The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Amber Menyerah



Keadaan menjadi sangat riuh. Lukas tiba-tiba saja menarik tangan Amber lalu membawa wanita itu pergi dari sana.


"Kakek lihat? Daddy memang ada di sini bukan?" Alard bertanya dengan wajah datarnya. Seperti dia menuruni gen Lukas yang bisa hangat dan dingin tiba-tiba.


Darius memperhatikan punggung Amber dan Lukas yang sudah mulai menjauh. Dia hanya tidak habis pikir, bagaimana caranya Lukas bisa tiba-tiba muncul. Dan kenapa dia harus menyeret Amber seperti itu. Amber bukan anak kambing.


"Ayah, ayah tidak perlu khawatir. Sejak awal aku sudah tahu kalau Lukas mengikuti kita. Karena itu aku menyuruh Bara ke sini untuk membuat Lukas cemburu."


Darius mengangguk. Kini dia mulai mengerti kenapa semua ini bisa terjadi.


"Kalau begitu kita lanjutkan saja pestanya!" Sulli berteriak membuat semua tamu undangan kembali bersorak gembira. Sementara Jerome masih memperhatikan punggung Amber. Terbersit di dalam hatinya untuk mengikuti sang adik, namun dia tidak bisa melakukan itu karena dia juga harus memikirkan perasaan Sulli.


"Ayo!" ajak Sulli sembari menarik tangan Jerome paksa. Jerome menurut dan langsung mengikuti Sulli.


****


Di tempat lain, di dalam mobil Lukas. Amber sedang harap-harap cemas ketika melihat Lukas yang sedang menyetir mobil namun dengan muka masam, se masam asam Jawa yang masih muda.


"Kak, kita mau kemana?" Amber memberanikan diri untuk bertanya. Sebenarnya dia sangat takut, namun, dia tidak bisa menahan rasa penasarannya.


Lukas tidak menjawab dan itu membuat Amber geram. Dia sudah bertanya dengan cara baik-baik, namun kenapa Lukas tidak mau menjawab pertanyaannya.


"Ceraikan saja aku Kak!"


Kitt ...


Amber benar-benar dibuat terkejut, hampir saja dia terbentur dashboard kalau Lukas tidak menahan tubuhnya dengan lengan Lukas.


"Apa yang kau katakan?" Lukas berteriak sambil menatap Amber dengan tatapan yang luar biasa dingin namun ada kilatan api di dalamnya.


"Ck, kenapa Kakak seolah tidak mau bercerai dengan ku? Apa selama ini tidak cukup segala penderitaan yang kau berikan padaku? Kau bersikap seperti ini karena apa? Kalau tidak mencintaiku tinggalkan saja aku. Aku sudah muak. Aku muak kalau harus menerima semua perlakuan tidak adil darimu. Kau pikir aku wanita kuat hah? Kau pikir aku wonder woman? Wonder woman saja masih bisa menangis Kak. Apalagi aku."


Amber berteriak lalu membuka pintu mobil Lukas dengan kasar.


Blammmm!


Lukas terperanjat. Matanya berkedip beberapa kali. Di luar baru saja turun hujan, dan Amber malah keluar dari dalam mobil. Dia mencari masalah atau bagaimana.


Bukannya mencerna dan memikirkan apa yang baru saja di katakan oleh Amber, Lukas malah memikirkan hal lain. Lukas menghidupkan kembali mobilnya. Dia mengikuti Amber dari belakang. Lama, cukup lama dia mengikuti istrinya. Dia melihat tubuh dan pakaian yang Amber kenakan sudah semakin basah.


"Astaga, kau bisa sakit kalau terus berada di bawah hujan seperti itu," ucap Lukas. Dia mencari sesuatu di jok belakang. Dan setelah dia mendapatkannya, Lukas membuka pintu mobil lalu mengeluarkan payung berwarna hitam dan membukanya. Lukas mempercepat langkahnya saat dia melihat tubuh Amber sudah mulai bergetar.


"Amber!" panggil Lukas yang sudah berada di belakang wanita cantik itu. Dia menarik bahu Amber saat orang yang dia panggil tidak menyahut. Alangkah terkejutnya Lukas, dia pikir tubuh Amber bergetar karena dia kedinginan. Namun ternyata Amber sedang menangis.


Amber tersenyum tipis meskipun matanya masih mengeluarkan butiran berlian. Dia sudah hancur, benar kata Eil, dia tidak bisa terus seperti ini.


"Kenapa kau mengikuti ku Kak? Kenapa kau menarik ulur perasaan ku. Seharusnya kau tinggalkan aku. Buat aku membencimu agar aku bisa melupakanmu. Jangan seperti ini," ucap Amber dengan suara yang lirih.


Amber menggeleng. "Jangan ajak aku pulang kalau kau tidak bisa memberikan rumah untuk ku Kak. Biarkan aku pergi. Sudah tidak ada tempat bagiku di hatimu, untuk apa kau terus melakukan ini. Biarkan aku mencintaimu dalam diam, kalau kau tidak bisa mencintaiku, jangan sakiti aku dengan sikap dingin mu."


Lukas diam. Selama ini dia memang sudah keterlaluan. Semua perbuatan baik Amber dia balas dengan rasa sakit. Apa yang telah Amber lakukan untuknya dan untuk keluarganya malah dia sia-siakan.


"Amber aku, ..." Ucapan Lukas terhenti saat bibir dingin Amber menyentuh bibirnya. Dia mematung tidak bisa bergerak. Amber yang kala itu hanya memberikan sebuah kecupan perpisahan lantas tersenyum dan pergi meninggalkan Lukas.


"Amber!" gumam Lukas melihat punggung Amber yang sudah semakin menjauh.


****


"Apa kau baik-baik saja? Di luar sedang turun hujan."


Eil mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Pak tolong hidupkan penghangat nya!" titah Nathan pada sang sopir.


"Saya sudah menghidupkannya sejak tadi Tuan."


Nathan mengangguk. Kenapa dia merasa kalau udara di dalam mobil masih sangat dingin. Dia takut Eil dan calon bayinya akan kedinginan kalau seperti ini.


"Nathan aku baik-baik saja. Aku sudah memeluk mu, aku sudah jauh lebih hangat," jawab Eileria semakin membenamkan wajahnya di dada sang suami.


Nathan mengangguk. Dia membetulkan selimut yang sejak tadi dia selimut kan di tubuh Eileria.


"Apa Amber baik-baik saja Nathan? Aku sedikit khawatir, aku takut terjadi sesuatu padanya."


Nathan menggeleng. "Aku yakin dia akan baik-baik saja. Sedingin apapun Lukas ketika dia sedang marah, dia tidak akan berani melakukan hal-hal yang berbahaya. Aku tahu bagaimana sifat Lukas, sebenarnya dia lebih hangat daripada aku. Namun sepertinya dia sedang berperang dengan perasaan nya sendiri."


Eileria mendongak. "Apa maksudmu Nathan?"


Nathan tersenyum. Dia mengelus kepala Eil lembut lalu mulai menjelaskan segalanya. "Aku tahu Lukas tidak membenci Amber, dia hanya merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Alard dengan baik, terlebih setelah Amber keguguran, dia hanya sedang mencari seseorang untuk disalahkan meskipun dia sendiri menyalakan dirinya sendiri. Dia sedang mencari pembelaan untuk dirinya."


Eileria memanyunkan bibirnya. "Tapi apa yang Lukas lakukan itu salah Nathan. Dia bisa kehilangan Amber kalau dia terus bersikap seperti itu. Menurutmu berapa lama wanita bisa bertahan jika terus menerus diberikan kesakitan seperti apa yang Lukas berikan pada Amber?"


Nathan menggeleng. "Aku tidak tahu, aku hanya berharap mereka akan segera menyadari perasaan mereka. Lukas seharusnya sudah memiliki rasa kepada Amber, aku yakin, cepat atau lambat Lukas akan menunjukan apa yang dia rasakan. Egonya terlalu besar, karena itu dia bersikap seperti sekarang ini."


Eileria menganggukkan kepalanya. "Aku harap Amber kuat Nathan. Semoga dia tidak menyerah di tengah jalan."


Sudut bibir Nathan tertarik ke atas. Dia mengusap lengan Eil lalu mengecup kepala Eil lembut.


"Aku harap hal baik akan selalu terjadi pada keluarga kita."


9


...To Be Continued....