The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Model Majalah Dewasa



Nathan keluar dari kamarnya saat membutuhkan sesuatu di dapur. Laki-laki itu belum tidur sama sekali. Sekarang sudah jam lima pagi. Seharusnya para pelayan di mansionnya sudah menyelesaikan pekerjaan mereka dan kembali ke tempatnya. setelah sampai di dapur Nathan menuliskan sebuah note yang bertuliskan "Aami Hari ini saya berangkat kerja siang, jadi tidak perlu membereskan kamar saya pagi-pagi!". Nathan hendak pergi untuk kembali ke kamarnya setelah mengambil segelas susu hangat. Namun langkahnya terhenti saat dia melihat TV masih menyala. laki-laki itu berjalan ke ruang tv, dia bermaksud untuk mematikan TV tersebut. Nathan mengerutkan keningnya bingung saat melihat Eil sedang tidur di sofa.


"Astaga, kau benar-benar Eileria. Bukannya menonton TV malah membiarkan TV menontonmu," ucap Nathan seraya mengambil remote dan memencet tombol off.


Nathan hendak kembali, namun, lagi-lagi dia menghentikan langkahnya kemudian berbalik mendekati Eil.


"Sangat merepotkan," gerutunya, namun tetap menggendong Eil dan membawanya ke atas. Sementara susu yang tadi dia ambil, di simpan di atas meja yang ada di ruang tv.


Tanpa Nathan sadari ternyata Aami belum kembali, wanita paruh baya itu berniat untuk membangunkan Eil setelah semua pekerjaannya selesai. Namun saat melihat tuannya turun dan berjalan menuju dapur, Aami buru-buru bersembunyi di balik tembok yang tak jauh dari ruang tv.


"Saya berharap Tuan dan Nyonya akan segera memiliki kehidupan pernikahan yang normal seperti kebanyakan orang," ucap Aami tersenyum ketika melihat Nathan menggendong Eil ke lantai atas. Ya, Aami memang sudah mengetahui kalau sejak awal pernikaha,n tuan dan nyonyanya itu tinggal di kamar yang terpisah. Meskipun Aami ingin sekali mengetahui alasan mereka melakukan itu, Aami tidak berhak menanyakannya bukan. Aami hanya seorang pembantu. Cukup mendoakan kebahagiaan untuk majikannya saja dan tidak perlu ikut campur, toh selama ini Aami tahu kalau hubungan Nathan dan Eil sebenarnya sudah cukup baik.


Nathan membuka pintu kamar Eil dengan susah payah. Laki-laki itu menutup kembali pintunya menggunakan kaki karena itu lebih mudah. Perlahan tapi pasti, Nathan membaringkan Eil di atas tempat tidur. Tangannya terulur menarik selimut dan menutupi tubuh Eil sampai ke dada.


Cup.. Nathan membelalakan matanya tidak percaya saat Eileria mengalungkan tangannya di leher Nathan, membuat bibir Eil dan bibir Nathan bersentuhan tanpa sengaja. Eil masih memejamkan matanya. Sementara Nathan diam mematung tidak bisa bergerak sama sekali. Jantungnya berdegup tidak karuan. Walau bagai manapun, ini adalah kali pertama Nathan melakukan skinship dengan seorang perempuan.


"Eummmmmm," lengguh Eil membuat Nathan menarik kepalanya dan melepaskan lengan Eil dari lehernya.


"Kau benar-benar," ucap Nathan hendak pergi meninggalkan Eil.


"Jangan pergi," pinta Eil sambil menahan pergelangan tangan Nathan.


Nathan hendak menepis tangan itu, namun, saat dia berbalik, dia melihat Eil sedang tidur dengan gelisah. Wajahnya di penuhi keringat besar yang membuat penampilannya terlihat menyedihkan.


"Jangan pergi!" ulangnya lagi, membuat Nathan tidak tega.


"Bukankah tadi dia baik-baik saja," gumam Nathan dalam hati.


Hari sudah pagi. Matahari sudah naik cukup tinggi saat ini. Namun, dua insan yang masih bergelut di dalam selimut mereka masih enggan untuk membuka matanya . Eil mengerejapkan matanya berkali-kali saat alam bawah sadarnya memaksanya untuk segera bangun. Tangannya merayap menekan setiap bagian yang dirasanya cukup keras dan sama sekali tidak terasa seperti guling yang selalu di peluknya setiap malam. Dan, saat tangan Eil berhenti di wajah Nathan, dia membuka lebar matanya dan mendongak melihat siapa yang ada di dalam pelukannya saat ini.


"Nathan," ucapnya tanpa suara. Eil hendak bangun dan segera beranjak dari tempat tidurnya. Bagaimana bisa Nathan ada di kamarnya? kenapa? dan, kenapa bisa dia memeluk Nathan begitu nyaman sampai dia tidak ingat dengan kejadian apa yang membuat mereka tidur di atas ranjang sama.


Cup. Eil mengecup bibir Nathan cukup lama. Namun, saat Eil membuka matanya, Eil malah beradu pandang dengan mata suaminya yang sudah terbuka dengan sempurna. Ingat ya! bibir mereka masih menempel satu sama lain.


Nathan refleks mendorong Eil sampai Eil hampir terjatuh. Nathan mengusap bibirnya kasar lalu segera berdiri di samping ranjang.


"Kau, apa yang kau lakukan?" pekik Nathan kepada Eil yang sedang memiringkan tubuhnya sambil menopang kepala menggunakan tangan kirinya.


Glekkkk... Nathan menelan salivanya susah payah saat melihat dada Eil yang seakan melambai lambai meminta untuk di jamah olehnya. Karena posisi Eil saat ini sedang miring, tentu saja itu membuat bela han da danya terlihat lebih jelas. Baju tidur yang Eil kenakan tidak seterbuka ini semalam. Tapi kenapa sekarang.....


"Kenapa?" tanya Eil dengan wajah polosnya. Tangan kanannya ia letakan di atas pinggul bagian atas. Membuat posisinya benar-benar terlihat seperti pose seorang model di majalah dewasa.


"Bukankah kau yang tidur di kamarku?" lanjut Eil tersenyum menyeringai. Dia menarik ujung piyamanya perlahan membuat pahanya semakin terekspos dengan jelas di hadapan Nathan.


"Kau gila!" geram Nathan kemudian berjalan mendekati pintu dan...


Brakkkkkkk... Nathan membanting pintunya kasar.


"Hahaha hahahah hahahah," gelak tawa Eil terdengar setelah melihat kegugupan sang suami yang menurutnya sangat lucu. Wanita itu memukul mukul kasur sambil memegangi perutnya yang sakit karena tertawa terlalu lama.


"Astaga Nathan. Aku tidak menyangka kau akan takut padaku," ucap Eil di sela-sela tawanya.


Sementara itu, Nathan yang baru saja masuk ke kamarnya menggeram dengan kesal. Bayangan Eil yang begitu se ksi sungguh membuatnya hilang akal dan hampir menerkam istrinya saat itu juga. Nathan adalah laki-laki tulen. Wajar jika dia tergoda melihat ikan segar yang sengaja menawarkan dirinya. Nathan tidak menikah bukan karena dia impoten. Tapi memang dia tidak ingin menjalin hubungan yang rumit, di tambah lagi, dia tidak mau kedamaian yang selalu di jaganya selama ini hancur begitu saja. Tapi kenapa? kenapa sikapnya pada Eil berbeda? dia sudah berusaha untuk mengabaikan Eileria, tapi Nathan tidak bisa. Dia akan selalu berbalik ketika sudah berencana untuk pergi dan menjauh.


"Aku bisa gila," ucap Nathan mengacak rambutnya frustasi. Nathan berjalan ke arah kamar mandi dan berdiri di bawah shower setelah dia melepas semua pakainya. Mandi air dingin adalah solusi terbaik untuk memadamkan api di dalam tubuhnya. Meskipun ini tidak bisa memadamkannya secara sempurna, tapi sedikit teredam saja , itu sudah cukup lebih baik daripada tidak sama sekali.


Semua yang terjadi di dunia ini atas kehendak yang maha kuasa. Sekuat apapun kamu melawan takdir, jika Tuhanmu sudah berencana, kamu tidak akan bisa berbuat apa-apa.


To Be Continued..


Hai Reader, jangan lupa like dan komennya ya. Thank You.