The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Tolong Alard Mommy



"Mommy! Mommy! Tolong Alad Mommy, tolong Alad!" teriak bocah kecil di sebrang telepon.


Eil mengepal kan tangannya kuat. Tatapannya menggelap. Emosinya di sulut dengan sangat baik oleh si penelpon.


"Kau benar-benar iblis Belle, bagaimana bisa kau melakukan itu pada anak kecil, lepaskan dia! dia gak ada hubungan apa-apa dengan ku. Kenapa kau melakukan hal bodoh seperti ini?" Teriak Eil.


Jerome yang ada di samping Eil di buat bingung sekaligus ikut khawatir. Bukankah bocah kecil itu adalah bocah yang selalu bermain dengan adiknya.


"Aku akan menemui mu! kalau sampai dia lecet barang se ujung kuku saja, aku tidak akan segan-segan untuk menghabisi mu Belle."


Terdengar suara kekehan di sebarang telepon. Eil yang sudah sangat geram langsung menutup sambungan teleponnya dan segera bersiap untuk pergi.


"Jerome, aku harus pergi sendiri. Kau beri tahu yang lain untuk tetap di tempat, aku pasti akan baik-baik saja," ucap Eil. Dia menyambar jaket juga senjatanya lalu berjalan meninggalkan Jerome.


"Tinggu Eil! ini berbahaya, kau tidak bisa pergi sendiri. Aku akan menemanimu," ucap Jerome berusaha untuk menyamakan langkahnya dengan Eil.


Eil menarik nafas panjang. "Jerome, Belle ingin aku pergi ke tempatnya sendiri, kalau akau nekat membawa orang, aku takut Alard akan celaka, kau juga tahu kalau dia itu memiliki riwayat jantung. Aku tidak bisa membiarkan dia terus berada di bawah tekanan Belle."


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" teriak Jerome karena Eil sudah mulai menjauh darinya.


"Kau bisa melacak keberadaan ku Jerome. Jika dalam 6 jam aku tidak kembali, kau kerahkan semua orang untuk membunuh Belle dan orang-orangnya."


Jerome mengangguk. "Baiklah, hati-hati! jangan sampai kau lengah!" teriak Jerome lagi. Eil mengangkat tangannya seolah memberi isyarat kalau dia mendengar semua ucapan Jerome.


Sementara di tempat lain, Lukas , Amber, Darius dan Nathan sedang di buat panik. Bagaimana tidak, mereka tidak bisa melacak keberadaan Alard. Lukas sudah mewanti-wanti dengan memasangkan gps tracker di sebuah gelang yang Alard kenakan, tapi sepertinya orang uang membawa Alard sangat licik dan mungkin saja orang itu membuang gelang yang di kenakan Alard.


"Bagaimana ini Kak? Sudah satu jam sejak Alard pergi, tapi kita masih belum bisa menemukan nya," ucap Amber. Penampilan nya semakin kacau dan berantakan, mata bengkaknya, hidungnya yang merah, dia sudah terlalu lama menangis sampai-sampai semua tenaganya hampir terkuras habis.


"Tenanglah Nak!" ucap Darius berusaha menenangkan. "Aku yakin Alard akan baik-baik saja."


Nathan masih berusaha untuk mencari jalan keluar. "Aku harap kau baik-baik saja Alard!" gumam Nathan. Dia mengambil ponsel di saku jaket yang dia kenakan.


"Halo, Pak. Saya mau minta tolong," ujar Nathan pada atasannya.


"Apa yang kau butuhkan Nathan?" tanya orang itu di sebrang telepon.


"Saya akan ke sana sekarang Pak!"


"Kalian tunggulah di sini! jangan melakukan apapun sebelum aku mengabari kalian."


Darius dan Lukas mengangguk. Sementara Amber, dia sudah ambruk terduduk di atas sofa. Harus sampai kapan dia menunggu. Dia ingin bertemu dengan Alard sekarang juga.


"Aku yakin Alard akan baik-baik saja," yakin Nathan sambil menepuk bahu Lukas pelan.


"Cepat kembali dan bawa Alard pulang Kak," ujar Lukas.


"Hmmm, aku akan melakukannya."


Tiga puluh menit Nathan berkendara, akhirnya dia sampai di depan kantor atasannya. Nathan masuk ke dalam kantor itu dengan langkah yang tergesa.


Tok Tok Tok


"Masuk!" sahut orang dari dalam.


"Maaf menganggu Pak. Aku ingin meminta bantuan mu. Keponakan ku di culik satu setengah jam yang lalu. Aku tidak bisa menemukannya."


"Kenapa kau baru mengatakannya Nathan, kau bisa langsung menghubungiku jika hal-hal seperti ini terjadi."


"Maaf Pak, aku tidak ingin menyalah gunakan kekuasaan. Tapi, situasi saat ini tidak memungkinkan. Keponakan saya masih sangat kecil. Dia juga memiliki penyakit jantung. Saya tidak bisa membiarkan dia berada di tempat asing terlalu lama."


Nathan menyerahkan semua informasi tentang Alard, dia juga menyerahkan rekaman cctv yang di berikan Lukas padanya.


"Semoga kau baik-baik saja Alard," gumam Nathan.


****


"Brengsek kau Belle," geram Eil. Dia keluar dari dalam mobil dan mulai masuk ke sebuah bangunan yang sangat besar.


Beberapa orang dengan pakaian serba hitam datang menghampiri Eil dan memeriksa setiap inci dari tubuh Eil untuk mencari sesuatu yang mungkin saja dia sembunyikan.


Mereka melepaskan Eil saat mereka rasa kalau Eil sudah aman dan bisa langsung masuk ke dalam.


"Di mana Bos kalian?" tanya Eil pada seseorang yang sedang berjaga di depan pintu ruangan yang, siapapun tidak tahu itu ruangan apa.


Prok... Prok... Prok..


Eil menoleh. Belle berjalan ke arahnya sambil bertepuk tangan.


"Akhirnya aku bisa membuatmu masuk ke dalam rumah ku Eil."


"Cih, jangan basa-basi! cepat lepaskan Alard. Kau bisa menahan ku, tapi tidak dengan Alarad, dia punya penyakit Belle."


Hahahaha.. Suara gelak tawa menggema di ruangan itu, Belle menatap Eileria tajam.


"Kau pikir aku bodoh? aku tidak akan melepaskan dia sebelum aku puas menyiksamu."


"Kau keterlaluan Belle, Alard itu hanya anak kecil," geram Eil.


Plakkkkk...


Sebuah tamparan Belle layangkan kepada Eileria. Wanita yang di tampar itu tersenyum tipis. Dia mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya menggunakan ibu jari.


"Sekarang bukan waktunya untuk tawar menawar," ucap Belle. Dia melirik anak buahnya lalu menyuruh mereka untuk menyeret Eileria ke dalam ruangan yang telah Belle siapkan.


"Alard!" gumam Eil ketika dia melihat seorang anak kecil sedang duduk di atas kursi dengan kedua tangan dan kaki yang terikat.


"Lepaskan aku," ucap Eileria berusaha berontak, dua orang yang tadi menyeret Eil tumbang di atas lantai.


"Alarad! Alard sayang," panggil Eil menepuk pipi Alard perlahan. Dia berlutut di atas lantai supaya bisa menyamakan tingginya dengan Alard.


"Mommy!" panggil Alard dengan suara yang sudah agak serak. Hati Eil sakit, pangeran kecilnya ini pasti sudah sangat ketakutan, seharusnya dia datang lebih awal, ini semua gara-gara dirinya, kalau dia lebih waspada, mungkin semuanya tidak akan berakhir seperti ini.


"Maafkan Mommy sayang, Mommy akan membawamu pulang, jangan menangis lagi ya. Mommy sudah datang sayang." Ujar Eil. Tangannya terulur untuk melepaskan ikatan pada kain yang sengaja Belle ikatkan untuk menutup mulut Alard supaya bocah itu tidak berisik.


Srakkkk...


Belum sempat Eil membuka ikatan pada tali yang ada di tangan Alard, rambutnya sudah di tarik ke belakang.


Jrebbb....


Sebuah jarum yang cukup besar menancap di leher Eileria.


Belle tersenyum penuh kemenangan saat tubuh Eil ambruk di atas kakinya.


"Mommy!......"


...To Be Continued....