
Klik...
Eil membuka pintu apartemennya dengan tergesa. Hari ini dia pulang malam karena di rumah sakit ada keadaan darurat yang mendadak. Dia ingin segera menemui Nathan dan menghilangkan segala penat dengan bermanja pada suaminya.
"Irene!" panggil Eil. Dia menghampiri pelayannya itu, kenapa Irene mondar-mandir seperti orang yang sedang gelisah. Apa terjadi sesuatu.
"Kau kenapa?" tanya Eil. "Apa Bara mengancam mu lagi?"
Irene langsung berlari ke arah Eileria. Dia menggigiti kuku-kuku tangannya . "Bagaimana ini Nyonya? apa yang harus kita lakukan?" tanya Irene dengan tangan yang bergetar hebat.
"Ada apa? katakan sesuatu , jangan membuatku ikut khawatir," ucap Eil lagi.
"Tuan, Tuan Nathan, dia ada di kamar Saya Nyonya."
Deg...
Eil membanting tas yang dia bawa sembarangan. Dia berlari ke arah kamar Irene dengan jantung yang seakan sudah lompat dari tempatnya.
"Nathan!" panggil Eil. Suaminya itu diam. Dia duduk di tepian ranjang sambil menunduk ke bawah. Eil belum tahu pasti apa yang sedang Nathan lakukan, karena posisinya, Nathan sedang memunggungi Eil.
"Nathan!" panggil Eil lagi. Dia semakin mendekat ke arah suaminya.
Tak...
Langkahnya terhenti. Eil membekap mulutnya saat dia melihat koper silver miliknya sudah terbuka . Dari tadi Nathan menunduk karena melihat isi kopernya bukan?
"Apa ini Eileria? kau menyembunyikan sesuatu dari ku?" tanya Nathan dingin. "Siapa kau sebenarnya?" tanya Nathan lagi. Dia kini menatap Eil dengan mata yang memerah, antara kecewa, sedih dan marah, Nathan juga tidak tahu, mana yang lebih menekan hatinya.
"Nathan aku bisa menjelaskan semuanya," ucap Eil. Dia semakin mendekat ke arah Nathan, namun Nathan mengangkat tangannya seolah menyuruh Eil untuk tetap diam di tempat.
"Apa yang harus aku lakukan Tuhan, kenapa ini semua bisa terjadi. Siapa yang memberi tahu Nathan semuanya?"
"Jelaskan semuanya padaku Sekarang Eil!" titah Nathan. Tidak ada kelembutan, tidak ada suara damai, Eil tahu Nathan sedang marah padanya.
"Aku, aku memiliki pekerjaan lain Nathan"
"Menjadi seorang pembunuh?" Seloroh Nathan. Dia tersenyum sinis ke arah Eileria.
Eil semakin gusar. Dia semakin bingung harus menceritakan ini semua dari mana.
"Aku memang seorang pembunuh Nathan. Dan aku juga yang telah membunuh Klien mu ketika kau berada di Irak."
Jederr...
Bagai tersambar petir , Nathan di buat jantungan dengan fakta yang di berikan Eil padanya.
"Jadi ini semua benar Eileria?" teriak Nathan. Dia menendang koper berisi senjata yang selalu di gunakan Eil.
Eil terperanjat. "Maafkan aku Nathan, aku ingin memberitahumu sejak awal. Tapi aku takut, aku takut kau akan marah dan membenci ku!" ucap Eil lagi.
Nathan tertawa hambar. Alasan Eil memang masuk akal, tapi tidak seharunya dia membohongi Nathan dengan waktu yang cukup lama seperti ini, mereka menikah sudah hampir satu tahun, dan Eil baru mengatakan ini semua saat Nathan mengetahui ini dari orang lain.
"Kenapa kau tega mengelabui ku Eileria? selama ini aku sudah menaruh kepercayaan yang sangat besar padamu. Kenapa kau malah,...."
"Arghhhhhh...." Nathan berteriak sambil menjambak rambutnya. Dia terlalu kesal sekarang. Selain karena kebohongan yang di sembunyikan Eil darinya, Eil juga adalah orang yang telah membuatnya di berhentikan dari pekerjaannya dulu. Nathan harus bersikap seperti apa.
"Nathan aku."...
"Stop! tetap di tempatmu! aku sedang tidak ingin melihat mu Eil. Pergilah! pergi kemanapun yang kau mau untuk sementara. Aku takut aku tidak bisa berpikir dengan bijak jika aku masih melihat wajah mu di sini."
Eil diam. Dia terpaku di tempatnya. Bukan ini yang Eil harapkan, dia tidak bermaksud mengelabui Nathan, dia hanya menunggu waktu yang tepat untuk memberi tahu Nathan segalanya.
"Nathan!" panggil Eil dengan suara yang hampir seperti bisikan.
Nathan diam. Dia memutar tubuhnya membelakangi Eil.
"Baiklah, aku akan pergi," ucap Eil lemah.
Dia melirik Nathan sekilas sebelum dia benar-benar pergi dari kamar itu.
Bughhh.... Bughhhh... Bughhhhh...
"Arghhhhhhhhh," geram Nathan. Lagi-lagi dia menjambak rambutnya frustasi. Kenapa takdir membuatnya bertemu dengan Eil, kalau pada akhirnya Nathan harus di sudut kan dalam posisi seperti ini.
"Kau bodoh Nathan, kau bodoh!" hardiknya pada diri sendiri.
Eil menatap pintu kamar Irene yang terbuka .
"Tolong jaga Nathan Irene! aku harus pergi!"
Eil mengambil tas yang tadi dia lempar.
"Apa yang terjadi Nyonya? Nyonya mau ke mana?" tanya Irene dengan wajah yang sendu.
Eil tersenyum tipis. "Aku harus pergi Irene, untuk sekarang, tidak ada tempat bagiku di sini."
"Saya ikut Nyonya. Saya tidak mau Nyonya pergi meninggalkan saya," mohon Irene. Dia menarik lengan Eil dan berharap kalau Eil akan mau mendengarkan nya.
"Jangan seperti ini Irene. Kau tetap di sini. Tempat ini adalah tempat yang paling aman untuk mu, aku tidak bisa membawamu bersamaku. Aku memerintahkan mu untuk menjaga Nathan. Apa kau mengerti?" tanya Eil. Dia melepas paksa tangan Irene.
"Aku pergi!" ucapnya. Irene menatap Eil dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya. Kenapa semuanya menjadi seperti ini? ....
Beberapa jam yang lalu. Di sebuah markas khusus yang ada di kota Paris.
Ting....
Nathan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Hari ini dia ada misi sampai siang, jadi sorenya Nathan dan juga timnya baru ada waktu untuk makan dan istirahat.
"Apa kau tahu kalau istri cantikmu itu adalah seorang pembunuh yang kejam? dia adalah Azalea, julukannya adalah Angel of death. Dia juga yang telah membunuh klien mu."
Ting...
Satu lagi pesan masuk...
"Pergi dan geledah semua tempat yang ada di apartemen mu! aku yakin kau akan menemukan bukti di sana."
Nathan menutup ponselnya. Segera, dia menganggap itu hanya pesan palsu, hanya orang iseng yang mau melakukan hal-hal tidak berguna seperti ini. Bagaimana mungkin Eil-nya sanggup membunuh seseorang. Dia sangat manis dan elegan. Tidak mungkin Eil melakukan hal-hal menyeramkan seperti itu.
Ting....
"Aku tahu kau tidak percaya. Tapi sebaiknya kau lakukan apa yang aku sarankan!"
Ting....
Kali ini Nathan membulatkan matanya tidak percaya ketika melihat sebuah video yang menggambarkan seorang wanita sedang membunuh seseorang menggunakan senjata api yang dia bawa.
Nathan langsung berlari menuju mobilnya. Dia tidak perduli dengan semua anggotanya yang keheranan ketika melihat Nathan pergi dengan tergesa.
"Ada apa dengan kapten? kenapa dia terlihat sangat gusar?" ucap salah seorang anggota yang heran ketika melihat Nathan berlari keluar dari markas.
"Aku harap ini tidak benar Eil, aku harap kau tidak akan mengecewakan ku."
Setelah sampai di apartemennya, Nathan langsung pergi ke kamarnya, meng obrak abrik isi kamar mencari sesuatu yang di maksudkan oleh sang pengirim pesan.
Nathan sudah mencari ke seluruh penjuru ruangan. Dia juga menggeledah kamar kedua, ruang tamu, dapur, semuanya Nathan geledah.
"Kamar Irene," gumamnya . Dia langsung berlari menuju kamar itu.
Brak... Brak.. Brak...
Nathan menggedor pintu kamar Irene. Saat sang pemilik kamar membuka pintu, dia langsung masuk ke dalam dan mulai meng obrak abrik semua isi kamar itu.
"Tuan," gumam Irene ketika dia melihat Nathan mengambil koper Eil dari dalam lemari.
Nathan mencoba untuk membuka koper itu tapi tidak bisa, dia mengambil pistol dari samping celana yang dia kenakan lalu mulai menembaki gembok koper itu.
Klik.... Brak... Koper itu terbuka.
Burukkkkk... Nathan langsung terduduk lemas di atas ranjang , jadi apa yang di katakan pengirim pesan itu benar."
...To Be Continued....