The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Perseteruan



"Kak!" panggil Amber dari samping kemudi.


"Ada apa?" tanya Jerome tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalanan. Malam ini Jerome memang menjemput Amber dari tempat les nya. Seperti yang kalian tahu, Jerome memang selalu memproteksi Amber supaya adiknya itu tidak pergi kemana-mana dan dia bisa memantau setiap apa yang di lakukan Amber. Dia tidak ingin Amber terjerumus ke dalam pergaulan bebas dan yang sejenisnya. Anggaplah dia jahat karena tidak memberikan kebebasan pada Amber. Tapi yang dia lakukan itu memang sudah benar bukan? di jaman sekarang, pergaulan bebas dan **** bebas sudah menjamur di kalangan para remaja, apalagi pada gadis seumuran Amber yang sudah melewati masa remajanya.


"Kak, aku mau menemui Kak Eil, apa dia sedang sibuk ya? kok akhir-akhir ini Kak Eil jarang ada kabar. Apa setelah dia menginap di apartemen kita dia kapok karena melihat sikap dingin Kak Jerome jadi dia tidak mau menemui ku lagi?" tanya Amber membuat Jerome menghentikan mobilnya tiba-tiba.


"Apa yang kau lakukan Kak? kau ingin membunuhku?" geram Amber. Dia sungguh di buat terkejut dengan pengereman tiba-tiba yang di lakukan Jerome, hampir saja dia terpentok dashboard mobil kalau Jerome tidak menahan dadanya dengan lengan Jerome.


"Apa yang kau katakan?" tanya Jerome setelah melepas sit belt nya. Dia merubah posisinya menjadi menghadap Amber supaya dia bisa melihat Amber dengan jelas. Bagaimana bisa Amber menuduhnya yang tidak-tidak. Setahu Jerome, dia tidak semenyeramkan itu sampai semua orang yang mendekati Amber akan takut ketika bertemu dengannya.


"Apa yang aku katakan itu tidak salah Kak. Kau memang selalu membuat teman-teman ku ketakutan. Buktinya, sampai hari ini aku tidak memiliki teman, dan itu karena Kak Jerome selalu memasang wajah dingin dan Kakak itu sangat menyeramkan karena tidak bisa bersikap ramah kepada orang-orang yang berusaha dekat dengan ku."


Jerome menarik satu sudut bibirnya, okelah, adiknya ini memang tidak salah dengan apa yang dia katakan. Meskipun Amber tidak memiliki teman, dia akan berusaha untuk menjadi teman, Kakak dan juga orang tua yang baik untuk Amber.


"Maafkan aku Amber, aku terpaksa melakukan itu semua karena aku tidak mau kau kenapa-napa. Aku sangat menyayangimu. Kau juga tahu itu bukan?" tanya Jerome lembut. Dia mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Amber.


"Aku tahu Kak," jawab Amber singkat. Dia kembali memutar tubuhnya menghadap depan. Beradu mulut dengan Jerome bukan hal yang harus dia lakukan, alasan yang Jerome katakan kepadanya selalu membuat Amber bungkam. Dia tahu, selain memiliki satu sama lain, mereka tidak memiliki siapapun lagi.


"Aku akan meminta maaf pada Eil, aku juga akan menanyakan kenapa dia tidak menghubungi mu akhir-akhir ini, kau jangan sedih lagi ya!" bujuk Jerome ketika melihat adik semata wayangnya merengut. Sungguh, dia sangat ingin memeluk Amber sebagai seorang laki-laki kepada seorang perempuan. Bukan sebagai kakak laki-laki kepada adik perempuan nya. Jerome sudah sangat mencintai Amber. Tapi dia bisa apa jika dia sendiri tidak berani mengungkapkan kebenaran kepada Amber.


"Benarkah?" tanya Amber dengan mata yang berbinar. "Kakak harus janji, Kakak gak boleh bikin Kak Eil takut lagi ya?" pinta Amber.


"Hmmmm... Aku janji, sekarang kita pulang dulu ya," ucap Jerome. Dan amber pun mengangguk dengan senyuman cerah di wajahnya.


Setelah tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai di basement apartemen. Jerome ingin melepas sit belt yang dia kenakan, namun tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan ada sebuah pesan masuk.


"Kita akan pergi ke tempat Dragon malam ini." Isi pesan teks yang Jerome baca.


"Amber! kau masuk lebih dulu ya! kakak masih ada urusan. Jangan lupa langsung kunci pintu, dan jangan pernah membukanya untuk siapapun. Kalau aku pulang aku tahu sandinya bukan? jadi jika ada yang mengetuk pintu, jangan pernah membukanya!"....


Setelah Amber masuk ke dalam gedung apartemen, Jerome langsung menghidupkan kembali mesin mobilnya. Dia harus segera pergi menemui Dragon. Pasti ada yang tidak beres.


Brakkkk.... Pintu mobil orang itu di tutup dengan sangat kasar.


"Masuk!" ucap Eil yang langsung memimpin langkah mereka. Saat kedua orang ini masuk ke dalam ruangan Dragon, laki-laki paruh baya itu sedang asyik menenggak wine. Eil hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kebiasaan minum Dragon memang tidak bisa di hilangkan. Meskipun Eil sudah melarangnya untuk tidak minum terlalu sering karena itu bisa berdampak buruk pada kesehatannya sendiri. Namun, bukan Dragon namanya kalau dia mau mendengarkan nasihat dari orang lain.


"Ada apa?" tanya Dragon. "Kau juga membawanya?"


Eil tidak langsung menjawab, dia menarik kursi yang ada di depan Dragon lalu duduk dengan posisi yang tidak peminim sama sekali. Sementara Jerome, dia hanya membungkukkan kepalanya lalu berdiri di belakang Eileria. Dia tahu kalau kedudukannya di organisasi tidak setara dengan orang-orang ini, jadi dia tidak bisa berbuat lancang seperti yang di lakukan Eileria.


"Apa kau masih ingat dengan Bara?" tanya Eil to the point.


"Altezza Bara Cullen," ucap Dragon dengan senyum evil-nya, dia tentu masih dan akan selalu mengingat mantan anggotanya itu.


"Aku rasa kau memang masih mengingatnya," lanjut Eil. "Dia menyimpan seorang mata-mata di tempatku. Dan ya dia juga memasang banyak penyadap suara . Apa kau tahu tentang ini?" tanya Eil sambil memincingkan matanya.


Dragon lagi-lagi tersenyum. "Aku tahu," ucapnya Enteng. Eil yang mendengar itu langsung membulatkan matanya tidak percaya. Kenapa Dragon tidak memberitahunya atau sekedar memperingatkannya.


"Kau gila Dragon? kau sengaja ingin membuatku ada dalam kuasanya?" geram Eil.


Dengan santainya Dragon mengisi gelasnya dengan wine, namun saat dia ingin mengambil gelas itu, Eil buru-buru mengambilnya.


"Jawab pertanyaan ku Dragon," sarkas Eil dengan sura yang sangat dingin. Jerome yang ada si belakangnya sampai bergidik. Selama ini tidak ada yang berani melawan atau berbuat hal seperti ini pada Dragon, mereka sangat menghormati Dragon sebagai ketua dari organisasi yang mereka ikuti.


"Kau tidak bisa menganggapnya remeh Eil, Bara itu bukan laki-laki biasa. Dia memiliki kekuatan yang sangat besar. Aku bahkan tidak bisa menembus jaringannya. Dia sudah berdiri sendiri dan sudah memiliki banyak pengikut. Bukan hal mudah untuk kita jika kita ingin menumbangkannya."


Brakkkk.... Eil mencengkram kuat gelas yang ada di tangannya lalu memukul kan gelas itu ke atas meja sampai gelas itu hancur berkeping-keping. Eil sama sekali tidak memperdulikan tangannya yang sudah berlumuran darah. Dia merasa sangat kecewa kepada Dragon, kenapa laki-laki paruh baya ini tidak menceritakan semuanya sejak awal. Padahal Dragon juga sangat tahu bagaimana obsesi Bara untuk memilikinya. Apa Dragon sengaja menjadikan Eil sebagai umpan.


"Kau!" geram Dragon dengan mata yang sudah berkilat marah. Berani-beraninya Eil bersikap bar-bar di depan Dragon.


...To Be Continued....