
Syurrrr....
Eil mengerajapkan matanya ketika Belle menyiramnya dengan air tepat di wajahnya. Dia ingin menemui Alard kembali tapi tubuhnya di belenggu.
Belle mengikat tangan dan kakinya, bahkan tali yang dia gunakan untuk mengikat Eil adalah sebuah rantai yang langsung di paten ke tembok. Belle benar-benar ingin menghabisi Eil. Tapi Eil bisa apa? ancaman yang di berikan Belle tidak main-main. Dia mengatakan kalau dia akan meledakkan kepala Alard jika sampai Eil mengacaukan pesta yang ingin dia lakukan.
Yang di maksud pesta oleh Belle adalah menyiksa Eil.
"Kau sudah bangun Ja la ng?" sarkas Belle. Dia tersenyum bahagia, apa yang dia inginkan akhirnya terjadi. Jay yang ada di sampingnya memberikan sebuah pecut yang sangat panjang kepada Belle.
"Jangan lakukan ini di depan Alard Belle. Aku mohon, kau bisa menyiksaku sepuas mu, tapi aku mohon, jangan lakukan ini semua di depan anak kecil, dia bisa trauma."
Eil berusaha untuk meyakinkan Belle, tapi wanita iblis itu masih tidak mau mendengarkan nya. Dia melepas ikatan pada pecut yang dia bawa.
Sling.....
Cttaarr....
Eil meringis, namun dia masih berusaha untuk tersenyum. Alard sedang menatapnya dengan tatapan sendu, bahkan airmatanya tidak berhenti mengalir.
"Jangan takut Alard, Mommy baik-baik saja."
Sling....
Cetttarr....
Eil menggeretakan giginya menahan sakit dan perih yang dia dapatkan di punggungnya.
"Buka kain yang menghalangi mulut setan kecil itu, biarkan Eil semakin menderita ketika mendengar jeritannya."
Eil menggeleng. "Jangan lakukan itu Belle!"
"Diam kau! gara-gara kau ayahku mati. Dan gara-gara kau aku hampir cacat."
Satu cambukan Belle loloskan.
"Ini untuk kematian Ayahku."
Dua cambukan ...
"Ini untuk luka yang aku dapatkan."
Tiga cambukan
"Ini untuk semua haraga diriku."
Empat cambukan
"Ini untuk Nathan, kau itu tidak pantas mengambilnya dariku."
Eil sudah hampir kehilangan kesadaran, belum lagi jeritan yang Alard lakukan. Suara tangisan pangeran kecilnya itu semakin membuat Eil hilang akal dan ingin menghabisi semua orang yang ada di hadapannya.
Entah berapa puluh cambukan yang telah Eil dapatkan tapi Belle masih belum puas menyiksanya.
"Kau baji ngan Belle!" teriak Eil, darah segar muncrat dari mulut kecilnya, sungguh, penampilannya saat ini sangat memilukan, rambut yang acak-acakan, bahkan baju yang dia kenakan sudah compang-camping karena panas dan kerasnya cambukan yang di berikan Belle pada tubuhnya.
Lengan dan punggungnya sudah di penuhi dengan luka.
"Mommy!" lirih Alard sebelum kehilangan kesadarannya.
"No, No! jangan Alard, bangun sayang! Mommy baik-baik saja."
"Arghhhhhhhhh," Eil mengibaskan tangan dan kakinya berharap ikatan yang di berikan Belle pada tangan dan kakinya akan terlepas.
Senyuman devil tersungging di bibir Belle, dia mengambil sebuah pisau lipat.
Sling... Pisau itu terbuka tepat di depan wajah Eileria.
Setttt, Belle mencengkram rahang Eileria, dia mendongakkan wajah cantik itu lalu menempelkan pisau nya di pipi Eil.
Belum sempat Belle menyayat pipi Eil, Jay sudah memanggilnya dan menyeret Belle untuk keluar dari ruangan itu.
Meski belum tersayat dalam, tapi pipi Eil sudah tergores, dan itu membuat darah lagi-lagi mengalir.
"Aku akan kembali, kau akan mati di tangan ku ja la ng!" teriak Belle.
"Ayo Belle! tempat ini sudah di kepung, kita harus segera naik ke atap. Helikopter sudah menunggu di sana."
Eil tersenyum dingin. "Kau bisa berpikir kalau kau menang Belle, tapi lain kali aku tidak akan memberikan mu kesempatan," ucap Eil sebelum dia kehilangan kesadarannya.
Flashback on
Nathan harap-harap cemas melihat layar monitor yang ada di hadapannya. Di banding layar monitor, layar besar itu terlihat seperti layar tancep saking besarnya.
Tampilan peta dan bangunan-bangunan yang ada di dalam gambar masih berusaha di pindai oleh beberapa orang yang ahli dalam bidangnya.
Entah cara seperti apa yang mereka lakukan, tapi setelah satu jam berusaha mencari keberadaan Alard, mereka menemukan titik koordinat dan kemungkinan di mana Alard di sembunyikan.
"Segera siapkan tim Nathan!" titah atasannya.
Nathan langsung menuruti apa yang di perintahkan oleh atasannya. Dia sendiri sudah memakai atribut lengkap untuk memulai misi. Atasannya mengatakan kalau ini bukan penculik biasa, titik koordinat yang di tunjukan di dalam monitor itu menunjukan kalau Alard di sekap di tempat elit, bahkan perumahan itu adalah perumahan yang tidak mungkin di tinggali oleh orang-orang biasa.
Jadi untuk kemanan, mereka harus mempersiapkan peralatan dan juga siasat yang bagus supaya misi kali ini tidak gagal.
Hampir tiga puluh menit mereka berkendara, akhirnya Nathan dan juga timnya sampai di depan sebuah rumah mewah, rumah ini sangat besar, beruntung karena Nathan membawa semua timnya, bahkan dia membawa tim lain untuk meminimalisir kemungkinan-kemungkinan yang mungkin akan terjadi.
"Nathan," panggil seseorang di balik earphone yang Nathan kenakan. Dia mengatakan sesuatu dan langsung di tanggapi oleh Nathan.
"Siap komandan," jawab Nathan sigap.
Mereka mulai menyisir area rumah itu. Beberapa orang yang berjaga di sana terlibat baku tembak dengan beberapa anggota di tim nya Nathan.
"Fokus," ucap Nathan pada seluruh anggotanya.
Nathan tidak tahu kalau beberapa penjaga di rumah itu sudah banyak yang mundur, mereka tahu kalau yang mengepung rumah itu adalah anggota pasukan khusus. Mereka bisa dalam bahaya kalau sampai mereka membunuh orang-orang yang Nathan bawa.
Semua usaha mereka akan hancur. Kedok mereka akan terbongkar, dan semua orang yang ada di organisasinya akan ikut terseret.
"Mundur!" titah ketua dari orang-orang di pihak Belle.
Mereka semua mundur dengan teratur.
Nathan mulai masuk di jajaran paling depan. Dia terus melihat ke depan, beberapa pintu sudah mereka buka satu per satu. Tapi tidak ada tanda-tanda kalau Alard ada di sana.
"Maju!" titah Nathan pada anggotanya.
Mereka berhenti di sebuah pintu terakhir. Sebenarnya masih ada dua pintu lagi yang belum mereka buka, tapi itu adalah pintu rooftop dan pintu belakang di rumah itu.
"Ada yang pergi menggunakan helikopter," ucap orang yang Nathan sebut sebagai komandan.
"Kita akan fokus untuk menyelamatkan sandera terlebih dahulu," jawab Nathan menekan earphone yang dia kenakan.
Brakkkkkk...
Pintu ruangan itu di buka dengan kasar oleh Nathan. Dia langsung menjatuhkan sengaja nya saat melihat Alard sedang terduduk dengan tangan dan kaki yang terikat.
"Alard! Alard ini om Nathan Sayang!" Nathan menepuk pipi Alard perlahan namun tidak ada respon apapun dari anak kecil itu.
"Siapkan ambulans," titah Nathan pada anggota timnya.
Nathan melepas semua ikatan pada tangan dan kaki Alard. Dia membopong tubuh mungil itu dan membawanya keluar dari sana dengan segera.
"Misi on clear," ucap Nathan.
...To Be Continued....
Hayo kenapa Eil gak di tolongin?....