
Di sebuah ruang rawat inap di rumah sakit terbesar yang ada di kota Paris, seorang laki-laki sedang menggenggam erat tangan mungil yang menjadi penyemangat hidupnya beberapa tahun terakhir ini. Dia sangat menyayangi pangeran kecil yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Matanya tidak pernah lepas dari wajah pucat bocah itu, hatinya gelisah, entah kenapa meskipun dia bisa melihat pangeran kecilnya ada di hadapannya, dia merasa kalau pangeran kecilnya itu sangat jauh untuk di gapai.
Perasaan takut di tinggalkan kapan saja membuat Lukas selalu merasa tidak tenang. Alard memang bocah yang kuat. Dia tidak pernah mengeluh tentang penyakitnya, tapi Lukas yang melihat segala penderita nya seolah dialah yang mengalami apa yang Alard rasakan.
Anak semata wayangnya itu tidak bisa beraktivitas normal seperti anak-anak yang lain. Aktivitas nya selalu terbatas karena penyakit yang dia miliki bisa saja merenggut nyawanya kalau dia sampai kelelahan.
"Tenanglah Lukas. Dia akan baik-baik saja!" Nathan menepuk pundak Lukas. "Pergilah untuk istirahat! kau sudah seperti ini sejak kemarin, Alard pasti akan bangun, kau tidak perlu khawatir."
Nathan menghela nafasnya ketika orang yang dia ajak bicara tidak menunjukan respon apapun. Dia masih diam dan tidak mau mengucapkan sepatah katapun.
"Ayah! sebaiknya Ayah bicara padanya?" Pinta Nathan pada Darius.
"Sudahlah Nathan. Biarkan seperti itu, kita tidak akan bisa mencegahnya. Kalau itu bisa membuatnya merasa lebih tenang biarkan saja!"
Lukas terperanjat saat dia melihat Alard membuka matanya perlahan.
"Alard sayang, kau sudah bangun Nak?"
"Mommy, Mommy, Mommy mana Daddy?" Tanya Alard dengan suara yang sangat pelan. Saking pelannya, Lukas sampai harus mendekatkan telinganya di depan bibir Alard.
"Mommy siapa Alard? Mommy Eil?" Tanya Lukas memastikan.
Alard mengangguk.
"Nathan!" panggil Lukas. "Tolong hubungi Eil. Bilang padanya kalau Alard ingin bertemu."
Nathan diam. Dia belum memberitahu siapapun tentang hubungannya dan Eil yang sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana mungkin Nathan mau menghubungi Eil sementara hatinya masih ragu untuk menerima wanita itu. Dia takut, Eil hanya memanfaatkan nya. Nathan takut kalau Eil sebenarnya tidak pernah mencintainya.
"Cepatlah Nathan!" Titah Lukas lagi.
"Aku akan menghubunginya," ucap Nathan. Dia agak melipir ke sudut ruangan. Terbersit rasa rindu yang sangat dalam saat dia melihat nomor ponsel dengan nama My Baby Eil di layar ponselnya.
Tut....
Tut.....
Tidak ada jawaban. Nathan mencoba sekali lagi, tapi yang ke dua juga tidak ada jawaban. Nomornya malah tidak aktif.
"Aku tidak bisa menghubungi nya Lukas. Mungkin dia sedang ada operasi," bohong Nathan.
"Sudah Lukas. Kita akan langsung menyuruh Eil untuk menemui Alard kalau dia sudah tidak sibuk." Darius mendekati Alard. Dia mengusap kepala pangeran kecilnya lembut. Syukurlah cucunya baik-baik saja. Entah apa yang akan terjadi kalau sampai Alard tidak selamat.
"Daddy Mommy. Mommy Daddy!" gumam Alard lagi.
"Mommy sedang bekerja sayang. Dia akan segera ke sini kalau pekerjaan nya sudah selesai."
Alard menggeleng. "Tidak Daddy, Mommy menyelamatkan Alard. Mommy terluka. Mommy di pukul. Mommy berdarah."
Ucapan yang keluar dari mulut bocah kecil itu sukses membuat Nathan menoleh dan berjalan mendekatinya.
Alard mengangguk. "Tante jahat memukul Mommy. Mommy kesakitan, kaki dan tangan Mommy di ikat. Hiksss... Alard mau menemui Mommy. Alard akan menyelamatkan Mommy."
Alard berusaha untuk bangun dari ranjangnya. Dia terus memberontak meski Lukas dan Darius mencoba untuk mencegahnya.
"Tolong panggil Dokter Nathan!" Pinta Lukas.
Nathan langsung keluar dari ruangan itu meskipun hati dan pikirannya sedang tidak fokus. Setelah memanggil dokter, Nathan duduk di kursi panjang, yang ada di lorong rumah sakit.
"Apa yang terjadi? apa benar Eil datang menemui Alard, bagaimana bisa? apa yang Alard katakan itu benar?"
Tiba-tiba saja hatinya mendadak khawatir. Dia gelisah, kalau benar yang Alard katakan, kenapa kemarin dia tidak melihat Eil. Hanya Alard yang ada di ruangan itu, lantas Eil ke mana? kalau benar Eil ada di sana , mungkinkah orang yang menculik Alard itu membawanya pergi? tapi kemana?
"Apa yang harus aku lakukan Eil, aku bahkan tidak tahu kau ada di mana, dan aku tidak tahu harus mencari mu kemana," lirih Nathan. Dia menunduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
****
Sementara di tempat lain.
Eil mengerejapkan matanya perlahan. Dia melihat keadaan di depan matanya. Perlahan gambar yang pudar mulai terlihat jelas. Seseorang dengan perawakan tinggi besar berjalan ke arahnya. Dia yang masih merasa sakit di mana-mana tidak bisa melakukan apapun. Dia tetap dalam posisinya.
"Kau sudah sadar Lea."
"Bara," gumam Eil ketika mendengar suara khas laki-laki yang menjadi musuhnya itu.
"Kau masih belum di perbolehkan untuk bergerak. Kau harus tetap tengkurap seperti ini, aku sudah memberikan obat terbaik pada lukamu. Dokter pribadi ku juga sudah memeriksa kondisimu. Kau akan pulih dengan cepat."
"Alard, di mana dia?" tanya Eil. Dia harus menerima apa yang di lakukan Bara padanya. Meskipun dia membenci Bara, tapi karena Bara juga sudah membantunya, dia harus menunjukan etika baik.
"Nathan sudah mengambilnya tepat setelah aku membawamu keluar dari ruangan itu. Aku juga sudah menghubungi Dragon. Dia sudah mempersiapkan segalanya untuk memburu Belle dan juga orang-orang nya."
"Hmmm... Terimakasih Bara."
Bara tersenyum. Mendapat ucapan terimakasih dari Eil membuat hatinya ber bunga-bunga. Dia sangat berharap kalau Eil akan terus bersikap lunak padanya. Bara tidak pernah melakukan sesuatu yang salah bukan? kenapa dia harus menerima sikap acuh tak acuh Eil. Sudah seharusnya Eil bersikap baik padanya.
Dia masih terus menatap Eileria lekat. Wanita cantik itu tetap terlihat menawan meski dalam keadaan tidak berdaya seperti saat ini. Entah kenapa hatinya merasa iba. Padahal dia selalu suka menyiksa orang lain, bahkan moodnya akan sangat baik kalau dia sedang menyiksa orang lain. Tapi melihat Eil yang sedang terbaring lemah Bara merasa sakit hati seakan dia bisa merasakan apa yang di rasakan Eil.
"Apa aku sangat mencintaimu Eil. Kenapa kau harus mencintai laki-laki lain? aku selalu ada di dekatmu, tapi kenapa orang lain yang kau sukai," gumam Bara.
Eil tersenyum tipis. "Cinta itu tidak bisa di paksa Bara, aku sudah melihat wajahnya sebelum aku bertemu dengan mu. Rasa cintaku padanya bukan atas keinginan ku . Tiba-tiba saja aku mulai mencintainya. Sama hal nya seperti kau mencintaiku. Begitu pula rasa cintaku padanya."
"Apa tidak ada kesempatan untuk ku Lea?" tanya Bara. Dia sangat berharap kalau Eil mau melepaskan Nathan dan berlari ke arahnya. Meskipun dia sudah tahu bahwa Eil tidak mencintainya, tapi Bara akan berusaha membuat Eil jatuh cinta padanya.
"Maafkan aku Bara. Tapi aku sangat mencintai suamiku," ucap Eil yakin.
Bara mengeraskan rahangnya. Kedua tangannya terkepal dengan kuat. Bahkan ketika Bara meminta Eil dengan cara baik-baik saja Eil menolaknya. Apa dia harus memakai cara yang ekstrim supaya Eil mau mendengar semua ucapannya.
...To Be Continued....