The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Kebahagiaan Bara



"Aku tahu kau akan melakukan ini Eil. Aku akan membiarkan mu melakukan apa yang kau inginkan sebelum aku merebut semua kebahagiaan mu dengan laki-laki brengsek itu. Aku yakin, kau akan lebih bahagia bersamaku. Aku tidak akan pernah membuat mu kekurangan. Aku akan membuat hidup mu lebih indah dari sebelumnya."


Bara mematikan layar ponselnya. Dia tersenyum sambil melihat tanaman bunga miliknya. Senyumannya bukan senyuman kesenangan, senyumannya lebih terlihat seperti senyuman iblis yang sangat menyeramkan.


"Produk baru yang sedang kita kembangkan sudah bisa di uji coba Tuan. Apa kau mau melihatnya?" tanya salah seorang ilmuan yang sengaja Bara pekerjakan di pulau nya.


"Kita akan pergi ke sana sekarang!" ucap Bara. Dia berjalan mendahului sang ilmuan. Bara sangat berharap kalau apa yang dia buat sekarang bisa meledak di pasaran. Dia sudah mengeluarkan dana yang cukup besar untuk membuat barang baru ini. Kalau sampai kali ini gagal lagi, Bara tidak akan membiarkan siapapun yang bekerja di pihaknya hidup dengan tenang.


Semilir angin di pulau itu membuat bunga-bunga yang marak di atas tanah bergoyang dengan sangat indah. Namun siapa sangka, di balik keindahan nya tersimpan sebuah fakta yang cukup mengejutkan. Bunga-bunga indah itu tidak akan berarti apa-apa kalau hanya di jadikan sebagai pemandangan untuk memanjakan mata, tapi jika sampai inti dari bunga itu di olah dan di ekstrak seperti apa yang Bara lakukan, yakin lah bahwa akibat yang akan di timbulkan oleh bunga itu tidak akan seindah penampakan nya.


"Apa semuanya sudah siap?" tanya Bara yang kini sudah berada di sebuah laboratorium yang cukup besar di dalam sebuah bangunan yang dia dirikan.


"Semuanya ada di sini Tuan!" jawab beberapa orang yang mengenakan jubah putih dan kacamata khusus.


"Aku ingin mencobanya."


"Silahkan Tuan!"


Bara maju satu langkah mendekati sebuah meja yang sudah di siapkan oleh para bawahannya. Dia mengamati setiap barang yang berjejer di atas meja itu. Mulai dari permen, tablet, serbuk, liquid, bahkan sebotol parfum juga ada di sana.


"Apa kalian yakin kalau parfum ini sudah sesuai dengan standar yang aku berikan pada kalian."


"Sudah Tuan. Anda tinggal mencobanya , saya sudah menyiapkan orang untuk melakukan uji coba ini. Tuan bisa melakukannya sekarang juga."


Bara tersenyum. Dia mengambil botol parfum itu dan menyemprotkan nya ke beberapa bagian tubuhnya. Seperti leher, tengkuk dan juga pergelangan tangan.


"Lempar dia padaku!" ucap Bara ketika melihat bawahannya menyeret seorang gadis ke hadapannya.


Brukkkkk...


Gadis itu benar-benar di lempar dan berhenti tepat di depan dada Bara. Bara memeluk gadis itu dan membelainya seolah-olah dia sedang melakukan pemanasan untuk menarik hasrat sang gadis.


Lima menit berlalu, gadis itu mulai menampakan reaksi. Matanya menjadi tidak fokus, dia linglung, dan sesekali dia juga mencoba untuk mencium Bara dan ingin melepas kancing kemeja yang di gunakan laki-laki itu.


Settttt...


Brukkkk...


Bara mendorong gadis itu dan menghempaskan nya ke atas lantai.


"Aku tidak berniat untuk menidurinya. Siapapun yang mau, kalian ambil saja. Dan, kalau kalian bisa melakukannya di depan ku. Aku janji, aku akan memberikan sebuah mobil mewah keluaran terbaru."


Beberapa orang terlihat maju mendekati gadis itu. Hanya tiga orang yang di perbolehkan untuk memuaskan nafsu sang gadis. Dan gadis Itupun terlihat sangat senang ketika tiga orang itu mulai menjamah tubuhnya. Dia tidak terlihat takut atau gugup. Pengaruh parfum itu terlihat sangat bagus.


"Parfum ini masih harus di sempurnakan supaya tidak menimbulkan efek samping yang berbahaya Tuan. Kita harus menunggu sekitar satu setengah bulan lagi untuk melakukan uji coba yang ke dua."


Bara mengangguk. Dia tidak sedang buru-buru. Apalagi parfum ini untuk Eil. Dia tidak boleh gegabah. Dia hanya ingin Eil berada di sisinya dengan tenang tanpa harus membuatnya terluka.


"Baiklah. Aku serahkan semuanya pada kalian. Kalau ini bisa selesai lebih cepat. Aku akan sangat meng apresiasi usha kalian."


Lain dengan Bara, lain juga dengan Dragon. Laki-laki itu sedang sibuk dengan laptop dan juga beberapa dokumen yang menumpuk di atas meja kerjanya. Dia berusaha untuk mencari data-data orang yang memang sedang dia incar.


"Bara!" gumamnya ketika melihat sekelebat gambar singgah di layar laptopnya. Dia menghentikan layar yang sedang silih berganti menampilkan profil seseorang, Dragon memencet sebuah tombol, dan layar itu pun berhenti tepat di profil seorang Bara Cullen. Dia memperhatikan setiap deret angka yang tertera di sana.


"Aku harus segera memberitahu Eileria."


Dragon mengambil sebuah ponsel lalu menghubungi orang yang memang harus dia hubungi.


"Datanglah ke tempatku sekarang! Aku akan menunggumu."


****


"Ada apa? kenapa dia tiba-tiba memanggilku?" gumam Eil yang sudah menjauhkan ponsel dari telinganya.


Sore ini dia sedang bermain bersama Nathan, lebih tepatnya bersama Sulli dan Nathan. Entah kenapa, satu minggu setelah mereka melakukan hubungan itu di kamar Sulli, mereka seakan merindukan sensasinya dan akan kembali ke sana saat mereka memiliki waktu luang.


"Aku harus pergi Nathan," ucap Eil pada suaminya yang masih memeluk tubuh polosnya dengan posesif.


"Kau mau pergi ke mana Baby? aku masih merindukanmu."


Eil tersenyum. Dia mengusap kepala Nathan lembut. Laki-laki ini benar-benar membuat Eil malas untuk bekerja. Rengekannya membuat Eil tidak sanggup untuk meninggalkan nya begitu saja.


"Aku tetap harus pergi Nathan. Aku janji ini tidak akan lama. Aku janji, aku akan kembali dengan cepat."


Nathan merengut. Dia melepas pelukannya lalu duduk bersandar pada sandaran ranjang.


"Pergilah! tapi janji jangan lama."


"Heum, aku janji," ucap Eil sambil tersenyum. Dia mengecup bibir Nathan sekilas lalu beranjak dari tempat tidur sambil mengenakan pakaian nya.


"Pergilah ke luar kalau bosan. Sulli bukan wanita jahat. Aku tahu dia tidak akan berani melakukan apapun padamu."


"Heummm..." hanya itu jawaban yang keluar dari bibir Nathan.


Dia beranjak dari tempat tidurnya. Setelah selesai mengenakan pakaian, Nathan pergi ke sisi kamar yang ada jendela kaca dengan ukuran cukup besar. Apartemen Sulli ini apartemen mewah. Dari dalam kamar pun dia bisa melihat jalanan utama yang sering di gunakan penghuni apartemen ketika keluar dari bangunan ini.


"Aku harap kau baik-baik saja Eil. Aku masih tidak bisa mencegah mu pergi karena aku sudah berjanji kalau aku akan menunggu keputusan yang kau buat. Jika kau masih belum bisa berhenti sekarang, aku hanya berharap kalau kau akan baik-baik saja."


"Aku mencintaimu Eileria Song!" ujar Nathan menatap lurus mobil yang dia yakini adalah mobil Eil.


Sore itu cuaca masih sangat cerah. Sinar jingga di langit terlihat sangat indah. Nathan harus bersyukur untuk ini, setidaknya, keindahan yang Tuhan suguhkan membuat Nathan sedikit terhibur meskipun hati nya selalu resah.


Kepergian Eilaria selalu membuat tanya untuk Nathan. Apa dia aka kembali, apa Eil akan baik-baik saja? semua tanya itu selalu muncul membuat Nathan resah dan tidak bisa berpikir positif.


...To Be Continued....