The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Kekecewaan



Sebelum mulai baca.. Jangan lupa jempolnya ya.. Kasih ratting 5 kalau kalian menyukai cerita ini. Dan author rengginang ini akan sangat bahagia kalau kalian mau nabur bunga juga..


Happy reading semuanya..


"Cih, wanita itu memang bukan wanita baik-baik," ucap Eil ketika dia melihat Belle yang sedang bercengkrama dengan salah satu dokter senior yang ada di rumah sakit itu. Eil hanya Heran, kenapa wanita cantik kaya dan elegan seperti Belle sangat mudah untuk di sentuh oleh banyak laki-laki. Membayangkannya saja Eil sudah bergidik ngeri, apalagi kalau sampai dia yang ada di posisi Belle.


"Ada apa Eil?" tanya Daniel saat dia melihat dokter cantik pujaan hatinya sedang memperhatikan satu objek tanpa berkedip.


Eil langsung menoleh pada Daniel. Laki-laki itu sedang menatap lurus ke arahnya. "Tidak apa-apa Daniel. Aku hanya sedikit merasa geli melihat hewan tidak bertulang berkeliaran di kantin rumah sakit," cicitnya sambil memperlihatkan ekspresi seakan-akan hewan yang di sebutkannya tadi ada di dekatnya.


Daniel yang kala itu memang tidak mengerti hanya bisa mengangguk lalu kembali menyantap makan siangnya. Sementara Eil, dia malah menatap nanar kopi yang ada di atas meja. Dia sedang tidak bersemangat karena Nathan masih belum pulang. Suaminya itu ingkar janji. Dia benar-benar tidak pulang tepat waktu. Kalau saja Nathan pulang nanti, dia pasti akan menghajarnya habis-habisan. Nathan memang selalu memberinya kabar, apa yang sedang Nathan lakukan, Nathan sedang di mana. Dia akan menemui siapa. Eil tahu semuanya. Tapi, kalau hanya berhubungan lewat ponsel saja Eil merasa itu belum cukup. Setelah sekian lama dia kehilangan sosok yang bisa dia jadikan sebagai sandaran, akhirnya Eil menemukannya kembali. Tapi baru juga beberapa bulan, dia harus di pisahkan dengan suaminya itu.


"Eil!" panggil Daniel sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Eil. Eil terkesiap sampai dia tidak sengaja menumpahkan kopi yang sedang dia pegang.


Brakkk.... Eil langsung berdiri karena takut kopi yang sudah tumpah di atas meja akan mengotori pakainya. "Maafkan aku Daniel. Aku tidak sengaja," ucap nya tulus. Daniel berdiri lalu menghampiri Eil dan membersihkan tangan Eil dari sisa-sisa kopi yang ada di tangannya. Eil yang kala itu sedang fokus mencari noda kopi di pakaiannya tidak menyadari posisi mereka yang terlihat agak... Eummmm agak intim. Ya, karena mereka sama-sama menunduk, kepala mereka hampir bersentuhan.


"Eileria!" teriak seseorang yang sukses membuat semua orang yang ada di kantin itu menoleh ke arah sumber suara.


"Nathan!" pekik Eil. Dia langsung berlari dan menghambur ke pelukan suaminya. "Nathan aku merindukan mu," ucap Eil. Wanita cantik ini sama sekali tidak memperdulikan tatapan orang-orang kepadanya. Nathan membalas pelukan Eil. Tapi, matanya fokus menatap tajam laki-laki yang kini sedang menatapnya dengan raut wajah kecewa dan kesal.


Eil melepas pelukannya saat dia tidak mendengar apapun dari mulut sang suami. Jelas saja Eil tidak mendengar apa-apa. Orang suaminya lagi adu kekutan mata kok sama Daniel.


Settt... "Nathan!" panggil Eil sambil menagkup wajah suaminya dengan kedua tangan mungilnya. Nathan mau tidak mau melepaskan tatapannya dari Daniel.


"Ada apa Baby?" tanya Nathan Akhirnya. Eil memanyunkan bibir nya tidak suka. Dia tadi sudah mengatakan kalau dia merindukan laki-laki ini. Tapi kenapa orang yang di ajak bicara seolah-olah tidak mendengarkan ucapannya.


Cup.. Nathan mengecup bibir Eil sekilas. Semua orang yang ada di kantin itu menjadi sangat riuh. Mereka memekik kegirangan saat melihat adegan mesra di depan mata mereka. Laki-laki yang sedang memeluk dokter cantik itu terlihat sangat gagah dan tampan. Belum lagi setelan jas mahal yang di kenakan nya membuat penampilannya semakin sempurna. Siapa saja yang melihat sepasang sejoli itu pasti akan di buat iri. Tak terkecuali Belle. Wanita itu menatap Eil dan Nathan dengan tatapan tidak sukanya. Dia mengepalkan kedua tangannya di balik meja di atas pahanya. Rahangnya mengetat. Bahkan urat-urat lehernya sudah nampak seperti pipa saluran air .


"Brengsek. Mereka berani memamerkan kemesraan di depan ku. Memang mereka pikir mereka siapa. Awas kau Eil, kali ini aku tidak akan segan-segan untuk membuatmu menyerah. Aku akan membuatmu menjauhi Nathan. Laki-laki yang sedang ada di hadapan mu itu adalah laki-laki ku. Kau tidak berhak memiliki nya."


Cup. ... Eil berjinjit lalu membalas mengecup bibir Nathan sekilas. "Aku akan memperkenalkan mu pada seseorang." Eil menyeret tangan Nathan supaya suaminya itu bisa mengikutinya. Nathan tidak menolak. Dia hanya tersenyum lalu mengikuti langkah kecil sang istri.


"Daniel! perkenalkan, ini Nathan suamiku," ucap Eil. "Dan Nathan, ini adalah Daniel rekan kerjaku. Dia adalah dokter yang selalu membantuku. Kalau tidak ada dia mungkin aku tidak akan bisa menyelesaikan tugasku dengan baik."


Nathan mengulurkan tangannya di depan Daniel. Laki-laki itu tersenyum bangga karena Eil memperkenalkannya sebagai suami dari wanita cantik itu. Dia menatap Daniel dengan tatapan mengejek. Tatapan matanya seolah-olah mengatakan kalau Daniel sudah kalah telak darinya. Pantas saja dia selalu merasa ada yang aneh dengan sikap Daniel pada Eil. Dan pada saat Nathan melihat raut kekecewaan di wajah Daniel dia baru tahu kalau ternyata Daniel itu menyukai istrinya.


Daniel menerima uluran tangan Nathan. Dia menatap Nathan tak kalah sengit. Semakin lama genggaman tangan mereka semakin kencang. Daniel mengerutkan keningnya saat dia merasakan sakit yang begitu hebat di tangannya. Bukankah laki-laki ini adalah laki-laki lemah yang waktu itu habis di hajar oleh Eileria, tapi kenapa sekarang cekalan tangannya bisa sangat kuat seperti ini. Apa yang salah...


Eil marik tangan Nathan dan tangan Daniel dengan kekuatan penuh. Dia tidak tahu apa yang sedang di lakukan dua orang yang ada di hadapannya. Kenapa Eil merasa ada atmosfer lain di sekitar nya. Sebenarnya dua laki-laki ini kenapa.


"Nathan!"


"Yes Baby!"


Eil tersenyum saat mendengar panggilan Nathan padanya. Dia masih belum terbiasa dengan panggilan itu. Jika saja mereka sedang berdua, dia tidak akan merasa malu. Tapi kalau di depan banyak orang seperti ini entah kenapa wajahnya terasa sangat panas.


Nathan memperhatikan semburat merah yang ada di pipi sang istri. Dia ingin mengecup pipi istrinya itu karena gemas. Tapi karena ini adalah tempat umum, Nathan mengurungkan niatnya dan memilih untuk menarik pinggang istrinya.


"Kenapa diam?" tanya Nathan sambil menatap lekat mata Eil. Jantung Eil sudah berdegup tak karuan. Mata biru milik suaminya ini membuat dia tidak bisa berkedip. Nathan memang memiliki aura yang berbeda dengan kebanyakan laki-laki yang pernah di temuinya.


"Kita makan siang di luar ya!" ajak Nathan. Eil hanya mengangguk patuh tanpa memperdulikan Daniel yang kini sedang mengeluarkan asap dari kedua lubang telinganya.


"Bajingan. Laki-laki itu sengaja memprovokasi-ku."


...To Be Continued....


...Hai reader. Jangan lupa like nya ya.. Komen juga kalau ada waktu. Author bakal seneng banget kalau kalian mau mengapresiasi karya remahan author ini. Semoga kalian sehat selalu. Terimakasih......