The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Hilangnya Belle



"Kalian itu bodoh atau bagaimana," geram Bara. Dia melempar gelas yang sedang dia pegang ke kepala bawahannya..


Bughhhhh


Prang......


Gelas kaca itu hancur berkeping-keping. Orang yang tadi kena lemparan gelas hanya menunduk, dia sama sekali tidak memperdulikan keningnya yang sudah mengeluarkan darah cukup banyak. Baginya kemarahan Bara lebih menakutkan daripada kematian nya sendiri, kenapa seperti itu? semua anak buah Bara tahu, bahwa bos mereka itu sangat suka menyiksa orang sebelum merenggut nyawanya. Jadi lebih baik di tembak mati atau langsung di tebas leher daripada harus di siksa terlebih dahulu.


"Pergi dan pulihkan sistem ke amanan. Aku tidak ingin semuanya menjadi kacau. Kalau kalian gagal, kepala kalian akan aku tebas dan akan aku kirim kepada keluarga kalian masing-masing."


Semua anak buah Bara mengangguk patuh. Mereka keluar dari rungan Bara dan mulai menjalankan perintah dari bos nya itu. Sementara Bara sendiri? dia mulai sibuk menerka-nerka siapa orang yang telah menyelamatkan Belle. Seharusnya Bara membunuh Belle dengan tangannya sendiri.


"Brengsek! kau benar-benar wanita ular Belle. Aku tahu kali ini kau beruntung. Tapi cepat atau lambat, aku akan menemukan mu dan hidup mu akan berakhir saat itu juga.


Flashback on


"Kalian bisa melakukan pekerjaan kalian," ucap Bara pada orang-orang nya. Bara pergi dari ruangan gelap itu. Hanya ada satu penerangan, dan itu terletak di atas kepala Belle. Jadi hanya dia lah yang terlihat di dalam ruangan gelap itu.


Brakkkkkk....


Tepat setelah bara keluar dan menutup pintu, seseorang muncul dari atas plafon. Dia langsung menembaki orang-orang yang ada di ruangan itu. Setelah selesai, dia membuka ikatan yang ada di tangan dan kaki Belle.


Syuhhhhh....


Seseorang itu membawa Belle ke atas plafon menggunakan seutas tali yang di ikatkan pada tubuhnya.


Flashback of


Sementara di tempat lain..


"Sekarang kita tinggal di apartemen ini dulu ya! kita harus merenovasi mansion untuk sementara. Dan untuk kenyamanan mu, aku menyuruh Irene untuk tinggal di sini bersama kita."


Eil hanya mengangguk ketika Nathan membawanya duduk di ruang tamu apartemen yang akan mereka tinggali untuk sementara. Eil tidak pernah mempermasalahkan tempat tinggal, di manapun dia tinggal, dia akan merasa nyaman.


"Sejak kapan kau menyiapkan ini Nathan? bukankah aku hanya menginap 3 hari di rumah sakit? kenapa kau bisa mempersiapkan ini semua dalam waktu se singkat itu?"


Nathan tersenyum. Dia mengambil segelas air putih lalu membantu Eil untuk minum.


"Sebenarnya aku sudah memiliki apartemen ini sejak lama. Hanya saja aku jarang menggunakan nya. Aku tidak menjualnya karena aku takut suatu saat aku atau keluargaku akan membutuhkan tempat tinggal seperti ini, dan sekarang kita menempatinya."


Eil mengangguk. "Apa kau masih belum masuk kerja Nathan?"


"Aku masih ada jatah cuti 4 hari lagi. Selama kau masih belum sembuh, biarkan aku merawat mu oke?" jawab Nathan.


"Ikh, gak di rawat juga aku bisa merawat diriku sendiri. Kalau kau memang sangat di butuhkan di tim mu, pergilah bekerja. Aku tidak apa-apa, apalagi kalau Irene ada di sini, aku pasti akan baik-baik saja."


Nathan dengan cepat menggeleng. "Pokonya aku yang akan merawat mu. Jangan menolak!" titah Nathan pada Eil.


Eil hanya bisa mengangguk patuh. Tidak baik baginya untuk melawan Nathan. Meskipun suaminya itu sangat keras kepala, tapi Eil tahu, dia melakukannya karena dia sangat menyayangi Eil.


"Ya sudah, aku mau ke kamar dulu," ucap Eil sambil berdiri. "Kapan Irene akan ke sini Nathan?"


"Mungkin nanti sore. Kenapa? kau sudah sangat ingin bertemu dengannya?" tanya Nathan sambil memegangi bahu Eil dan menuntunnya masuk ke dalam kamar.


"Aku ingin menanyakan sesuatu padanya Nathan, hampir semua orang-orang kita mati, hanya mereka yang bersembunyi dengan baik yang masih selamat. Aku ingin menanyakan keadaan di sana setelah kejadian itu."


"Sebenarnya aku juga ingin menanyakan koper dan alat-alat ku yang ada di kamar lama. Semoga Irene mengerti dan akan membereskan barang-barang itu," Eil bergumam dalam hati.


Cklekkkk... Pintu apartemen itu di buka dari dalam.


Eil tersenyum. "Masuklah Irene!" titah Eil. Irene masuk sambil membawa sebuah koper besar berwarna silver di tangan kanannya.


Eil membulatkan matanya ketika melihat koper yang berisi semua alat-alat nya di bawa oleh Irene.


"Apa yang kau lakukan Irene? kenapa kau membawa koper ini ke sini?" pekik Eil tertahan. Dia melirik ke arah pintu kamarnya lalu menarik Irene dan membawanya masuk ke dalam sebuah kamar yang memang sudah di siapkan Nathan untuk pelayannya itu.


"Kau membawa semuanya?" tanya Eil. Irene mengangguk.


"Aku membawa semuanya Nyonya, termasuk laptop dan barang-barang yang lain."


Eil sebenarnya merasa agak lega untuk ini. Tapi, kalau Nathan menemukan koper ini bagaimana?


Eil mondar-mandir sambil memikirkan sesuatu. Dia mengetuk-ngetukkan jarinya di atas bibir, dia belum bisa berbuat banyak karena lengan yang satunya masih di perban dan masih dia ais menggunakan kain khusus yang di kaitkan di lehernya.


"Um, gini aja deh Irene. Koper ini aku simpan di kamar mu ya! kalau aku butuh sesuatu aku pasti akan masuk ke kamar ini."


Irene mengangguk. "Baik Nyonya."


Tok Tok Tok...


Irene maupun Eil mendadak panik saat pintu kamar itu di ketuk dari luar.


"Baby!"


"Baby!" panggil Nathan di depan pintu kamar Irene. "Baby kau di dalam sayang?" tanya nya lagi.


Eil dengan cepat berjalan ke arah pintu. Sementara Irene sibuk mencari tempat untuk menyembunyikan koper milik Eil.


"Buruan Irene," gumam Eil. Dia sudah memegang handle pintu tapi masih belum berani membukanya karena Irene masih kesulitan menyembunyikan koper itu tadi.


"Sudah," ucap Irene akhirnya.


Cklekkkk...


Eil tersenyum ketika membuka pintu kamar Irene. Nathan menautkan alisnya. Dia mencondongkan badannya berusaha melihat se isi kamar Irene.


"Ada apa?" tanya Eil . Dia berusaha untuk bersikap senormal mungkin supaya Nathan tidak curiga.


"Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Nathan dengan mata yang memincing.


Eil dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Aku, tidak menyembunyikan apapun. Aku tadi hanya ingin mengobrol dengan Irene. Apa gak boleh?" tanya Eil lagi.


Nathan diam untuk sesaat. "Aku percaya padamu. Sekarang sudah waktunya makan malam. Kau mau makan di sini atau di luar?" tanya Nathan.


"Makan di luar saja," jawab Eil dengan segera.


Nathan mengangguk. Dia menarik pinggang Eil dan menuntunnya untuk segera bersiap-siap.


Eil menolehkan wajahnya ke belakang. Dia melirik Irene lalu mengedipkan satu matanya.


"Syukurlah kau tidak melihat semuanya Nathan," batin Eil berbicara.


...To Be Continued....