
Hari ini Amber dan Jerome bertingkah seperti orang yang habis kepergok melakukan hubungan asusila. Tidak ada yang mau membuka suara atau sekedar menanyakan hal-hal yang biasa mereka tanyakan. Mereka terlalu malu untuk saling berinteraksi.
"Kak!"
"Amber!"
Ucap mereka berbarengan. Amber dan Jerome kembali gugup.
"Kau duluan!" ucap Amber.
"Maaf untuk yang semalam Amber. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku tidak akan melarang mu dekat dengan Lukas. Kau bebas memilih orang yang kau sukai. Aku tidak keberatan."
Amber diam, dia bingung harus mengatakan apa. Sebenarnya tadi dia memang ingin menanyakan masalah ini, tapi karena Jerome sudah lebih dulu menjelaskan nyan, Amber tidak punya keberanian untuk menanyakan kejadian itu lebih detail lagi.
"Apa yang ingin kau katakan Amber?" tanya Jerome ketika melihat Amber hanya diam sambil menatap lurus ke arah luar kaca mobil yang sedang mereka tumpangi.
"Aku tidak ingin mengatakan apa-apa Kak. Aku hanya ingin mengatakan kalau aku minta maaf, waktu itu aku mengatakan hal-hal yang kurang pantas."
Jerome mengangguk. Sebenarnya dia juga sudah memaafkan Amber untuk hal itu. Dia menjauh dari Amber karena dia kurang suka melihat Amber semakin dekat dengan Lukas.
"Aku sudah melupakan masalah itu. Kau tidak perlu berpikir banyak. Belajarlah dengan baik. Buat aku bangga dengan hasil kerja keras mu itu."
Amber mengangguk. "Baiklah Kak, aku pasti akan membuat Kakak bangga," ucap Amber yakin.
"Kita sudah sampai. Kau bisa turun sekarang!" titah Jerome.
Cup...
Amber mengecup pipi Jerome sekilas. Setelah melakukan itu dia langsung turun dari mobil Jerome dengan tergesa.
"Terimakasih Kak!" teriak Amber sambil melambaikan tangan pada Jerome.
Jerome hanya tersenyum melihat tingkah Amber yang kembali seperti dulu. Meski dia tidak tahu Amber berterimakasih untuk apa, Jerome tidak mempermasalahkan hal itu. Yang penting hubungannya dengan Amber kembali membaik.
Drtzzzzz... Drtzzzzz....
Jerome mengambil ponselnya yang berdering lalu menempelkannya ke telinga.
"Halo Eil," ucap Jerome pada orang di sebrang telepon.
"Baiklah, aku akan segera ke sana."
Setelah menyimpan kembali ponselnya, Jerome langsung tancap gas dan pergi ke tempat yang sudah Eil sebutkan tadi.
Kurang dari satu jam, dia sudah sampai di tempat itu. Jerome masuk dengan langkah yang tergesa. Meski dia tidak datang bersama Eil, dia sudah sangat mengetahui tempat ini karena dia sudah sering datang.
Krieetttt...
Pintu ruangan Dragon terbuka. Eil yang sedang duduk di depan Dragon memutar tubuhnya dan melihat Jerome berjalan ke arahnya.
"Kau sudah datang Jerome?. Duduklah!" titah Eil.
Jerome duduk tanpa menanyakan apapun. Dia menatap Eil dan Dragon bergantian.
"Belle masih hidup," ucap Eil yang membuat Jerome terkejut.
"Bagaimana bisa? bukankah saat itu Bara sudah membawanya?" tanya Jerome.
Eil menggeleng. "Aku juga tidak tahu, ponsel lamanya sudah tidak aktif. Dan aku rasa, bukan Bara yang melepaskan dia. Ada orang lain yang melepaskan nya. Bara bukan tipikal orang yang mudah mengampuni musuh. Dia akan langsung membantai orang itu ketika dia merasa terancam."
Jerome mendengarkan setiap kata yang Eil ucapkan. Dia semakin bingung, kenapa orang-orang jahat seakan terus muncul dan tak pernah habis. Apa memang populasi orang-orang seperti mereka lebih banyak dari orang-orang baik.
"Dan, aku tidak ingin mengatakan ini, tapi sepertinya aku harus mengatakannya."
Jerome dan Dragon menunggu kalimat yang akan keluar dari mulut Eil. Jika dia sudah berbicara dengan ekspresi serius seperti ini, pasti ada hal besar yang ingin di katakan Eil pada mereka.
"Besok aku ada jadwal operasi. Dan kalian harus tahu siapa orang yang akan aku bedah besok."
Eil menyuruh Jerome dan Dragon untuk mendekat ke arahnya. Orang-orang itu menurut dan mengikuti apa yang Eil perintahkan.
Eil langsung menjauhkan wajahnya ketika dia sudah membisikan sesuatu pada orang-orang yang ada di hadapannya itu.
"Apa kau yakin?" tanya Dragon masih terkejut.
"Tentu saja. Aku sangat yakin, tidak ada orang lain dengan mana seperti itu di dunia ini, maksudku, mungkin saja ada. Tapi yang paling terkenal adalah orang itu lah."
****
Keesokan harinya. Eil sudah bersiap-siap untuk pergi bekerja. Dia mengenakan pakaian kasual yang sangat sederhana. Pagi ini dia di buat bahagia karena dia akan menemui pasien sepesial.
"Kenapa kau sangat bahagia Baby?" tanya Nathan. Laki-laki itu mengambil ikat rambut yang ada di tangan Eil lalu membantu Eil untuk mengikat rambutnya.
Eil langsung berbalik ketika Nathan sudah selesai membantunya mengikat rambut.
'Nathan kau tahu kenapa aku sangat bahagia?" tanya Eil sambil memainkan jemarinya di atas dada bidang Nathan.
"Tentu saja aku tidak tahu, kau tidak mau memberitahu ku bukan?"
Eil menggeleng. "Hari ini aku akan melakukan operasi yang sangat penting. Orang yang akan aku operasi ini bukan orang biasa. Dia tidak pernah masuk rumah sakit sebelumnya. Tapi sekarang, dia datang ke rumah sakit tempat ku bekerja dan akan melakukan sebuah operasi besar."
Nathan di buat bingung dengan ucapan istri kecilnya. Kenapa Eil senang ketika melihat orang sakit? dan Nathan tahu, kalau orang itu akan di bedah oleh Eil, berarti penyakitnya bukan penyakit biasa.
"Kau nakal Baby," ucap Nathan mencubit hidung Eil.
"Kenapa?" tanya Eil sambil mendongak.
"Bagaimana mungkin kau bahagia ketika melihat orang sakit."
Eil mendesis. "Eiissssh...Kamu tidak tahu Nathan, dia itu sangat tangguh. Tapi sekarang nyawanya ada di tangan ku. Aku senang bukan karena dia sakit. Tapi ada satu hal yang tidak bisa aku ceritakan padamu."
"Baiklah, terserah kau saja."
Cup....
Nathan mengecup bibir Eil sekilas.
"Lagi!" rengek Eil ketika Nathan tidak melakukan hi sapan vakum yang sangat dia sukai.
Nathan tersenyum. Mendapat undangan seperti ini tentu saja Nathan senang.
****
Eil masuk ke area rumah sakit dengan langkah yang pasti. Wajahnya berbinar . Mungkin dia benar-benar bahagia karena akan melakukan operasi untuk seseorang.
"Selamat pagi Dokter!" sapa beberapa perawat dan staf yang melihat Eil masuk ke dalam rumah sakit.
"Daniel!" panggil Eil kepada orang yang baru saja keluar dari dalam ruangannya.
"Eil!" gumam Daniel.
"Aku harap kali ini operasi kita berjalan dengan lancar ya!"
Daniel tersenyum. Tidak biasanya Eil seperti ini. Pagi ini Eil terlihat sangat ceria dan lebih bersemangat.
"Eum... Aku harap juga begitu Eil."
Enam jam kemudian, Eil sudah keluar dari ruang operasi. Dia semakin tersenyum lebar karena operasi yang dia lakukan dengan timnya berjalan dengan sempurna.
"Daniel! kali ini aku yang akan mengobservasi pasien yang baru saja selesai kita operasi. Kau boleh memantau pasien yang lain."
"Baiklah Eil."
"Sebenarnya apa yang terjadi? tidak biasanya seorang Eileria mau memantau kesehatan pasien pasca operasi secara langsung," gumam Daniel dalam hati. Dia masih memperhatikan Eil yang mulai menjauh dan menghilang dari pandangannya.
...To Be Continued....