
"Kalian!" ucap Nathan. Betapa terkejutnya Nathan ketika melihat Amber dan Eileria ada di depan pintu. Mungkinkah Amber mendengar semua yang di katakan Lukas?
"Amber kau!" ucapan Nathan terhenti saat Amber memberikannya sebuah senyuman. Apa mungkin Amber tidak mendengarnya? Tapi itu tidak mungkin, Lukas mengucapkan kalimatnya dengan sangat lantang. Akan sangat mustahil kalau Amber tidak bisa mendengar apapun. Jadi arti senyuman yang di berikan oleh Amber itu apa?
Amber tidak merespon Nathan. Dia mendorong kursi roda Eil kembali ke dalam. Bukan Amber tidak mendengarnya, namun Amber tidak bisa melakukan apapun. Dia tidak berhak marah karena dia memang hampir membunuh Alard. Hati Ayah mana yang tidak akan marah melihat anak kesayangannya hampir meregang nyawa karena ulah orang lain? Bahkan jika Amber adalah Lukas, dia juga akan membenci orang yang telah membuat Alard terluka.
"Amber!" panggil Eil dengan suara yang sangat pelan.
"Ada apa Kak?" tanya Amber. Dia duduk di atas ranjang, lalu menatap Eileria sambil tersenyum.
"Aku bilang jangan tunjukan ekspresi bodoh seperti itu. Kau bukan badut yang harus selalu terlihat ceria di depan semua orang. Aku ini Kakak mu. Aku berhak mengetahui setiap kegelisahan juga sakit yang kau rasakan di dalam hatimu. Jangan memendamnya sendiri, percayalah! Aku akan menjadi pendengar yang baik."
Amber mengangguk. "Dia tidak bermaksud untuk menyembunyikan apapun. Dia hanya bingung, dia bingung dengan perasaannya sendiri. Dia bingung dengan semua masalah yang telah dia sebabkan. Alard hampir meninggal, dia juga kehilangan calon anaknya. Namun, perasaan dan ekspresi seperti apa yang harus dia tunjukan, dia juga tidak tahu. Ini terlalu tiba-tiba dan Amber tidak bisa mencerna semuanya. Amber sangat terluka namun, pasti ada orang lain yang lebih terluka darinya.
"Maafkan aku Amber. Aku melarang Jerome pulang karena dia harus menemani Sulli di Amerika. Aku juga tidak memberitahunya kalau kau terluka. Aku mohon jangan marah padaku."
Amber mengangguk. Dia mengerti, Jerome memang harus menomorsatukan orang yang akan menjadi pendamping hidupnya. Sama seperti dia, meskipun cintanya masih tidak berbalas, namun Amber hanya bisa meyakini, kalau suatu saat Lukas akan tergerak dan akan membuka hati untuknya.
"Tadi Jerome sempat menelepon ku Amber. Dia menanyakan kabar mu. Aku juga mengatakan kalau kau baik-baik saja supaya Jerome tidak khawatir."
"Iya Kak. Terima kasih. Tanpa kalian aku mungin sudah akan sangat terpuruk. Aku kecewa pada diriku sendiri. Pantas saja Tuhan mengambil anakku, menjaga Alard saja aku tidak bisa, apalagi kalau aku harus menjaga bayi. Entah kekacauan apa yang yang akan terjadi."
Bara menggeleng. Dia mendekat ke arah Amber lalu memeluk wanita malang itu, dari kalimat yang keluar dari mulut Amber, semua orang yang ada di ruangan itu tahu kalau Amber sangat tertekan. Dia pasti menyalakan dirinya sendiri atas semua kejadian yang terjadi akhir-akhir ini.
"Jangan berbicara seperti itu Amber. Kau adalah Ibu terbaik untuk Alard. Bukankah kau kehilangan bayimu karena kau sangat mencemaskan bocah kecil itu? Aku tahu, seberapa besar cintamu padanya. Jangan menyalahkan dirimu atas semua hal yang sudah terjadi."
Nathan maupun Eil mengangguk. Apa yang terjadi ini merupakan sebuah takdir dan kehendak dari yang maha kuasa. Sebagai seorang manusia, kita hanya bisa berharap dan berusaha, namun takdir tetap Tuhan yang mengendalikan.
"Aku tahu kau sangat menyayangi Alard lebih dari siapapun. Bahkan aku yang lebih dulu mengenalnya tidak bisa dibandingkan dengan mu Amber. Kau harus sadar, semua ini terjadi bukan kesalahan siapapun."
Amber mengangguk dalam pelukan Bara. Dia tidak berani bersuara karena takut malah menangis dan terisak di hadapan tiga orang yang sedang memberikannya support. Satu hal yang Amber tahu, dia sangat beruntung karena masih memiliki orang-orang baik yang perduli terhadapnya.
Hari sudah semakin larut. Nathan, Bara, dan Eileria memutuskan untuk kembali. Sementara Amber, dia ditemani oleh Darius yang baru saja datang karena tadi dia sempat pulang ke rumahnya lebih dulu.
Nathan mengusap kepala istrinya lembut. Saat ini Eil sedang bersandar pada lengan sang suami sambil memejamkan matanya. Segala permasalahan yang terjadi membuat kepalanya pening. Dia mengantuk tapi tidak bisa tidur. Dia lapar tapi tidak bisa makan.
"Nathan!"
"Heummm, ada apa Baby?"
"Apa aku salah karena menutupi ini dari Jerome? Hubungan nya dengan Sulli baru saja membaik. Aku takut, aku takut kalau aku memberitahu Jerome semuanya, dia akan langsung terbang dan kembali ke Prancis meninggalkan Sulli di sana."
Bara tersenyum tipis mendengar pertanyaan Eileria. Dia melirik wanita hamil itu sekilas. Mungkin Eil menganggap dirinya egois karena memikirkan hubungan Jerome dan Sulli, namun malah menomor duakan Amber.
Nathan menarik tangan Eileria lalu mengusap jemari tangan mungil itu lembut. "Kau tidak salah Baby, keadaan Sulli juga sedang tidak baik-baik saja. Amber memiliki kita disini, namun Sulli tidak memiliki siapapun.
"Apa kau tahu Sulli itu siapa?" tanya Eileria dengan mata yang masih terpejam.
Nathan menggeleng. Dia hanya mengenal Sulli dari Eil, dan Eil tidak pernah mengatakan apapun tentang Sulli, wajar bukan kalau dia tidak tahu.
"Sulli adalah anak dari menteri pertahanan di Amerika."
Nathan maupun Bara saling menatap. Mereka mencerna setiap kata yang di ucapkan oleh Eil.
"Kalian tidak usah bingung, Sulli sudah hidup mandiri sejak kecil. Ibunya juga bekerja di gedung biru yang ada di Korea Selatan. Kedua orangtuanya sangat sibuk, mereka terlalu mementingkan karir sampai lupa kalau Sulli juga membutuhkan perhatian. Sulli itu wanita yang tangguh, dia bukan tipe orang yang mudah membenci," Eil sedikit terkekeh sebelum melanjutkan kalimatnya. "Bahkan setelah dia di campakkan oleh kedua orangtuanya karena kedua orangtuanya memilih berkarir di pemerintahan, dia juga ingin bekerja sebagai seorang pengawal untuk presiden. Bukankah dia sangat aneh? Apa mungkin Sulli merencanakan sesuatu?"
Nathan dan Bara diam. Mereka tidak bisa menjawab pertanyaan Eileria, Sulli sangat sulit untuk di tebak. Bahkan setelah Nathan dan Bara tahu bagaimana orangtuanya Sulli mencampakkan Sulli karena sebuah pekerjaan di pemerintahan, mereka tidak bisa menerka dan tidak bisa memikirkan kemungkinan apa yang di rencanakan oleh Sulli sampai dia mau bekerja di tempat yang sebenarnya sudah membuat dia kehilangan kedua orangtuanya.
"Sulli ingin membunuh setiap orang yang telah merebut kebahagiaannya."
...To Be Continued....