supaya tidak bergerak dan Eil bisa duduk dengan nyaman.


Setelah Eil berhasil Nathan dudukkan di atas kursi roda, bukannya langsung membawa Eil ke kantin rumah sakit, kedua laki-laki dewasa itu malah kembali ribut lantaran terus memperebutkan siapa yang akan mendorong kursi roda Eilaria. Nathan kekeh kalau dia yang harus mendorong kursi roda Eil. Dan Bara juga sama kekeuh nya dengan Nathan.


"Astaga mereka seperti anak kecil," gumam Eileria menggelengkan kepalanya.


Wanita cantik itu menggerakkan kursi rodanya sendiri. Dia sudah terlalu malas untuk melihat pertengkaran Bara dan Nathan. Mereka sudah bukan anak kecil lagi. Jadi dia tidak harus selalu melerai mereka bukan?


'Kenapa kau sendirian Sayang? Nathan kemana?" tanya Darius membantu Eil mendorong kursi roda.


"Biasa Ayah. Nathan dan Bara sedang berseteru. Biarkan saja mereka, toh mereka sudah dewasa."


"Mereka harus ayah beri pelajaran karena sudah menelantarkan menantu ayah."


Eileria tersenyum. "Ayah, kenapa Ayah ada di sini?"


"Ayah ingin menjenguk sahabat baikmu. Namun sepertinya ayah harus menunggu beberapa jam lagi. Kita masih belum boleh menemui Sulli."


Eileria mengangguk. Dia juga sudah sangat ingin menemui Sulli, tapi Eil masih harus menunggu satu jam lagi sebelum dia bisa melihat keadaan Sulli dari dekat.


"Eil lapar Ayah. Kita pergi ke kantin saja dulu ya!"


"Baiklah, sesuai dengan keinginan menantu ayah yang paling cantik."


"Amber dan Alard tidak ikut Ayah?" Eileria kembali bertanya.


"Alard harus sekolah. Jadi Amber menunggu Alard pulang dari sekolahnya dulu baru akan ke sini," ucap Darius. Mereka ini sudah sampai di kantin rumah sakit. Darius menyuruh Eileria menunggu di salah satu meja yang ada di kantin itu sementara Darius pergi mengambil sarapan untuk dia juga untuk Eileria.


****


"Nathan Eil kemana?" tanya Bara ketika dia sadar kalau Eil sudah tidak ada di dekat mereka.


"Bukankah tadi Eil ada di sini?" ucap Nathan menunjuk area yang kosong di antara dia dan Bara.


Kedua orang itu celingukan mencari ke setiap sudut kamar, bahkan Nathan mencari Eileria di kamar mandi. Namun wanita yang dia cari tidak ada di sana.


"Tidak ada," ucap Nathan setelah dia menutup pintu kamar mandinya kembali.


Bara langsung keluar dari dalam kamar itu. Dia menatap lurus koridor panjang yang ada di sana. Dia juga tidak bisa menemukan Eileria.


"Apa mungkin Eil pergi ke kantin?" tanya Bara dengan kepada Nathan.


"Tapi kita harus turun menggunakan lift kan kalau mau ke kantin rumah sakit?" tanya Nathan kembali.


Mereka langsung berlari untuk mencari Eileria. Wanita cantik itu pasti akan kesulitan memencet tombol lift kalau dia memang benar-benar pergi ke kantin.


"Ini semua gara-gara kau Bara," hardik Nathan pada Bara.


Bara mendengus. Percuma dia meladeni Nathan dalam situasi seperti ini. Tidak akan ada artinya. Lebih baik dia fokus untuk mencari Eileria.


Sementara di tempat lain. Eileria sedang tersenyum sambil menerima suapan dari tangan Darius. Dia sangat bahagia karena Darius memperlakukannya seperti anak sendiri tidak seperti seorang menantu.


"Apakah makanan nya seenak itu?" tanya Darius.


Eileria menggeleng. "Sebenarnya tidak Ayah. Aku sedang kesal kepada Nathan dan Bara. Jadi aku harus bisa makan tanpa mereka. Biarkan mereka sadar kalau aku tidak selalu tergantung kepada mereka yang bertingkah seperti anak kecil."


"Dokter Eil!"


Eil dan Darius menoleh kepada orang yang menyebut nama Eil.


...To Be Continued....