The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Orang-orang Tidak Pengertian



"Aku tidak akan meninggalkan Amber," jawab Lukas membuat semua orang yang ada di ruangan itu menatapnya heran. Bukankah selama ini Lukas tidak pernah menghargai dan tidak pernah menganggap keberadaan Amber. Kenapa ketika semua orang meminta dia untuk melepaskan Amber dia tidak mau.


Jerome yang tersulut emosi hendak kembali menyerang Lukas, namun dia mengurungkan niatnya saat dia mendengar suara Amber.


"Alard," gumam Amber yang mulai membuka matanya perlahan. Semua orang kembali melihat ke arah Amber. Mereka bernapas lega karena kini Amber sudah benar-benar sadar dan tidak mengigau seperti tadi.


"Mommy, Mommy sudah sadal, jangan tinggalkan Alad Mommy, Alad sayang Mommy Ambel, Mommy gak boleh pelgi."


Amber menarik ujung bibirnya. Bocah kecil ini sangatlah lucu. Bahkan ketika Amber sedang sakit pun dia masih bisa tersenyum mendengar celotehan anak sambungnya itu.


"Siapa yang akan pergi Sayang? Mommy tidak akan pergi kemanapun."


Alard mengangguk. Dia kembali membenamkan kepalanya di bahu Amber, Alard sudah seperti sebuah prangko yang menempel di atas amplop surat.


"Kak Lukas, kenapa mukamu lebam seperti itu?"


"Ck, bahkan dari banyaknya orang yang ada disini, kau hanya melihat Lukas, sebenarnya apa yang telah dia berikan untukmu sampai kau tergila-gila padanya Amber?"


Amber menoleh kepada Jerome, dia bukan tidak melihat semua orang yang ada di ruangan itu, namun wajah lebam Lukas sangat menyita perhatiannya.


"Kak Jerome, kenapa kau marah-marah?" tanya Amber dengan suara yang masih sangat lemah. Dia masih lemas dan harus menjelaskan hal tidak penting seperti ini. Orang-orang yang ada di depannya sangat tidak pengertian.


Sulli mencubit pinggang Jerome gemas. Dia juga sangat kesal mendengar ucapan Jerome yang bukannya menanyakan keadaan Amber malah mengajak Amber ribut.


"Jangan seperti itu Jerome, kau ingin Amber pingsan lagi hah?" bisik Sulli di telinga calon suaminya.


Jerome mendengus. Dia kembali melemparkan tatapan membunuhnya pada Lukas. Jerome masih belum puas menghajar Lukas. Emosinya masih menggebu-gebu. Andai saja di ruangan itu tidak ada orang lain, mungkin Jerome sudah akan menghajar Lukas kembali.


"Jerome, apa yang dikatakan Sulli itu benar, kau akan membuat Amber tertekan. Apa kau tidak takut Amber kembali pingsan?" ujar Eil berusaha menenangkan Jerome berharap laki-laki itu akan berhenti menatap Lukas dengan tatapan membunuhnya.


"Biarkan saja Baby, toh yang rugi juga dia sendiri, kalau Amber kenapa-napa, kita salahkan saja Jerome, selesai."


Jerome menatap Nathan sengit. Namun orang yang di tatap malah mengangkat kedua bahunya acuh. Ucapan dia tidak salah bukan, kenapa Jerome harus marah. Seharusnya dia sadar kalau dia memang sedang membuat keributan yang mana keributan yang dia timbulkan membuat Amber ingin pingsan kembali.


"Sudahlah! Kalian itu mau menjenguk Amber atau mau bertengkar. Kalau tidak niat lebih baik jangan kesini sekalian. Lihatlah! Alard juga sudah tidur diperlukan Amber. Kalian bisa membangunkannya."


Suara tegas Darius membuat semua orang yang ada di ruangan itu bungkam. Mereka tidak berniat untuk membuka suara lagi. Lagipula ini sudah malam, tidak seharusnya mereka mengganggu pasien.


"Amber cepatlah sembuh. Besok aku akan kembali lagi ke sini," ucap Eil menarik tangan Amber lalu mengusap punggung tangan itu lembut.


"Terima kasih karena sudah menyempatkan waktu untuk menjengukku Kak. Kakak harus banyak istirahat, kasian calon bayi yang ada di dalam perut Kakak."


Eileria mengangguk. Dia mengajak Jerome juga Sulli untuk segera keluar dari ruang rawat Amber. Menurutnya meninggalkan Jerome di sini tidak akan aman.


"Cepatlah sembuh Amber," ucap Sulli tersenyum ke arah calon adik iparnya.


Sulli lantas menarik tangan Jerome memaksa laki-laki itu untuk segera keluar, untuk apa terus tinggal di sini kalau Jerome hanya ingin membuat keributan. Sama sekali tidak berguna dan malah membuat pasien naik darah.


Mau tidak mau Jerome mengikuti Sulli, meskipun dia masih sangat tidak rela kalau harus membiarkan Lukas terus berada di samping Amber, namun dia tidak ingin membuat semua orang marah padanya. Walau bagaimanapun Lukas masih suami Amber, dia masih sangat berhak untuk mengurus juga merawat Amber.


"Awas kalau sampai Amber menangis, aku pastikan, tanganku lah yang akan menjadi maut untukmu."


Lukas memalingkan wajahnya. Ancaman dari Jerome tak lantas membuatnya takut, dia babak belur bukan karena dia kalah dari Jerome, dia hanya memberikan laki-laki itu kesempatan untuk menghajarnya.


"Lukas!" panggil Darius ketika mereka hanya tinggal bertiga berempat dengan Alard.


"Iya Ayah."


Lukas menjawab dengan wajah yang menunduk dalam. Dia tidak berani menunjukkan wajahnya di depan Darius.


"Ayah akan memberikan kesempatan padamu. Perbaikilah hubungan kalian. Kalau setelah ini kau masih tidak bisa bersikap baik kepada Amber, sebaiknya kau pertimbangan permintaan Jerome."


Lukas langsung mendongak. Dia sudah bilang kalau dia tidak akan membiarkan Amber pergi darinya, atau dia yang pergi meninggalkan Amber, Lukas tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.


"Ayah akan membawa Alard pulang, sebaiknya kau rawat Amber dengan baik. Jangan sampai dia kekurangan apapun. Dan ya, Ayah tidak membawa baju ganti, sebaiknya kau minta baju pasien saja."


Lukas mengangguk, sedangkan Amber bungkam. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Di sana masih ada Darius, dia tidak leluasa untuk berbicara kepada Lukas. Meskipun Darius sudah seperti ayah baginya, namun rasa sungkan itu masih tetap ada.


"Ayah pergi dulu," ucap Darius sambil menggendong Alard. "Cepatlah sembuh Amber! Ayah dan Alard sangat membutuhkan mu."


Amber mengangguk sambil tersenyum. "Terima kasih Ayah," ucap Amber pada akhirnya.


Darius keluar dari dalam ruang rawat Amber sambil menggendong Alard. Setelah mendengar pintu ruangan itu tertutup, Amber langsung merubah raut wajahnya. Dia mengubah posisi tidurnya membelakangi Lukas.


"Amber!" panggil Lukas dengan suara yang sangat pelan. "Maafkan aku."


Amber diam meskipun dia mendengarkan kata demi kata yang keluar dari mulut suaminya. Dia masih sangat jengah kepada Lukas. Untuk apa Lukas meminta maaf kepadanya kalau pada akhirnya dia akan kembali bersikap tidak baik.


"Amber, aku tahu kesalahan yang aku lakukan sangatlah banyak. Aku akan belajar untuk tidak berbuat tidak baik padamu lagi. Aku akan berubah."


Amber menggerakkan bola matanya, dia sangat ingin berbalik dan melihat ekspresi seperti apa yang ditunjukkan oleh Lukas, namun otaknya terus melarang dia untuk melakukan itu.


"Aku akan mengganti pakaian dulu, apa kau membutuhkan sesuatu?" Kembali Amber mendengar suara Lukas yang bertanya padanya. Dia ingin menjawab kalau dia sangat haus, namun dia terlalu gengsi untuk mengatakan itu, dia lebih memilih untuk membiarkan tenggorokannya kekeringan daripada harus minta tolong pada Lukas.


"Aku pergi dulu kalau kau tidak membutuhkan sesuatu."


Amber masih diam, dia tidak menjawab Lukas membuat laki-laki itu berjalan dengan langkah yang lemas tanpa semangat.


...To Be Continued....