
Sulli menyentuh wajah Jerome lembut. Dia menatap mata laki-laki itu dalam. Mata coklatnya berbinar. Dia melihat Jerome gelisah dan gugup karena tidak bisa membalas ucapannya.
"Jangan panggil aku Sulli kalau aku tidak bisa menaklukkan mu Jerome," bisik Sulli di samping telinga laki-laki pujaan hatinya.
Jerome mematung membuat Sulli bersorak gembira dalam hati. Wanita cantik itu mendekatkan bibirnya lalu mengecup bibir tebal milik Jerome cukup lama. Dia tersenyum setelah melihat Jerome masih diam mematung tidal bisa bergerak.
Sulli melangkahkan kakinya pergi dari kamar Jerome. Hari ini dia memutuskan untuk pulang lebih awal. Jerome sudah tahu semuanya. Jadi Sulli hanya tinggal berusaha lebih keras dan menunggu. Sekarang Amber pun sudah menikah, Jerome dan gadis itu sudah tidak tinggal di atap yang sama. Jadi Sulli lebih leluasa untuk mendekati Jerome.
Tepat sebelum Sulli membuka pintu apartemen Jerome, laki-laki itu menarik tangannya. Jerome menarik pinggang Sulli dengan tangan yang satunya. Dia menautkan bibirnya dengan bibir Sulli. Wanita yang tadi hendak keluar pun mengurungkan niatnya.
Tas yang ada di tangannya jatuh ke bawah. Dia mengalungkan kedua tangannya di leher Jerome. Sementara Jerome, laki-laki itu menempatkan kedua tangannya di bawah bokong Sulli lalu mengangkat tubuh ramping namun berisi itu ke dalam pangkuannya.
Sulli langsung melingkarkan kedua kakinya di pinggang Jerome. Tubuhnya serasa melayang saat Jerome melangkahkan kakinya dan membawanya ke dalam kamar laki-laki itu.
Brukkkk ...
Jerome membaringkan Sulli di atas ranjang. Dia menumpu tubuhnya dengan kedua sikunya supaya tidak menindih Sulli. Matanya menatap lekat mata Sulli yang kini sedang menatapnya penuh damba.
"Dengarkan aku Sulli. Aku tidak tahu apakah aku mencintaimu atau tidak. Aku tidak mengerti apa itu cinta. Aku tidak tahu bagaimana perasaan ku yang sesungguhnya, tapi aku ingin menekankan satu hal padamu. Jangan pernah pergi meninggalkan aku Sulli!"
Sulli menganggukkan kepalanya. Dia kembali menarik leher Jerome supaya dia bisa mengecup bibir Jerome. Baginya, Jerome mencintainya atau tidak, itu tidak masalah. Dia sangat mencintai Jerome dan dia yakin kalau dia bisa membuat laki-laki itu jatuh cinta kepadanya.
Malam itu sepasang sejoli yang sedang jatuh cinta, menghabiskan malam mereka dengan perasaan yang sangat bahagia. Meskipun Jerome masih belum bisa mengucapkan kata cinta, tetapi dia sudah belajar untuk menerima Sulli di sampingnya.
****
Sementara di kamar yang lain. Amber sedang bergerak gelisah karena takut kalau Lukas akan membencinya. Dia tidak berniat untuk menjebak Lukas atas kehamilannya saat ini. Dia juga tidak menyangka kalau dia akan hamil secepat itu. Dia memang mencintai Lukas, tetapi dia tidak mungkin melakukan cara yang licik supaya dia bisa mendapatkan Lukas.
Krieetttt ...
Pintu kamar itu terbuka. Lukas masuk sambil membawa nampan juga buah-buahan segar di atasnya. Dia mendekati ranjang lalu menaruh nampan itu di atas nakas.
"Ini adalah camilan dan susu yang di siapkan oleh Bibi. Kau minum dan habiskan buah-buahannya."
Amber menangis di dalam hati. Sudah lebih dari 2 minggu semenjak mereka sah menjadi suami istri. Amber juga sudah berusaha untuk menjadi istri yang baik. Namun semua usahanya masih belum membuahkan hasil. Sikap Lukas sebelum mereka menikah dan setelah mereka menikah sangat jauh berbeda. Mereka juga belum pernah tidur di atas ranjang sama.
Lukas selalu membuat alasan kalau dia ingin menemani Alard tidur sampai dia suka ketiduran di kamar anak semata wayangnya itu. Amber tidak bisa berkomentar apapun karena dia tahu kalau Lukas menikah dengannya karena sebuah keterpaksaan.
Amber beralih duduk di tepian ranjang yang terdapat susu juga buah-buahan yang di berikan Lukas untuknya. Dia mulai memakan potongan buahnya satu persatu dengan air mata yang bercucuran. Hatinya sakit, betapa pilunya dia pada dirinya sendiri. Sejak awal dia sudah mengharapkan Lukas perduli padanya. Dia pikir laki-laki itu akan menyayanginya dan memperlakukannya dengan baik. Namun, semua yang dia impikan selama ini memang hanya sebuah mimpi yang sampai sekarang belum bisa dia gapai meskipun mimpinya ada di depan matanya sendiri.
Pagi harinya, seperti biasa, Sulli menyiapkan sarapan untuk semua anggota keluarga. Dia menata semua makanan yang telah dia siapkan di atas meja.
"Oke, makanannya sudah siap. Sekarang tinggal menunggu mereka bangun dan turun ke meja makan," guma Amber pada dirinya sendiri. Dia memperhatikan semua makanan yang ada di atas meja. Matanya berbinar dan kedua sudut bibirnya tertarik ke atas. Dia sangat senang karena semua makanannya terlihat sangat cantik dan sangat menggiurkan.
"Mommy!" panggil Alard yang baru keluar dari dalam kamar.
Bocah tampan itu sudah rapih dengan pakaian sekolahnya. Dia berjalan mendekati Amber. Amber yang sudah hapal dengan kebiasaan Alard langsung berjongkok di hadapan bocah kecil itu.
Cup.
"Selamat pagi Mommy!" Alard mengecup kedua pipi Amber bergantian.
Amber tersenyum dan membalas kecupan Alard gemas.
"Adik bayi Alad sehat kan Mommy? Dia gak nakal kan?"
Amber terkekeh. "Tidak Sayang, calon adik bayi sehat dan dia juga sangat baik."
"Baguslah kalau begitu, kalau ade bayi nakal, Mommy bilang sama Alad! Nanti Alad bakal ajak ade bayi sparing Mommy."
"Kau tau apa tentang sparing bocah kecil?" tanya Lukas yang sejak tadi sudah memperhatikan interaksi Alard dan Amber. Dia berjalan mendekati Alard sambil menenteng tas gendong bocah kecil itu.
"Kakek akan melindungi adik bayi kalau sampai dia si ajak sparing sama Alard," ucap Darius yang kala itu juga baru keluar dari kamarnya hendak sarapan pagi.
Keadaan di rumah itu semakin lama semakin ramai. Apalagi setelah kedatangan Amber, rumah itu menjadi sangat hidup karena Alard juga menjadi semakin aktif berbicara dan berinteraksi. Mereka menjadi lebih banyak menghabiskan waktu bersama di bandingkan sebelumnya.
"Kakek apaan sih. Ini itu masalah Alad sama adik bayi. Jadi Kakek gak usah ikut campul!"
Lukas membantu Alard yang kesusahan untuk duduk di kursi. Laki-laki itu mengangkat tubuh Alard dan mendudukkannya sampai Alard nyaman dan bisa mulai sarapan pagi.
"Cih, duduk sendiri aja belum bisa, udah sok-sokan mau ngajak sparing. Lancarkan dulu bicara mu itu bocah kecil!"
Alard memanyunkan bibirnya. Dia menatap Darius sengit. "Dua kali ya, Kakek menghina Alad dua kali. Ini sudah pelanggalan Kakek. Kakek gak boleh kayak gitu. Gak baik menghina olang lain!"
Amber dan Lukas terkekeh mendengar celotehan Alard yang semakin hari semakin bijak. Anak kecil itu selalu tahu mana yang boleh dan mana yang tidak, dia menyerap semua ilmu yang diajarkan Lukas dengan baik.
"Sudah! Sekarang Alard makan dulu ya! Nanti kalau beradu mulut sama Kakek terus Alard bisa terlambat ke sekolah."
Amber mulai mengisi piring Alard dengan berbagai lauk dan juga sayuran. Keluarga mereka memang selalu di ajarkan untuk makan makanan yang sehat. Oleh karena itu juga Alard sudah terbiasa memakan sayur tanpa pilih-pilih.
"Terima kasih Mommy," ucap Alard. Amber mengangguk. Dia beralih mengisi piring Lukas. Belum sempat dia menaruh lauk, Lukas sudah menahan tangannya mengisyaratkan kalau apa yang ada di atas piringnya sudah cukup.
Darius yang melihat itu hanya bisa tersenyum tipis. Dia sangat berharap kalau Amber dan Lukas bisa segera akur. Sebenarnya Amber sudah sangat baik. Bahkan dia selalu bersikap baik pada Lukas yang memperlakukannya dengan dingin. Anak bungsunya itu masih belum bisa menerima Amber dengan hatinya.
"Semoga kalian bisa menjadi suami istri uang sesungguhnya. Ayah harap Lukas akan cepat menyadari kalau kamu adalah wanita terbaik yang Tuhan kirimkan untuknya. Ayah tahu, tidak ada ibu sambung sebaik dan sesabar kamu Amber. Semoga Tuhan selalu memberikan kesabaran yang lebih padamu."
Amber mengibaskan tangannya di depan Darius beberapa kali. Dia sudah memanggil nama ayah mertuanya sejak tadi, namun Darius sama sekali tidak menyahut.
"Ayah!" panggil Amber.
"Iya," ucap Darius sedikit terperanjat.
"Ada apa? Kenapa Ayah malah melamun?" tanya Amber kepada Darius.
"Akh, tidak, tidak apa-apa. Ada apa Nak?"
"Ayah mau lauk apa?" tanya Amber lagi.
"Apa aja. Semua masakan yang kamu buat selalu enak," ucap Darius membuat Amber tersenyum simpul.
"Besok aku akan pergi ke Irak," ucap Lukas tiba-tiba.
...To Be Continued....