The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Saling Menyimpan Rahasia



Cklekkkk... Pintu apartemen di buka kasar oleh Jerome, dia sudah sangat khawatir karena tidak menemukan Amber di apartemen Sulli. Dia ingin menghubungi Amber tapi baterai ponselnya habis. Dia ingin menanyakan keberadaan Amber pada Eil, tapi Eil juga tidak ada di sana. Alhasil, dia langsung melesat pergi menuju apartemennya untuk melihat apakah Amber ada di sana atau tidak.


"Kak!" panggil Amber dengan senyuman di wajah cantiknya. Dia sudah berganti pakaian dengan pakaian rumahan. Dia juga sedang memegang pan dan spatula.


Syukurlah, ternyata Amber sudah ada di apartemen. Dia baik-baik saja dan tidak terluka sedikitpun.


"Kau pulang dengan siapa Amber?" tanya Jerome menghampiri Amber sambil menatapnya dengan tatapan mengintrogasi. Sebenarnya dia tahu kalau Amber pasti di antar pulang oleh Lukas. Tapi dia hanya ingin memastikan semuanya dari mulut Amber sendiri. Dia tidak ingin hanya menduga-duga. Semuanya harus jelas dan pasti.


"Kak Lukas mengantar ku pulang Kak. Kakak darimana saja? semalam aku mencari Kakak dan Kak Eil, tapi kalian tidak ada. Jadi aku memutuskan untuk pulang. Dan karena pada saat itu hanya ada Kak Lukas di sana, dia menawarkan diri untuk mengantar ku pulang. Tidak apa kan Kak?" tanya Amber. Dia mematikan kompornya lalu berjalan mendekati Jerome. Langkahnya terhenti tepat di depan laki-laki yang sudah 12 tahun menemani hari-harinya.


Kalau di tanya kenapa Amber hanya mengingat 12 tahun terakhir. Dan kemana 8 tahun sisanya? jika kalian memang menanyakan itu, Amber juga tidak tahu, karena dalam memori nya, dia hanya bisa mengingat Jerome ketika usianya sudah 12 tahun. Jadi apapun yang terjadi sebelum itu, dia tidak mengetahuinya.


"Aku tidak akan mempermasalahkan nya. Jika dia bisa menjaga mu dengan baik aku merasa sangat bersyukur untuk itu. Kau sudah dewasa, sudah sewajarnya kau mengenal lawan jenis selain aku. Kau sudah 20 tahun Amber, aku sudah tidak bisa mengatur kehidupan mu lagi. Aku harap kau bisa menjaga dirimu dengan baik."


Deg...


Bagai tersambar petir di siang bolong, jantung Amber serasa copot dari tempatnya. Kegetiran yang dia rasakan membuat hatinya sakit. Jiwanya kosong, Jerome mengatakan kalimat nya dengan santai, tapi Amber, dia merasakan dampak yang begitu hebat. Dia tidak bisa menahan sesak dalam dadanya. Ini terlalu menyakitkan. Kenapa kalimat yang Jerome ucapkan padanya terasa seperti kalimat perpisahan. Kenapa bisa seperti itu.


Bukankah Amber juga dekat dengan laki-laki lain, tapi kenapa saat Jerome menjauh darinya dia merasa sangat kehilangan. Seperti burung yang kehilangan sayapnya. Seperti pelangi yang kehilangan warnanya, dan seperti matahari yang kehilangan sinarnya, Amber hampa. Hatinya kosong. Dan tubuhnya dingin. Dia merasa kalau dia tidak berarti apa-apa tanpa Jerome.


"Kenapa kau melakukan ini padaku Kak? bukankah kau sangat menyayangi ku? kenapa setelah wanita itu muncul, sikap mu berubah sangat drastis."


Amber menatap nanar pintu kamar Jerome. Air matanya mengalir seiiring dengan sesaknya dada nya. Dia merasa dunia nya sudah pergi. Dia harus melakukan apa supaya Jerome kembali seperti dulu.


Sementara di dalam kamar, Jerome sedang berbaring di tepat tidurnya sambil menatap langit-langit kamar. Dia memijat pelipisnya yang berdenyut. Bayangan di mana dia sedang bercinta dengan Sulli perlahan muncul sedikit demi sedikit. Dia bahkan bisa mengingat bagaimana brutalnya dia mencecar tubuh seksih Sulli menggunakan tangan juga bibirnya.


Jerome tidak menyangka kalau dia melakukan semua itu semalam. Kenapa dia bisa sampai ke bablasan. Alhasil dia tidak bisa berpikir dengan jernih. Dia benar-benar sudah habis sekarang. Apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Sulli bukan wanita lemah seperti kebanyakan wanita yang akan menangis ketika melakukan hubungan tidak di sengaja bersama orang yang baru dia kenal. Dia pasti akan semakin menempel padanya.


"Kau berengsek Jerome! kau benar-benar brengsek," umpat Jerome pada dirinya sendiri.


Tok Tok Tok


"Kak, Kak Jerome!" panggil Amber sambil mengetuk pintu kamar Jerome beberapa kali.


"Ada apa?" tanya Jerome yang baru saja membuka pintu kamarnya.


"Kakak bekum sarapan kan? kita sarapan bareng yuk!" ajak Amber. "Aku sudah masak makanan kesukaan Kakak. Kakak pasti menyukainya."


"Eum... " Hanya itu yang keluar dari mulut Jerome. Dia berjalan ke arah meja makan dengan langkah cepat. Semakin cepat dia menyelesaikan kegiatannya, maka semakin cepat pula dia masuk ke dalam kamar lagi.


Sementara di tempat lain, Eil sedang menatap Sulli dengan kedua tangan yang dia lipat di depan dada. "Apa yang kau lakukan pada Jerome Sulli. Aku tahu dia bukan orang yang pandai mabuk. Tapi kalau sampai dia kehilangan kendali seperti semalam, aku yakin kau melakukan sesuatu yang lebih bukan?"


Sulli hanya tersenyum. Dia masih bahagia jika mengingat bagaimana ganasnya Jerome di atas ranjang. Dia benar-benar sangat dominan, Sulli saja sampai di buat kewalahan dan hampir menyerah. Kenikmatan itu membuat Sulli menginginkan lagi dan lagi.


"Apa kau tahu jurus obat andalan Eil?" tanya Sulli tanpa dosa.


"Kau itu sudah gila, kenapa kau melakukan itu padanya Sulli? dia bisa menghabisi mu kalau sampai dia marah," ucap Eil yang kini sedang mengeluarkan asap dari dalam telinganya.


Dia benar-benar tidak habis pikir, kenapa Sulli sangat nekat. Padahal mereka baru bertemu dua kali, tapi Sulli sudah mau melakukan hubungan seperti itu. Dia benar-benar tidak bisa dipercaya.


Dengan santainya Sulli menggenggam tangan Eil. Dia berbisik di telinga wanita cantik itu sampai membuat Eil membulatkan matanya dengan sempurna.


"Kau tidak akan tahu bagaimana ganasnya Jerome di atas ranjang. Aku yakin, setelah ini dia tidak akan bisa jauh-jauh dariku," bisik Sulli dengan senyuman Devil di wajahnya.


"Ada apa?" tanya Nathan yang baru keluar dari kamar yang semalam dia tiduri bersama Eileria.


Eil berdiri lalu memeluk Nathan dan mengecup bibirnya sekilas. "Tidak ada apa-apa. Dia hanya sedang curhat. Kau tidak perlu mencemaskan apapun. Aku sudah menyiapkan sarapan, kau sarapan dulu! setelah ini aku akan jalan-jalan bersama Sulli."


Nathan mengangguk. Dia mengikuti Eil yang memeluk pinggangnya dan menuntunnya untuk duduk di meja makan.


"Awas kau!" ucap Eil tanpa suara pada Sulli. Dia mengepalkan tangannya membuat Sulli sedikit terkekeh.


"Dasar bucin!" ledek Sulli pada Eil.


...To Be Continued....