
"Ini kantor. Apa kau akan melakukannya di sini?" tanya Eil dengan suara yang lirih. Bukannya dia tidak mau melayani suaminya. Tapi ini kantor bukan kamar hotel.
Nathan menggeram, dia sudah tidak bisa menahan gejolak yang ada di dalam dirinya. Tubuhnya panas seakan Eil adalah bara api yang membakar seluruh tubuhnya. "Aku menginginkan mu sayang," bisik Nathan tepat di depan bibir istrinya. Eil ingin menjawab perkataan suaminya, namun dia kalah cepat dengan Nathan.
Siang itu cuaca di luar sedang panas, namun di dalam ruang kerja Nathan suasananya lebih panas lagi. Suara decapan, de sa han dan era ngan semakin lama semakin merdu. Alunan cinta dari kedua vokalis band rumah tangga itu semakin lama semakin menggema. Eil sendiri tidak mengerti. Bukankah kaki suaminya ini sedang terkilir? tapi kenapa dia masih ganas seperti sebelumnya. Bahkan Nathan tidak segan-segan berpindah-pindah tempat. Berbagai gaya pun sudah mereka coba.
Bukan hanya di sofa dan di atas meja, mereka bahkan melakukannya di atas kursi kebesaran Nathan. Apa suaminya ini gila se ks? tapi entah kenapa Eil juga sangat menyukainya. Tubuh Nathan yang 3 kali lebih besar dari tubuhnya membuat Eil tidak bisa berkutik. Dia hanya bisa memimpin permainan kalau suaminya itu mengijinkannya.
"Nathan aku....."
"Yes Baby?... Keluarkanlah!" titah Nathan yang masih menaik turunkan pinggul Eil di atas pangkuannya. Sementara bibirnya masih terus fokus meng hi sap dan menggigiti chokoship milik Eil.
Setelah hampir satu jam bermain, Eil akhirnya ambruk di atas pangkuan suaminya. Mereka sama-sama melakukan pelepasan yang sangat hebat. Tidak bergaul selama lima hari membuat mereka kalap seakan mereka sudah lama tidak bercocok tanam.
"Kau masih sama seperti dulu Baby," ucap Nathan di samping telinga istrinya.
"Apa?" tanya Eil yang memang tidak mengerti.
"Rasamu."
Blushh... Tiba-tiba saja pipi Eil terasa sangat panas. Kata-kata Nathan ini sukses membuatnya merasa sangat malu.
"Nathan!" panggil Eil lembut.
"Hmmm.."
Nathan mengambil jas nya yang tergeletak di atas lantai karena tadi jas itu jatuh dari sandaran kursi. Setelah berhasil mengambilnya, Nathan menutupi tubuh bagian belakang Eil menggunakan jas itu.
"Bukankah kau di berhentikan dari pekerjaan mu hanya sementara?" tanya Eil sambil memainkan jemarinya di atas dada bidang sang suami.
"Iya. Lalu kenapa Baby?"
"Apa kau akan kembali ke pekerjaan lamamu?"
Nathan diam untuk sejenak. Dia bingung harus menjawab apa. Nathan tahu kalau Eil tidak pernah menyukai pekerjaan lamanya. Tapi dia berbeda, dia sangat menyukai pekerjaan itu. Selain otak dan konsentrasi yang dia perlukan, Nathan juga menggunakan kekutan pisiknya untuk bekerja. Dia juga lebih sering bekerja di luar ruangan, karena itu dia selalu merasa bebas dan tidak terkekang.
"Kembalilah ke pekerjaan lamamu jika kau ingin kembali Nathan. Aku tidak keberatan. Aku tahu, bekerja karena hobi lebih menyenangkan daripada harus bekerja karena uang."
Nathan menjauhkan Eil dari pelukannya. Dia menatap lekat wajah cantik istrinya itu. Sebuah senyuman Nathan dapatkan dari Eil. Apa istrinya ini bersungguh-sungguh?
"Apa kau serius Baby?" tanya Nathan .
"Hmmm." Eil mengangguk. "Aku serius Nathan. Aku tidak ingin kau terkurung di sini untuk waktu yang lama. Aku tahu kau sangat mencintai pekerjaan lamamu."
"Terimakasih Baby, aku mencintaimu," ucap Nathan sambil menciumi seluruh bagian wajah istrinya.
"Aku berjanji aku tidak akan pernah terluka Sayang. Aku akan baik-baik saja," janji Nathan pada Eil.
"Aku harap janji mu ini bukan sekedar janji Nathan. Aku tidak mau kau mati di tangan musuh seperti apa yang Ayah alami. Aku mencintai kalian. Aku tidak ingin kehilangan siapapun lagi. Sudah cukup selama 12 tahun ini aku hidup sendirian. Aku tidak ingin itu terjadi lagi."
Krieetttt.. Pintu ruangan Nathan terbuka.
"Kalian," geram Lukas saat melihat pose tidak pantas di depan matanya. Bagaimana bisa Nathan dan Eil melakukan ini di kantor. Lukas memang tidak melihat tubuh polos Eil yang memunggunginya karena punggung Eil tertutup sempurna dengan jas hitam milik Kakaknya. Namun rambut acak-acakan Nathan, meja yang berantakan, dan kemeja kusut Nathan bisa Lukas lihat dengan jelas.
Nathan hanya melihat Lukas sekilas. Dia tahu Lukas marah. Hanya dengan melihat mata merah Lukas saja Nathan sudah tahu kalau adiknya itu sangat emosi.
Brakkkkkk... Lukas membanting pintu ruangan Nathan dengan keras.
Eil terperanjat. Dia bukan tidak tahu kalau pintu ruangan itu akan terbuka, hanya saja Eil terlalu lelah. Lebih baik dia berpura-pura tidak mendengar apapun.
"Kau itu. Aku sudah bilang kalau kita tidak bisa melakukannya di sini Nathan," gumam Eil sambil memukul dada suaminya.
"Maafkan aku Baby."
Sementara di tempat lain, Bara sedang tertawa sambil menikmati alkohol dan juga cerutu ke suakaannya. Bayangkan wajah kesal Eil membuat dia sangat bahagia. Meski dia tidak bisa melihatnya langsung, Bara yakin kalau Eil sangat marah padanya saat ini.
"Apa kau gila Bara?" tanya Belle pada laki-laki mapan di hadapannya.
"Aku memutuskan kepala orang dari tubuhnya tapi kau malah tertawa seperti ini? kau membuatku sangat ketakutan ."
Bara tersenyum sinis. "Aku tidak gila Belle, aku hanya menyukai hal-hal menyenangkan seperti ini. Dan ya, kalau kau takut, mulai sekarang jangan pernah melakukan hal-hal tidak penting. Dan jangan mengganggu Eileria ku. Dia hanya milikku. Hanya aku yang boleh menyentuhnya."
"Cihhh... Tapi Nathan sudah memiliki nya Bara."
Brakkkk..... Bara menggebrak meja yang ada di hadapannya. Wajahnya mendadak dingin. Dia juga menatap Belle dengan tatapan iblisnya.
"Jangan asal bicara Belle! Nathan bisa memiliki Eil karena aku membiarkannya. Sebentar lagi Eil akan menjadi milikku."
"Terserah kau saja Bara. Aku harus pergi, masih ada yang harus aku lakukan."
Belle pergi meninggalkan Bara yang masih menatap horor ke arahnya. Sebenarnya Belle sudah sangat muak kepada Bara. Hukuman yang pernah Bara lakukan padanya membuatnya tidak bisa berjala hampir satu minggu. Tapi pria brengsek itu bertingkah seolah-olah tidak pernah terjadi hal apapun.
"Bajingan kau Bara. Setelah apa yang kau lakukan padaku, kau masih ingin aku untuk tidak menyentuh wanitamu? jangan harap. Aku akan melakukan segala cara supaya Eil bisa merasakan apa yang aku rasakan. Bahkan lebih. Aku jamin itu."
Setelah menatap pintu ruangan Bara, Belle melesat pergi keluar dari bangunan pencakar langit milik laki-laki iblis itu. Belle sudah tidak bisa mundur. Kalaupun dia mundur, Bara pasti akan menghabisinya. Kalau sudah begini Belle hanya bisa menuruti Bara dan menjalankan semua perintah Bara yang di berikan padanya.
...To Be Continued....