
Sebelum mulai baca.. Jangan lupa jempolnya ya.. Kasih ratting 5 kalau kalian menyukai cerita ini. Dan author rengginang ini akan sangat bahagia kalau kalian mau nabur bunga juga..
Happy reading semuanya..
"Jangan pikir aku tidak tahu dengan apa yang telah kau lakukan Belle, kemarin malam kau mencoba untuk membunuh Eileria bukan? aku sudah pernah memperingatkan mu untuk tidak menyentuhnya sehelai rambut pun. Dan kau masih melakukannya? kau pikir kau akan selamat hah?" teriak Bara yang sudah terlalap api emosi.
Wanita yang sedang berbaring di atas ranjang dengan tangan dan kaki yang terikat mengerejapkan matanya. Dia sudah hampir hilang kesadaran karena Bara sudah memukulinya berkali-kali. Bahkan untuk sekedar membuka matapun dia harus berusaha sangat keras, apalagi untuk membuka mulut dan melawan setiap ucapan Bara padanya. Jelas saja dia sedang tidak mampu.
"Dengarkan aku Belle," geram Bara sambil mencengkram dagu Belle. "Aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu kalau kau sampai melukai Eil ku sekali lagi. Ingat itu Belle!".
Setttt.... Brukkk... Bara menghempaskan kepala Belle dengan keras. Meskipun itu di atas ranjang, tetap saja perlakuan Bara ini sangat kasar. Bara keluar dari kamar itu meninggalkan Belle yang sudah terkapar tidak berdaya.
"Masuklah!" ucap Bara sambil melempar kunci borgol ke salah satu pengawalnya. "kalian bebas melakukan apapun. Tapi jangan sampai dia mati," titah Bara pada beberapa pengawal pribadi nya. Mereka mengangguk lalu masuk ke dalam kamar. Seulas senyum terukir di bibir mereka saat melihat wanita cantik yang hanya memakai cd dan bra berbaring terlentang di atas ranjang. Kulit putih, dada montok, dan kaki yang jenjang membuat siapa saja yang melihatnya akan meneteskan air liur.
"Kita makan besar Bro," ucap salah satu pengawal sambil membuka ikat pinggangnya. Sementara yang lain berusaha untuk melepas ikatan di kaki Belle dan juga membuka borgol yang membelenggu tangan wanita cantik itu.
Mata Belle semakin terpejam saat dia merasakan beberapa tangan menggrayangi tubuhnya. Dia ingin melawan tapi tidak bisa, belum lagi obat yang di berikan Bara membuat sekujur tubuhnya panas dan lemas dalam waktu bersamaan.
"Brengsek kau Eil. Bahkan laki-laki gila seperti Bara pun menyukaimu. Memang apa yang kau miliki sedangkan aku tidak memilikinya wanita ja*ang."
Belle menitikkan air matanya saat tubuh bagian inti depan dan belakangnya di masuki secara bersamaan. Ini gila. Bahkan dua orang yang lain sedang bermain di tubuh bagian atasnya. Dia ingin muntah saat sesuatu yang besar dan padat menyentuh diding tenggorokannya.
Sementara di tempat lain, Bara sedang menikmati rokok kesukaannya. Dia menatap layar ponselnya sambil sesekali tersenyum. "Aku akan melindungi mu Eil. Aku janji, suatu saat aku kan menjemputmu. Aku tidak akan membiarkan mu tinggal bersama laki-laki bodoh seperti Nathan. Nathan tidak pantas untuk mu. Hanya aku yang pantas untukmu."
****
Di Mansion Nathan dan Eileria...
"Baby!" panggil Nathan sambil mengusap wajah Eil lembut. Matahari sudah meninggi, ini sudah hampir jam sepuluh pagi tapi istri cantiknya masih belum bangun. Apa semalam Nathan menggaulinya terlalu berlebihan? meminta jatah dua ronde bukan masalah bukan? lagipula sudah satu minggu lebih mereka tidak melakukannya.
"Baby!" panggil Nathan lagi.
"Aku masih mengantuk Nathan. Kau itu sangat ganas. Tubuhku berasa remuk semua. Aku masih mau tidur."
Nathan tersenyum saat Eil menarik tangannya lalu meletakan pipi nya di telapak tangan Nathan. Dia ingin membiarkan Eil tidur lebih lama, tapi hari ini Nathan sudah janji kalau dia akan membawa Eil jalan-jalan di belakang mansion, lebih tepatnya di danau biru yang airnya memang masih sangat bersih.
"Sayang!" Panggil Nathan sambil mengecup pipi Eil. "Bukankah kita akan pergi ke danau? kau ingin melihatnya bukan? orang-orang ku sudah menyiapkan kapal kecil. Kau masih tidak ingin pergi heummm?"...
Eil kembali menggerakkan tubuhnya. Dia masih sangat mengantuk, tapi dia juga sangat ingin pergi, belum tentu besok atau lusa dia dan Nathan memiliki waktu libur bersama, dan sekarang adalah kesempatan yang bagus supaya mereka bisa berkencan.
Nathan mengiyakannya apa yang Eil minta. Dia menarik tangannya perlahan lalu menyelimuti Eil kembali. Setelah yakin kalau Eil tidur dengan nyaman, Nathan memutuskan untuk turun ke lantai bawah dan menyiapkan sarapan yang sudah di buat Aami untuk mereka.
Satu jam kemudian, Nathan dan Eil sudah bersiap, mereka sudah berganti pakaian dan sekarang sedang berjalan menuju danau. Kenapa mereka memerlukan waktu cukup lama untuk bersiap? jawabannya tentu saja karena Eil, wanita cantik itu masih tidur saat Nathan membangunkan nya lagi. Dan parahnya, saat dia di kamar mandi, dia juga mandi sambil memejamkan mata. Alhasil Nathan lah yang memandikannya dari awal sampai akhir.
Sampai pada saat Eil di sodori sarapan pagi, barulah dia bisa membuka matanya. Dia juga terlihat sangat antusias ketika melihat daging panggang yang di buatkan Aami untuknya dan Nathan.
"Nathan," panggil Eil lembut. Nathan menoleh.
"Terimakasih," ucap Eil tulus.
Cup.. "Aku yang harusnya berterimakasih padamu Baby," ucap Nathan setelah mengecup bibir istrinya sekilas.
Akhirnya mereka sampai di pinggiran danau. Mata Eil berbinar saat dia melihat ada perahu kecil yang keseluruhan bodi perahunya terlihat seperti kaca. Dia langsung menarik tangan Nathan dan mengajaknya untuk segera menaiki perahu itu. Setelah Eil naik, kini giliran Nathan yang naik.
"Wah .... Pemandangan di sini sangat indah Nathan. Aku sangat menyukainya," ucap Eil sambil tersenyum lebar dan merentangkan kedua tangannya. Dia memang sangat menyukai ini pemandangan alamnya sungguh sangat luar biasa, belum lagi air danaunya sangat bersih. Eil memercikkan air danau itu sambil tertawa. Suasana tenang dan damai seperti ini sangat jarang bisa dia nikmati. Jadi kalau hari ini dia sedikit berlebihan, jangan salahkan dia.
"Danaunya sangat cantik kan Nathan?"
Nathan tersenyum. "Iya, memang sangat cantik," puji Nathan dengan mata yang tidak lepas dari wajah Eil. Yang Nathan sebut cantik itu bukan danaunya, melainkan sosok istri kecilnya.
Nathan mengaitkan dayung yang dia gunakan. Dia berjalan di sampan itu membuat Eil sedikit terkejut karena perahu yang mereka tumpangi sedikit terguncang. "Nathan apa yang kau lakukan?" pekik Eil ketakutan. Dia bukan takut tenggelam, dia hanya tidak ingin suasana damainya berubah menjadi sebuah kehebohan kalau mereka sampai tercebur ke dalam danau.
Nathan tidak menjawab. Dia masih melanjutkan pergerakannya dan berhenti tepat di depan Eil. Dia duduk lalu tersenyum. "Aku mencintaimu Eil. Sangat," ucapnya sambil menarik tengkuk Eil lalu menempelkan bibir mereka. Ciuman yang Nathan lakukan bukan ciuman panas, lagi-lagi Eil di buat hanyut dengan ciuman lembut dan memabukkan yang akhir-akhir ini selalu Nathan berikan padanya. Nathan sudah semakin pandai memperlakukan nya dengan sangat baik.
"Ini?" ucap Eil saat tautan mereka sudah terlepas dan Eil melihat sesuatu yang cantik melingkar di jari manisnya. Jika di tangan kanannya ada cincin pernikahan, maka ini lain lagi. Berlian besar jelas terlihat begitu Eil membuka matanya.
"Itu adalah cincin lamaran untuk mu Eil. Bukankah aku belum pernah melamar mu dengan benar? maka kali ini aku melakukannya. Aku tidak bisa membuat kata-kata manis seperti kebanyakan pria. Tapi yang jelas, aku sangat mencintaimu Eileria Song," ucap Nathan sambil mengecup tangan Eil lembut.
"Nathan!" gumam Eil dengan mata yang berkaca-kaca. Eil mencondongkan badannya lalu memeluk leher suaminya erat. "Aku juga mencintaimu Nathan Harold Gilbert. Sangat."
Mereka terhanyut dalam pelukan kasih yang membuat dunia mereka seakan berhenti dan hanya berputar saat itu saja. Eil membuka matanya perlahan. Namun, saat Eil membuka mata, dia melihat sekelebat bayangan di sebrang danau tempat mereka tadi menaiki perahu.
"Dia!" guam Eil dalam hati.
...To Be Continued....