
Nathan menoleh ke arah Lily. Sebenarnya Nathan juga sangat tidak nyaman karena harus mengajak Lily ke mansion-nya. Tapi dia juga bingung harus menempatkan Lily di mana. Keadaan di luar sangat bahaya untuk Lily. Dia tidak mungkin membiarkan Lily terlunta-lunta di jalanan setelah dia berhasil menyelamatkan nya dari sandraan musuh. Nathan tidak bodoh, dia hanya sedang menggunakan rasa kemanusiaannya saja.
"Di pojok ruangan ini ada kamar tamu Lily. Kau bisa tidur di sana!" titah Nathan pada wanita yang sedang menunduk dalam.
"Baik Tuan. Saya minta maaf karena telah membuat Nyonya marah."
"Tidak apa. Dia tidak marah, Eil itu orang yang sangat baik. Mungkin dia hanya terkejut. Nanti saya akan bicara padanya."
Nathan segera pergi ke lantai atas. Dia harus menjelaskan semuanya dari awal. Nathan tentu tidak ingin Eil marah padanya.
"Baby!" panggil Nathan setelah dia masuk ke dalam kamar. Nathan bisa melihat Eil sedang duduk di atas ranjang sambil memainkan ponselnya asal. Oh ayolah, entah kenapa Eil malah terlihat sangat lucu di mata Nathan. Eil sangat jarang merajuk seperti ini. Sekalinya merajuk, Nathan di buat takjub dengan wajah istrinya. Bagaimana bisa orang cemberut terlihat sangat cantik dan imut di saat yang bersamaan.
"Sayang!" panggil Nathan untuk yang kedua kalinya. Eil masih tidak bergeming.
"Kau marah?" tanya Nathan. Eil langsung menoleh dan melempar ponselnya ke wajah Nathan. Untung saja Nathan cekatan, kalau tidak, dia yakin kalau besok jidatnya pasti akan benjol terkena lemparan ponsel istri kecilnya.
"Aku membencimu Nathan," sarkas Eil. Dia hendak pergi meninggalkan Nathan namun Nathan menarik tangannya tiba-tiba yang membuat Eil hilang keseimbangan dan ambruk di atas ranjang. Eil ingin kembali berdiri. Namun dengan segera Nathan menindih tubuhnya dan menahan tangan Eil di atas kepala wanita cantik yang sedang merajuk itu.
Eil meruntuk dalam hati ketika bibir Nathan menghujam bibirnya lembut. Lembut? ya, pada awalnya apa yang di lakukan Nathan sangat lembut dan sangat hati-hati. Namun lama kelamaan kegiatan itu berubah menjadi sangat panas. Nathan melepas tautan mereka saat di rasanya Eil sudah jauh lebih tenang. Dia menatap wajah Eil lekat kemudian tersenyum.
"Jangan marah Baby. Aku minta maaf. Aku salah karena aku tidak memberitahu mu lebih dulu."
"Baguslah kalau kau tahu," jawab Eil singkat. Dia memang menerima dan membalas ci u man suaminya. Tapi bukan berati Eil sudah tidak marah. Please, kemarahan itu masih ada di dalam hatinya sampai sekarang.
"Dia orang Korea Eil. Aku bingung harus mengantar nya kemana. Ke kedutaan? dia tidak mau. Kita akan mengantarkan nya setelah dia lebih tenang. Sebelum itu, bersabar dulu ya. Aku tahu dia wanita, tapi dia hanya orang asing bagiku. Dan aku tidak melihatnya seperti aku melihat mu. Aku bisa menjaga mata dan hatiku untuk mu Sayang. Kau harus percaya padaku."
Eil diam untuk sesaat. "Berapa umurnya?" tanya Eil.
"Kalau tidak salah 24 tahun."
"Ahhh... Aku mengerti. Tapi kenapa wajahnya terlihat lebih tua dariku?"
Nathan terkekeh. Kenapa Eil menanyakan hal yang tidak perlu sih. Bahkan sampai membandingkan wajahnya dengan wajah Lily. Ya jelas saja kecantikan mereka tidak bisa di bandingkan. Ya namanya orang jatuh cinta, melihat bidadari terbang di depannya matanya aja gak mungkin di bilang cantik karena baginya orang yang dia cintailah yang paling cantik.
"Sekarang giliran aku yang bertanya." Nathan memainkan rambut Eil dan mengusap wajah Eil perlahan, di mulai dari pipi, naik ke mata, alis , turun ke hidung, dan terakhir ibu jarinya berhenti di atas bibir Eil. Eil memejamkan matanya menikmati sensasi-sensasi luar biasa yang sedang dia rasakan, sengatan listrik dalam tubuhnya membuat Eil seakan terbang di awang-awang.
Nathan terkesiap ketika merasakan sesuatu yang basah lembut dan hangat di ibu jarinya. Eil, wanita itu meng hi sap dan melu mat ibu jari Nathan dengan gerakan yang sen sual. Nathan yang tadinya ingin bertanya di buat khilap dan melupakan pertanyaannya. Dia menggeram merasakan sensasi nikmat yang membuat sesuatu di bawah sana menegang.
"Eil kau!" bisik Nathan dengan suara seraknya. Matanya memancarkan aura yang berbeda. Segala hasrat dalam dirinya keluar di waktu yang bersamaan. Wajah teduh Nathan berubah. Kini Eil melihat aura serigala lapar di mata dan wajah suaminya.
Eil menggeliat dalam tidurnya. Dia tersenyum ketika Nathan menarik pinggangnya membuat tubuh bagian belakangnya menempel dengan sempurna di tubuh depannya Nathan.
"Nathan apa kau tidak bekerja?" tanya Eil.
Nathan bergerak dan membenamkan dagunya di bahu polos sang istri. "Aku masih merindukan mu Baby. Aku akan bekerja besok. Kolonel memberiku libur satu hari. Kau juga tidak bekerja kan hari ini?"
Eil mengangguk . "Aku libur untuk dua hari ke depan Nathan. Aku tidak terikat dengan rumah sakit, aku bebas masuk kerja atau tidak selama aku belum menentukan jadwal operasi untuk pasienku."
"Nathan!...."
"Hmmmm..."
"Aku ingin makan di luar. Bolehkah?" tanya Eil.
"Tentu saja boleh, tapi ini sudah hampir siang. Kita makan siang di sini, dan sore nanti aku akan membawamu ke sebuah restoran yang sangat aku sukai. Makanan di sana sangat enak. Kau pasti akan sangat menyukainya."
"Baiklah. Aku akan menurut."
Satu jam kemudian, Nathan dan Eil turun bersama ke lantai bawah. Mereka melihat Lily sedang menyiapkan makan siang di meja makan.
"Selamat siang , Tuan, Nyonya!" sapa Lily. "Maaf kalau saya lancang. Tapi saya tidak tahu harus berbuat apa untuk berterima kasih. Saya hanya bisa melakukan hal-hal kecil seperti ini."
Nathan menyenggol lengan Eil. Eil yang mengerti dengan maksud suaminya langsung menarik kursi dan duduk di meja makan itu. "Maafkan aku untuk yang semalam Lily. Aku tidak bermaksud seperti itu. Dan ya, terimakasih untuk makan siangnya. Kau duduklah bersama kami. Kau juga belum makan siang kan?" tanya Eil pada Lily.
"Duduk dan makanlah," titah Nathan ketika melihat Lily hanya diam mematung di tempatnya. Lily mengangguk kemudian duduk di sebarang Nathan dan Eil.
"Apa dia tuli? aku sudah menyuruhnya duduk tadi, tapi dia diam saja. Dan saat Nathan menyuruhnya duduk, dia langsung menurut. Dasar aneh," batin Eil menggerutu.
Nathan mengelus tangan Eil ketika dia melihat wajah istri cantiknya itu kembali di tekuk. "Makan yang banyak, tadi pagi kau tidak sarapan, siang ini kau harus balas dendam," ucap Nathan.
Eil menoleh. Dia tersenyum lalu mengecup bibir Nathan sekilas. "Kau juga makan yang banyak supaya tenaga mu kembali terisi."
Lily menundukkan kepalanya ketika matanya tidak sengaja melihat adegan romantis yang di lakukan Eil dengan Nathan, terbersit dalam hatinya rasa iri, Nathan sangat perhatian kepada Eil, dan itu membuat hatinya sedikit memanas.
"Mampus kau. Lihat saja, aku akan membuat mu tidak betah tinggal di sini Lily. Aku tahu suamiku sangat tampan. Tapi jangan pernah berpikir untuk merebutnya dariku. Kau tidak akan mampu."
...To Be Continued....