
Tak....
Eil menghentikan langkahnya ketika sosok laki-laki yang sangat tidak ingin Eil lihat sekarang ada di hadapannya. Nathan menatapnya sambil berdecak pinggang.
"Nathan!" gumam Eil dengan mata yang membulat sempurna. Kenapa Nathan sudah ada di apartemen, apa dia sudah mengetahui segalanya.
"Nathan aku," ....
Grepppp....
Nathan memeluk Eil erat. Sementara orang yang di peluk masih bingung dan tidak tahu harus ber reaksi seperti apa. Nathan sebenarnya sudah tahu semuanya atau belum?
"Nathan kau kenapa?" tanya Eil bingung. Sebenarnya dia juga ingin memastikan apakah yang dia pikirkan itu benar-benar terjadi atau tidak.
"Aku merindukanmu Baby, kau dari mana? kenapa saat aku pulang kau tidak ada?" tanya Nathan. Dia menyesap wangi bunga yang sangat dia sukai pada curuk leher istrinya.
Eil menghela nafas lega. Syukurlah, berarti Nathan belum mengetahui segalanya. Lalu apa yang Bara lakukan pada nya? laki-laki itu sengaja ingin membuatnya takut. Tapi bisa jadi itu adalah sebuah peringatan dari Bara sebelum dia memberitahu Nathan semuanya. Eil masih harus siaga untuk ini, dia tidak boleh lengah.
"Aku tadi hanya keluar sebentar Nathan. Tumben udah pulang?" kini Eil mulai membalas pelukan sang suami.
"Aku sengaja pulang lebih awal, aku takut kau membutuhkan bantuan ku. Lengan mu sudah mulai membaik kan?" tanya Nathan. Dia melepaskan pelukannya dan menuntun Eil untuk masuk ke dalam kamar.
Eil tersenyum ketika mendengar kalimat ajaib yang keluar dari mulut suaminya. "Kau itu, bilang saja kalau kau sudah tidak tahan ingin bermain dengan ku kan?" Eil mencubit perut suaminya.
Nathan meringis sambil tertawa. "Aku tidak begitu, aku sudah mengatakan kalau aku takut kau membutuhkan bantuan ku. Aku sungguh-sungguh Baby."
Eil kembali tersenyum. Dia masuk ke dalam kamar, dan langsung melepas sepatu juga kardigan yang dia kenakan. "Mau main di mana hmm? di atas ranjang? atau di kamar mandi?" tanya Eil sambil mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.
Nathan terkekeh. Dia mengecup bibir Eil sekilas lalu mengangkat tubuh Eil dan membawanya ke kamar mandi. "Kali ini kita main di kamar mandi," bisik Nathan di telinga Eil.
****
"Apa kau baik-baik saja?" tanya seorang pria bertubuh tinggi besar kepada Belle.
Belle mengangguk. Dia mencoba untuk menggerakkan tangan dan kakinya perlahan. Apa yang di lakukan Bara padanya membuat Belle hampir cacat.
"Kenapa Kau membantuku Jay?" tanya Belle.
Laki-laki yang di panggil Jay itu tersenyum. "Aku sudah mengenal ayah mu sejak lama. Dia adalah panutan ku di dunia gelap. Aku tahu kalau dia terbang ke prancis untuk menemui mu. Jadi aku putuskan untuk mengikutinya. Kau tahu, sebenarnya aku sudah sangat menyukai mu sejak kali pertama kita berhubungan."
Belle mendengus . "Apa kau memiliki kemampuan yang cukup sampai mau membantuku? orang yang ingin membunuhku bukan orang biasa Jay. Selain dia sangat sadis, dia juga memiliki banyak koneksi. Kekuatannya tidak bisa kita remehkan begitu saja."
Jay mulai mendekati Belle. "Aku tahu, aku bahkan tahu siapa sebenarnya Bara. Kita sudah tahu kelemahannya. Dengan memancing dan menyerang kelemahannya, aku yakin dia tidak akan berlaga seperti sekarang."
Belle mengangguk. Dia menarik kaos yang di pakai Jay, lalu mulai menempelkan bibirnya di bibir Jay. Kegiatan saling adu mulut seperti sedang makam tutut itu berlangsung cukup lama. Dan semakin lama, kegiatan yang mereka lakukan semakin panas. Jay mulai terbawa suasana.
Dia menurunkan seutas tali yang ada di pundak Belle sampai ke bawah. Tangannya bergerak Indah mengukur luas dan tinggi gunung yang ada di depan matanya.
Saat Jay sibuk mencecap leher Belle. Perempuan itu tersenyum menyeringai.
"Kalau dengan menggunakan mu aku bisa mendapatkan Nathan, aku akan dengan suka rela melayani nafsumu Jay," gumam Belle dalam hati.
Sungguh Jay tidak tahu kalau dia hanya di jadikan alat oleh Belle. Wanita seperti Belle selalu rela melakukan apa saja demi mencapai apa yang dia inginkan.
****
Eil mengambil sebuah piyama lalu mengenakan nya. Setelah melirik suaminya sebentar, Eil keluar dari kamar nya untuk melakukan sesuatu yang tertunda.
Tok Tok Tok..
Cklekkkk.. Pintu kamar di buka dari dalam. Eil langsung masuk ke kamar Irene meskipun orang yang punya kamar belum mempersilahkan nya untuk masuk.
"Ada apa Nyonya?" tanya Irene yang berjalan mengekori Eil dari belakang.
"Di mana kau menaruh koper ku Irene?"
"Di sana Nyonya!" tunjuk Irene pada sebuah lemari yang ada di kamarnya.
"Oke dengarkan aku! aku ingin memindahkan koper itu dari apartemen ini, tapi sekarang bukan waktu yang tepat. Apapun yang terjadi, jangan pernah membiarkan Nathan masuk ke dalam kamar ini oke!" perintah Eil kepada Irene.
Irene mengangguk. "Baik Nyonya," jawabnya seadanya.
"Apa Bara ada menghubungimu?"
"Ada Nyonya. Dia memintaku untuk melaporkan setiap pergerakan Nyonya. Dan, seperti yang Nyonya pernah katakan sebelumnya. Saya hanya mengatakan hal-hal yang bisa di katakan saja."
"Baguslah, kalau ada sesuatu yang kau sendiri tidak yakin untuk mengatakannya, sebaiknya kau tanyakan dulu semuanya padaku."
Setelah selesai dengan urusannya, Eil keluar dari kamar Irene. Dia berjalan ke arah pantry dan membuat kopi panas untuk dirinya sendiri.
Belum sempat dia menyelesaikan pekerjaannya. Sepasang tangan kokoh sudah melingkar di pinggang ramping nya.
"Kau sudah bangun Nathan?"
"Apa yang sedang kau lakukan? kenapa membuat kopi malam-malam begini? nanti kau tidak bisa tidur."
Nathan membenamkan wajahnya di bahu sang istri. Eil yeng melihat kemanjaan suaminya tersenyum. Kenapa akhir-akhir ini Nathan menjadi sangat manja? ini tidak terlihat seperti Nathan yang sesungguhnya.
"Aku memang sudah tidak bisa tidur Nathan. Kau mau aku buatkan kopi?" tanya Eil.
Nathan menggeleng. "Aku tidak bisa minum kopi di jam-jam segini Baby."
"Baiklah kalau kau tidak mau. Aku hanya akan membuatnya untuk diriku sendiri."
Malam itu semakin larut. Eil yang memang tidak bisa tidur, memutuskan untuk kembali ke kamar, dia sangat ingin membuka laptop pertamanya, tapi Nathan pasti akan curiga kalau Eil pergi ke kamar Irene di tengah malam seperti ini.
Alhasil, dia hanya berkutat pada laptop keduanya. Melihat deretan informasi dan dokumen data pasien yang sudah mengantri jadwal operasi yang akan di lakukannya.
Kening Eil berkerut ketika dia melihat satu nama yang tertera di layar monitor laptopnya. Kenapa nama ini ada di sana? bukankah selama ini dia terlihat baik-baik saja? ini adalah sebuah kebetulan atau memang sudah di rencanakan.
Eil semakin memperhatikan dokumen itu dengan seksama.
"Aku tidak salah bukan? ini benar-benar kau."
...To Be Continued....