The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Mengikuti Bayangan



"Dia!" guam Eil dalam hati. Eil masih terus memperhatikan bayangan yang dia lihat. Kenapa orang itu ada di sana, dan apa tujuannya? bukankah Nathan sudah melarang semua orang untuk tidak keluar dari tempat persembunyiannya sebelum Nathan masuk ke kamarnya di malam hari. Seketika itu juga Eil merasa ada yang aneh. Ada yang tidak beres dengan orang-orang yang ada di mansion nya.


"Nathan," panggil Eil lembut.


"Ada apa Baby?" tanya Nathan sambil menjauhkan tubuh Eil dari tubuhnya. Dia menatap Eil yang sedang menunjukan senyum bunga matahari padanya, Eil terlihat sangat cantik, apalagi saat berada di luar ruangan seperti sekarang, cahaya yang ada di dalam dirinya seakan keluar semua.


"Aku silau," ucap Nathan spontan. Eil mengerutkan keningnya bingung, mereka memang sedang berada di luar ruangan, tapi hari ini cuaca tidak terlalu bagus, itulah sebabnya kenapa Nathan membangunnya agak pagi supaya acaranya dan Nathan tidak tertunda karena hujan.


"Apa maksudmu Nathan?"


"Aku silau karena melihat cahaya yang keluar dari dalam dirimu Eil. Kau terlihat seperti seorang bidadari."


Eil terkekeh saat mendengar gombalan yang keluar dari bibir suaminya. Dia sangat ingin tertawa karena Nathan yang sebelumnya tidak pernah menggombal, kini mulai melakukan itu. Dia hendak memukul dada Nathan namun dengan gerakan cepat Nathan malah menarik tangannya dan kembali menautkan bibir mereka. Decapan halus, suara erangan, semuanya menyatu dengan suasana alam yang sangat damai dan hanya memperdengarkan suara hewan-hewan liar seperti burung dan katak. Sepuluh menit sejak mereka menyatukan bibir mereka, Nathan baru melepaskan tautannya saat rintik air hujan mulai membasahi kulitnya.


"Kita harus segera kembali Sayang," ucap Nathan yang langsung berdiri untuk mengambil dayung dan mulai mendayung sampannya ke tepian. Eil yang memperhatikan Nathan hanya tersenyum sambil mengadahkan tangannya ke atas seolah dia sedang menampung air hujan. Kalau Eil bisa meminta, Eil ingin waktu berhenti saat ini juga, biarlah dia meninggalkanl semua kerumitan hidup di saat dia merasa sedang bahagia bersama suaminya.


"Ayo Eil," ajak Nathan saat dia sudah turun dari sampan. Eil berdiri lalu mulai berjalan dan menerima uluran tangan Nathan. "Kita harus berlari Baby, kau bisa sakit kalau terlalu lama berada di bawah hujan seperti ini." Akhirnya mereka berlarian di bawah hujan dengan Nathan yang menaungi kepala Eil menggunakan kedua tangannya.


Kurang dari sepuluh menit akhirnya Eil dan Nathan sampai di mansion mereka. Nathan langsung membawa Eil ke kamar dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam kamar mandi lebih dulu. Namun, bukan Eil namanya kalau dia tidak memberikan kejutan-kejutan di luar dugaan Nathan. Eil yang tadi pagi masih merengek karena Nathan menggaulinya cukup brutal, kini malah menarik tangan Nathan dan memintanya untuk mandi bersama. Aneh bukan? tapi itulah Eil, terkadang apa yang dia ucapkan tidak sejalan dengan apa yang dia pikirkan.


****


Tengah malam, di kamar utama Nathan dan Eil. Eil mengibaskan tangannya di depan wajah Nathan beberapa kali. Dia hanya ingin memastikan, apa obat tidur yang dia berikan kepada Nathan sudah bekerja dengan baik atau belum. Eil sebenarnya tidak sedang memiliki misi khusus, dia hanya ingin memastikan sesuatu agar rasa penasarannya bisa hilang. Setelah keluar dari kamar utama, Eil masuk ke dalam kamar lamanya, kamar itu memang selalu dia kunci, dan hanya dia yang memiliki kuncinya. Eil mengambil sebuah koper dari kolong ranjang King size miliknya. Dia menarik koper itu lalau memutar beberapa angka yang menjadi sandi dari kunci kopernya.


Klakkkkk... Koper berwarna silver itu terbuka dengan sempurna, deretan senjata terpangpang jelas di dalam koper itu, mulai dari pistol, belati, pisau lipat, bahkan benda-benda seperti granat dan yang lainya juga ada. Entah apa yang di pikirkan Eil sampai dia berani membawa barang-barang seperti itu ke dalam mansion Nathan.


Eil berpikir untuk sejenak, dia masih memilah dan menimbang apa yang harus dia bawa untuk berjaga-jaga. Setelah beberapa saat, pilihan Eil tertuju pada sebuah pistol  S&W 500M yang mampu meledakan target yang terkena pelurunya.


****


Tok Tok Tok...


Eil mengetuk pintu sebuah bangunan yang terletak tak jauh dari mansionnya.


"Irene di mana Bi?" tanya Eil to the point. Dia yakin, orang yang dia lihat tadi adalah Irene, matanya tidak katarak sampai dia tidak bisa melihat dan tidak bisa membedakan orang-orang yang sudah tertangkap matanya meskipun itu dari jarak yang cukup jauh.


"Dia ada di kamarnya Nyonya."


"Aku pinjam kamar Bibi ya, dan ya, suruh Irene untuk datang ke kamar mu Bi, dan jangan biarkan siapapun mendekat sebelum aku keluar dari dalami kamar."


"Baiklah Nyonya, mari saya antar ke kamar saya," ucap Aami yang kini sudah berjalan di depan Eileria.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya orang yang di tunggu-tunggu oleh Eil masuk ke dalam kamar, Eil yang tadinya sedang duduk di tepian ranjang langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu.


Cklekkk... Eil memutar kunci pintunya lalu memainkan kunci itu di jari tangannya. "Apa kabar Irene?" tanya Eil dengan suara merdu khas Azalea. Irene menunduk. Dia merasa ada yang aneh dengan Nyonya nya kali ini. Auranya sungguh sangat berbeda dengan aura Nyonya Eilnya yang selalu terlihat sangat hangat dan ceria.


"Kenapa tidak menjawab hmm?" tanya Eil lagi. Dia sudah duduk di tepian ranjang sambil menyilangkan tangan dan kakinya. Seringai muncul saat dia melihat Irene yang sangat gugup sampai dia tidak bisa mengangkat kepalanya di depan Eil. Bukankah selama ini mereka sudah sangat dekat, bahkan di banding dengan Aami, Eil merasa kalau hubungannya dengan Irene jauh lebih baik dan lebih akrab karena mereka memliki satu hobi yang sama yaitu menonton drama.


"Ada apa Nyonya?" tanya Irene dengan suara yang bergetar, dia merasa sangat takut ketika matanya tidak sengaja melihat aura iblis yang di tunjukan Eil di hadapannya. Lututnya sudah lemas bak sebuah jeli yang baru di keluarkan dari cetakan.


"Jangan banyak basa-basi Irene, aku tahu kau tidak selemah itu, kau bekerja untuk seseorang bukan? apa yang dia perintahkan padamu? dia menyuruh mu untuk memata-mataiku bukan?"


Eil berjalan mengitari Irene, dan sesekali memainkan rambut panjang Irene dengan jemarinya yang lentik namun sangat mematikan jika sudah tergigit.


"Saya tidak mengerti apa yang Nyonya maksud. Tolong jangan menuduh saya melakukan hal yang tidak-tidak Nyonya."


Settttt.... Brukkkkk..... Eil mendorong Irene ke atas ranjang dan menaiki tubuh Irene sambil mencengkram leher Irene dengan satu tangannya. Dia menarik satu sudut bibirnya ke atas. "Kau masih tidak mau jujur hah?" sarkas Eil semakin memperkuat cengkramannya.


Irene sudah sangat kesulitan untuk bernafas, dia berusaha melepas cengkraman tangan Eil di lehernya, namun ternyata kekutan Eil tidak sebanding dengan kekuatan nya yang hanya se ujung kuku.


"Jawab atau aku akan meledakan kepalamu?" geram Eil. Dia mengambil sebuah pistol yang tadi dia bawa di belakang punggungnya, lalu menempelkan pistol itu di pelipis Irene.


...To Be Continued....