The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Kelakuan Bara



Semua orang sudah keluar dari ruang rapat itu. Kecuali Nabila Bara dan juga sekertaris nya Bara. Nabila sedikit bingung dengan apa yang di minta Bara padanya. Dia tidak di perbolehkan keluar meskipun yang lain audah pergi dari ruangan itu lebih dulu.


"Ada apa Pak?" tanya Nabila memberanikan diri.


"Aku tidak ada niat apapun pada mu. Aku hanya ingin tahu, kenapa kau bisa jadi perwakilan dari cabang perusahaan ku yang ada di Indonesia? Dan apa yang kau kenakan di kepalamu? Di sini tidak panas."


Nabila menautkan alisnya. Dia bingung dengan apa yang di katakan Bara. Bukankah tadi sebelum mereka meeting Bara mengatakan kalau dia hanya bercanda dan tidak mempermasalahkan jilbab yang dia katakan. Kenapa sekarang dia malah membahas nya lagi.


"Bapak menahan saya di sini karena mau membahas masalah jilbab saya?" tanya Nabila dengan suara yang sedikit meninggi.


Mungkin Nabila memang hanya seorang bawahan, tetapi dia merasa kalau dia memiliki hak asasi sebagai seorang manusia, apa yang salah dengan jilbab nya? Kenapa Bara harus mendebatnya karena masalah ini?


"Aku tidak bisa membiarkan orang seperti mu menjadi perwakilan dari perusahaan ku yang ada di Indonesia. Kalau kau mau terus bekerja di perusahaan saya, kamu haru melepas tudung yang ada di atas kepalamu itu."


Nabila langsung bangun beranjak dari kursinya. Dia menatap Bara dingin. Laki-laki itu memang atasannya. Tetapi kalau dia meminta dirinya untuk melepas jilbab, Nabila lebih memilih untuk kehilangan pekerjaan nya.


"Baik Pak, kalau Anda memang tidak menyukai jilbab saya, saya akan berhenti. Pekerjaan bisa di cari di tempat lain, tetapi dalam agama saya, saya tidak akan di berikan toleransi kalau saya melanggar apa yang telah di tetapkan oleh Tuhan saya."


Bara diam. Dia tidak mengerti dengan apa yang di katakan Nabila padanya. Dia tidak mempercayai apapun. Mau Nabila jungkir jumpalitan menjelaskan masalah ini padanya, dia tidak akan mengerti.


"Kenapa orang itu sangat sombong?" tanya Bara pada sekertaris nya.


Max mendekat ke arah Bara. Dia membungkuk sebelum mengatakan sesuatu pada atasannya itu.


"Maaf sebelumnya Tuan, tetapi Nabila adalah karyawan paling berkompeten di perusahaan yang ada di Indonesia, bahkan di antara para perwakilan dari berbagai negara, Nabila lah yang paling cakap dan paling cekatan. Selain bisa menarik pelanggan. Dia juga sangat pandai dalam berbagai bahasa. Teknik pemasaran yang selalu dia ajarkan pada bawahannya adalah teknik yang ping bagus Tuan."


"Apa kita akan rugi jika kehilangan orang seperti dia?" tanya Bara mulai kesal karena Max malah meninggikan Nabila di hadapannya.


"Sebenarnya kita tidak akan merugi Tuan, tapi kalau dia sampai bekerja di perusahaan lain, mungkin perusahaan itu akan menjadi perusahaan yang beruntung karena memiliki Nabila. Kualitas barang yang kita miliki memang sangat bagus. Tetapi daya tarik Nabila itu sangat bagus. Dia bisa melobi orang dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya."


"Apa dia sebagus itu?" tanya Bara mulai penasaran. Sebenarnya apa yang di katakan Max tidak salah, perusahaan nya adalah perusahaan besar. Jadi dia tidak mungkin bangkrut hanya karena kehilangan satu karyawan, tapi kalau karyawan itu sangat kompeten, mungkin perusahaan lain akan langsung mengambilnya jika Bara memecatnya begitu saja.


"Iya Tuan, alangkah baiknya kalau kita tetap mempertahankan Nabila."


Bara diam. Dia tidak menjawab apa yang di katakan sekertaris nya padanya. Dia berdiri lalu pergi keluar dari ruang rapat.


Max mengikuti Bara dari belakang. Dia ingin menanyakan kemana mereka akan pergi namun dia takut kalau Bara akan marah dan moodnya akan kembali memburuk.


"Pergi ke hotel xxx," ucap Bara pada Max. Max mengangguk. Dia menuruti apa yang di katakan Bara padanya. Besok pagi mereka memang memiliki jadwal meeting di hotel tersebut. Para karyawan perwakilan dari perusahaan cabang juga di tempatkan di hotel itu supaya mereka tidak harus pindah-pindah tempat.


Bara turun dari mobilnya. Dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam hotel itu. Max yang kala itu mengikutinya dari belang semakin mempercepat langkahnya lalu berhenti di depan meja resepsionis. Dia meminta kunci kamar Bara lalu pergi mengantar Bara ke kamar yang telah dia pesan.


"Selamat beristirahat Tuan," ucap Max membungkuk ke arah Bara sebelum dia pergi ke kamarnya sendiri.


Bara merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia menatap langit-langit kamar cukup lama. Lamunannya membawa dia pergi pada sosok Nabila yang tadi marah kepadanya. Apakah wanita itu benar-benar akan berhenti dari pekerjaannya, atau dia hanya menggeretak saja? Pikiran-pikiran seperti itu terus berputar di dalam kepalanya tanpa berhenti.


"Apa benar dia sangat berharga untuk perusahaan? Lalu apa yang harus aku lakukan kalau dia memutuskan untuk berhenti?"


Bara memijat tulang hidungnya. Kepalanya berdenyut. Belum lagi dia harus segera menyelesaikan permasalahan yang ada. Kalau sampai dia telat pulang, entah apa yang akan terjadi pada Eileria.


Keesokan paginya. Di kediaman Nathan dan Eileria. Wanita cantik yang audah berpakaian rapih dengan rambut yang di kepang seperti Barbie sedang duduk di kursi rodanya sambil menatap ke arah luar diding kaca yang ada di rumahnya.


"Ayolah Baby! Makan dulu ya!"


Nathan berusaha untuk meyakinkan Eileria. Sudah satu jam dia membujuk istri cantiknya itu, tetapi dia masih belum makan.


"Aku tidak mau makan kalau Bara tidak ada di sini Nathan."


Nathan menghela nafas panjang. Dia sudah mengatakan kalau Bara sedang ada meeting penting dan harus berangkat pagi-pagi sekali. Tetapi dia tidak percaya, bahkan sejak tadi Eileria sudah mencoba untuk menghubungi Bara. Namun laki-laki itu tidak mau mengangkat panggilan dari Eileria.


"Bara jahat Nathan. Dia sudah tidak menyayangi ku lagi."


Nathan menggelengkan kepalanya. Semakin hari istri cantiknya ini semakin ketergantungan pada sosok Bara. Bahkan Nathan yang menjadi suaminya saja tidak di ijinkan untuk merasa cemburu. Dia harus bisa menahan diri supaya tidak emosi, namun kalau Eileria terus bersikap seperti ini, entah dia akan sanggup bertahan sampai akhir atau tidak.


"Aku akan menelpon sekertaris Bara. Kau janji harus makan kalau dia mengangkat telepon dari ku oke!"


Eileria tersenyum. Dia mengangguk dengan antusias. "Aku ingin Video Call Nathan."


Nathan mengangguk. Dia mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya lalu menekan satu nomor dan segera melakukan panggilan.


Eileria harap-harap cemas menunggu jawaban dari Max. Dia berharap kalau sekertaris Bara itu mau mengangkat panggilan dari Nathan. Kalau dia sampai tidak menjawab panggilannya, Eil akan membuat perhitungan dengan Max.


"Apa dia menjawab panggilan darimu Nathan?"


...To Be Continued....