
"Ada apa Nathan?" tanya Eil tanpa suara.
Nathan melangkah mendekati Eileria. Dia tersenyum lalu mengusap kepala istrinya lembut. "Tidak ada apa-apa. Tadi hanya telepon dari kantor. Bagaimana? Kita mau ke dokter kandungan sekarang?" tanya Nathan pada istrinya.
Eileria mengangguk. Mereka pergi dari ruangan itu setelah izin dari sang dokter. Nathan memutuskan untuk tidak memberitahu Eil untuk sementara waktu. Apa yang di sampaikan Lukas itu belum jelas. Dia belum tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Alard di Paris. Kalau dia memberitahu Eil sekarang, Eil pasti akan sangat khawatir. Dan itu akan menganggu semua proses pengobatan yang akan di lakukan Eil.
"Apa Sulli sudah menyelesaikan proses pemeriksaan nya Nathan?" tanya Eileria pada sang suami.
"Seharusnya sudah," jawab Nathan sambil mendorong kursi roda Eil menuju ruangan dokter ahli kandungan yang di rekomendasikan oleh Bara.
"Sulli!" panggil Eileria ketika melihat Sulli baru saja keluar dari ruangan pemeriksaan dokter ahli kandungan.
Sulli tersenyum tipis. Jerome mendorong kursi roda yang di gunakan Sulli untuk lebih mendekat ke arah Eil.
Eileria menarik tangan Sulli. Dia sangat bersyukur karena Sulli sudah bisa tersenyum meskipun dia masih belum heboh seperti sebelumnya.
"Aku sangat senang kau bisa menerima ku kembali Sulli. Maafkan aku. Aku tahu aku salah, maafkan aku Sulli."
Sulli mengangguk perlahan. "Tidak apa, ini salahku. Seharusnya aku tidak bersikap seperti itu. Setelah mendapat penjelasan dari dokter kandungan, aku tahu aku masih memiliki kesempatan Eil. Terima kasih."
Eileria menggeleng dengan cepat." Tidak, jangan berterima kasih padaku." Eileria melirik Jerome sekilas. "Berterima kasihlah pada Jerome. Dia yang sudah sangat berani mengambil keputusan yang tepat di saat-saat kritis. Dia pantas menjadi suamimu Sulli.
Nathan dan Jerome melihat ke arah Eileria. Bisa-bisanya wanita cantik itu mengatakan hal seperti itu di waktu yang tidak tepat seperti sekarang. Mana wajah Eil terlihat biasa saja, mereka semakin di buat terheran-heran dengan sikap lurus yang di tunjukan Eileria.
"Sudah waktunya masuk Baby!" ucap Nathan pada istrinya. Dia takut Eil akan mengeluarkan kalimat ajaibnya lagi.
"Kita akan bertemu lagi di apartemen ya!" ucap Eil sebelum dia benar-benar masuk untuk melakukan pemeriksaan.
Sulli mengangguk. Jerome membawanya pergi dari ruangan itu. Sebenarnya Sulli masih harus melakukan perawatan. Namun, dia berkata kalau dia tidak mau lebih lama tinggal di rumah sakit. Dan Jerome pun mengikuti apa yang Sulli mau. Dia akan selalu memantau bekas jahitan di perut Sulli, dan dia juga selalu melaporkan kesehatan Sulli pada dokter sebelumnya.
Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, Eil akhirnya kembali ke apartemen. Bara tidak ikut ke rumah sakit karena dia memiliki pekerjaan mendadak, dia harus melakukan meeting daring dengan beberapa karyawannya.
"Nathan!" panggil Bara ketika dia melihat Nathan masuk ke dalam apartemen.
"Ada apa Bara?" tanya Nathan.
"Ada yang ingin aku bicarakan." Bara melirik Dil sekilas. "Ini maslah pekerjaan," ucapnya lagi.
"Aku akan mengantar Eil ke kamar terlebih dahulu. Setelah itu, kita akan bicara."
Bara mengangguk. Dia memang memerlukan waktu berdua untuk membiarkan apa yang ingin dia sampaikan kepada Nathan.
"Baby!" panggil Nathan kepada istri cantiknya. Eil sudah duduk di atas ranjang karena Nathan sudah membantunya untuk duduk.
"Ada apa Nathan?" tanya Eil menatap mata suaminya lekat.
"Aku keluar dulu sebentar. Tidak apa bukan kalau aku tinggal?"
Eileria menggeleng. "Tidak, aku baik-baik saja sendiri. Pergilah!" titah Eil sambil mengibaskan tangannya.
Eil menatap punggung Nathan yang sudah mulai menjauh. Matanya beralih menatap sepasang kaki yang kini sedang dia pegang. Ingatan dimana dia yang sedang berlari serta berjalan dengan normal terlintas begitu saja.
Kata-kata dokter kandungan yang mengatakan kalau Eil akan lebih baik jika melakukan operasi setelah melahirkan membuat semangat nya berkurang bahkan merosot sampai bawah. Dia bersikap baik-baik saja di depan Nathan karena dia tidak mau membuat suaminya bersedih. Sudah cukup selama ini Eil membebani Nathan dengan dirinya yang tidak bisa melakukan apapun. Eil tidak ingin kalau Nathan harus memikirkan moodnya juga. Itu akan sangat tidak adil untuk Nathan.
"Maafkan aku Nathan, sepertinya aku harus menyusahkan mu lebih lama lagi. Aku janji, aku akan berusaha untuk melakukan aktivitas keseharian ku sendiri."
Sementara di luar ruangan, Nathan menghampiri Bara yang sedang berdiri di dekat diding kaca di apartemen itu. Dia sedang menghisap rokok juga memegang segelas alkohol di tangannya.
Nathan merebut alkohol itu lalu meminumnya sampai tandas.
Bara tertegun. Dia terheran melihat Nathan yang tidak biasa minum malah menghabiskan alkohol yang ada di tangannya dalam satu tegukan.
"Kau tidak apa-apa Nathan?" tanya Bara merasa khawatir.
Nathan mengembuskan napas kasar. "Aku bingung Bara, aku masih ingin melakukan pengobatan untuk Eil di sini, tapi tadi aku mendapatkan kabar kalau kemungkinan Alard sedang tidak baik-baik saja. Aku belum sempat menelpon orang rumah karena tadi aku masih sibuk mengurus keperluan Eil. Dan dokter kandungan yang kau rekomendasikan itu menyarankan Eil untuk melakukan operasi setelah melahirkan."
Bara mengangguk. Dia mengerti dengan kegundahan yang sedang di rasakan oleh Nathan.
"Sebenarnya aku ingin menyampaikan kabar tentang Alard Nathan."
Nathan langsung mengangkat wajahnya. Dia menatap Bara dengan tatapan penuh tanda tanya.
Bara memalingkan wajahnya. Dia menatap keluar dinding kaca yang menampilkan susana kota yang sangat indah kala itu.
"Orang ku mengatakan kalau penyakit Alard kambuh. Dan yang lebih parahnya lagi, Amber juga masuk rumah sakit."
Nathan diam. Dia sebenarnya sudah tahu ini akan terjadi, meskipun dia sangat berharap kalau apa yang dia pikirkan itu tidak benar, namun pada kenyataannya, hal ini benar-benar terjadi. Alard, bocah kecil itu sedang tidak baik-baik saja. Dan kekhawatiran Lukas memang benar adanya.
"Apa yang harus aku lakukan Bara?" tanya Nathan dengan suara yang putus asa. Dia ingin pergi, namun apa yang harus dia katakan pada Eil, haruskah dia memberitahu Dil semua kebenarannya?"
"Beritahu Eil yang sebenarnya Nathan! Kau juga tahu bagaimana Eil sangat menyayangi Alard dan Amber. Jangan membuatnya sedih dengan menyembunyikan fakta-fakta yang pada dasarnya akan Eil ketahui juga."
Bara menepuk pundak Nathan beberapa kali. Meskipun dia juga tidak ingin Eil pergi tanpa mendapatkan hasil apapun, namun daripada Bara harus mengorbankan perasan Eil dengan menutupi semua yang terjadi di Paris pada wanita cantik itu, Bara lebih memilih untuk kembali.
"Aku akan mencoba untuk mengatakan hal ini perlahan Bara. Aku harap Eil tidak terlalu terkejut. Dia harus selalu tenang agar kandungannya baik-baik saja."
"Heum. Pergilah!"
"Nathan!" panggil Bara pada laki-laki yang barusan hendak kembali ke kamarnya.
"Ada apa?" tanya Nathan menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap Bara.
"Amber! Dia! ...
...To Be Continued....