The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Mafia Insyaf



Eil masuk dengan langkah yang riang ke ruang rawat orang yang kemarin dia operasi. Seulas senyum terukir di bibir nya saat dia melihat laki-laki itu sudah sadar.


"Selamat siang Tuan Inocenzio," sapa Eil ramah.


Laki-laki yang di panggil Inocenzio itu menoleh. Dia tersenyum namun senyumannya sangat tipis sampai-sampai Eil hampir tidak bisa melihatnya.


"Apa kabar Azalea?" ucap Inocenzino.


Inocenzino adalah seorang mafia kelas kakap di Italia. Dahulu, dia adalah seseorang yang sangat di takuti di negara itu, arti nama Inocenzio sangat berbanding terbalik dengan sifat aslinya. Inocenzio yang berarti tidak berbahaya dan tidak berdosa dalam bahasa Italia hanya sebuah kamuflase untuk menyembunyikan identitas sang mafia.


"Bagaimana mungkin seorang mafia kejam dan kuat sepertimu memiliki penyakit jantung seperti ini Tuan Zio? aku sempat ragu untuk menyelamatkan mu. Tapi, mengingat kau sudah insyaf dan sedang tidak berdaya aku menjadi tidak tega. Padahal , hanya dengan satu sayatan di jantungmu, aku yakin kau tidak akan ada lagi di dunia ini."


Inocenzio terkekeh. "Aku tahu kau orang seperti apa Lea. Kemampuan yang kau miliki tidak pernah kau gunakan untuk hal-hal di luar pekerjaan. Kau itu sangat bijak meskipun terkadang sangat sadis dan tidak berperasaan."


Eil terus mengajak Inocenzio untuk berbicara. Selain untuk melihat perkembangan sang pasien, Eil juga sangat senang karena orang seperti Inocenzio ternyata bisa berubah, bahkan semua hartanya sudah banyak yang di sumbangkan untuk orang-orang yang membutuhkan.


Beberapa tahun terakhir ini, Inocenzio tidak banyak di bicarakan oleh orang-orang di dulia gelapnya. Eil pikir Inocenzio tidak akan muncul ke permukaan lagi. Tapi ternyata dia salah.


"Aku tahu kau sudah menikah Lea," ucap Inocenzio.


Eil mengangguk. "Eum, iya, aku juga sekarang sudah memiliki keluarga sepertimu."


"Kalau begitu aku keluar dulu. Kau istirahat lah dengan baik. Selanjutnya, aku akan memantau setiap perkembangan yang terjadi."


"Tunggu Lea!" cegah Incenzio saat Eil ingin membuka pintu ruangan itu.


"Ada apa?" Tanya Eil.


"Aku akan membalas kebaikan mu. Jika membutuhkan bantuan apapun, hubungi aku, aku siap membantumu dalam hal apapun dan dalam kondisi apapun."


Eil tersenyum. Dia menganggukkan kepalanya lalu keluar dari ruangan itu.


"Aku harap kau akan baik-baik saja Inocenzio." Eil melirik pintu ruang rawat Inocenzino sekilas. Beberapa orang dengan pakaian serba hitam yang berjaga di luar ruangan itu membungkukkan badan mereka saat Eil mulai menjauh.


Sementara di tempat lain, Amber sedang asyik bermain dengan Alard. Dia langsung pergi ke rumah Darius setelah jam kuliahnya selesai. Kegiatan ini adalah kegiatan yang sangat Amber sukai. Selain bisa bermain dengan Alard, dia juga bisa bertemu dan melihat laki-laki pujaan hatinya.


"Tante Cantik, Tante Cantik Alad mau ketemu Daddy."


Amber menatap Alard lekat. "Tapi Daddy sedang kerja sayang. Kita tidak bisa menemuinya sekarang."


"Ikh Tante, Alad pokonya mau ketemu Daddy."


Alard memalingkan wajahnya dengan bibir yang sudah mengerucut lucu. Dia merajuk. Bukannya kesal, Amber malah di buat gemas dengan tingkah Alard.


"Alard dengerin Tante Sayang, kalau Daddy sedang kerja itu gak boleh di ganggu. Kan kasihan Daddy nya."


Alard masih diam. Dia tidak mau menjawab atau melihat wajah Amber.


"Pergi saja ke kantor Lukas Amber!" suara khas milik Darius sukses membuat Amber menoleh.


"Apa boleh seperti itu Tuan?" tanya Amber .


"Tentu saja, tolong antar kan saja Alard ke sana. Sopirku akan mengantar kan kalian."


Alard langsung berdiri dan ber jingkrak-jingkrak heboh . Dia sangat senang karena akhirnya keinginannya akan segera di kabulkan.


"Kalau begitu saya dan Alard pergi dulu ya Tuan," pamit Amber pada Darius.


"Kalian itu sudah seperti Ibu dan Anak," gumam Darius yang melihat Amber dan Alard berjalan menjauhinya. Kedekatan antara Amber dan Alard memberikan sedikit harapan kepada Darius. Selama ini Alard belum pernah dekat dengan wanita dewasa selain dengan Eil dan Amber. Sebenarnya sudah banyak wanita yang sengaja Darius datangkan untuk mendekati Lukas dan Alard. Tapi itu tidak pernah berhasil.


****


Tiga puluh menit kemudian, Alard dan Amber sudah tiba di perusahaan milik keluarga Lukas. Dia membawa Alard mendekat ke meja resepsionis setelah mereka masuk ke lobi perusahaan.


"Maaf Mbak, apa Tuan Lukas ada di tempatnya?" tanya Amber hati-hati.


"Maaf Anda siapa? apa Anda sudah memiliki janji dengan Tuan Lukas?" tanya resepsionis itu. Amber menggeleng.


"Maaf Nona, kalau Anda tidak memiliki janji dengan Tuan Lukas, Anda tidak bisa menemui Tuan."


"Tapi Nona," ucap Amber. Dia menunduk saat Alard menarik ujung atasan yang dia kenakan.


"Apa?" tanya Amber tanpa suara.


"Gendong," jawab Alard. Amber mengangguk lalu melakukan apa yang di minta Alard padanya.


"Alard tersenyum. "Alad mau ketemu Daddy, apa tidak boleh?" tanya Alard kepada resepsionis tadi dengan nada suara yang dia buat-buat seolah-olah Alard sedang marah.


Resepsionis itu menoleh. Dia di buat terkejut dengan munculnya sosok pangeran kecil di hadapannya. Apa perempuan yang baru saja menanyakan Tuan Lukas datang bersama Tuan Kecil mereka? bisa gawat kalau Tuan Marah.


"Ah, Tuan Kecil, maaf, tadi saya tidak melihat Tuan," ucap resepsionis itu menunduk dalam pada Alard.


"Jadi Daddy ada di ruangannya atau tidak?" tanya Alard lagi.


"Ada Tuan Kecil, Tuan bisa langsung menemui Tuan Lukas di ruangannya."


"Ayo Kak!" ajak Alard pada Amber. Amber menurunkan Alard dari gendongannya kemudian melenggang pergi menuju ruangan Lukas.


Tok Tok Tok...


"Masuk!" sahut orang dari dalam .


Alard maupun Amber tersenyum. Mereka membuka pintu ruangan Lukas lalu masuk ke dalam.


"Daddy!" panggil Alard.


Lukas yang sedang berkutat dengan berkas-berkas dan laptopnya langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Wah.. Jagoan Daddy sedang apa di sini?" tanya Lukas menghampiri Alard lalu membawanya ke pangkuannya.


"Alad kangen Daddy. Jadi Alad minta calon Mommy untuk menemui Daddy di sini."


Amber dan Lukas saling beradu pandang setelah Alard mengucapkan calon Mommy. Mereka merasa terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulut kecil pangeran mereka.


"Apa maksud kamu sayang? kenapa memanggil Tante Amber calon Mommy?" tanya Lukas menatap lekat putra semata wayangnya itu.


Alard tersenyum. "Alad mau Tante Cantik jadi Mommy ketiganya Alad. Boleh tidak Daddy?" tanya Alad dengan wajah penuh harap.


Amber mematung. Dia tidak berani mengangkat wajahnya karena takut dengan jawaban yang akan keluar dari mulut Lukas. Jantungnya sudah berdegup tidak karuan. Apa yang akan Lukas katakan pada Alard. Tapi tunggu!... Maksud dari Mommy ke tiga itu apa? kalau Mommy pertama, mungkin itu adalah Ibunya Alard yang sudah meninggal. Tapi Mommy ke duanya siapa.


...To Be Continued....