The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Pertanyaan Random Dari Eileria



"Kau sudah gila! Kau berani membantah perintah ku hah?"


Nabila diam. Dia masih menunduk mendengarkan semua ucapan Bara yang sejak tadi sudah membuatnya hampir membalas meneriaki laki-laki yang notabenenya adalah atasan nya sendiri. Nabila sudah berusaha menahan emosinya. Kemarin Bara mengatakan kalau dia tidak bisa menerima Nabila jika Nabila masih mengenakan jilbab. Namun sekarang ketika Nabila ingin pergi dan akan segera mengundurkan diri, laki-laki itu mengatakan kalau Nabila tidak bisa melakukan itu dan dia masih harus bekerja untuknya.


Aneh bukan? Nabila juga sangat kesal. Kalau memang dia tidak di butuhkan di perusahaan itu, it's oke dia akan mundur tanpa harus di suruh. Pekerjaan di luar sangat banyak. Dia juga memiliki kemampuan. Nabila yakin, kalaupun dia berhenti dari perusahaan milik Bara, dia akan tetap memiliki pekerjaan di perusahaan yang lain.


"Maaf Pak. Tekad saya sudah bulat. Bapak bisa mencari orang yang sesuai dengan apa yang Bapak harapkan. Jika Bapak merasa terganggu dengan jilbab yang saya kenakan. Maafkan saya. Namun ini adalah hak saya. Bapak tidak bisa ikut campur."


Brakkkkkk.


Bara menggebrak meja yang ada di hadapannya. Semua orang yang ada di restoran hotel tempat mereka menginap memperhatikan mereka. Kegaduhan yang terjadi membuat mereka menjadi pusat perhatian semua orang.


"Tuan tenanglah! Kita bisa membicarakan ini baik-baik," ucap Max berusaha untuk menenangkan Bara.


Laki-laki itu mendengus. Dia menatap mata Nabila tajam. Orang yang ditatap hanya bisa diam tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun. Bara melengos pergi meninggalkan Nabila yang masih diam di tempatnya.


"Blacklist dia dari semua perusahaan yang ada di Indonesia. Jangan sampai dia mendapatkan pekerjaan apapun. Dia harus menerima apa yang harus dia terima. Berani melawan ku berarti dia berani hidup dalam kesulitan."


Max mengangguk. Dia tahu, meskipun Bara sudah berhenti dari dunia hitamnya, namun sikap arogan dan sikap tegasnya masih sangat menempel pada sosok laki-laki itu. Nabila memang wanita pemberani. Baru kali ini Max melihat seseorang yang berani melawan bosnya secara terang-terangan.


Setelah ini hidup Nabila pasti akan dalam kesulitan. Orang-orang kenalan Bara tidak sedikit. Dan pembisnis mana yang tidak tahu siapa Bata Cullen. Selain memiliki perusahan mobil dan merek sendiri. Bara juga merupakan seorang investor yang aktif.


"Kita kembali ke rumah Nathan Pak!" titah Bara pada sopir pribadinya. Dia sudah menyelesaikan semua pekerjaannya. Dan yang terakhir adalah membereskan masalahnya dengan Nabila.


Satu jam lebih Bara menunggu untuk sampai di kediaman Nathan. Dia turun dari mobil dan tersenyum ketika melihat wanita hamil yang dulu sangat dia cintai sedang sibuk bermain dengan Bao. Harimau kesayangannya sudah memiliki pasangan. Dan wanita itu memberikan nama Kimi kepada harimau betina yang di belikan Nathan untuknya.


"Apa kau sangat senang bermain dengan Bao dan Kimi sampai kau tidak sadar kalau aku sudah pulang?" ucap Bara membuat wanita cantik yang sedang mengelus kepala Kimi menoleh ke arahnya.


"Bara!" pekik Eileria mendorong kepala Kimi dan langsung berusaha untuk menghampiri Bara dengan memutar roda kursi roda yang dia kenakan.


Gerrrrrrrr ...


Kimi menggeram mendapat perlakuan tidak adil dari Eil. Saat Bara tidal ada dia sangat menempel pada Kimi dam juga Bao. Namun saat laki-laki itu datang dia langsung melupakan Kimi dan Bao begitu saja.


"Kenapa sangat terburu-buru. Aku akan menghampiri mu Eil."


Bara jongkok sambil menumpukan satu lututnya di atas rerumputan hijau. Dia memeluk Eil ketika wanita itu merentangkan tangannya meminta di peluk oleh Bara. Satu kebiasaan yang selama Eil hami, dia tidak pernah bisa untuk tidak memeluk Bara saat mereka bertemu.


"Kau sudah pulang Bara?" tanya Nathan membawa segelas susu hangat di tangannya. Dia berdiri di belakang Eil yakni di depan Bara sambil menatap laki-laki itu sengit.


Sebenarnya Nathan bisa bersikap biasa saja ketika ada Eil di dekatnya. Namun ketika dia dan Bara ada di satu kondisi yang membuat mereka harus bersama, Nathan akan memasang wajah kecut dan sangat tidak enak untuk dilihat.


"Aku sudah pulang Nathan. Oleh sebab itu aku ada disini."


Nathan mendengus. Dia kembali tersenyum saat menyodorkan gelas kepada Eileria. Wanita cantik itu menerima gelas yang di sodorkan Nathan padanya. Setelah meminum habis isi yang ada di dalam gelas itu, dia menyerahkan kembali gelasnya kepada Nathan.


"Aku ingin menunjukan sesuatu padamu Kak!" ucap Eil menarik tangan Bara.


Bara melirik Nathan sebentar. Dia harus meminta ijin kepada sang pemilik untuk pergi memenuhi permintaan Eil.


Nathan mengangguk. Bara yang melihat itu tersenyum lalu memutar kursi roda Eil dan mendorong kursi roda itu ke halaman belakang. Eil tadi meminta Bara untuk membawanya ke halaman belakang.


Bara berhenti di depan sebuah taman bunga yang sepertinya baru di tanami beberapa hari yang lalu. Dia menatap takjub bunga-bunga cantik itu.


"Apa kau menyukainya Kak?" tanya Eil pada Bara.


Laki-laki itu mengangguk. "Ini sangat indah Eil!" ucap Bara jujur. Dia memang sangat menyukai bunga. Selain bunga narkotika yang dulu pernah dia budidayakan, bunga-bunga cantik seperti inipun sangat dia sukai.


"Aku menanamnya saat kau pergi. Meskipun mereka masih baru, namun karena aku di ajarkan cara menanam bunga yang baik, mereka tumbuh dengan sangat indah. Kemarin mereka masih agak layu. Namun sekarang mereka sudah jauh lebih cantik."


"Mereka memang sangat cantik Eil, sama seperti mu."


Eileria terkekeh. Dia selalu merasa senang ketika Nathan dan Bara memuji kecantikannya. Meskipun dulu dia tidak suka di puji. Setelah dia hamil dia seperti haus pujian dan selalu bahagia ketika dua laki-laki yang selalu ada di sampingnya memuji kecantikannya.


"Kakak!" panggil Eil membuat Bara menolehkan pandangannya. Bara kembali jongkok di depan Eileria.


"Ada apa?" tanya Bara menatap mata Eil lekat.


Ada semburat kesedihan di wajah wanita cantik itu. Padahal tadi dia masih baik-baik saja. Bahkan matanya berbinar seperti bongkahan berlian yang sangat mahal.


"Apa kau akan pergi jika besok atau lusa kau menikah dengan wanita yang kau cintai?" tanya Eil dengan wajah sendunya. Dia menatap Bara yang kini sedang menautkan kedua alisnya bingung mendengar pertanyaan dari Eil.


Kenapa wanita cantik ini selalu memiliki pertanyaan random. Pertanyaan nya selalu tidak terduga dan selalu membuat orang yang ditanyai bingung harus menjawab apa.


"Kenapa diam Kak?"


...To Be Continued....