The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Kedatangan Teman Lama



"Ada yang ingin aku tanyakan padamu."


"Apa, tanyakan saja!" titah Daniel pada Eil. Mereka saling beradu pandang. Eil meminta Daniel untuk pergi ke rooftop rumah sakit. Dia harus membicarakan ini di tempat yang aman. Entah pihak mana yang memantau setiap pergerakannya. Tapi paling tidak, kalau Eil berbicara di rooftop rumah sakit, ini akan menutup kemungkinan kalau mungkin akan ada orang-orang di sekitar rumah sakit yang mendengar percakapannya dengan Daniel.


"Apa yang ingin kau tanyakan Eil?" tanya Daniel lagi.


Eil menarik nafas panjang lalu menghembuskan-nya perlahan. Dia memutar tubuhnya menghadap laki-laki yang menjadi partner kerjanya selama di rumah sakit.


"Aku tahu kau sudah lama bekerja di rumah sakit ini Daniel. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Apa kau pernah melihat orang ini datang ke rumah sakit? tanya Eil. Dia menyodorkan sebuah foto pada Daniel.


Laki-laki itu berpikir cukup lama. Dia berusaha mengingat apa dia pernah melihat orang yang ada di dalam foto itu atau tidak.


"Aku tidak pernah melihatnya Eil. Memang kenapa? apa kau sedang mencari orang ini?" tanya Daniel. "Kalau kau mau, aku bisa membantumu dan menanyakannya pada orang-orang yang ada di rumah sakit."


Eil langsung menggeleng. "Tidak perlu Daniel. Aku hanya ingin menanyakan nya padamu. Kalau kau tidak pernah melihatnya tidak apa-apa."


"Akh baiklah, tadinya aku pikir kau sedang terburu-buru mencari seseorang."


"Tidak, aku hanya ingin menanyakan ini padamu."


Eil diam cukup lama. Dia tidak mungkin membiarkan Daniel mencari informasi tentang orang yang ada di dalam foto itu. Dia menanyakan ini pada Daniel karena tidak ingin membuat keributan...


Satu jam setelah itu, Eil sudah ada di dalam ruangannya. Dia memindai semua data pasien yang akan dia operasi.


"Kenapa orang yang sakit jantung harus sebanyak ini?" guamam Eil. Dia bukan tidak mau menjalankan tugasnya. Hanya saja, dia selalu merasa kasihan pada orang-orang yang menderita sakit jantung.


Tok Tok Tok


"Masuk!" sahut Eil dari dalam.


"Selamat pagi Dokter Eil," sapa seseorang.


Eil mendongakkan wajahnya. Dia tersenyum ketika melihat wajah orang yang ada di hadapannya.


"Sulli!" sapa Eil. Dia bangun dari kursinya lalu berjalan mengitari meja untuk mendekati wanita yang dia panggil sulli itu.


"Apa kabar?" sapa Sulli memeluk erat Eil. "Aku sangat merindukanmu."


"Heum, aku juga sangat merindukan mu Sulli. Sudah hampir 10 tahun kita tidak bertemu, sekarang kau sudah semakin cantik."


Sulli tersenyum. Dia menepuk bokong Eil menggunakan telapak tangannya.


"Aku juga sudah semakin cantik Eil."


Sulli Sullivan adalah wanita cantik keturunan Korea Rusia. Dia 3 tahun lebih tua dari Eileria. Mereka adalah teman sepelatihan saat Eil masih ada di korea


. Saat itu Eil masih berusia 17 tahun, dan Sulli berusia 20 tahun.


"Duduklah!" titah Eil pada Sulli. Wanita itu duduk menuruti apa yang Eil katakan padanya.


"Bagaimana caranya kau bisa ada di sini Sulli?" tanya Eil. Dia menatap Sulli dengan mata yang berbinar. Mereka sudah lama tidak bertemu, dan saat mereka bertemu, Eil merasa kalau ini adalah sebuah keajaiban yang tuhan berikan padanya.


"Aku sudah menyelesaikan tugasku di Rusia Eil. Sekarang aku sedang menganggur. Aku bingung harus mengambil pekerjaan seperti apa. Aku di beri tawaran kerja dari sana sini, tapi aku masih belum yakin kalau aku mau menerimanya. Aku ragu. Aku mengetahui keberadaan mu dari profesor yang membimbing mu sewaktu kau kuliah di Harvard university. Dia memberikan ku alamat ini. Jadi aku langsung terbang ke sini untuk mencari mu."


Eil mengangguk. Dia tersenyum. Bahagianya jadi Sulli, dia hidup sangat bebas dan tidak pernah memikirkan apapun. Keluarganya sangat kaya, tapi dia masih berusaha untuk mencari uang sendiri. Pribadi Sulli yang mandiri membuat Eil nyaman berteman dengan nya.


Sulli menggeleng. "Aku belum memahami tempat tinggal di sini. Aku mau meminta rekomendasi darimu."


"Aku akan mengantarmu untuk mencari tempat tinggal. Tapi tidak sekarang. Dua jam lagi aku harus melakukan operasi. Aku tidak bisa izin keluar sebelum itu. Tapi kalau kau mau, aku ada teman di sini. Kau bisa meminta bantuan darinya."


"Terserah kau saja Eil. Aku akan menuruti apa yang kau katakan."


Tiga puluh menit setelah menunggu di depan rumah sakit, Sulli belum melihat tanda-tanda orang yang akan membantunya mencari tempat tinggal. Eil mengatakan kalau orang itu akan datang dalam 15 menit, tapi ini, dia sudah menunggu orang itu lebih dari setengah jam, tapi dia belum nongol juga.


"Kau Sulli!" ucap seseorang dari arah belakang. Sulli menoleh. Dia terdiam untuk sesaat. Siapa orang yang ada di hadapannya. Kenapa dia sangat tampan, tubuh tingginya, hidung mancungnya. Dia benar-benar laki-laki yang sempurna untuk Sulli.


"Apa kau orang teman nya Eileria?" tanya Sulli dengan suara lemah lembutnya. Lima menit yang lalu dia sudah mengumpat dan marah-marah..Tapi sekarang, dia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.


"Iya, aku yang akan mengantarmu mencari tempat tinggal."


"Akh begitu ya? maaf karena sudah merepotkan ."


Laki-laki itu menggeleng. Dia menyuruh sulli untuk masuk ke dalam mobilnya. Setelah wanita itu masuk, dia masuk dari pintu yang lainnya.


Sulli tidak henti-hentinya menatap laki-laki itu. Dia menatap nya sambil menopang dagu dan memperhatikan wajah laki-laki itu dari dekat.


"Gila, dia memang benar-benar tampan," puji Sulli di dalam hati.


"Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya laki-laki itu.


Bukannya menjawab, Sulli malah terus menelisik wajah orang itu sambil tersenyum-senyum seperti orang gila. Apa dia benar-benar sudah hilang akal?


"Hei!" teriak laki-laki itu sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Sulli.


"Are you oke?" Tanya nya lagi.


"Aku tidak baik-baik saja ganteng. Aku sedang sakit," ucap Sulli dengan wajah yang memelas.


"Kau sakit apa? haruskah kita kembali ke rumah sakit?" tanya Laki-laki itu .


"Tidak," jawab Sulli menggelengkan kepalanya. "Aku sakit jantung Ganteng, jantungku berdegup kencang saat melihat wajah mu."


Kittttt....


Laki-laki itu mengerem mobilnya tiba-tiba. Sebenarnya wanita seperti apa yang ada di sampingnya saat ini, selain penampilannya yang sangat seksi , sia juga sangat bar-bar.


"Maaf, aku tidak terbiasa mendengar kata-kata seperti itu," ucapnya.


Sulli dengan cepat menggeleng.


"Aku mengerti. Aku tahu kau baru pertama kali melihat wanita cantik seperti ku bukan? aku yakin kau sangat terpesona oleh kecantikan ku. Lihatlah, tubuhku sangat seksi. Bukankah kau harus mencicipinya?"


Laki-laki itu langsung membulatkan matanya.Wanita ini memang cantik, dia juga memiliki bodi yang sangat seksi, tapi meskipun dia seorang laki-laki, dia tidak tertarik melihat Sulli. Yang ada dia malah takut.


"Apa kau sudah gila?" tanya laki-laki itu yang sukses membuat Sulli terbatuk.


...To Be Continued....