
Eileria masuk ke dalam ruang rawat Alard perlahan. Dia tidak ingin membangunkan pangeran kecilnya yang sedang tidur namun beberapa alat bantu pernapasan serta kabel-kabel kecil terpasang dan menempel di hidung juga di dadanya.
Eil masuk bersama dengan Nathan. Mereka sama-sama mengenakan pakaian steril yang sudah di siapkan pihak rumah sakit untuk orang-orang yang ingin menjenguk pasien di ruang steril.
Eileria memperhatikan Alard dengan seksama. Hatinya sakit melihat Alard, bocah sekecil yang sangat dia sayangi harus mempunyai penyakit mematikan seperti ini. Bahkan setelah Eil memasangkan alat bantu, itupun tidak membuat penyakit Alard sembuh.
"Cepat sembuh Sayang! Mommy merindukanmu."
Setelah beberapa saat, Eiileria mendongak. Dia memberikan isyarat pada Nathan untuk segera keluar dari ruangan itu. Eil tidak sanggup berada lebih lama di dalam sana. Melihat Alard berbaring tidak berdaya membuat dadanya sesak dan dia menjadi kesulitan untuk bernapas.
Setelah keluar dari ruangan itu, Nathan membantu Eil melepaskan pakaian sterilnya. Dia juga melepaskan pakaian steril yang dia kenakan.
"Aku ingin menemui Amber Nathan."
"Aku akan mengantarmu ke sana Eil."
Nathan kembali mendorong kursi roda Eil menuju ruang rawat Amber.
Mereka tiba di depan rung rawat Amber. Eil menarik napas panjang sebelum dia memasuki ruangan. Nathan mengusap bahu Eil lembut berusaha mengalirkan energi positif kepada sang istri. Dia tahu Eil sedang menenangkan dirinya agar dia tidak menangis ketika melihat Amber.
Eil sudah tahu kenapa Amber bisa sampai keguguran, saat Amber pendarahan untuk pertama kalinya , dokter sudah mewanti-wanti Amber untuk menjaga kandungan nya dengan hati-hati karena rahimnya lemah. Dan kemarin, saat dia panik, dia terus berlarian tanpa memikirkan kondisinya sendiri. Alhasil musibah ini terjadi padanya. Mungkin dia juga sangat tertekan karena melihat kondisi Alard yang memburuk.
"Aku siap Nathan."
Perlahan Nathan mulai mendorong kursi roda Eil setelah dia membuka pintu ruang rawatnya.
"Amber!" gumam Eileria.
Amber yang sedang berbaring sambil menatap langit-langit kamar itu menoleh. Dia tersenyum lalu duduk bersandar.
"Kak Eil, bukankah Kakak pergi menemui Alard?" tanya Amber.
"Aku sudah melihatnya Amber. Apa kau sudah lebih baik sekarang?" tanya Eileria menatap Amber lekat.
"Jangan pura-pura kuat Amber. Aku tahu kau bukan orang seperti itu. Menangis lah kalau kau ingin menangis."
Eileria tahu, sejak Amber menikah dengan Lukas, kepribadian Amber yang manja dan rapuh berubah, dia menjadi lebih dewasa bahkan selalu berusaha untuk terlihat kuat. Mungkin orang lain tidak bisa melihatnya, namun Eil tahu, itu semua bukan sifat Amber yang sesungguhnya.
Amber menunduk. Perlahan suara isakkan terdengar di ruangan itu. Amber mulai menumpahkan air matanya.
Eil sangat sedih melihat Amber yang sedang menangis tersedu-sedu. Dia ingin memeluk Amber dan menenangkan gadis itu, namun apalah daya, dia masih belum bisa berjalan, dia tidak bisa melakukan apapun selain duduk di atas kursi roda dan menunggu orang lain melayaninya.
Eileria menarik tangan Amber. Dia mengusap punggung tangan itu lembut. "Aku tahu ini sangat menyakitkan Amber. Namun, kau masih sangat muda, kau bisa mengandung kembali dan aku yakin, kelak kau akan di berikan anak yang sehat dan cerdas."
Bukannya semakin tenang, Amber malah menangis semakin menjadi-jadi. Perkataan Eileria membuatnya teringat kepada Alard. Amber teringat kalau Alard tidak sehat, dan apa yang dia lakukan telah membuat penyakit Alard kambuh. Parahnya di saat yang bersamaan, dia juga harus kehilangan bayi yang sudah sangat dia nantikan.
Nathan yang melihat Amber menangis menjadi tidak tahan, dia melihat ke sekeliling ruangan, tidak ada siapapun di sana. Lukas tidak ada di ruangan itu. Adiknya membiarkan Amber sendirian, apa dia sudah tidak waras.
Nathan memutuskan untuk keluar dari ruangan Amber. Dia harus mencari Lukas dan memberikan pelajaran kepada laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu.
Lorong di dekat kamar Amber sudah Nathan telusuri, namun dia masih belum menemukan Lukas. Dia mencari di depan ruangan Alard juga tidak ada, sebenarnya Lukas kemana? Kenapa di saat seperti ini dia malah menghilang.
"Kau mencari siapa Nathan?" tanya Bara yang hendak pergi ke ruangan Amber. Dia ingin menyampaikan kalau Jerome tadi menanyakan kesehatan Amber, dan dia sendiri belum sempat menjenguk sahabat dari wanita yang dia cintai.
Bara menggeleng. "Aku tidak melihatnya Nathan. Memang dia tidak ada di ruangan Amber? Seharusnya dia menjaga Amber bukan?" tanya Bara lagi.
Nathan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Dia tidak ada di sana, mangkanya aku pergi mencarinya sekarang. Aku pikir aku akan menemukannya di sini. Tapi ternyata tidak ada."
"Sebaiknya kita kembali saja dulu! Aku yakin nanti Lukas akan kembali," ucap Bara menyarankan.
Nathan mengangguk. Dia juga tidak bisa meninggalkan Eil terlalu lama, dia takut Eil membutuhkan bantuannya.
"Kau itu gila Amber! Kenapa kau membiarkan Lukas memperlakukan mu seperti itu? Meskipun kau mencintai Lukas, tidak seharunya kau menerima perlakuan tidak adil yang di lakukan Lukas padamu. Jangan lemah hanya karena kau mencintai seseorang."
Suara Eileria terlihat sangat nyaring dari luar. Nathan dan Bara menghentikan langkah mereka. Di luar kamar Amber, ada seorang laki-laki yang sedang menyenderkan punggungnya ke tembok.
"Lukas!" gumam Nathan. Dia berjalan lebih cepat dari Bara.
"Apa yang kau lakukan di sini bajingan?" tanya Nathan menarik kerah baju yang di kenakan Lukas.
Lukas diam, dia tidak marah kepada Nathan yang tiba-tiba berteriak ke arahnya sambil menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Kau pikir kau sangat berharga sampai kau memperlakukan Amber seperti itu hah? Dia wanita baik-baik Lukas. Dia juga sangat menyayangi anak mu."
Lukas tersenyum kecut. "Tapi karena dia Alard hampir kehilangan nyawanya."
Nathan geram, Lukas benar-benar sangat picik dan itu membuat Nathan semakin jengah kepadanya. Dulu dia selalu mengajarkan Nathan untuk berbuat baik pada Eileria, tapi apa yang Lukas lakukan pada Amber? Dia bertingkah seperti seorang bajingan.
Bughhhhh !
Sebuah tinjuan mendarat di pipi Lukas. Nathan yang kala itu sudah sangat kesal terus melayangkan tinjunya pada Lukas. Bisa-bisanya Lukas berbicara seperti itu sedangkan Amber juga kehilangan bayinya.
"Kau gila hah?" ucap Nathan. Dia kembali meninju wajah Lukas. Namun anehnya Lukas tidak membalas atau menghindar, dia malah menerima setiap pukulan dari Nathan dengan sukarela.
"Amber juga kehilangan bayinya bajingan. Kau pikir hanya kau yang menderita hah? Amber lebih menderita Lukas, selain melihat Alard yang katamu hampir kehilangan nyawa, dia juga kehilangan calon bayi yang sudah sangat dia tunggu. Belum lagi rasa bersalahnya. Apa kau tidak memikirkan hal itu hah?" geram Nathan. Dia menghempaskan tubuh Lukas ke lantai rumah sakit.
"Cih, dia pantas mendapatkan itu semua Nathan."
Nathan membulatkan matanya. Dia hendak menghajar Lukas kembali namun Bara mencegahnya.
"Jangan membuat keributan di sini Nathan."
Nathan menendang kaki Lukas menggunakan kakinya.
"Sebaiknya kau pergi bajingan!" ucap Nathan pada adik kandungnya itu.
Bara menarik tubuh Nathan untuk menjauh dari Lukas. Mereka berdiri di depan pintu ruangan itu. Perlahan Bara membuka pintu ruang rawat Amber
Krieetttt ...
Pintu itu terbuka.
"Kalian!"
...To Be Continued....