The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Kemarahan Singa Betina



Nathan membuka matanya perlahan. Dia mengangkat kepalanya lalu menggerakkan nya ke kiri dan ke kanan. Matanya tertuju pada tangan kanannya. Seingatnya, semalam Nathan tidak mengenakan perban. Tapi saat dia bangun, perban itu sudah membelit tangannya dengan sangat rapih.


"Aku sudah menyiapkan baju kerja untuk mu. Sarapan juga sudah siap. Kau tinggal menghangatkan nya. Aku juga sudah mengoleskan obat pada luka yang ada di tangan mu. Lain kali hati-hati dan jangan berkelahi dengan siapapun."


"Eil!..." ucap Nathan setelah membaca pesan yang ada di atas kertas note.


Dia kembali menatap tangannya dengan wajah sendu. Dia harus menemui Eil. Apapun yang akan Eil lakukan padanya dia akan menerimanya. Asal Eil tidak meminta untuk berpisah, Nathan akan melakukan apapun. Dia langsung berdiri dan berjalan cepat menuju kamarnya. Dia tidak ingin Eil menemui Belle lebih dulu. Nathan tahu, jika Belle pasti akan mengatakan hal yang tidak-tidak.


Sementara di rumah sakit. Eil masih sibuk memeriksa berkas pasien yang akan dia operasi pagi ini. Setelah semalaman berpikir. Eil memutuskan untuk diam dan tidak ingin menanyakan apapun lagi pada suaminya. Jika saja Nathan ingin menjelaskan sesuatu Eil tidak bertanya pun Nathan pasti sudah akan memberitahunya.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!"


"Dokter, semuanya sudah siap," ucap seorang perawat yang baru saja masuk ke ruangan Eileria.


"Baik. Saya akan ke ruang operasi sekarang," ucap Eil. Dia menghela nafasnya kemudian berdiri dan keluar dari ruangannya.


Setelah operasi selesai. Eil hendak kembali ke ruangannya, namun langkahnya terhenti saat seseorang memanggil namanya.


"Ada apa?" tanya Eil malas.


Belle tersenyum. "Aku ingin mengatakan sesuatu padamu," ucap Belle. "Ini tentang Nathan," lanjutnya, ketika melihat Eil tidak menunjukan minat untuk berbicara kepadanya.


Setelah lima menit, mereka akhirnya sampai di rooftop rumah sakit. Belle tidak langsung mengatakan apa yang dia ingin katakan. Dia malah mengeluarkan parfum lalu memakainya di pergelangan tangannya.


"Ada apa Belle? jangan membuang waktuku," ucap Eil yang tidak bisa menunggu lagi.


"Apa kau tahu bau parfum ini?" tanya Belle sambil mendekatkan pergelangan tangannya ke hidung Eil.


Eileria diam. Dia sedang memikirkan sesuatu. Bau parfumnya sangat tidak asing untuk Eil. Eil pernah mencium baunya tapi di mana. Dia masih terus berusaha mengingat.


"Nathan," gumamnya . Dia langsung menoleh ke arah Belle.


Belle tersenyum menyeringai. "Kau pikir Nathan di mana saat kemarin sore kau mencarinya? Dia bersamaku," bisik Belle di telinga Eil. Lalu Dia menarik wajahnya untuk sedikit menjauh.


"Kau tentu tahu bukan apa yang biasa orang dewasa lakukan di sebuah ruangan tertutup," ucap Belle. Dia berusaha untuk memancing ke marahan Eil.


Eil mengepalkan kedua tangannya di samping tubuhnya. Rahangnya mengetat. Urat-urat lehernya muncul . Dia ingin menjambak rambut wanita Ulat yang ada di hadapannya. Tapi kalau Eil menghajarnya sekarang, dia takut dia akan kehilangan kendali dan akan membunuhnya saat ini juga.


Belle tersenyum sinis saat Eil berjalan melewati nya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia sebenarnya merasa sangat kecewa karena Eileria tidak memberikan respon seperti apa yang sangat dia harapkan.


"Kau harus meninggalkan nya Eil," ucap Belle tersenyum.


Eileria tidak menggubrisnya sama sekali. Hatinya sakit. Dadanya bagai di hantam ribuan belati. Kenapa Nathan bisa se tega ini kepadanya. Lalu ungkapan cinta yang Nathan katakan kepadanya saat itu apa.


Eil berjalan dengan sangat tergesa. Dia membuka pintu ruangannya kasar begitu dia sampai di depan ruang kerjanya.


Seetttt.... Matanya langsung beradu pandang dengan manik mata Nathan. Eil mematung. Namun, detik berikutnya dia sudah memalingkan wajahnya. Dia tidak kuat kalau harus membayang kan Nathan yang sedang bercinta dengan wanita yang sangat dia benci.


"Eil!" ucap Nathan saat istrinya menunjukan gelagat tidak biasa. Nathan memang sudah menunggu Eil sejak pagi di ruangan istri cantiknya itu.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu Eil." Nathan sangat gugup saat ini. Dia sangat takut Eil akan marah dan pergi meninggalkannya.


Eileria menghentikan gerakan tangannya. Dia tersenyum kecut lalu menatap suaminya intens. "Apa ini tentang hubungan yang kau lakukan bersama Belle Nathan?"


Deg...


Nathan terlambat. Dia tertinggal satu langkah oleh Belle.


Bughhhhh....


"Kau bilang ini tidak sengaja?" ucap Eil. Dia melayangkan sebuah tinjuan di pipi suaminya.


Bughhhhh.....


"Kau bilang bercinta dengan wanita lain saat istrimu mencemaskan mu di rumah adalah sebuah ketidak sengajaan."


Eil sudah tidak bisa menahan amarahnya. Emosinya sudah meluap-luap dan sepertinya akan meledak kalau Eil tidak melampiaskan kekesalannya saat ini juga.


Bughhhhh....


Brukkkkk...


Nathan ambruk di lantai saat istrinya menendang perut Nathan dengan sangat kuat. Nathan bukannya tidak bisa melawan. Tapi dia sudah bertekad untuk membiarkan Eil menghajarnya. Dia memang pantas mendapatkan ini semua.


Tap


Tap


Tap...


Brukkk ... Setttt.. Eil duduk di perut suaminya. Dengan gerakan cepat tangan kirinya sudah mencengkram kerah kemeja yang di gunakan Nathan.


"Bajingan kau!"


Bughhhhhh....


"Love?... I don't give a f*ck!"


Bughhhhhh...


"Just f*ck off!".... Teriak Eil. Dia terus menghajar Nathan. Tangannya memang kecil. Tapi tenaga dalam yang dia miliki jelas saja tidak bisa di samakan dengan ukuran tangannya yang mungil itu.


Brakkk.... Pintu ruangan Eil terbuka. Daniel berlari dan langsung menarik Eil untuk menjauh dari laki-laki malang yang sudah hampir kehilangan kesadarannya itu.


"Sudah Eil. Kau akan membunuhnya," teriak Daniel saat Eil berusaha untuk kembali mendekati Nathan.


"Uhukkkk." Nathan terbatuk. Dia bahkan mengeluarkan darah dari dalam mulutnya.


Lukas yang datang bersama Alard tidak memperdulikan Nathan sama sekali. Dia sebenarnya merasa kasihan. Tapi mengingat Nathan yang sudah mengkhianati Eil, Lukas menepis rasa kasihan nya itu.


Lukas mendekati Eil. "Eil!... Tenanglah! ada Alard di sini," ucap Lukas. Eil menoleh. Dia melihat Alard untuk beberapa saat. Bocah itu terlihat takut melihatnya yang sedang menahan amarah.


"Maafkan Mommy sayang!. Mommy seharusnya tidak membuatmu takut," ucap Eil. Dia mengusap kepala Alard lembut. Eil juga menciumi pipi Alard beberapa kali.


Daniel mematung. Kenapa wanita yang di cintai nya membiarkan Alard memanggilnya mommy. Sebenarnya apa yang tidak dia ketahui.


Lukas dan Eil membawa Alard keluar dari ruangan Eil. Sementara Nathan menatap kepergian Eil , Lukas dan Alard dengan wajah sendunya.


"Kau baik-baik saja?" ucap Daniel. Dia membantu Nathan untuk duduk. Pada akhirnya Daniel lah yang mengobati semua luka di wajah Nathan.


"Sudah tahu aku babak belur begini. Masih nanya juga," gumam Nathan dalam hati.


Namun, detik berikutnya dia kembali teringat dengan Eil. Tapi jika istrinya itu pergi bersama Lukas. Dia yakin kalau Eil akan baik-baik saja.


...To Be Continued....


...Hai reader. Jangan lupa like dan komentar nya ya. Than you....