
Nathan membatu Eileria untuk duduk di sebuah kursi roda. Satu minggu setelah Eil siuman, kondisinya sudah semakin membaik. Dia sudah semakin ceria dan lebih bersemangat. Keadaan nya yang masih belum bisa berjalan tidak membuat Eileria patah semangat dan murung.
"Apa sudah nyaman?" tanya Nathan.
"Heum.. Ini sudah pas, sekarang kita akan pergi ke taman kan?" tanya Eileria menatap Nathan yang sedang jongkok di hadapannya.
Laki-laki itu terlihat sangat tampan. Dia sangat baik dan pengertian, sikap Nathan yang hangat dan lembut membuat Eil lagi-lagi di buat jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya. Kesabaran Nathan dan juga ketelatenan nya merawat Eileria membuat wanita itu semakin lama semakin bersyukur. Dia selalu merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia, Nathan memperlakukan nya seperti seorang putri, wajar saja jika hati Eil sangat tersentuh.
"Kita pergi sekarang."
Cup...
Nathan mengecup kening Eileria sekilas lalu membetulkan letak kardigan yang di kenakan Eil dan mendorong kursi rodanya keluar dari area rumah sakit. Eil maupun Nathan sangat senang. Mereka memiliki waktu banyak untuk bersama setelah beberapa bulan terakhir terpisah.
"Apa kau tidak mual lagi Baby?" tanya Nathan di sela-sela kegiatannya mendorong kursi roda Eil.
Eileria menggeleng. Dia mengusap punggung tangan Nathan menggunakan tangannya yang tidak terluka. "Aku tidak mual lagi, calon bayi kita memang sangat menyukai udara segar. Mungkin dia tahu kalau kita akan pergi keluar, jadi dia tidak merusuh."
Nathan terkekeh. Penjabaran Eileria yang mengatakan kata merusuh menjadi sangat lucu. Apa Eileria berpikir kalau anak yang dia kandung sudah bisa membuat keributan?
"Kau ini sangat lucu Baby, bagaimana mungkin calon anak kita sudah bisa merusuh. Dia itu masih kecil. Usianya saja masih 7 minggu."
Eileria ikut terkekeh. Nathan benar. Calon bayi mereka memang masih terlalu muda untuk bisa melakukan hal-hal seperti itu.Tapi perubahan hormon dalam tubuh Eileria juga di sebabkan karena datangnya janin ke dalam rahimnya bukan? Jadi bisa di katakan kalau Eil sering mual karena janin yang ada di dalam rahimnya itu.
Sepuluh menit kemudian. Eileria dan Nathan sudah sampai di area taman rumah sakit yang sangat indah dan juga sangat luas. Rerumputan di sana sangat hijau, apalagi bunga-bunga yang sedang bermekaran terlihat sangat cantik.
Eileria tersenyum ketika melihat banyaknya bunga Azalea yang tumbuh di sana.
"Nathan aku ingin ke sana!" tunjuk Eileria pada bunga-bunga Azalea yang tumbuh dengan subur dan berkelompok.
"Kau mau melihat bunga itu Baby?" tanya Nathan mendekatkan wajahnya ke wajah Eileria.
Eileria mengangguk dengan cepat. Nathan yang melihat itu langsung mendorong kursi roda yang di gunakan Eil mendekat ke arah bunga-bunga Azalea yang Eil maksud.
"Kau mau bunga seperti itu Baby?"
Eileria menggeleng. "Aku tidak ingin membuat mereka yang di beri kesempatan hidup mati Nathan. Sudah cukup puluhan atau mungkin ratusan orang yang telah aku bunuh menggunakan tangan ku. Sekarang aku akan berubah, aku tidak akan sembarangan membunuh apapun yang bernyawa. Aku janji Nathan."
Nathan jongkok di depan kursi roda Eil. Satu lututnya dia tempelkan di atas jalan yang di tutupi rumput sintetis. Tangannya meraih tangan Eil dan mengelus nya lembut.
"Aku bahagia karena sekarang kau sudah mau berubah Baby. Aku sangat berterimakasih padamu. Kita lupakan masa lalu dan mulai lembaran baru ya. Semua yang pernah terjadi di masa lalu hanya sebuah perjalanan hidup. Mungkin aku egois karena mengatakan ini, tapi aku tahu, aku tahu dengan sangat jelas bahwa apa yang kau lakukan di masa lalu bukan semerta-merta karena kau menyukai dan menikmati saat-saat kau membunuh para musuh mu itu. Biarkan aku menjadi orang jahat untuk sekali ini saja Eil."
"Ekehemmmm..."
Nathan dan Eil langsung melepas pelukan mereka ketika mendengar suara seseorang yang berdehem di dekat mereka. Nathan maupun Eil menoleh ke arah sumber suara. Untuk beberapa detik, Eil diam. Tapi detik berikutnya dia memekik ketika melihat Bara ada di depannya.
"Kau masih hidup Bara?" ucap Eileria sambil tertawa renyah. Bara tersenyum. Kenapa Eil mendadak ramah padanya. Bukankah selama ini dia selalu bermuka masam ketika bertemu dengan Bara. Tapi saat ini, saat ini wanita yang dia cintai itu tersenyum bahkan tertawa kepadanya.
"Apa yang kau lakukan di sini Bara? Darimana kau tahu kalau Eil di rawat di rumah sakit ini?" tanya Nathan ketus.
Bara tidak menjawab pertanyaan dari Nathan. Dia malah berjalan ke arah Eileria lalu berjongkok di depan wanita cantik itu.
"Kau mengais tangan mu hmm? Seharusnya kau mengais bayi!" ucap Bara yang membuat seorang Eileria tersenyum.
Nathan sudah mengepalkan kedua tangannya di samping tubuhnya. Dia sangat kesal karena Bara dan Eil terlihat sangat akrab. Mereka bahkan mengobrol dengan santai meskipun di dekat mereka ada Nathan yang sudah kebakaran jenggot.
"Aku sebentar lagi akan memiliki bayi Bara."
Deg...
Raut wajah Bara langsung berubah. Dia yang tadinya sangat bahagia dan tersenyum cerah kini malah melamun, wajahnya gelap segelap awan hitam yang siap menurunkan air hujan.
Benarkah yang dia dengar. Eileria nya akan segera memiliki bayi, tapi bagaimana mungkin. Bukankah selama ini Eil tinggal terpisah dengan Nathan, bahkan perutnya saja masih terlihat sangat rata.
"Calon bayiku masih kecil Bara," ucap Eileria ketika melihat Bara menatap ke arah perut rata nya.
Hancur sudah hati Bara. Harapannya hilang. Dia sudah dihancurkan untuk yang kesekian kalinya. Bajingan di sampingnya ini sudah membuat Eileria nya hamil. Dia sangat ingin menghajar Nathan, tapi ketika melihat wajah berbinar Eileria, dia merasa tidak tega. Dia takut Eil akan kembali bersikap ketus kepadanya.
"Aku senang mendengar kabar ini Eil. Semoga kau dan bayi mu sehat. Aku harap kau akan baik-baik saja."
Eileria tersenyum. "Kau adalah paman dari anak yang aku kandung, aku akan berhenti dari pekerjaan lamaku Bara. Aku harap kau juga akan kembali ke jalan yang benar. Aku mau kau juga berubah. Aku tidak ingin anakku memiliki paman seorang mafia kejam."
Bara diam. Dia merasa ada sesuatu yang aneh dengan dirinya. Kenapa hatinya mendadak terenyuh ketika mendengar Eil menyebutnya sebagai paman dari anak yang dia kandung. Apa Eil sudah menerima nya sebagai keluarga? Haruskah Bara benar-benar berhenti dari dunia gelapnya?
"Oh iya Bara, bagaimana kabar Dragon?"
Bara yang hendak mengeluarkan kata-kata mendadak kelu. Pertanyaan Eil kepadanya membuatnya bingung harus menjawab apa.
...To Be Continued....