
Akhirnya setelah bersusah payah meyakinkan Nathan, Eil bisa bernafas lega. Hari ini dia izin untuk pergi ke Amerika, tapi sebenarnya dia hanya pergi ke markas tempat beberapa anggotanya berkumpul. Bukan beberapa sih. Ini mah banyak banget. Kalian bisa bayangkan, ketika seorang Eileria masuk ke dalam gedung yang ada di ruang bawah tanah? dari luar bangunan itu tidak nampak sama sekali. Tapi setelah masuk ke dalam, kalian akan di sungguhkan dengan pemandangan yang sangat luar biasa.
Daripada di bilang markas, tempat ini lebih cocok di bilang kantor. Ya, pusat orang-orang dalam organisasi yang di pimpin Eil dan Dragon bekerja atau melakukan pengintaian dan mengumpulkan semua data musuh atau target mereka selama melakukan misi.
Semua orang yang di lewati Eil langsung berdiri dan membungkuk ke arahnya. Bahkan Jerome saja di buat ternganga. Ini baru pertama kalinya dia di bawa ke dalam markas inti. Biasanya mereka hanya akan mengumpulkan anggota di tempatnya Dragon. Hal besar apa yang akan Eil lakukan sampai dia harus membawanya ke sini.
"Siang Bos," ucap salah seorang anggota pada Eil. Eil mengacungkan tangannya lalu berdiri di sebuah monitor yang ukurannya sangat besar.
"Aku tidak ingin kalian gagal menangani misi kali ini. Aku tidak bisa meretas jaringan ke amanan Bara jika aku melakukannya sendiri. Kalian harus membantuku. Kita harus menyerangnya bersama-sama."
Semua orang yang ada di ruangan itu mengangguk paham.
"Dan kau Jerome. Awasi ponsel ini," Eil menyerahkan ponselnya kepada Jerome. "Jika ada yang menelpon langsung hubungkan pada sistem."
"Baik," ucap Jerome mengangguk paham.
Eil mulai duduk di kursinya. Dia mengenakan sebuah earphone dan langsung menyalakan komputer yang ada di hadapannya, setelah mengetikan beberapa hurup dan angka pada komputer itu, deretan huruf-huruf lain langsung berjejer dan bergulir silih berganti di layar monitor itu. Hampir dua jam Eil membuat sistem baru untuk meretas jaringan keamanan yang di buat Bara. Kini dia hanya tinggal menunggu ponselnya berdering. Ponsel itu sebenarnya bukan ponsel pribadi Eil. Karena ponsel pribadinya ada bersamanya.
"Ada panggilan," ucap Jerome ketika melihat sebuah nomor tidak di kenal muncul di layat ponselnya.
"Angkat," titah Eil dengan sebuah isyarat. Semua orang mulai memperhatikan.
"Apa kau sudah mendapatkan apa yang aku minta," suara dari balik telepon menggema di ruangan itu.
"Maaf Tuan, Nyonya tidak pernah membuka kamar kedua. Saya tidak bisa mengambil data dari laptopnya."
Eil membulatkan matanya saat dia mendengar penuturan dari Irene, kenapa Irene tidak pernah mengatakan apapun tentang hal ini kepadanya?
Eil menggerakkan tangannya seolah dia memberikan instruksi pada yang lain. Semua orang kembali menunduk pada layar monitor yang ada di hadapan mereka. Dan dalam hitungan detik, mereka semua sudah bisa memasukan virus ke dalam ponsel yang di gunakan si penelpon.
"Binggo," pekik Eil saat dia melihat titik koordinat di mana posisi Bara dan bala tentaranya. Kini Eil hanya harus mengirimkan beberapa orangnya untuk mengawasi kediaman sang predator.
Setelah panggilan berakhir, mereka masih berkutat dengan pekerjaannya. Sementara Eil, dia melepas earphone yang dia kenakan lalu berjalan ke ruangannya Dragon.
Tok Tok Tok...
"Masuk!" sahut Dragon dari dalam.
Eil langsung masuk ke ruangan itu dan duduk di kursi yang ada di hadapan bosnya.
"Ada yang ingin aku tanyakan Dragon."
"Hmmm tanyakan saja!"...
"Apa kau tahu siapa orang yang membantu Bara di rumah sakit? maksudku. Kemarin lusa dia masuk ke ruangan ku tapi aku tidak pernah membiarkan siapapun masuk ke ruangan ku selain pasien dan ya, suamiku. Aku rasa kau juga tahu mengenai hal ini."
Dragon tersenyum. "Apa kau pikir pemilik rumah sakit itu bersih Eil? menurutmu darimana dia mendapatkan investor untuk membangun dan mengembangkan rumah sakit se besar itu? bahkan kau juga tahu kalau peralatan yang ada di sana adalah peralatan medis tercanggih dan terbaik di dunia. Menurutmu, apa mungkin dia bisa melakukan itu dalam kurun waktu yang singkat? rumah sakit itu baru terakreditasi sebagai rumah sakit terbaik dalam waktu 7 tahun ke belakang."
"Ya, mungkin saja Bara bekerja sama dengan orang-orang dalam. Kau harus lebih teliti Eil. Tidak semua orang yang kelihatan baik dari luar juga baik dari dalam. Seperti kau ini, dari luar terlihat anggun dan elegan. Tapi pada kenyataannya kau adalah angel of death Azalea."
"Brengsek kau Dragon. Aku tidak membunuh orang sembarangan. Aku hanya membunuh orang-orang yang memang pantas untuk di bunuh. Lagipula untuk apa orang-orang yang merusak kehidupan banyak orang di biarkan hidup. Bukankah negara juga mengakui pekerjaan yang kita lakukan?" sarkas Eil menatap Dragon dengan tatapan membunuhnya.
"Aku hanya bercanda Lea. Tidak usah terlalu serius," ucap Dragon.
"Cih... Gak jelas banget. Aku pergi. Pekerjaan ku masih banyak."
"Lea!" panggil Dragon sesaat sebelum Eil menutup pintu ruangannya. Eil menoleh.
"Bagaimana kalau rencana kita gagal?" tanya Dragon dingin.
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi Dragon."
Dragon tersenyum puas mendengar jawaban dari Eil. Dia memang tidak pernah salah memilih Eil sebagai tangan kanannya. Ambisi Eil untuk membunuh dan menghabisi orang-orang yang menurutnya tidak pantas untuk di biarkan hidup memberikan banyak ke untungan untuk organisasi. Dendam yang di miliki Eil membuatnya tidak pernah ragu untuk membunuh orang lain.
"Aku suka dengan ambisi mu Eil... Tetaplah menjadi Azalea seperti saat ini. Jika suatu saat Nathan merubah mu pelan-pelan. Aku sendiri yang akan menghabisi suamimu itu."
Eil menatap ruangan Dragon untuk sesaat. Selama ini, dia selalu mempercayai Dragon dan tidak pernah banyak bertanya tentang apapun. Tapi semakin ke sini Eil semakin melihat hal-hal yang tidak pernah dia lihat sebelumya. Eil rasa Dragon mempunyai rahasia di belakangnya.
"Aku tahu ada yang kau sembunyikan dariku Dragon. Aku harus waspada. Aku tidak bisa mempercayai siapapun selain diriku sendiri," batin Eil berbicara.
"Bagaimana?" tanya Eil pada Jerome.
"Tidak ada apapun lagi Eil. Dan ponselnya tidak aktif."
"Brengsek. Jadi dia bukan hanya memakai kartu sekali pakai, tapi ponselnya juga."
"Apa kalian sudah menandai dimana titik terakhir ponsel itu berada?" tanya Eil pada orang-orang nya.
"Sudah Bos. Ponsel itu ada di pusat kota . Dan aku rasa, itu adalah sebuah bangunan pencakar langit milik Alteza Bara Cullen," ucap orang itu.
"Sekarang kau tidak bisa lari dariku Bara. Bagaimanapun caranya, aku tidak akan menyerah. Kau akan berakhir di tanganku."
Tatapan Eil menggelap seiring dengan heningnya orang-orang yang ada di ruangan itu. Seorang Azalea memang selalu memancarkan aura yang bisa membuat siapa saja menciut ketika berada di dekatnya.
"Bersiaplah. Setelah ini, akan ada misi lain yang harus kalian lakukan," ucap Eil pada semua anggotanya.
...To Be Continued....
Azalea....