
Sebelum mulai baca.. Jangan lupa jempolnya ya.. Kasih ratting 5 kalau kalian menyukai cerita ini. Dan author rengginang ini akan sangat bahagia kalau kalian mau nabur bunga juga..
Happy reading semuanya..
Deg....
Ini gila. Kenapa Eil tidak menyadarinya. Seharusnya Eil lebih peka dan lebih hati-hati. Matilah dia.. Nathan sudah menampakan tanduknya. Apa yang harus Eil lakukan. Dia memang wanita tangguh yang tidak takut akan apapun. Tapi kalau sudah menyangkut suami, Eil juga tidak bisa bertindak gegabah. Ini bukan karena dia merasa ciut di depan Nathan. Hanya saja, entah kenapa dia melihat sosok ayahnya dalam diri Nathan. Mungkin Nathan memang tidak sepeka dan se perhatian ayahnya, tapi paling tidak, hatinya bersih. Dan Nathan adalah orang yang jujur.
"Kenapa diam Eil?" tanya Nathan. Eil mengerajapkan matanya beberapa kali.
"Ini, anu, tadi ada wali pasien yang tiba-tiba menghajar ku karena anggota keluarga yang menjalani operasi bedah jantung meninggal. Padahal orang itu bukan pasien ku. Dia salah faham." Eil mencoba untuk bersikap biasa saja meskipun jantungnya sudah berdetak tak karuan. Dulu, dia hanya akan berbohong pada kedua orangtuanya untuk menutupi kenakalan yang dia lakukan. Dan sekarang, dia harus kembali berbohong untuk menutupi semua kebohongannya di depan Nathan.
Nathan terlihat menghela nafas panjang. Dia merasa buruk karena tadi tidak bisa langsung melihat lebam yang ada di wajah istri kecilnya itu.
"Eil Sayang!" panggil Nathan lembut. Eil menatap mata biru Nathan dengan intens. Kini dia sudah jauh lebih tenang karena Nathan sudah bersikap lembut seperti sebelumnya. "Bagaimana kalau kau berhenti bekerja saja? aku sanggup membiayai semua kebutuhan mu. Aku jamin kau tidak akan kekurangan, aku akan bekerja lebih giat lagi supaya kau tidak harus mencari uang dan mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan seperti ini."
Eil tersenyum, dia menarik leher Nathan lalu memeluknya erat. "Aku tahu kau mengkhawatirkan ku Nathan. Tapi aku harus tetap bekerja. Orang-orang itu membutuhkan bantuan ku. Aku janji, hal seperti ini tidak akan terjadi lagi."
Setelah beberapa waktu mereka mengobrol dari hati ke hati, akhirnya Nathan luluh dan dia masih mengijinkan Eil untuk bekerja. Hanya saja, Nathan memang mewanti-wanti nya supaya dia tidak bekerja terlalu sering. Setelah mengompres luka Eil, dan memberikan Eil makan malam, Nathan menyuruh Eil untuk membersihkan diri. Setelah itu dia mengeloni Eileria. Tapi bukannya Eil yang tidur, malah Nathan yang tidur lebih dulu.
Eil berjalan mengendap-endap setelah memastikan kalau Nathan sudah tidur nyenyak. Dia masih memiliki janji untuk menghubungi Jerome. Setelah menutup pintu kamar utama dengan sangat hati-hati, Eil akhirnya masuk ke kamar lamanya. Dia mengetikan sesuatu di dalam ponselnya, lalu menempelkan ponsel nya di telinga.
"Jerome!" panggil Eil setelah panggilannya tersambung.
"Iya Azalea."
"Terimakasih untuk tadi. Maaf aku mengganggu mu malam-malam. Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Aku tidak tahu detail awalnya seperti apa, aku hanya mendapat perintah dari Dragon untuk membantu membasmi kutu air yang semalam menyerang mu. Kau juga tahu bukan kalau Dragon memantau setiap anggotanya. Ya, meskipun aku tahu kalau kau ternyata adalah tangan kanan Dragon."
"Hmmmm... Aku tahu, aku sudah menduga kalau kau memang di kirim Dragon. Lalu bagaimana dengan orang-orang itu? kau tidak membunuh mereka semua bukan? informasi apa yang kau dapatkan?"
"Aku sudah berusaha mengintrogasi salah satu dari mereka, tapi dia mengatakan kalau dia hanya tahu satu hal.... Yang menyuruh mereka adalah seorang perempuan. Tapi mereka tidak tahu siapa namanya. Dan ya, dia keburu mati Lea," ucap Jerome sambil tersenyum hambar.
"Belle," ucap Eil yang masih bisa di dengar oleh Jerome.
"Belle?" tanya Jerome.
Tepat saat Eil sudah menutup teleponnya, dia mendengar suara Nathan yang memanggil namanya. Suaminya itu pasti terbangun. Eil langsung keluar dari dalam kamarnya. Dia menengok ke depan, kanan, dan kiri. Kenapa Nathan tidak ada, apa tadi dia salah dengar. Ya sudahlah, kalau dia hanya salah dengar, berarti Nathan masih tidur.
Eil menghentikan langkahnya saat dia mendengar suara langkah kaki yang begitu samar mengikutinya dari belakang..
Settttt.... Gubraakkkkk..... Nathan meringis saat Eil menarik tangannya lalu membanting nya ke lantai. Eil yang melihat itu langsung membelalakkan matanya.
"Nathan!" panggil nya lalu duduk di samping Nathan yang masih memegangi pinggang nya. "Are you oke?... Maafkan aku Nathan, aku pikir kau orang lain. Maaf," ucap Eil sambil membantu Nathan untuk duduk.
Nathan menatap istrinya lekat. Sejak kapan Eil sangat pandai ilmu bela diri. Hanya orang yang pernah menerima pelatihan khusus yang bisa melakukan gerakan secepat tadi. Ada yang salah dengan istri kecilnya ini, atau Nathan yang tidak mengetahui apapun.
"Sejak kapan kau bisa tahu ilmu bela diri Eil?" tanya Nathan. Dia menahan tangan Eil yang sedang berusaha membantunya untuk bangun. Eil terdiam untuk sejenak. Oke, kali ini dia tidak boleh berbohong. Dia harus mulai menceritakan kebenaran tentang dirinya satu per satu.
Eil kembali duduk bersila di depan suaminya. "Aku pernah belajar ilmu bela diri dari Ayah. Dia selalu mengajariku dengan sabar dan telaten. Kau juga tahu bukan, kalau Ayah ku dulu juga memiliki pekerjaan yang sama sepertimu."
Nathan tertegun. Dia merasa dia tidak salah karena menanyakan ini kepada Eil, tapi yang jadi masalahnya adalah, dia yang mengingatkan Eil pada luka lamanya. Anggaplah Nathan bodoh , tapi dia juga sangat penasaran tadi. Eil yang sehari-harinya terlihat sangat anggun tiba-tiba membantingnya begitu saja. Bahkan perawakan Eil yang kecil, sangat jauh jika dibandingkan dengan perawakan Nathan yang tinggi besar. Tapi Eil membantingnya seolah-olah Nathan itu hanya sekarung kapas.
"Maafkan aku Baby," ucap Nathan sambil memeluk Eil. Dia mengecup kening Eil beberapa kali sebelum memangkunya dan mendudukkannya di pangkuannya. Nathan semakin mengeratkan pelukan di tubuh Eil saat dia tidak mendapat respon apapun. Apa istrinya ini sudah sangat tersinggung akan pertanyaannya tadi? tapi Nathan tidak bermaksud seperti itu.
"Baby!"....
"Maafkan aku Nathan," ucap Eil lirih..
"Maaf karena lagi-lagi aku belum bisa menceritakan segalanya padamu."
"Sayang!" panggil Nathan sambil menjauhkan tubuh Eil. "Kenapa kau minta maaf? ini bukan salah mu. Aku yang salah karena aku mengingatkan mu pa.....
Cup.... Eil menangkup wajah Nathan lalu menempelkan bibirnya di bibir sang suami. Dia tahu apa yang akan di katakan Nathan padanya. Tapi, Eil minta maaf bukan untuk hal itu, melainkan hal lain.
Nathan menerima setiap kecupan yang di berikan istrinya. Dia semakin menarik pinggang Eil membuat tubuh bagian atas mereka beradu. Panas, itulah yang di rasakan Nathan saat ini. Tangan Nathan sudah mulai nakal menekan setiap gundukan kenyal milik istrinya.
"Aku mau melakukannya di kamar Nathan," bisik Eil di telinga sang suami. Dia tentu tidak bodoh untuk membiarkan Dragon kembali mendengar de sa han nya.
...To Be Continued....
...Hai reader. Jangan lupa like nya ya.. Komen juga kalau ada waktu. Author bakal seneng banget kalau kalian mau mengapresiasi karya remahan author ini. Semoga kalian sehat selalu. Terimakasih......