
Langkah Nathan dan Bara terhenti ketika dia melihat seorang pria sedang berjongkok di depan Eileria sambil berusaha untuk menyentuh wajah wanita cantik itu.
"Bajingan kau!"
Set ...
Bugghhhh ...
Brukkkkk ...
"Bara stop!" Titah Eilaria mencoba untuk menghentikan Bara yang sedang menghajar Daniel membabi buta.
"Biarkan saja Baby, dia pantas mendapatkan itu. Daniel sudah membuatmu menangis. Biarkan dia dihajar Bara sampai mati." Nathan mengusap air mata yang mengalir di pipi putih milik istrinya.
Eileria menggeleng dengan cepat. "Jangan lakukan itu. Daniel tidak membuatku menangis, tolong jangan lakukan itu." Eileria memberontak saat Nathan berusaha untuk memeluk lnya. Mereka sungguh salah paham.
"Berhenti atau aku akan pergi meninggalkan kalian."
Satu ancaman dari Eil mampu membuat Bara menghentikan bogeman nya. Dia benar-benar tidak waras. Bahkan Daniel sudah habis babak belur dan hampir pingsan namun Bara masih tetap menghajarnya.
"Aku akan menceritakan semuanya," ucap Eil. Mata cantiknya sudah tidak mengeluarkan butiran berlian. Eil sudah berhenti menangis meskipun dia masih sesenggukan.
Flashback on
"Ada apa Daniel?" Eileria bertanya ketika mereka sudah sampai di taman rumah sakit.
Daniel berjalan beberapa langkah. Dia berdiri di hadapan Eileria lalu jongkok. "Kau sempat menanyakan seseorang padaku bukan? Saat itu kau menunjukan sebuah poto padaku."
Eileria mengangguk.
"Apa aku boleh melihat foto itu lagi?" tanya Daniel untuk memastikan apakah yang dia lihat dan dia ingat itu benar atau tidak.
Eileria mengambil ponselnya lalu memperlihatkan sesuatu yang ada di dalam layar ponsel miliknya.
"Aku pernah melihat dia. Dia pernah menemui Belle di rumah sakit ini," ucap Bara yakin. "Belle sekarang sudah tidak pernah muncul. Entah apa yang terjadi padanya. Aku harap dia akan baik-baik saja."
Eileria diam untuk sesaat, pikirannya kembali kepada saat-saat di mana dirinya sedang bersama dengan Dragon. Laki-laki itu sudah seperti seorang kakak untuknya dan dia menjadi sangat sedih karena ternyata Dragon menusuknya dari belakang.
Semua kenangan yang ada di dalam memori Eil tentang Dragon tidak pernah bisa hilang. Andai Eil memiliki cara untuk menghapusnya, ia akan memilih untuk menghapusnya. Menghapus kenangan buruk tentang Dragon. Sementara kenangan baiknya, Eil akan mengingatnya sampai dia mati, meskipun Dragon telah membuatnya cacat seperti sekarang. Eil sadar mungkin ini adalah teguran dari Tuhan karena dia telah melakukan banyak dosa.
Tanpa Eil sadari, air matanya mengalir ketika dia mengingat kenangan pahit yang diberikan Dragonon untuknya.
"Kenapa kau menangis?" ucap Daniel, laki-laki itu mengulurkan tangannya mencoba untuk mengusap air mata Eil, namun belum sempat tangannya menyentuh pipi Eil, kerah jas dokter yang dia kenakan sudah ditarik ke belakang oleh seseorang.
Flashback of
Nathan dan bara diam mereka melirik Daniel yang sedang duduk sambil mengusap pipinya yang sudah bengkak bahkan sudut bibirnya juga robek. bara menjadi merasa bersalah begitupun dengan Nathan dia tidak bisa mengucapkan apapun.
"Minta maaflah pada Daniel Nathan Bara! "
Nathan dan bara saling senggol mereka saling tuduh saling menuding dan saling melirik satu sama lain, tidak ada yang mau meminta maaf lebih dulu dan itu membuat Eil semakin geram.
"Jangan bertingkah seperti anak kecil dan minta maaflah dengan benar atau aku sendiri yang akan menghajar kalian sampai wajah tampan kalian itu tidak akan terlihat lagi. "
"Maafkan aku Daniel." Nathan menunduk ke arah Daniel dengan sangat cepat, gerakannya seperti gerakan angin. Meskipun salah paham, namun tindakan Daniel yang tadi hendak menyentuh wajah Eil tidak bisa di toleransi. Meskipun Nathan salah, dia tetap marah pada Daniel.
"Kau memang pantas untuk dihajar Daniel," ucap Natan dalam hati.
"Sekarang giliranmu Bara!"
Bara melihat Eil sekilas lalu beralih melihat Daniel Bara juga sebenarnya tidak ingin meminta maaf kepada Daniel meskipun kata Eil dia salah. Dia memang salah paham, namun jika waktu dapat diulang kembali dia masih akan tetap melakukan hal yang sama. Mengajak Eileria pergi tanpa persetujuan darinya dan dari Nathan merupakan suatu hal yang terlarang.
"Maafkan aku Daniel." Bara memalingkan wajahnya. kalau saja bukan Eil yang menyuruh dia untuk meminta maaf sampai kapanpun dia tidak akan melakukan itu.
"Ka**u pantas mati bajingan!" gumam Bara dalam hati.
"Maaf atas kesalahan pahaman yang terjadi Daniel. Mereka sebenarnya orang baik, namun karena aku sekarang tidak bisa berjalan mereka menjadi sangat overprotektif."
Daniel menggeleng. Ini semua bukan kesalahan wanita cantik itu, Eil tidak harus meminta maaf kepadanya, mungkin dia memang salah dan dia pantas untuk mendapatkan ini semua karena bagaimanapun juga Eil sudah bersuami. Daniel salah karena dia tidak meminta izin kepada Nathan untuk berbicara dengan Eil.
"Kau tidak salah, kau tidak harus minta maaf."
"Terima kasih Daniel."
"Antar aku ke kamar Sulli sekarang!"
Bara dan Nathan langsung berdiri dengan tegap. Nathan mendorong tubuh Bara yang hendak mendorong kursi roda Eileria. Dia tidak akan kalah dari Bara, jadi dialah yang harus mengurus dan membantu Eil untuk menjalani aktivitas sehari-hari termasuk mendorong kursi roda Eil.
"Ck. Dasar pelit." Bara menendang udara yang ada di belakang punggung Nathan. kalau saja Eil tidak mencintai laki-laki ini, dia pasti akan mencincang Nathan dan memberikannya kepada Aligator peliharaannya.
Setelah beberapa menit, akhirnya mereka sampai di depan kamar Sulli, di sana juga sudah ada Darius. Mungkin ayah mertua Eil itu sudah mendapat kabar dari Jerome kalau mereka sudah bisa menjenguk Sulli.
"Kenapa Ayah berdiri di luar? Kenapa tidak masuk?"
Eileria menatap Darius, dia sedang menunggu jawaban dari ayah mertuanya itu.
"Ada apa Ayah?" tanya Eil sekali lagi.
"Kau masuklah dulu Sayang! Lihat bagaimana keadaan Sulli sekarang."
Eil langsung menoleh ke arah pintu ruang rawat Sulli. "Antar aku ke dalam Nathan! Cepatlah!"
Nathan menurut. Dia mendorong kursi roda Eil sementara Bara membukakan pintu. Mata ketiga orang itu langsung tertuju pada Jerome. Mereka melihat Jerome sedang bersujud di samping hospital bad.
"Sulli!" panggil Eileria pelan. Dia sangat takut. Dia takut apa yang dia pikirkan benar-benar terjadi.
"Pergi!"
Suara lemah namun penuh penekanan itu membuat Eil menitikkan air mata. Apa yang Eil takutkan benar-benar terjadi. Sulli pasti sangat terpukul mengetahui kalau dia mungkin tidak akan bisa mengandung setelah melakukan operasi ini.
"Sulli aku ... maafkan aku," ucap Eil lirih.
"Pergi!" teriak Sulli dengan suara yang lantang. Dia meringis sambil memegangi perut bagian bawahnya. Eil dan semua orang yang ada di ruangan itu menjadi sangat panik. Bahkan Jerome yang sejak tadi sedang berlutut langsung berdiri menghampiri Sulli.
...To Be Continued....