
"Kenapa diam Kak?"
"Kenapa kau menanyakan hal yang belum pasti Eil? Aku tidak berniat untuk menikah. Aku akan selalu ada untuk kalian. Untuk mu dan untuk calon keponakan ku. Dan untuk Nathan juga," ucapnya saat melihat Nathan berjalan mendekat ke arah dia dan Eileria.
Eileria menggeleng. "Aku tidak tahu kenapa aku tiba-tiba menanyakan ini Kak. Aku hanya punya firasat kalau kau akan menikah namun tidak tahu kapan. Aku merasa kau akan pergi jauh dariku."
Nathan memeluk Eileria dari belakang. Bara juga sekarang memilih untuk berdiri.
"Jangan mencegah Bara untuk menikah Baby. Biarkan dia memiliki kehidupan sendiri. Dia harus menjalani kehidupan normal seperti apa yang kita lakukan sekarang. Bukankah kita juga berencana untuk kembali ke negara asal mu?" tanya Nathan membenamkan dagunya di bahu istri cantiknya.
"Aku tidak akan melarang Bara untuk menikah Nathan. Aku hanya minta, jangan menikah sebelum anak yang aku kandung lahir. Aku ingin melepaskan Bara ketika aku sudah ikhlas."
Bara tersenyum. Dia mengusap kepala Eil lembut. "Aku janji aku tidak akan menikah sebelum keponakan ku lahir. Dan kalaupun aku menikah, aku tidak akan berada jauh dari kalian. Aku tidak janji, namun aku akan mengusahakan nya."
Eil mengangguk. "Kau harus memegang kata-kata mu Kak!"
"Aku akan melakukannya."
"Ayo kita pergi ke kamar Nathan. Aku ingin mandi. Biarkan Bara istirahat. Aku juga sudah cukup melihatnya sore ini. Kita akan bertemu lagi saat makan malam."
Bara mengangguk. Dia tersenyum menatap punggung Nathan yang mulai menjauh dari pandangannya. Hatinya tiba-tiba merasa resah. Entah kenapa dia merasa ada uang aneh dengan ucapan Eileria. Semenjak wanita itu hamil, firasat nya selalu menjadi kenyataan. Apakah firasatnya tentang pernikahan dan kepergian Bara juga akan menjadi sungguhan?
Beralih ke kamar Nathan dan Eileria. Ibu hamil itu sedang asyik berendam di bathtub. Sementara Nathan sedang sibuk menggosok punggung putih mulus milik Eileria. Dia mengecup punggung itu sekilas.
Tubuh Eil meremang menerima rangsangan yang dilakukan Nathan padanya. "Nathan jangan lakukan itu lagi!" pekik Eil sedikit tertahan.
"Aku tahu, dokter mu mengatakan kalau kita dilarang berhubungan intim untuk beberapa bulan ke depan bukan?" tanya Nathan dengan suara yang lesu.
Eil tahu suaminya tidak bersemangat. Dia menarik tangan Nathan membuat laki-laki itu mengubah posisi duduknya di depan Eileria.
"Masuklah!" ucap Eil.
"Aku?" tunjuk Nathan pada dirinya sendiri.
Eileria mengangguk. "Masuklah sebelum aku berubah pikiran. Biarkan aku membantumu," ucap Eil dengan nada suara manjanya. Dia mengedipkan sebelah matanya membuat Nathan menjadi lebih bersemangat.
"Aku akan masuk," ujar Nathan melepas semua pakaiannya lalu masuk ke dalam bathtub.
Nathan terperanjat saat tangan mungil istrinya mulai meraba ujung kakinya lalu terus naik sampai ke pangkal pahanya. Dia ingin bersorak namun tidak mungkin, perasan geli sekaligus nikmat dia rasakan dalam waktu yang bersamaan.
"Jangan menggodaku Baby!" ucap Nathan menahan tangan Eileria.
"Aku akan melakukannya perlahan Sayang. Diam atau aku patahkan rudal mu ini." Eileria mencengkram kuat sesuatu yang sudah menegang di bawah air sabun yang merendam hampir sepertiga tubuh mereka.
Saat Eil dan Nathan sedang ayik dengan kegiatan mereka, di tempat lain, tepatnya di apartemen Sulli, wanita cantik bergerak gelisah dalam tidurnya. Dia terus mencengkram kuat perut bagian bawahnya.
"Akh ... Sakit," gumamnya semakin meremas kuat perutnya.
"Sulli! Apa yang terjadi?" pekik Jerome langsung bangun dan menarik bahu Sulli lalu memeluknya.
"Sepertinya aku datang bulan Jerome. Sakit, aku tidak bisa menahannya lagi."
"Sulli sadarlah!" teriak Jerome ketika Sulli hilang kesadaran dan terkulai lemah di atas pangkuannya.
Jerome menyibak selimut yang Sulli gunakan. Alangkah terkejutnya dia saat melihat darah segar memenuhi kain penutup ranjang itu. Dia kembali panik. Kenapa hal ini harus terjadi lagi. Dulu Amber yang mengalami pendarahan. Sekarang Sulli. Kenapa Tuhan sangat suka menyakiti orang-orang yang dia sayangi.
Sayang? Ya, meskipun Jerome belum tahu dia mencintai Sulli atau tidak, namun dia tahu dan sangat yakin kalau dia menyayangi wanita cantik ini. Wanita yang selaku membuatnya merasa berharga dan merasa sangat di cintai.
"Bertahan Sulli! Kita akan ke rumah sakit sekarang," ujar Jerome membopong tubuh Sulli membawanya masuk ke dalam mobil. Setelah mendudukkan Sulli di kursi depan, Jerome langsung tancap gas. Dia tidak memperdulikan penampilannya yang hanya memakai celana traning panjang tanpa mengenakan kaos atau apapun yang bisa menutupi tubuh bagian atasnya.
"Kenapa ini bisa terjadi? Kau tidak mengalami hal yang sama seperti Amber bukan? Aku sudah sangat hati-hati. Bahkan kita juga menggunakan pengaman. Namun kenapa kau bisa mengalami ini?"
Jerome berusaha untuk fokus menyetir meskipun pikirannya kalut. Dia tidak punya sopir pribadi. Dia juga harus membuang waktu lagi kalau dia memesan taksi. Meskipun pikirannya kacau dia berusaha untuk tidak terganggu.
Tiga puluh menit kemudian, dia dan Sulli sampai di depan IGD rumah sakit. Dia langsung membuka pintu mobil dan mengeluarkan Sulli dari dalam mobil itu. Beruntung karena saat itu paramedis siap siaga. Jadi Sulli bisa langsung di tangani dan di bawa ke instansi gawat darurat.
"Tolong selamatkan Sulli Tuhan. Dia adalah wanita yang baik. Aku janji, aku akan menjaganya dengan baik kalau kau memberikannya kesempatan untuk hidup."
Jerome duduk di kursi tunggu masih dengan penampilan acak-acakan nya. Dia tidak memperdulikan tatapan aneh semua orang yang melihatnya. Dia seperti seorang gembel. Tidak mengenakan pakaian juga tidak memakai sandal. Dia tidak punya waktu untuk itu.
"Aku harus memberitahu Eileria," gumam Jerome mencari ponsel di dalam saku celananya.
"Shi* aku lupa membawa ponsel," geramnya meninju kursi stainless yang dia duduki.
Dia melihat ke kiri dan ke kanan lorong yang ada di rumah sakit itu. Jika dia mau berjalan sepuluh langkah, dia akan menemukan meja resepsionis di sana. Dia harus melakukan pendaftaran juga.
Jerome dengan segera berlari menuju tempat yang tadi dia perhatikan. "Maaf Mbak. Boleh saya pinjam teleponnya? Saya ingin menghubungi teman saya," ucap Jerome.
Perawat yang berjaga kala itu memberikan telepon kepada Jerome. Laki-laki itu dengan susah payah mengingat nomor Eileria. Seharusnya dia masih mengingatnya karena dulu nomor itu sudah ada di luar kepala.
Setelah yakin, Jerome segera menekan beberapa tombol angka dan menelpon sahabat dari wanita yang kini sedang berjuang antara hidup dan mati di dalam IGD.
"Halo Eil. Ini aku Jerome."
...
Terdengar suara pekikan dari sebrang telepon. Wanita yang diberitahu bagaimana kondisi Sulli sekarang langsung menutup panggilan Jerome setelah Jerome memberitahu Eil di rumah sakit mana dia sekarang.
...To Be Continued....
...Hai reader. Untuk cerita Bara dan jodoh di masa depannya mending di gabung di sini apa buat judul baru aja? Please komen dan kasih Author saran bagaimana baiknya menurut kalian....
......Love sekebon untuk kalian pembaca setia Novel ini dan juga para pendukung setia Author. Big Hug dari tukang halu yang masih amatiran ini.......