The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Bertemu Kembali



Sudah seminggu sejak kejadian penculikan itu. Alard masih saja mengurung diri di kamarnya. Dia hanya akan makan ketika Amber datang dan menyuapi nya makan. Kalau Amber tidak datang, Alard akan kembali menutup mulutnya rapat-rapat.


"Sayang! jangan seperti ini Nak. Paman Nathan bilang kalau Mommy sedang pergi ke luar negri. Nanti kalau sudah pulang Mommy pasti akan datang menemui Alard. Sekarang makan dulu ya. Biar Daddy yang suapi," ucap Lukas berusaha membujuk anak semata wayangnya itu.


"Paman Nathan bohong!" Teriak Alard. "Paman Nathan bohong, Mommy ada, Mommy gak keluar negri. Dia ada menyelamatkan Alard. Mommy menangis, Alard melihatnya. Alard tidak bohong."


Lukas menghela nafas panjang. Dia sebenarnya merasa sangat jengkel karena Alard terus saja membicarakan ini. Apapun yang Lukas katakan Alard akan terus mengatakan kata-kata ini sampai ber ulang-ulang.


"Daddy tahu Alard tidak bohong. Sekarang Alard makan dulu ya!" Lukas menyodorkan mangkuk dan juga sendok di depan mulut Alard.


Pranggggg.....


Mangkuk itu jatuh, Alard menepis tangan Lukas membuat semua makanannya jatuh berhamburan.


"Alard!" teriak Lukas. "Kau itu membuat kesabaran Daddy habis. "Mommy mu itu tidak ada. Dia tidak mau menemui mu karena kamu nakal seperti ini. Sekarang terserah kamu saja. Daddy pusing."


Brakkkkkk...


Alard dan Lukas menoleh saat pintu kamar bocah kecil itu di buka dari luar.


"Mommy!" teriak Alard. Dia menghambur ke pelukan wanita yang sangat di rindukannya.


"Mommy dengar dari Kakek Alard tidak mau makan ya? Kenapa? Alard sudah tidak sayang lagi sama Mommy?" tanya Eil sambil menepuk punggung Alard perlahan.


Alard menggeleng. "Bukan begitu Mommy. Alard sangat merindukan Mommy. Kenapa Mommy tidak mau menemui Alard? apa karena Alard nakal? Alard janji Alard tidak akan nakal lagi Mommy. Mommy harus tetap menemui Alard."


"Bukan seperti itu Sayang. Mommy hanya sedang melakukan penyembuhan," bisik Eil di telinga Alard.


"Mommy tidak apa-apa kan? apa wanita jahat itu memukul Mommy sangat kuat?" tanya Alard. Dia melepas pelukannya dan menangkup wajah Eil seperti orang dewasa.


"Kenapa Mommy memakai masker. Apa Mommy sakit?" tanya Alard lagi.


Eil dengan cepat menggeleng. Dia menarik tangan Alard dan membawanya keluar dari kamar.


Lukas yang melihat itu hanya bisa bernafas lega. Akhirnya orang yang bisa membuat Alard kembali seperti semula datang. Dia sudah sangat khawatir. Dia tidak pandai menghadapi Alard yang murung dan terus menerus merajuk seperti ini.


"Sekarang pawang mu sudah di sini. Awas aja kalau kau masih tidak mau makan bocah kecil." Lukas meninju udara ke arah di mana pintu kamar Alard berada.


****


"Sekarang makan dulu ya! Mommy siapin Alard."


Alard mengangguk. Dia menerima setiap suapan yang di berikan Eil padanya. Eil yang melihat itu pun tersenyum bahagia.


Sebenarnya Eil belum berniat untuk menemui Alard dan keluarganya. Dia masih takut untuk bertemu dengan Nathan. Dia takut dia tidak akan bisa melepaskannya kalau sampai dia melihat wajah laki-laki yang sudah sangat dia rindukan itu. Tapi karena Darius menelponnya dan mengatakan kalau Alard sedang tidak baik-baik saja, Eil langsung datang meskipun Bara audah melarangnya.


Dia tadi sudah bilang kalau dia sedang dalam masa pemulihan. Jadi Bara masih memintanya untuk tinggal. Luka memarnya sudah hilang. Tapi luka dalam yang Eil terima terkadang masih terasa sakit. Itu sebabnya Eil juga masih bertahan di tempat Bara.


"Lihatlah Lukas! Alard sudah bisa tersenyum lagi. Dia juga makan dengan sangat lahap. Ayah harap kehadiran Eil membawa pengaruh baik untuk kesehatan juga mood pangeran kecil kita."


"Iya Ayah, tadi aku sudah kelewatan memarahi Alard, aku pusing kalau harus mengikuti mood nya yang seperti itu."


Darius tersenyum tipis. Dia menarik bahu Lukas dan membisikkan sesuatu di telinga anak bungsunya itu.


"Cepatlah menikah. Alard itu butuh sosok seorang Ibu Lukas. Kau mungkin bisa memberikan materi yang berlimpah, tapi semua itu tidak akan bisa menggantikan apa yang harus dia dapatkan. Dia berhak bahagia. Di usianya yang sekarang, Alard sangat membutuhkan seorang Ibu."


Lukas melirik Darius. Dia bukan tidak ingin menikah lagi. Tapi dia masih belum siap. Dia memang sudah bisa move on dari Victoria, tapi wanita yang dia sukai sekarang adalah Eileria. Apa dia harus merebut wanita itu dari Nathan. Tidak mungkin kan?


"Aku akan memikirkan ini Ayah," jawab Lukas.


"Semoga kau mendapatkan wanita yang baik. Ayah lihat Amber menyukaimu. Di cantik, masih muda, pintar dan juga sangat menyayangi Alard. Paket komplit lah," ujar Darius yang di respon tepukan di bahunya oleh Lukas.


"Aku tidak mencintainya Ayah."


Darius mengangkat bahunya acuh. "Masa depan tidak ada yang tahu."


****


Alard murung. Dia masih ingin bersama dengan Eil, meskipun setengah hari ini mereka sudah bersama. Tapi Alard selalu merasa kurang. Dia masih terus merindukan Eil lagi dan lagi.


"Sayang, biarkan Mommy pergi ya Sayang! kasian Mommy. Mommy harus pulang sekarang."


"Tapi Mommy harus janji Mommy akan datang lagi untuk menemui Alard."


Eil mengangguk. Dia menarik Alard ke dalam pelukannya. "Mommy pasti akan kembali Sayang. Alard gak boleh nakal ya! Alard harus mendengarkan Daddy dan Kakek. Jangan mogok makan lagi ya!"


"Iya Mommy, Alard janji."


"Eil pulang dulu ya Ayah. Ayah sehat-sehat , jangan terlalu banyak makan junk food. Itu gak baik untuk kesehatan."


"Iya Sayang. Hati-hatilah!"


"Aku pulang Lukas," ucap Eil.


Lukas tersenyum. "Terimakasih Eil. Hati-hati!"


Mereka melambaikan tangan ketika mobil Eil mulai keluar dari area pekarangan rumah mereka.


****


"Eil!" gumam Nathan. Dia baru pulang dari kantor, dan secara tidak sengaja , mobil yang di kendarai nya berpapasan dengan mobil Eil.


Nathan yang tadinya ingin menemui keluarganya memutar mobilnya kembali. Dia menginjak gas dalam-dalam. Hari ini dia tidak boleh melepaskan kesempatan, dia harus menemui Eil. Dia harus meluruskan segalanya.


Kitttttt.....


Eil menginjak rem nya tiba-tiba ketika ada sebuah mobil yang menghadang mobilnya.


"Nathan," gumam Eil. Dia melihat laki-laki yang sangat dia rindukan keluar dari dalam mobil dan berjalan ke arah mobilnya.


Tok Tok Tok...


Eil menatap Nathan sesaat. Apa yang harus dia lakukan. Dia sudah berusaha mati-matian untuk menghindari Nathan. Pertahanan nya bisa runtuh jika dia harus menemuinya sekarang.


Brakkkk.. Brakkkk.. Brakkkk..


Nathan mengetuk kaca mobil Eil semakin keras.


"Jangan salahkan aku kalau aku tidak bisa menahan diri lagi Nathan."


Eil membuka pintu mobilnya. Nathan refleks mundur. Dia menatap Eil dari atas sampai bawah. Baru kali ini dia melihat sosok Eileria dengan gaya tomboy nya. Biasanya Eil selalu berpenampilan manis dan feminim. Tapi, meskipun begitu, dia masih tetap cantik.


"Aku ingin bicara dengan mu Eil."


"Aku tidak bisa Nathan, aku harus pergi," jawab Eil dingin.


Dia hendak membuka kembali pintu mobilnya tapi Nathan langsung menariknya dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Aku sangat merindukanmu Eileria."


...To Be Continued....


Huhu .. Maaf kalau fell nya kurang berasa.. Author nulis ini 4 jam sebelum Mudik. Itupun harus bagi-bagi waktu sama paking barang dan beberes rumah. Maaf ya.. Sehat-sehat buat kalian semua.


Mohon maaf lahir batin dari Author Newbie ini. Love u All..


Do'akan Author dan keluarga supaya perjalanan nya lancar plus selamat sampai tujuan. Author usahain up di hari raya juga.. Terimakasih buat kalian semua yang selalu setia membaca dan mendukung karya Author.. 🙏🤗🤗


Maaf kalau malak do'a...🤗