
Nathan memukul setirnya kasar. Kenapa Eil harus bersikap dingin padanya. Eil juga membiarkan Daniel menyentuh rambutnya, apa Eil sengaja ingin membuat Nathan marah?
"Kirimkan alamatnya padaku Belle!" titah Nathan pada wanita yang baru saja mengiriminya pesan , lebih tepatnya mengirimi Nathan sebuah poto yang menunjukan kalau istri cantiknya sedang makan malam bersama laki-laki lain.
Ting...
Nathan melihat ponselnya sekilas, setelah itu dia langsung tancap gas menuju alamat yang baru saja di kirimkan oleh Belle padanya.
"Awas kau Daniel, berani-beraninya kau menyentuh istriku."
Tiga puluh menit kemudian, Nathan sudah sampai di depan restoran. Dia langsung keluar dari mobil dan membanting pintu mobilnya kasar. Ayolah, semakin lama Nathan semakin posesif, dia bahkan tidak pernah rela kalau harus melihat laki-laki lain menatap istrinya dengan tatapan suka. Apalagi kalau samapi berani menyentuh Eil seperti Daniel.
Nathan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Belle yang sedang duduk di pojok ruangan langsung tersenyum bahagia. Hatinya bersorak soraya karena dia yakin kalau Eil dan Nathan akan bertengkar hebat setelah ini.
"Bajingan kau!" geram Nathan. Dia menarik kerah baju yang di kenakan Daniel lalu menghajar wajah Daniel membabi buta.
Bughhhhh... Bughhhhh...
Orang-orang yang ada di dalam restoran mendadak riuh ketika mereka melihat sebuah perkelahian yang sedang terjadi di depan mata mereka.
Daniel yang kala itu mendapat serangan mendadak hanya bisa pasrah. Dia memegang pipinya yang berdenyut nyeri akibat pukulan dari Nathan.
"Nathan stop!" teriak Eil. Eil bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan dan menarik lengan Nathan dengan paksa.
"Aku bilang stop Nathan! Daniel bisa mati kalau kau menghajarnya seperti itu. Ini tempat umum."
Nathan menoleh. Tepat saat dia melakukan itu, Eil menarik kaos yang di kenakan Nathan lalu men ci um Nathan dengan paksa. Nathan yang pada awalnya ingin marah dan ingin mencecar Eil dengan berbagai pertanyaan mendadak luluh. Dia menarik pinggang Eil dan membalas setiap kecu pan dan lu matan yang di lakukan Eil padanya.
"Kau pikir aku tidak tahu kalau kau mengikuti ku kemari Belle. Apa kau senang melihat pertunjukan yang aku siapkan untukmu. Kau pasti mengira kalau Nathan akan marah padaku bukan? tapi sayang, apa yang kau harapkan tidak terjadi. Selamat berpanas-panas ria dengan apa yang kau lihat saat ini," gumam Eil dalam hati.
"Dasar ja lang! kau berani berbuat seperti itu di depan umum Eil. Cih.. Kau pikir aku akan terpancing emosi? kau salah besar," gumam Belle. Dia menghentakkan kakinya di atas lantai lantai lalu pergi dari dalam restoran itu dengan tergesa.
Mulut Belle memang mengatakan kalau dia tidak tersulut emosi. Tapi sikap yang dia tunjukan sudah menjelaskan segalanya.
"Eumhhh," Eil melengguh saat Nathan semakin memperdalam ci u man nya. Karena tidak ingin keadaan semakin panas, Eil melepas paksa tautan mereka.
"Kita akan membicarakan ini di luar Byy! aku mohon jangan marah," bisik Eil di depan bibir Nathan. Nathan mengangguk mengiyakan apa yang di katakan istri kecilnya.
"Daniel. Maaf untuk kekacauan yang sudah terjadi, aku janji, lain kali aku akan mentraktir mu makan."
Daniel mengangguk meskipun di dalam hatinya dia sudah sangat kesal kepada Nathan. Tapi apalah yang bisa Daniel lakukan. Yang lebih berhak atas Eil memang Nathan bukan?
Nathan membawa Eil masuk ke dalam mobilnya. Dia tidak lantas membawa Eil dari sana karena Nathan harus mendengar penjelasan Eil lebih dulu.
"Dengarkan aku Nathan. Apa yang kau lihat itu tidak semuanya benar. Aku tahu Belle memberitahu mu kalau aku sedang makan malam bersama Daniel."
Nathan mengangkat kedua alisnya. Bagaimana Eil bisa tahu.
"Aku tahu karena tadi aku melihat nya mengikuti ku dan Daniel. Aku bukan tidak ingin mengatakan yang sejujurnya padamu. Aku hanya ingin mempermainkan Belle saja. Dia pasti sangat berharap kalau kita akan bertengkar Nathan. Tapi apa yang dia lihat? sebaliknya bukan. Dia pasti sangat kesal karena hal itu."
"Lalu bagaimana dengan poto ini?" tanya Nathan memperlihatkan sebuah poto yang di kirim Belle padanya.
"Akh itu, tadi itu Daniel hanya mengambil sesuatu yang tersangkut di rambutku. Kau tenang saja. Aku tidak akan pernah berpaling ke lain hati Nathan," ucap Eil sambil bergelayut di lengan suaminya.
Nathan hanya tersenyum mendengar apa yang di ucapkan Eil padanya.
"Maafkan aku Daniel. Karena ulah yang aku lakukan, kau harus babak belur di tangan Nathan," gumam Eil di dalam hati.
Sementara di tempat lain. Lebih tepatnya di depan bangunan apartemen, gadis cantik sedang mengelus kepala Alard penuh kasih sayang.
"Terimakasih untuk hali ini Kakak cantik. Alad sangat senang. Suara Kakak Cantik juga sangat bagus. Alad menyukainya."
Amber mengangguk. Dia masih mengelus kepala Alard lembut. "Kakak pulang dulu ya. Alad sama Dady hati-hati pulangnya. Jangan tidur terlalu malam! Alard harus banyak istirahat."
Amber melepas pelukan Alard. Dia hendak membuka pintu mobil namun Lukas menghentikannya.
"Amber!" panggil Lukas.
Amber yang sudah ingin membuka pintu mobil langsung menoleh ke arah Lukas. "Iya Kak!" jawab Amber.
"Terimakasih untuk hari ini. Sudah sangat lama aku tidak melihat Alard sebahagia haru ini, berkat kau, aku bisa melihatnya lagi."
"Bukan masalah Kak. Aku senang karena aku mempunyai teman kecil seperti Alard. Kalau lain kali butuh bantuan lagi, jangan sungkan untuk menghubungi ku."
Lukas mengangguk. Amber turun dari mobil dan melambaikan tangannya ke arah Alard saat mobil itu hendak pergi dari area apartemennya.
"Baru pulang?" tanya Jerome dari arah belakang.
Amber memutar tubuhnya. Dia tidak menjawab pertanyaan Jerome dan malah melengos pergi begitu saja.
"Amber!" panggil Jerome sambil mengikuti Amber dari belakang.
"Amber!" panggil Jerome lagi.
Tak. Amber langsung menghentikan langkah kakinya. "Ada apa sih Kak? kenapa Kakak selalu ikut campur urusan ku? aku ini sudah besar. Aku tidak mungkin terus berlindung di bawah ketiak mu. Biarkan aku hidup dengan bebas Kak. Aku juga ingin memiliki kehidupan normal seperti yang lainnya."
Jerome di buat ternganga dengan apa yang di ucapkan Amber padanya. Apa sebenci itu Amber padanya sampai dia tidak ingin kalau Jerome melindunginya seperti dulu.
"Aku cuma bertanya kau baru pulang Amber? kenapa jawaban mu malah merembet ke mana-mana. Dua jam aku menunggumu di bawah. Aku takut kau kenapa-napa. Dan ini balasan yang kau berikan padaku," ucap Jerome tersenyum sinis. "Aku kecewa padamu Amber."
Jerome melangkah pergi meninggalkan Amber yang masih mematung di tempatnya. Dia langsung masuk ke dalam lift tanpa menunggu Amber lagi. Amber sudah sangat keterlaluan. Jerome sudah tidak bisa mentolerir nya lagi.
"Maafkan aku Kak," lirih Amber menatap nanar pintu lift yang sudah tertutup.
...To Be Continued....