The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Apartemen Bara



Dua pasang sejoli bersama dengan satu pengawal setia Eileria sudah sampai di Amerika dengan selamat. Mereka akan tinggal di kota Rochester New York untuk sementara waktu. Mereka tinggal di apartemen Bara yang ada di kota itu.



Semua barang perlengkapan yang akan mereka butuhkan sudah tersedia, bahkan bahan makanan dan yang lainnya sudah tersusun dengan rapi di kulkas dan di lemari yang ada di pantry.


Bara mempersiapkan semuanya dengan sangat baik. Keperduliannya terhadap Eileria sungguh sangat luar biasa sampai dia bisa sebaik ini pada wanita yang notabene nya sudah jadi istri orang lain.


"Kita istirahat dulu sebentar, besok kita akan pergi ke rumah sakit ya!" Nathan mendorong kursi roda kedalam kamar yang sudah di tunjuk oleh Bara. Dia memberikan kamar yang paling besar kepada Nathan dan Eil. Kamar kedua dia berikan pada Jerome dan Sulli. Sementara dia? Dia memilih tinggal di kamar ketiga, yaitu kamar tamu.


"Aku akan membawakan makan malam untuk kalian," ucap Bara sebelum Eil dan Nathan masuk ke dalam kamar mereka.


Sementara Jerome dan Sulli sudah pergi ke kamar mereka lebih dulu. Nathan sudah mewanti-wanti Jerome untuk mengurus segala keperluan Sulli sendiri. Dia harus belajar mengurus Sulli dan membiarkan Sulli tahu bagaimana ketulusan Jerome padanya.


****


Tok! Tok! Tok!


Nathan menoleh ke arah pintu. Dia yang sedang membantu Eil untuk duduk di atas ranjang berjalan ke arah pintu kamar.


Bara tersenyum. Dia masuk saat Nathan membuka pintu dan memberinya jalan.


"Kau sudah mandi Eil?" tanya Bara menghampiri Eileria.


Wanita yang di panggil Eileria itu tersenyum. Dia menepuk pinggiran ranjang ada di dekatnya. Bara menyimpan nampan yang dia bawa di atas nakas. Dia duduk, persis seperti apa yang Eil minta.


"Terima kasih Bara! Aku sangat beruntung karena memiliki Nathan dan Kau. Selama ini aku sudah bersikap jahat kepadamu. Maafkan aku." Eileria memeluk Bara untuk beberapa saat. "Kelak, di kehidupan yang selanjutnya, temui lah aku lebih dulu. Pada masa itu, jika aku belum bertemu dengan Nathan, aku akan belajar untuk mencintaimu," bisik Eil di telinga Bara.


Bara tersenyum sambil mengusap punggung Eil lembut. "Aku janji, di kehidupan yang selanjutnya, aku akan lebih cepat dari Nathan."


Ekhemmmm!


Sura Nathan yang berdehem membuat Eil dan Bara melepaskan pelukan mereka. "Terima kasih Kak," ucap Eil tulus. Dia merasa bersalah karena dia tidak bisa membalas cinta tulus Bara padanya. Dia hanya berharap, jika dia sudah ikhlas, Bara akan di pertemukan dengan wanita yang baik, wanita yang akan mampu mencintainya dengan tulus.


"Maafkan aku Nathan. Kau tidak marah bukan? Aku hanya berterimakasih pada Bara. Tidak ada hal lain. Iya kan Kak!" ucap Eil melirik Bara lalu menaikan satu alisnya.


Bara mengangguk. Dia mengacak rambut Eileria lalu beranjak berdiri.


"Keringkan rambutnya Nathan, jangan sampai Eil sakit," ujar Bara menepuk pundak Nathan sebelum dia keluar dari kamar Eil dan Nathan.


Nathan mendengus. Dia mengambil sesuatu dari dalam laci lalu duduk di pinggiran ranjang tempat Bara tadi duduk. Bibirnya mengerucut, dia masih sangat kesal melihat Bara bertingkah seperti seorang suami kepada Eil.


"Nathan!"


Nathan diam. Dia tidak menggubris istrinya sama sekali.


"Sayang!"


Nathan masih diam. Pertahanan nya tidak akan goyah.


"Calon Papa dari anak-anak ku!"


Bibir Nathan sudah berkedut, Eil yang melihat itu di buat gemas dengan tingkah suaminya.


Nathan mengalah. Kali ini dia menatap Eil lali mengecup bibir istrinya sekilas.


"Maafkan aku Baby, aku tidak bermaksud seperti itu."


Eileria dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Aku tahu kau kesal Nathan. Aku bisa memakluminya. Kau pantas bersikap seperti itu. Aku juga ingin berterimakasih padamu. Kau sudah sangat sabar merawat ku. Kau juga selalu memenuhi setiap keinginan ku. Aku sangat bersyukur karena Tuhan mengirimkan kau untuk ku."


Nathan menatap mata Eileria dalam. Dia tersenyum lalu mengusap kepala istrinya lembut. "Kau adalah tanggung jawab ku Baby, sudah sewajarnya aku melakukan ini semua untuk mu. Kau tahu, aku juga sangat bahagia dan sangat bersyukur karena Tuhan memberikan kau untuk ku, tidak pada Bara dan yang lainnya."


"Aku akan mengeringkan rambutmu dulu, setalah itu kita makan ya."


Nathan membantu Eil untuk duduk membelakanginya, sementara dia duduk menghadap punggung Eil dan mulai mengeringkan rambut Eil menggunakan hair dryer yang dia ambil dari dalam laci.


"Sulli bagaimana Nathan? Apa dia sudah baik-baik saja?" tanya Eil kepada sang suami.


"Aku tidak tahu, semoga saja Jerome bisa membuat Sulli lebih tenang dan lebih nyaman."


****


"Kau harus makan dulu Sulli, aku sudah membuatkan bubur kepiting kesukaan mu. Kau harus makan biar cepat pulih."


Sulli diam, dia tidak merespon Jerome. Hatinya masih sakit, dan dia masih sangat kesal kepada Jerome.


"Kalau kau tidak mau makan, aku akan memberitahu Eil, dia kan sangat sedih. Dan aku yakin itu akan membuatnya stres lalu dia akan keguguran. Kau mau kehilangan calon keponakan mu hah?"


Jerome menggerutu dalam hati. Dia terus meminta maaf atas apa yang dia ucapkan. Dia tidak pernah bermaksud seperti itu, apalagi punya pemikiran jelek untuk Eil dan bayinya. Dia hanya berniat untuk membuat Sulli takut dan mau makan masakan buatannya.


Sulli menatap Bara sengit. Dia membuka mulutnya menyuruh Jerome untuk menyuapkan bubur yang tadi Jerome tawarkan kepadanya. Meskipun Sulli masih belum bisa memaafkan Eil, anak yang ada di dalam kandungan sahabatnya itu tidak salah apapun. Dan Sulli tidak mau bayi itu kenapa-napa.


"Maafkan aku Eil, aku terpaksa melakukan ini. Namun, aku sangat berterimakasih, karena ancaman ku, Sulli mau makan meskipun wajahnya masih sangat jutek. Aku berharap kelak aku masih bisa melakukan ancaman ini pada Sulli. Maafkan aku Eil."


Uhukkkk!!!


Nathan membantu menepuk punggung Eileria beberapa kali. Dia juga menyodorkan segelas Air pada istrinya.


"Makan pelan-pelan Baby! Aku tidak menyuruhmu mengunyah makanan dengan cepat bukan?" tanya Nathan pada istri cantiknya.


Eileria meneguk air yang ada di dalam gelas "Aku tidak buru-buru Nathan. Aku menelan makanan ku perlahan, tapi tiba-tiba saja aku seperti tersedak. Kata orang, kalau kau tiba-tiba tersedak artinya ada orang lain yang sedang membicarakan mu."


Nathan tersenyum. Dia mengambil kembali gelas dari tangan istrinya. "Kau itu mulai melantur. Setelah berhenti dari dunia hitam, sekarang kau lebih terlihat seperti ibu-ibu yang suka bergosip. Darimana kau mendengar kata-kata seperti itu," cicit Nathan sambil tertawa kecil. Istrinya sungguh sangat lucu.


Eileria mengerucutkan bibirnya. "Kau tidak percaya padaku Nathan?" tanya Eil dengan suara dinginnya.


Nathan yang kala itu sedang tertawa langsung diam. Dia kembali menyendok makanan lalu menyodorkannya lagi kepada Eil.


"Aku sudah malas makan Nathan."


Eileria langsung berbaring memunggungi Nathan lalu menarik selimut dan menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut itu.


"Astaga, aku membuatnya marah." Batin Nathan bersuara.


To Be Continued.