The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Kabar Mengejutkan



Nathan terus menekuk wajahnya ketika dia membawa Eil kembali ke ruang rawat istri cantiknya itu. Dia sangat kesal mendengar perkataan Eil yang meminta Nathan untuk membawa Bara pergi ketika mereka pindah. Untung saja Bara langsung menolaknya. Kalau sampai Bara menerima tawaran dari Eil. Nathan akan membuat laki-laki itu mati dengan memberinya racun sianida.


"Nathan kau marah padaku hmm?" tanya Eileria dengan wajah sendu. Dia tidak pernah berniat untuk membuat Nathan marah. Hanya saja, tadi dia terlalu terbawa suasana. Dan entah kenapa, saat melihat Bara dia tidak membenci orang itu. Dia malah merasa senang karena Bara datang menjenguknya. Apa ini karena bawaan bayi? Apapun itu, Eil benar-benar tidak bermaksud membuat Nathan tersinggung.


"Apa yang kau katakan tadi membuat hatiku sakit Baby. Aku tidak suka kau berdekatan dengan Bara, tapi kau malah sengaja melakukan nya di depan ku."


Nathan membantu Eil duduk di atas ranjangnya maaih dengan bibir yang mengerucut.


"Ini bukan mau ku Nathan. Ini maunya calon bayi kita," jawab Eil menatap lekat wajah suaminya.


"Maafkan aku Nathan," ucapnya lagi sambil memeluk leher Nathan. Laki-laki yang sedang membetulkan letak selimut itu langsung menghentikan aktifitasnya.


"Kau tidak salah Baby, aku memang sedikit sensitif akhir-akhir ini."


Eil langsung melepas pelukannya. Dia menatap Nathan tidak percaya. Apa mungkin mood Eil yang sedang hamil itu berpindah pada Nathan. Akhir-akhir ini mood dia sangat baik, tapi kenapa Nathan malah sebaliknya.


"Apa kau yakin kalau apa yang kau rasakan itu bukan rasa cemburu?" tanya Eileria memastikan.


Nathan menggeleng. "Aku rasa bukan. Selama ini kau juga tahu, aku memang pecemburu, tapi aku gak pernah kesal terhadap mu Baby, namun entah kenapa akhir-akhir ini aku selalu merasa kesal jika kau melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan ku."


Eileria memeluk Nathan lagi. Dia tersenyum sambil mengusap punggung suaminya perlahan. "Aku tahu apa yang kau rasakan, aku sudah membaca beberapa fakta mood orang hamil di internet. Dan yang kau rasakan ini termasuk ke dalamnya. Semoga aku kuat dan bisa sabar me hadapi mood mu yang akan naik turun jungkir jumpalit seperti roller coaster."


Nathan mengangguk. Dia bersyukur karena Eil mau mengerti perasaanya. Nathan seperti ini bukan karena dia mau. Diq sudah berusaha menahan emosi. Tetapi dia tidak bisa. Mood nya benar-benar kacau.


Drtzzzzz... Drtzzzzz...


"Angkat telepon mu Nathan!" titah Eileria.


Nathan mengangguk. Dia melepas pelukannya lalu berjalan mendekati jendela kaca yang ada di ruangan itu. Kamar rawat Eil adalah kamar VVIP. Jadi dia mendapat pasilitas yang sebanding dengan budget yang dia keluarkan untuk membayar ruang rawat inap itu selama Eil berada di sana.


"Halo komandan," ucap Nathan pada orang di sebrang telepon. Nathan melirik Eip sekilas. Wanita cantik itu tersenyum.


"Istriku sedang sakit Pak. Aku tidak bisa ke kantor sekarang."


Nathan menjauhkan ponselnya saat suara di sebrang telepon melengking. Untung saja gendang telinganya tidak pecah. Kalau saja Nathan tidak menghindar, mungkin mulai besok dia tidak akan bisa mendengar apapun lagi.


"Nathan!" panggil Eilaria ketika sang suami sudah menutup panggilan telepon nya dan berjalan menuju ranjang sang istri.


"Ada apa Baby?" tanya Nathan duduk di tepian ranjang.


Eil tersenyum lalu mengusap wajah Nathan lembut. Dia tersenyum lalu mengecup bibir Nathan sekilas.


"Pergilah Sayang! Atasan mu memangil mu bukan? Kau harus ke sana, kalau tidak kau akan kehilangan pekerjaan mu."


Eileria menarik nafas panjang. "Kalau kau tidak pergi, aku akan menghubungi Bara dan memintanya untuk menjemput ku. Aku tidak ingin anakku memiliki Ayah yang tidak bisa bertanggungjawab dengan pekerjaan nya."


Bibir Nathan mengerucut. Dia tidak suka mendengar apa yang di katakan Eil padanya. Wanita ini sudah pandai mengancam Nathan.


"Aku akan pergi," ucap Nathan meski sebenarnya dia sangat enggan. Dia tidak bisa membiarkan Eil pergi bersama Bara. Wanita cantik dan licik ini hanya boleh menjadi miliknya. Orang lain tidak berhak."


"Aku akan minta Sulli untuk datang ke sini. Jerome akan datang jadi kau tidak perlu khawatir. Mereka akan menjagaku selama kau pergi. Jangan melakukan kesalahan yang tidak perlu Nathan. Buat atasan mu senang. Kau harus yakin dengan apa yang kau kerjakan sekarang. Kau sudah tidak memiliki waktu untuk main-main. Jika kau mau berhenti dari pekerjaan mu, aku dan calon anak kita akan sangat bahagia."


Nathan diam. Kenapa istrinya tiba-tiba membicarakan masalah pekerjaan Nathan. Apa dia masih tidak terima kalau Nathan kerja sebagai penjinak bom dan anti *******?


"Aku akan pergi. Dan yang kau katakan barusan, aku akan memikirkannya."


Cup..


Nathan mengecup kening, pipi, bibir dan juga perut Eileria bergantian. Hatinya sangat enggan untuk meninggalkan Eileria dalam kondisi nya yang seperti ini, tapi apa boleh buat, ancaman yang Eil berikan padanya bukan ancaman yang main-main.


Tiga puluh menit setelah Nathan pergi, Eileria sedang melamun sambil melihat foto Dragon di layar ponselnya. Dia tidak pernah menyangka kalau orang yang sudah dia anggap seperti keluarga tega menusuknya dari belakang. Jadi selama ini, Dragon memantau dia bukan karena perduli. Tapi karena Dragon tidak ingin kehilangan jejak nya.


Semua kebaikan Dragon hanyalah sebuah kamuflase untuk menutupi sifat jahatnya. Selama ini Eil bodoh karena termakan tipu daya yang di lakukan Dragon. Andai laki-laki itu tidak berkhianat, mungkin Eil sudah akan menjadikan nya keluarga sungguhan.


"Eil, Sayang!" panggil seseorang.


Eileria menoleh. Dia tersenyum ketika melihat Sulli berjalan kearahnya di ikuti Jerome dari belakang.


"Aku pikir kau tidak akan datang Sulli."


"Hei! Tidak mungkin aku tidak datang. Kau adalah belahan jiwaku, mana mungkin aku tega membiarkan mu tinggal sendirian di sini."


Sulli mendekat lalu mengecup kepala Eil lembut. Dia benar-benar seperti seorang ibu yang sangat mencintai anaknya.


"Kalian cuma berdua? Amber ke mana?" tanya Eileria yang langsung membuat Jerome mengeraskan rahangnya. Dia mengepalkan kedua tangannya di samping tubuhnya.


Ada apa, pikir Eileria, kenapa Sulli dan Jerome mendadak diam. Bahkan aura Jerome sangat tidak mengenakan. Dia seperti sedang menahan amarah yang luar biasa.


"Apa ada yang tidak aku tahu?" tanya Eileria hati-hati. Dia tidak ingin membuat Jerome semakin marah, tapi dia juga tidak bisa kalau tidak mengetahui sesuatu, dia harus menanyakan ini supaya dia tidak penasaran.


"Amber dan Lukas akan menikah."


To Be Continued.