The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Perang Batin



Prang......


Amber membanting sebuah piring yang hendak di cuci oleh Jerome. Jerome tidak bergeming. Dia malah menelusupkan tangganya di bawah ketiak Amber lalu mendudukkan Amber di atas pantry.


Gedebuk.....


Sebuah pot bunga sintesis Amber lemparkan kepada Jerome yang hendak memungut pecahan piring yang sudah menjadi kepingan-kepingan kecil.


"Kau masih mau seperti ini Kak? sebenarnya kau ini kenapa? kenapa kau tidak mau bicara kepadaku. Kalau aku salah , katakan, tapi jangan mendiamiku seperti ini. Kenapa Kakak sangat egois. Aku tidak punya teman, dan kau malah mendiami ku. Jadi aku harus berbicara pada siapa? haruskah aku mati dan menjadi hantu supaya kau tidak bisa lagi mengatur hidupku?"


Jerome langsung berdiri. Dia menatap Amber dingin. Bahkan air mata yang keluar dari mata Amber tidak bisa meluluhkan hatinya dan tidak bisa membuat tatapan Jerome menghangat.


"Apa kau akan mendengarkan ku kalau aku bilang jauhi Lukas?" tanya Jerome.


Amber terdiam. Dia bingung, tentu saja dia tidak ingin menjauhi Lukas, Lukas adalah satu-satunya laki-laki yang telah membuat hidupnya yang gelap menjadi sangat berwarna, dia yang tadinya tidak terlalu semangat hidup kembali semangat dan ingin menjadi orang yang sukses supaya dia bisa bersanding dengan Lukas.


"Kak! Kakak boleh minta apapun dari Amber. Tapi Amber gak mau menjauh dari Kak Lukas. Amber mencintainya Kak."


Jerome mendengus. Dia kembali memutar tubuhnya dan melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. "Aku tahu kau tidak bisa melakukannya Amber. Biarkan semuanya tetap seperti ini," ucap Jerome dingin. Dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, kalau Amber memang mencintai Lukas, makan Jerome tidak akan melarangnya. Daripada kehilangan Amber untuk selama-lamanya, lebih baik dia terus merahasiakan kebenaran di masa lalu dan mengorbankan hati nya . Tidak apa dia terluka, yang penting adalah, Amber akan terus ada di sisinya.


"Pergilah ke kamarmu! aku akan membereskan ini semua," ucap Jerome.


Amber tutun dari atas pantry. Dia mengusap air matanya kasar. Amber sangat kecewa kepada Jerome, kenapa Jerome sangat tega melakukan ini padanya.


"Aku membencimu Kak!" ucap Amber marah.


Jerome hanya bisa menarik nafas panjang. Dia tidak bisa memberitahu Amber semuanya. Dia takut kehilangan Amber. Salahkan dia yang egois, tapi Jerome melakukan ini karena dia sangat mencintai Amber.


Sementara di dalam kamar, Amber sedang menangis tersedu-sedu. Tangannya meremas bantal yang ada di dalam pelukannya. Kenapa hatinya sakit ketika Jerome bersikap seperti ini padanya?


Drtzzzzz... Drtzzzzz...


Amber melirik ponselnya yang ada di atas nakas, matanya masih terpejam dan enggan untuk terbuka, air matanya yang menggenang di pelupuk matanya membuat pandangan Amber kabur.


"Halo!" ucap Amber masih dengan suara parau nya.


"Kakak Cantik! Kakak kenapa? Kakak menangis ya?" tanya Alard di sebrang telepon. Amber langsung duduk dan menghapus sisa-sisa air mata di pipinya.


"Alard! kenapa menelpon Kakak sayang?" tanya Amber.


"Kakak belum menjawab peltanyaan Alad. Alad gak mau jawab peltanyaan Kakak."


Amber terkekeh. "Kakak tidak apa-apa sayang. Kakak tadi lagi tidur, mangkanya suara kakak lain dari biasanya. Sekarang giliran Alard yang jawab pertanyaan kakak ya!"


"Baiklah, Alad akan jawab peltanyaan Kakak Cantik. Alad besok ada lomba di sekolah, lomba menali dan belnyanyi. Ibu gulu meminta Alad untuk membawa olang tua. Tapi Alad udah gak ada Ibu. Kakak mau ya nemenin Alad!"


Mata Amber berbinar, dia tentu saja sangat senang menerima tawaran dari Alard bukan karena dia ingin mengambil kesempatan, tapi memang Amber senang karena dia akan memiliki teman, ya, meskipun itu anak kecil tapi tidak masalah. Yang penting dia bisa melewati hari-hari nya tanpa kesepian.


Terdengar suara pekikan dari sebrang telepon. Alard juga sangat gembira, tahun lalu, dia hanya di temani Lukas saat mengikuti lomba. Tapi tahun ini, dia akan di temani Lukas juga Amber.


Jerome mengepalkan tangannya dengan kuat. Niat hati ingin meminta maaf pada Amber , tapi apa yang dia dapat? Jerome malah mendengar percakapan Amber dengan anak Lukas, apa ini adil untuknya?


"Sialan kau Lukas! kau menggunakan anakmu untuk menjerat Amber."


Sementara di tempat lain, Belle sedang bersiap dengan bala tentaranya. Mulai sekarang dia akan mempersiapkan rencana untuk menyerang Eil. Dia yakin kalau Eil akan mati di tangannya. Belasan ninja dan pembunuh bayangan yang ayahnya kirimkan sudah ada di hadapannya, kini Belle hanya harus menunggu , menunggu waktu yang tepat untuk melakukan penyerangan.


"Kalian tahu, sebenarnya lawan kalian ini hanya wanita lemah. Hanya saja, orang-orang yang ada di belakang nya adalah orang-orang yang sangat hebat. Kalian harus bermain halus. Jangan sampai membuat keributan, bunuh dia diam-diam!" perintah Belle pada semua orang-orang nya.


"Baik Bos!" jawab semua orang itu serempak.


Belle mengambil sebuah rokok lalu seseorang berjalan ke arahnya dan menyalakan pemantik api untuk membakar rokok yang sekarang Belle selipkan di jari tangannya.


Kepulan asap putih keluar dari mulut nya melewati bibir merah bata Belle. Sebuah seringai muncul di wajah cantiknya. Belle sangat percaya diri dengan segala persiapan yang telah dia lakukan, dia tidak tahu, kalau sebenarnya Eil mengetahui semua rencana jahatnya. Belle bilang kalau Eil wanita lemah? sungguh dia tidak tahu siapa sosok Eil yang sesungguhnya. Karena kalau dia tahu, dia tidak akan berani mengucapkan kata-kata rendahan seperti itu.


"Kalian harus bersiap dengan segala kemungkinannya. Buat seolah-olah kalau kalian itu adalah anak buah Bara. Jangan membuat pergerakan yang tidak perlu. Jika perlu membunuh, bunuh saja semua orang-orang yang nantinya akan di kirim Belle untuk menyerang ku."


"Baik Bos," ucap anggota Eil di sebrang telepon. Eil mengangguk. Dia memasukan kembali ponselnya ke dalam saku mantel yang dia kenakan.


"Apa yang sedang kau lakukan Lily?" tanya Eil pada wanita yang sedang mengintip di celah pintu kamar Eil dan Nathan.


Lily terperanjat. Dia langsung membungkuk dan menundukkan kepalanya dalam.


"Maaf Nyonya, saya hanya ingin menawarkan makan malam, tapi saya tidak berani mengetuk pintu. Saya pikir Nyonya ada di dalam," ucap Lily pada Eil.


"Kau berani mengintip tapi tidak berani mengetuk pintu? apa kau tidak di ajarkan sopan santun Lily? menurutmu, lebih sopan mana melihat kamar orang diam-diam dengan mengetuk pintu?"


Lily diam, dia semakin menundukkan kepalanya karena merasa terpojok. Lily tadi memang berniat untuk mengetuk pintu, tapi karena pintu kamarnya sedikit terbuka saat Lily hendak mengetuknya, Lily malah tertarik untuk memperhatikan Nathan yang sedang duduk di atas ranjang sambil bermain laptop.


"Kau itu sangat tidak masuk akal Lily," geram Eil.


"Ada apa ini?" tanya Nathan yang baru keluar dari dalam kamarnya.


"Kau urus saja wanita simpanan mu ini. Aku malas kalau harus berurusan dengannya."


Blammmm...


Nathan terperanjat saat Eil membanting pintu kamarnya kasar.


"Astaga Eil. Kau mengatakan ku."


...To Be Continued....