The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Keputusan Nathan



Eil menggeliat dalam tidurnya. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada perut sang suami. Dia juga sesekali menggosokkan hidungnya di dada bidang suaminya.


Nathan yang merasakan istri kecilnya terus bergerak mendekap tubuh sang istri dan mengelus kepalanya dengan lembut. Pagi itu tidak ada yang berusaha untuk bangun lebih awal. Nathan juga semalam sudah menyimpan note di pintu kulkas yang ada di dapur dan memerintahkan Aami untuk menyiapkan sarapan untuknya dan juga Eileria.


"Nathan!" seru Eil dengan lembut.


"Hmmmm," gumam Nathan masih dengan mata yang terpejam.


"Aku tidak ada jadwal operasi hari ini Nathan, maukah kau menemaniku untuk membeli beberapa pakaian dan kebutuhan yang lain? Kurasa aku membutuhkannya," ucap Eil mendongakkan wajahnya dan menatap wajah sang suami. Dia mengelus pipi Nathan perlahan. Jari telunjuknya bergerak menyentuh alis, mata hidung dan juga bibir Nathan. Laki-laki yang mendapatkan sentuhan dari tangan mungil istrinya tersenyum, dia menarik tangan Eil lalu mengecupnya lama.


"Aku akan mengantarmu," ucap Nathan.


Eil yang mendengar itu sontak saja langsung berdiri dan turun dari atas ranjang. "Aku akan mandi sekarang Nathan," ucap Eil sambil berlari ke arah kamar mandi. Nathan memiringkan tubuhnya dan melihat Eil berlari memasuki kamar mandi. Dia kembali tersenyum. "Ku sangat menggemaskan Eil," ucapnya lalu kembali memejamkan mata.


Dua puluh menit kemudian, Eil sudah menyelesaikan ritual paginya. Dia langsung berlari ke tempat tidur saat melihat Nathan masih asyik bergelut dengan kasur juga selimutnya.


"Nathan!" pekik Eil sambil menggoyang-goyangkan lengan suaminya.


"Hmmmm."


"Nathan bangun! kau bilang kau akan mengantarku belanja. Kenapa masih tidur? ayo bangun Nathan." Eil mencoba untuk menarik lengan suaminya.


Brukkkk... Eil langsung telentang di atas ranjang saat Nathan menarik tangannya dan malah mengukung nya sambil tersenyum jahil. "Aku akan mengantarmu Eil. Kenapa kau sangat tidak sabar."


Eil membelalakkan matanya saat bibir Nathan menekan bibirnya dalam..


"Eumhhh," lengguh Eil sambil memukul dada suaminya.


Nathan melepaskan pangutannya kemudian mengusap sisa saliva yang tertinggal di bibir Eil.


"Ini sangat manis," ucap Nathan tersenyum menyeringai. Dia hendak meraup kembali bibir Eil namun dengan segera Eil menendang perut suaminya.


Brukkkk... Nathan meringis saat pantatnya mendarat di lantai dengan keras.


"Kau! kau semakin mesum Nathan. Dan itu, kenapa adikmu bangun!" tunjuk Eil pada bagian sensitif suaminya.


"Ini wajar Eil. Selain karena ini masih pagi, kau sangat menggoda dengan kimono melorot mu itu," tunjuk Nathan menggunakan dagunya. Eil langsung menarik bagian atas kimono yang dia kenakan. Bahkan handuk yang tadi melilit di kepalanya sudah berhamburan entah kemana.


Cup. Nathan mengecup bibir Eil kemudian berjalan ke kamar mandi.


"Aku sangat menyukainya," ucap Nathan sebelum menutup rapat pintu kamar mandi nya.


Eil menatap horor pintu kamar mandi. Namun dia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dan berguling guling sambil terkekeh.


"Apa aku sedang jatuh cinta?" tanya Eil pada dirinya sendiri.


***


"Nathan!" panggil Eil pada suaminya. Nathan menoleh dan kemudian tersenyum. "Ada apa?" tanya Nathan. Dia kembali memfokuskan matanya ke jalanan karena dia sedang menyetir saat ini.


Nathan diam. Dia memang sudah memikirkan ini sejak lama. Daripada dia bosan di rumah, lebih baik dia melakukan kegiatan yang positif. Perusahaan itu juga miliknya. Dia harus mulai bekerja dan tidak boleh melempar semua tanggung jawab kepada Lukas.


"Aku akan membantu Lukas Eil, hanya saja aku masih butuh waktu untuk bersiap. Mungkin lusa aku akan mulai bekerja."


Eil tersenyum. Dia menarik sit belt yang dia kenakan lalu mencondongkan badannya dan mengecup pipi Nathan sekilas. Nathan tersenyum. "Kau sangat senang hmmm?"


"Tentu saja, aku lebih tenang jika kau bekerja di perusahaan daripada menjadi anggota pasukan khusus. Aku tidak ingin kau mati sia-sia seperti ayah. Aku ingin kau menghargai hidupmu dan menjalani kehidupan normal seperti orang biasa."


Nathan menoleh saat mendengar ungkapan hati istrinya. Dia tidak tahu kalau selama ini Eil merasa jika ayahnya mati sia-sia. Bagi Nathan, menjadi anggota dari pasukan khusus merupakan suatu kebanggan karena dia bisa melindungi banyak orang. Tapi Nathan tidak menyangka kalau istrinya merasa ini adalah pekerjaan yang sia-sia. Nathan tidak ingin menyela, dia sadar. Eil sudah kehilangan orang tuanya saat dia masih remaja. Mungkin itu juga yang membuat Eil marah dan tidak menyukai fropesi yang di emban ayahnya sebelum meninggal.


Eil menoleh saat Nathan menggenggam tangannya. Dia bisa melihat Nathan tersenyum. Eil membalas senyuman Nathan tanpa mengucapkan apapun. Hatinya kembali mendung saat mengingat kenangan dimana dia sedang bermanja dengan ibu dan juga ayahnya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Nathan ketika melihat awan hitam di wajah Eil.


"Aku baik-baik saja Nathan," ucap Eil sambil tersenyum.


Di sisi lain, seorang pria dengan tubuh tinggi besar sedang menatap foto wanita cantik di layar laptop yang dia miliki. Dia menautkan jari-jari tangannya dan menyandarkan punggungya di sandaran kursi. Sudut bibirnya tertarik ke atas saat melihat pesan yang masuk ke ponselnya.


"Wanita itu sedang ada di sebuah pusat perbelanjaan Bos."


"Aku selalu berada di dekatmu Eileria. Bunga yang aku tanam tidak mungkin bisa tumbuh di atas tanah yang tidak seharusnya. Kau harus kembali padaku." ucap pria itu tersenyum menyeringai.


***


"Nathan ke sini," ucap Eil sambil melambaikan tangannya kepada Nathan.


Wanita itu berlari dan menarik tangan Nathan lalu membawanya ke sebuah toko pakaian merek terkenal yang harganya selangit.


"Nathan, kita beli ini ya!" ucap Eil sambil menujuk sebuah coat couple. "Aku juga ingin itu," tunjuk nya pada dua pasang sepatu yang juga merupakan barang couple. Nathan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sementara pelayan yang ada di toko tersebut terus tersenyum melihat tingkah Eil yang seperti anak kecil ketika meminta barang kepada ayahnya.


"Kita beli semua yang kau mau," ujar Nathan tidak ingin membuat Eil terus merengek kepadanya.


Eil tersenyum bahagia. Lagi-lagi dia mendaratkan kecupannya di pipi sang suami. Eil sama sekali tidak perduli dengan tatapan para pelayan yang sejak tadi sudah memperhatikan mereka.


"Terimakasih Tuan," ucap pelayan toko setelah mengembalikan balck card milik Nathan dan menyerahkan semua paper bag berisi barang-barang yang telah di pilih Eil.


Eil tersenyum menampakan deretan gigi putihnya. "Aku akan membawanya sebagian," ucap Eil sambil merebut sebagian paper bag dari tangan Nathan. Nathan ingin mencegah Eil namun istrinya itu bergerak sangat lincah.


"Kau benar-benar Eil." Nathan mengikuti Eil yang sudah berjalan cukup jauh.


"Nathan!" panggil seorang wanita cantik yang berlari ke arah Nathan dan langsung mengecup pipi Nathan saat itu juga.


...To Be Continued....


...Hai reader jangan lupa like dan komennya ya. Thank You. 🤗🤗...