The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Semua Orang Ingin Ikut Amber



Nathan membantu Eileria dan mendudukkannya di atas ranjang. Dia mengganti selimut yang tadi dia pakai untuk menyelimuti tubuh Eil dengan selimut yang lebih tebal.


"Akh!" Eil memekik membuat Nathan terkejut dan langsung memeriksa keadaan sang istri.


"Ada apa Baby, apa aku menyakitimu, apa kakimu sakit?" Nathan memberikan pertanyaan yang bertubi-tubi.


Eielria menatap Nathan lalu tersenyum. Dia menarik tangan Nathan lalu menempelkan telapak tangan besar itu di atas perutnya. Nathan yang tidak mengetahui apapun sontak saja mengerutkan keningnya bingung.


"Bayi kita sudah mulai bergerak Nathan aku bisa merasakannya. Dia bergerak," ucap Eil dengan mata yang tersenyum namun terlihat berkaca-kaca.


Nathan ikut tersenyum. Dia lantas menempelkan telinganya di perut sang istri berusaha mendengar apakah di dalam ada keributan atau tidak, Nathan juga ingin merasakannya.


Eil terkekeh. "Tunggu sebentar lagi Sayang, aku yakin, beberapa minggu lagi kau akan mulai merasakan pergerakan yang dia lakukan."


Nathan mengangguk. Dia menarik kepalanya lalu mengusap kepala Eil lembut dan mengecup pucuk kepala Eil cukup lama.


"Aku akan menyiapkan air untuk mu mandi ya, setelah itu kita akan makan malam. Aami pasti sudah menyiapkan makanan enak untuk mu."


Eielria mengangguk. Dia tersenyum melihat Nathan yang sudah mulai berjalan jauh darinya dan detik berikutnya sudah menghilang di balik pintu kamar mandi.


"Aku mencintaimu Nathan," ucap Eil masih dengan senyuman di bibirnya.


Eil menyambar ponselnya yang Nathan letakan di atas nakas. Dia melihat ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Lukas, kenapa dia memanggil nya. Dan Eil juga lupa kalau tadi dia mengaktifkan mode silent di ponselnya.


"Halo Lukas!" ucap Eil pada orang di sebrang telepon.


..."Akhirnya kau mau berbicara denganku Eil."...


"Maaf, tadi aku mengaktifkan mode silent. Ada apa?" tanya Eileria .


"Amber pingsan, tadi aku ingin bertanya aku harus membawanya ke rumah sakit atau ke rumah? Tapi sekarang aku sudah menuju rumah sakit," ucap Lukas terdengar masih panik. Dia melirik ke arah jok belakang mobilnya yang di mana dia melihat Amber sedang terbaring dengan pakaian basah, wajahnya sudah semakin pucat membuat Lukas gugup bukan main.


Flashback on


"Amber!" lirih Lukas ketika melihat punggung Amber sudah menjauh darinya. Baru saja dia ingin melangkahkan kakinya untuk mengikuti Amber, wanita itu sudah ambruk lebih dulu.


"Amber!" Lukas berteriak lalu berlari menghampiri Amber, bahkan payung yang tadi dia pegang kini sudah tergeletak di atas jalanan.


Lukas merengkuh tubuh Amber dan menepuk pipi istrinya beberapa kali. "Amber bangun! Bangunlah!" Lukas berteriak marah. Dia mencoba menggoyangkan bahu Amber namun wanita itu masih tidak meresponnya.


Kepanikan jelas terlihat dari wajah Lukas. Dia memangku Amber lalu membawanya masuk ke dalam mobil. Lukas menutup pintu bagian belakang lalu berjalan menuju pintu depan.


Blammmm ... Laki-laki menutup pintu mobilnya tergesa. Dia mencari sesuatu di ponselnya lalu menekan tombol panggilan. Beberapa kali dia mencoba, namun tidak ada jawaban dari orang yang dia panggil. Kepanikan membuatnya menjadi bodoh.


"Aku langsung ke rumah sakit saja kalau seperti ini."


Lukas menyimpan kembali ponselnya lalu mulai memacu mobil yang dia gunakan untuk segera pergi ke rumah sakit.


Flashback of


Beberapa menit kemudian, Lukas akhirnya sampai depan rumah sakit. Dia langsung berjalan ke arah belakang mobilnya lalu memangku Amber dan berlari membawa istri kecilnya ke dalam rumah sakit.


Bibirnya tak henti-hentinya berteriak meminta pertolongan kepada para medis. Sampai pada akhirnya ada beberapa perawat yang membantu Lukas. Dia bernapas lega melihat Amber sudah di bawa masuk ke UGD, setidaknya sudah ada yang akan menolong Amber sekarang.


Lukas berdiri di depan UGD sambil mondar mandir ke sana kemari. "Aku harap kau akan baik-baik saja Amber."


Beberapa waktu kemudian, seorang perawat keluar dari UGD, dia celingukan mencari seseorang.


"Saya Sus, saya suaminya." Lukas menghampiri sang suster dengan wajah yang masih sama seperti sebelumnya. Terlihat panik dan kacau.


"Tenanglah Tuan, istri Anda tidak apa-apa. Dia hanya demam, namun karena demamnya masih sangat tinggi, dia harus di rawat untuk sementara waktu supaya kita bisa mengawasinya."


Oh syukurlah, Lukas sudah sangat panik dan khawatir berlebihan, dia hanya takut Amber meninggalkannya seperti Victoria.


"Sekarang Tuan pergi ke bagian administrasi dan tolong, urus semuanya secepatnya agar kami bisa segera memindahkan Nyonya Amber ke ruang rawat."


Lukas mengangguk. Dia lantas pergi ke tempat di mana suster tadi memintanya untuk pergi ke sana.


Tiga puluh menit kemudian, Lukas sudah ada di sebuah ruangan yang cukup besar. Dia memesan kamar VVIP untuk Amber. Matanya menatap lekat wanita yang masih belum membuka matanya. Jarum infus tertancap di punggung tangan wanita cantik itu. Lukas merasa sangat bersalah untuk ini. Andai dia tidak mengajak Amber pergi, mungkin wanita ini masih akan baik-baik saja.


Krieetttt!


Pintu rungan itu terbuka dari luar. Terlihat segerombolan orang datang dan langsung masuk ke ruangan itu. Mata Lukas tertuju pada satu orang yang kini berjalan dengan tergesa ke arahnya.


Setttt!


Bugh!


Bugh!


Brukkkkk!


Lukas diam meski Jerome menghajar dirinya membabi buta. Dia tidak berani melawan, karena dialah Amber sampai masuk ke rumah sakit untuk yang kesekian kalinya. Wajar kalau Jerome menghajarnya seperti ini.


Nathan menghampiri Jerome dan Lukas, dia menarik bahu Jerome dengan kuat dan menjauhkannya dari Lukas yang kini masih berbaring di atas lantai.


"Apa yang kau lakukan Jerome, kau tidak kasihan kepada Amber?" ucap Nathan menghempaskan tubuh Jerome. Sulli yang pada saat itu ada di belakang Jerome menangkap tubuh laki-laki itu lalu mengusap lengannya lembut.


"Tenanglah Honey! Jangan buat keributan di sini."


Jerome membuang mukanya benci. Dia sungguh sangat ingin membunuh Lukas saat ini juga, meskipun dia sudah berhenti dari organisasi yang dia ikuti sebelumnya, dia masih sanggup untuk membunuh orang yang membuatnya jengkel.


"Mommy, Mommy Ambel, Mommy kenapa? Apa Daddy mengganggu Mommy lagi? Kenapa Mommy tidak bilang kepada Alad, Alad pasti akan menghajal Daddy untuk Mommy."


Darius juga Eileria tersenyum mendengar ucapan yang keluar dari mulut Alard. Sebegitu sayangnya Alard kepada Amber, sampai dia bertekad untuk menghajar ayahnya sendiri demi wanita yang kini sedang terbaring di atas ranjang.


"Alard!" gumam Amber masih dengan mata yang terpejam. "Alard maafkan Mommy Sayang, Mommy salah karena tidak bisa menjaga Alard, maafkan Mommy."


Tatapan semua orang tertuju pada Amber yang terus bergumam minta maaf namun masih dengan mata yang terpejam.


"Ayah, tolong naikan Alard ke atas ranjang Amber," pinta Eil pada ayah mertuanya.


Darius mengangguk. Dia memangku Alard lalu menyuruh bocah kecil itu untuk berbaring lalu memeluk Amber. Alangkah pintarnya Alard, dia menurut dan mengecup pipi Amber beberapa kali.


"Mommy, Mommy halus bangun. Alad sangat sayang pada Mommy, Mommy jangan tinggalkan Alad. Alad tidak mau kehilangan Mommy lagi."


Semua orang menatap sendu ibu dan anak yang kini sedang berbaring di ranjang yang sama. Mereka beralih menatap Lukas sengit. Tega kah Lukas membiarkan dua orang yang saling menyayangi ini berpisah.


"Tinggalkan Amber Lukas!" ucap Jerome dengan suara yang dingin.


"Aku akan ikut Amber dan Alard," ucap Darius yakin.


...To Be Continued....