The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Alard Marah



Prang!!!


Piring yang ada di tangan Amber hancur berantakan di atas lantai. Amber memegangi dadanya karena di merasa sangat terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.


"Ada apa ini?" tanya Darius langsung turun dari lantai atas ketika dia mendengar suara keributan di lantai bawah.


"Ayah!" panggil Amber dengan suara yang bergetar.


Lukas menatap Alard dengan mata yang melotot. Bocah kecil itu dengan gagah berani membalas pelototan Lukas sambil berdecak pinggang.


"Alad benci Daddy, Daddy gak sayang sama Mommy Ambel. Mommy Ambel salah apa Daddy, bahkan calon adik bayi sudah Mommy kolbankan, kenapa Daddy sangat jahat."


Lukas diam. Dia tidak tahu harus berbicara apa. Alard marah padanya seperti orang dewasa. Ya, dia memang mengabaikan Amber karena dia masih tidak suka pada gadis itu. Lukas juga tidak pernah meminta Amber untuk berbuat baik padanya. Lalu kenapa Lukas harus membalas perbuatan baik Amber.


"Dengarkan Daddy Alard, kau membanting barang seperti itu karena marah kepada Daddy? Apa Daddy pernah mengajarkan hal kurang ajar seperti itu padamu?"


Lukas bertanya sambil menatap bocah laki-laki itu. Dia tidak habis pikir, kenapa Alard begitu membela Amber dibanding dirinya.


"Kau pikil kau kelen kalena kau sudah dewasa Daddy? Daddy itu sama sekali tidak kelen. Daddy tidak pelnah lebih kelen dali Mommy Ambel."


Alard mendengus. Dia membuang wajah dari Lukas. Setelah puas berteriak kepada ayahnya, Alard berjalan mendekati Amber dan juga Darius.


"Ayo Kakek, Mommy, kita tinggalkan saja Daddy di sini. Jangan ada yang mengajak Daddy bicala, kalau ada yang mengajak Daddy bicala, Alad akan malah."


Darius dan Amber mengangguk. Mereka mengikuti Alard yang menarik tangan mereka dan hendak berjalan ke lantai atas.


"Belsihkan semua kekacauan itu Lukas!" titah Alard sebelum dia melanjutkan langkahnya. Darius sungguh sangat ingin tertawa. Alard memang masih kecil, namun tingkahnya yang seperti ini membuatnya terlihat seperti orang dewasa.


"Dasar anak gak punya sopan santun. Awas aja, kalau kamu minta sesuatu padaku, aku tidak akan pernah membelikannya."


Lukas menggerutu. Dia membersihkan pecahan piring itu meskipun sebenarnya dia sangat enggan. Para pelayan dirumahnya tidak ada yang menginap. Mereka selalu pulang setelah hampir malam. Jadi, Lukas dengan sangat terpaksa harus membereskan kekacauan yang telah anaknya buat.


Sementara di lantai atas, di dalam kamar Alard, Darius sedang tertawa terbahak-bahak. Dia masih mengingat bagaimana ekspresi kesal Lukas ketika Alard menegurnya. Anaknya itu memang terkadang sangat bijak dan dewasa. Namun kalau sudah menyangkut urusan pribadi seperti cinta, dia akan sangat egois dan keras kepala.


"Kakek kenapa?" tanya Alard polos.


Darius memegangi perutnya sambil berusaha menghentikan suara tawanya. "Tidak apa-apa Sayang, Kakek hanya salut padamu. Kakek pikir Alard lebih cocok jadi ayah untuk Lukas daripada sebaliknya."


Amber tersenyum. Dia menarik tangan Alard lalu mendudukkan nya di depannya. "Alard Sayang! Mommy tahu, apa yang Alard lakukan itu untuk membantu Mommy, tapi, Alard harus tahu, Daddy itu Ayah kamu Sayang, tidak baik berbicara tidak sopan kepada orang tua seperti itu. Lain kali, kalau Alard mau membantu Mommy, tegur Daddy dengan cara yang baik oke!"


Alard mengangguk. Dia memeluk Amber lalu membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu sambung. "Alad sangat menyayangi Mommy, Alad tidak suka Daddy bersikap seperti itu terus kepada Mommy. Alad mau Mommy dan Daddy segera baikan."


Darius maupun Amber tersenyum tipis mendengar keinginan sederhana dari Alard namun mereka tidak bisa mewujudkan itu. Jika saja Alard meminta hal lain yang bisa di beli, mungkin Darius dan Amber akan langsung memberikan apa yang Alard mau. Namun ini berbeda, masalah hati dan perasaan tidak bisa di paksakan bukan? Seberapa keras pun mereka berusaha, hanya Lukas yang bisa menentukan hasilnya. Hanya dia yang bisa mewujudkan keinginan Alard.


Malam itu, Alard, Darius juga Amber bermain di kamar Alard dengan penuh kegembiraan. Mereka bahkan sampai ketiduran di kamar Alard. Bocah kecil itu seperti sebuah robot yang mempunyai baterai double power. Dia tidak pernah merasa capek meskipun orang yang menemaninya bermain sudah sangat lelah dan mengantuk.


Pagi harinya, di hari minggu, Alard dan Amber juga Darius sudah rapih dengan pakaian santainya. Mereka sedang sarapan di meja makan dengan nikmat, bahkan sesekali suara tawa dari ketiga orang itu membuat susana pagi hari di meja makan terdengar sangat ramai.


"Selamat pagi!" ucap Lukas lalu duduk di kursi yang ada di sebelah Amber.


"Mommy, Alad sudah selesai makan. Kita pergi sekarang ya!"


Amber mengangguk. Dia merapikan piring kotor bekas Alard, dirinya dan juga Darius. Amber sama sekali tidak memperdulikan Lukas yang saat ini sedang diam melongo memperhatikan semua orang yang sibuk dengan kegiatan mereka namun mengabaikan dirinya.


"Kalian mau pergi ke mana?" tanya Lukas lagi.


Masih tidak ada yang menyahut. Bahkan Darius sudah beranjak dari duduknya. Dia menarik tangan Alard lalu mengajaknya pergi dari ruang makan.


"Apa kalian semua tuli? Kenapa kalian mengabaikan pertanyaan ku?" tanya Lukas dengan suara yang dia naikkan.


"Bi, tolong bereskan makanan yang ada di atas meja ya! Kita akan berangkat sekarang. Sebelum Bibi pulang, kita akan usahakan untuk pulang lebih awal."


Bibi pelayan itu mengangguk, dia berjalan mendekati meja makan lalu mulai mengambil beberapa makanan yang sudah tersaji di sana.


"Mau apa Bi? Saya belum makan," ucap Darius menarik piring berisi makanan yang sedang di tarik oleh Bibi pelayan di rumah itu.


"Maaf Tuan muda, ini adalah masakan Nyonya Amber, dan Tuan kecil mengatakan kalau Anda tidak boleh memakan masakan ini "


Bibi Han yang kala itu masih kekeh dengan pendiriannya terus berusaha untuk menarik piring yang sama-sama sedang di tarik oleh Lukas. Dan pada akhirnya, Bibi Han bernapas lega karena dia berhasil merebut piring itu.


"Maaf Tuan Muda, di dapur masih ada stok roti. Kalau Tuan muda mau, saya akan buatkan roti panggang."


Lukas mendengus. "Tidak usah. Saya sudah tidak selera makan."


Bibi Han mengangguk. Dia memutar tubuhnya lalu berjalan menjauhi Lukas.


"Bi tunggu!"


"Iya Tuan," jawab Bibi Han kembali berbalik.


"Mereka mau pergi ke mana?" tanya Lukas melihat ke arah luar.


"Maksud Tuan, Tuan Alard?"


Lukas mengangguk. "Iya, mereka mau kemana? Seperti ada yang seru, kanapa mereka pergi pagi-pagi sekali?"


"Tuan Besar, Nyonya dan Tuan Kecil akan bertemu dengan Tuan Nathan dan Nyonya Eil Tuan. Kalau tidak salah Kakak Nyonya juga akan ikut bergabung dengan mereka."


"Jerome?"


Bibi Han mengangguk. Dia membungkuk ke arah Lukas lalu kembali ke dapur.


"Apa yang ingin mereka bicarakan? Kenapa tidak ada yang mengajak ku untuk pergi?"


Lukas masih berpikir untuk beberapa saat. "Aku harus mengikuti mereka. Aku harus tahu apa yang akan mereka lakukan tanpa ku."


...To Be Continued....