The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Taman Bermain



Di sebuah rumah yang ada di pusat kota Paris, seorang anak laki-laki tampan sedang menikmati sarapan paginya tanpa bersemangat. Sejak tadi dia hanya mengaduk makanan di atas piring, lalu mencicipi nya sedikit.


"Ada apa Alard? Kau menginginkan sesuatu?" tanya Darius kepada cucu kesayangannya.


"Alard merindukan Lukas Ayah, katanya dia kesepian karena semua orang pergi. Mungkin Amber tidak terlalu berharga untuk Alard," ucap Amber dengan suara yang terdengar sangat sedih.


Alard langsung menoleh kepada Amber. Dia tidak bermaksud seperti itu. "Mommy, kenapa Mommy belbicala sepelti itu? Mommy sangat belhalga untuk Alad. Alad menyayangi Mommy."


Amber berusaha untuk menahan senyum. Sebenarnya dia hanya pura-pura sedih supaya Alard tidak murung, memang benar semua orang sedang jauh dari mereka, namun, mereka pergi bukan untuk bersenang-senang. Lukas pergi untuk menyelesaikan bisnisnya. Sementara Nathan dan Eil pergi untuk mengantar Sulli sekaligus berobat.


"Kalau Alard sayang sama Mommy, Alard harus semangat. Alard sudah janji kalau Alard tidak akan sedih. Mommy Eil dan paman Ntahan pergi juga sudah izin kepada Alard bukan? Apalagi Dady, setiap malam dia selalu melakukan panggilan video, Alard masih tidak senang ? Di sini masih ada Mommy dan Kakek."


"Maafkan Alad Mommy."


Amber mengacak rambut Alard, dia merasa bersalah karena harus berbicara panjang lebar pada bocah kecil ini, seharusnya dia tidak usah menjelaskan apapun. Wajar kalau Alard sedih.


"Hari ini Alard libur sekolah bukan? Bagaimana kalau kita semua pergi ke taman bermain?"


Amber melihat ke arah Darius. Darius mengangguk sambil tersenyum.


"Kakek juga akan pergi menemani Alard dan Mommy Amber," ujar Darius menambahkan.


Alard langsung bersorak. Dia merasa sangat senang karena kedua orang dewasa di hadapannya mengajaknya bermain, ini sesuatu yang langka, bahkan ketika Alard merengek pun, Lukas tidak pernah mengijinkan Alard untuk pergi ke taman bermain, alasannya karena Lukas takut penyakit Alard akan kambuh.


"Hore, Alad mau pergi ke taman belmain."


Amber tersenyum. "Tapi Alard harus janji, Alard harus nurut sama Mommy, sama Kakek, Alard gak boleh terlalu capek. Pokonya, kalau Mommy sama Kakek ngajak Alard istirahat, Alard harus mau oke?"


Alard mengangguk dengan yakin. Dia tentu saja akan menjadi anak yang penurut, kalau tidak, dia tidak akan pernah di izinkan untuk pergi ke taman bermain lagi oleh Amber dan Darius. Persis seperti apa yang dilakukan Lukas padanya.


****


Sementara di tempat lain, di dalam sebuah kamar, Nathan sedang membantu Eil untuk kembali berbaring di atas tempat tidur. Waktu di Amerika Serikat lebih lambat 6 jam dari waktu yang ada di Prancis. Jadi sekarang masih jam 1 dini hari.


Nathan sudah dua kali mengantar Eil ke kamar mandi, tadi istrinya itu kembali mengeluhkan mual dan memang muntah.


"Aku akan membuatmu teh hijau Baby, kau tunggulah sebentar. Pegang lah kantong ini!" Nathan memberikan sebuah kantong kresek kepada Eileria. Eil mengangguk dengan sangat lemah. Perasaan mual ini sungguh membuatnya sangat tersiksa. Andai saja, dia memiliki obat untuk ini, dia pasti akan membelinya meskipun itu ada di ujung dunia.


Eil sudah mencoba berbagai jenis obat pereda mual dari semua dokter yang orang-orang rekomendasikan, namun belum ada satupun obat yang mempan. Untunglah mual yang dia rasakan hanya muncul sesekali, kalau sampai itu muncul setiap saat, Eil tidak yakin dia akan bisa melewati proses kehamilan nya ini dengan baik.


Nathan keluar dari kamar itu dengan langkah yang pelan. Dia tidak ingin membuat keributan yang akan membuat semua orang terbangun.


"Ada apa Nathan?"


Nathan menoleh begitu namanya di sebut. Dia melihat ke arah ruang tv, di sana Bara sedang sibuk dengan laptopnya. Kenapa Nathan tadi tidak melihatnya, apa karena lampu ruangan itu sudah di matikan, tapi layar laptopnya Bara menyala, seharusnya tadi dia menyadarinya bukan?


"Aku tidak tahu kau ada di sini Bara."


"Kau berjalan terlalu fokus dan tergesa. Ada apa Eil mual lagi?" tanya Bara pada Nathan. Dia melepas kacamata baca yang dia kenakan lalu berjalan mendekati Nathan.


"Aku akan menemuinya," ucap Bara hendak pergi ke kamar Eil namun Nathan mencegahnya.


"Kenapa?" tanya Bara spontan.


"Eil tidak ingin kau datang, dia mengatakan kalau dia akan belajar untuk tidak bergantung padamu. Dia merasa tidak enak karena selalu merepotkan mu Bara. Dia ingin belajar mengontrol rasa mual nya sendiri."


Bara mengalah. Dia melirik pintu kamar Eileria sekilas. "Sepertinya aku harus mulai melupakan semua perasaan ku padamu Eil."


Lima menit kemudian, Nathan sudah kembali ke dalam kamar sambil membawa sebuah cangkir berisi teh hijau yang dia janjikan. Bibirnya tertarik ke atas saat dia melihat wanita yang begitu dia cintai sudah kembali terlelap.


Nathan menaruh gelas yang ada di tangannya di atas nakas, kemudian dia menarik selimut yang ada di bawah kaki Eil, lalu menyelimuti tubuh Eil sampai ke dada.


Cup ...


Nathan mengecup kening Eileria cukup lama. "Selamat tidur Baby, kau harus tidur dengan nyenyak."


Sementara di tempat lain, Amber dan Darius sedang fokus memperhatikan Alard yang sedang bermain dengan beberapa anak seusianya yang juga sedang bermain di taman bermain itu. Alard terlihat sangat gembira, dia sangat bahagia saat Amber dan Darius mengizinkannya untuk menaiki wahana komedi putar.


"Alard melambai kepada Mommy Sayang!" ujar Amber. Dia sedang merekam video untuk dia kirimkan kepada Lukas. Meskipun Lukas tidak datang bersama mereka, paling tidak dia harus melihat raut kebahagiaan di wajah Alard.


"Mommy Alad menyayangi Mommy," pekik Alard melambaikan tangan kepada Amber.


Amber tersenyum. Setelah menyelesaikan rekaman videonya, Amber mengirimkan video itu kepada Lukas.


Sementara Darius, dia semakin mendekati Alard. Entah kenapa, dia merasa bersalah karena memberikan Alard izin untuk bermain di taman bermain ini.


Selang beberapa menit setelah Amber mengirimkan video nya kepada Lukas, ponsel Amber berdering. Amber melihat nama Lukas tertera di layar ponselnya.


"Halo Lukas!" ucap Amber pada orang di sebrang telepon.


Amber terlihat sangat gugup. Dia mencengkram ujung dres yang saat itu dia kenakan. Kepalanya menoleh ke arah Alard dan Darius.


Detik berikutnya, ponsel yang sedang dia genggam terlepas dari genggamannya. Dia berlari ke arah Alard, Amber sudah tidak memperdulikan dirinya yang sedang mengandung. Dia terus berlari dengan sangat kencang. Amber memang sempat menjauh dari wahana yang sedang dinaiki Alard karena dia ingin mendengar ucapan Lukas dengan jelas.


"Alard!" teriak Amber melihat bocah itu terkulai lemas di dalam gendongan Darius.


"Halo Amber!"


"Amber apa yang terjadi!"


"Amber!"


Ponsel itu masih menyala, dan Lukas masih terus memanggil nama istrinya.


...To Be Continued....