
"Bajingan kau Bara!"
Plakkkkkkk...
Sebuah tamparan Eil layangkan di pipi laki-laki tinggi yang ada di hadapannya. Dia benar-benar di buat geram dengan tingkah Bara yang seperti anak-anak. Bagaimana bisa dia menusuk Eil dari belakang.
"I hate u Bara!" teriak Eil lagi.
Bara menahan pergelangan tangan Eil yang ingin memukulnya kembali. Dia tersenyum kecut sambil menatap lekat Eil tepat di kedua bola mata milik wanita pujaan hatinya itu.
"Apa yang kau lakukan Honey?" tanya Bara dengan santainya. Dia sama sekali tidak memperdulikan Eil yang sudah marah dan mengeluarkan tanduk dari kepalanya.
"Kau bajingan Bara. Kau memberi tahu Nathan segalanya bukan? kau memberi tahunya kalau aku adalah seorang pembunuh?" geram Eil. Rahangnya mengetat bahkan kedua tangannya sudah terkepal kuat. Kalau satu bogeman dia layangkan pada Bara, laki-laki itu pasti akan langsung kleyengan.
"Jangan buru-buru ketika menyimpulkan sesuatu Azalea, aku tahu kau tidak bodoh. Bukan aku yang memberi tahu suamimu segalanya. Ada orang lain," ucap Bara. Dia berjalan ke arah dinding kaca yang menghadap langsung ke area kota yang sangat ramai. Kedua tangan dia masukkan ke dalam saku celana dengan mata yang menatap lurus ke luar .
"Apa maksud mu Bara?" tanya Eil. Dia sudah mulai lebih tenang. Bara tidak mungkin membohonginya. Dia bukan tipe orang yang suka melempar batu sembunyi tangan. Bara adalah laki-laki arogan dan tidak takut akan apapun. Kalaulai dia bilang iya, pasti iya, dan kalau dia bilang tidak, jawaban nya juga pasti tidak.
"Belle. Dia yang melakukan ini padamu."
Eil mengerutkan keningnya. "Maksud mu Belle sengaja mengibarkan bendera perang dengan ku?" tanya Eil lagi.
"Kau sudah tahu jawabannya seperti apa. Aku tidak harus menjelaskan semuanya bukan? kau lebih pintar dari siapapun yang pernah aku temui. Aku yakin kau sudah mengerti semuanya meski aku hanya mengucapkan kalimatnya satu kali."
Bara berjalan mendekati Eileria dan memegang kedua bahu wanita cantik itu. "Mulai sekarang, pertarungan resmi di mulai."
Eil diam. Dia masih mencerna kata demi kata yang keluar dari mulut Bara. Dia harus fokus, jangan sampai Bara menghasutnya dan membuat Eil membunuh orang tanpa alasan.
"Apa kau tahu di mana Belle sekarang?" tanya Eil lagi.
"Aku tahu, tapi biarkan mereka menyerang lebih dulu. Aku yakin, mereka belum tahu siapa kita sebenarnya. Dia bertingkah seperti ini hanya untuk mempercepat ajalnya saja."
"Baiklah aku mengerti Bara. Dan, aku tidak akan meminta maaf atas apa yang aku lakukan padamu tadi."
Bara menatap Eil sambil tersenyum hangat. Sungguh, laki-laki ini benar-benar menjadi laki-laki yang sangat berbeda ketika dia menunjukan sisi hangatnya.
Plak.. Eil menepis tangan Bara yang hendak menyentuh wajahnya.
"Aku harus pergi sekarang," ujar Eil. Tanpa menunggu persetujuan dari Bara, dia langsung melesat pergi keluar dari ruangan itu.
"Brengsek kau Belle, aku akan menghancurkan mu," geram Eil.
Sementara Bara, dia tersenyum nanar menatap pintu ruangannya yang tertutup dengan kasar. Dia sangat ingin menarik Eil , mengikatnya lalu mengurungnya di dalam kamar. Namun entah kenapa, saat Bara melihat mata coklat milik Eil dia langsung mengurungkan niatnya kembali. Bara tahu, Eil itu mempesona ketika dia sedang menjadi sosok Eileria seperti sekarang ini, kalau dia hanya menjadi wanita lemah yang terkurung, mungkin Bara juga tidak akan menyukainya.
****
Eil masuk ke tempat Dragon dengan langkah yang tergesa. Dia ingin menemui laki-laki itu untuk bekerja sama dan mulai mempersiapkan segalanya. Dia sudah tidak bisa mundur lagi. Nathan sudah tahu segalanya, jadi mulai sekarang dia bisa bergerak dengan leluasa.
Kalau di lihat-lihat Eil tidak seperti wanita kebanyakan yang akan terpuruk ketika mendapat masalah dengan orang yang dia cintai, sebenarnya Eil bukan tidak sedih, hanya saja dia sudah mengantisipasi ini sejak lama, dia juga tahu kalau ini adalah kesalahannya. Daripada terpuruk dan menangis di pojokan, lebih baik Eil terus berusaha untuk menyelesaikan semuanya.
Hidup terus berjalan, jika kamu stuck karena mendapat satu masalah, kamu akan menjadi orang paling rugi. Seorang Eileria yang memiliki pemikiran logis dan tidak terlalu terbawa susana hati akan melakukan pekerjaan dengan sangat baik meskipun keadaan rumah tangganya sedang di ujung tanduk.
"Dragon!" panggil Eil pada laki-laki yangng sedang duduk sambil memejamkan mata. Alunan musik klasik terdengar sangat menenangkan. Tapi tidak bagi Eil. Dia berjalan menuju piringan bulat dan melepas jarum besar yang menempel pada piringan itu.
"Apa yang kau inginkan Lea?" tanya Dragon. Dia melirik Eil. Raut wajah wanita cantik itu menggelap. Sesuatu pasti telah terjadi. Tidak ada wajah ekspresif seperti biasanya, kali ini air mukanya dingin sedingin suhu di dalam freezer.
"Aku ingin menyiapkan tim untuk melakukan perlawanan kepada Belle."
Dragon menautkan jari jemarinya. Dia menopang dagu dan sikunya yang dia tumpukan pada meja kerjanya.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Dragon.
"Nathan, dia sudah tahu segalanya Dragon. Aku sudah tidak bisa bermain di balik layar. Sudah saatnya bagiku untuk keluar dari persembunyian ku. Aku tahu ini tidak akan mudah, tapi jika kita bersama dengan tim kita, semuanya tidak akan terlalu sulit."
Dragon mengangguk. Kini dia tahu alasan kenapa Lea-nya menunjukan ekspresi yang tidak menyenangkan, ternyata dia memang sedang dalam mode pembantaian.
"Aku akan mempersiapkan segalanya untuk mu. Kau harus segera pindah ke sini Lea."
"Aku akan pindah saat ini juga. Lagipula Nathan sudah mengusir ku."
Dragon tersenyum tipis. Baguslah kalau Nathan sudah membuat jarak antara dirinya dan Eil, dengan begitu tidak akan ada yang menghambat pergerakan Eil.
"Pergilah ke lantai atas. Cari dan pilih kamar mu sendiri. Jangan membuat semuanya terlihat menyedihkan. Jika kalian berjodoh suatu saat kalian pasti akan di persatukan kembali dengan cara apapun."
Eil mengangguk. Dragon tidak mengatakannya saja Eil sudah tahu, andai dia bisa menawar, lebih baik untuk sementara Nathan memang harus terus bersikap seperti ini, jika Eil benar-benar berperang melawan Belle dan orang-orangnya , Eil tidak tahu dia akan selamat atau tidak.
Kalau sesuatu yang buruk terjadi padanya, dia ingin Nathan tidak terpuruk dan akan lebih mudah untuk melupakan nya.
Eil berhenti di sebuah kamar yang terletak di sudut ruangan yang Dragon miliki. Dia. menatap dirinya sendiri di depan cermin. Seulas senyum terukir di bibir tipisnya. Namun entah kenapa matanya malah mengeluarkan cairan bening. Dia langsung mengusapnya dan kembali berbalik.
"Tunggu aku menyelesaikannya semuanya Nathan. Aku janji, setelah ini, aku akan kembali padamu. Biarpun kau menolak, aku akan terus menempeli mu."
...To Be Continued....