The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Last Part



Lima tahun kemudian ...


Seorang wanita cantik sedang berlarian mengejar anak laki-lakinya. Dia sangat bahagia karena anaknya sudah tumbuh dengan sangat baik. Anak laki-laki berumur empat tahun itu bernama Kharel Harold Gilbert. Anak dari Eileria song dan Nathan Harold Gilbert.


"Sayang! Jangan berlari terlalu kencang. Nanti kau jatuh." Eileria berteriak karena sudah tidak sanggup menemani anaknya bermain.


"Mom, Kharel akan bermain dengan Bao dan yang lainnya. Mommy, istirahat saja!"


Eileria mengangguk. Dia duduk di bangku taman yang ada di samping rumahnya. Kharel adalah anugrah terbesar dalam hidup Eil dan Nathan. Anak laki-lakinya itu adalah anak genius. Saking geniusnya Kharel, tidak ada sekolah TK ataupun sekolah dasar yang mau menerimanya. Alhasil Eil harus mempekerjakan guru pembimbing dan membiarkan Kharel home schooling.


"Apa yang sedang kau lakukan Baby?" tanya seorang pria yang melingkarkan keda tangannya di bawah leher sang istri. Dia mengecup pipi Eil sekilas lalu berjalan mengitari kursi taman dan duduk di samping istrinya.


"Nathan, bukankah anak kita sangat tampan?" puji Eil tanpa mengalihkan perhatiannya dari Karel.


Nathan mengangguk. Dia menarik pinggang Eileria lalu mengikuti arah pandang istrinya. Kebahagiaan nya sudah lengkap. Eil sudah bisa berjalan kembali, dia juga memutuskan untuk berhenti bekerja karena ingin menjadi ibu rumah tangga yang sesungguhnya. Meskipun dokter Albert selalu memaksa Eil untuk kembali. Namun wanita cantik ini sudah kekeuh dengan pendiriannya.


"Mom, Dad!" Kharel berteriak sembari berlari menghampiri kedua orang tuanya. Bocah itu sama sekali tidak terlihat lelah. Dia masing sangat bersemangat untuk bermain.


"Hati-hati Sayang."


Eileria memangku tubuh Kharel lalu mendudukkannya di tengah-tengah antara dirinya dan Nathan.


"Mom, kenapa Oda dan Alard belum datang? Mereka sudah berjanji akan mengunjungi Kharel di akhir pekan. Tetapi mereka berbohong."


Kharel terlihat sangat sedih. Dia sudah menunggu hampir satu Minggu untuk bisa bertemu dengan Oda dan Alard. Namun sepertinya dia harus kembali dikecewakan.


Nathan tersenyum. Dia memangku Alard dan mendudukkannya di pangkuannya. Dia mengusap kedua tangan mungil milik Kharel lembut. Usapan yang selalu Kharel sukai. Usapan yang selalu bisa membuat hatinya lebih tenang.


"Kharel Sayang, Kharel gak boleh bilang mereka berbohong. Ini masih pagi Sayang, mungkin mereka masih sibuk menyiapkan sesuatu. Nanti juga mereka akan datang. Kan mereka sudah janji sama Kharel."


Kharel mengangguk. Tepat ketika Kharel ingin membalas ucapan Nathan, dia mendengar suara orang berlari juga berteriak memanggil namanya.


"Kharel!" panggil Alard menghampiri Kharel sambil menggendong Oda. Karena dia merasa keberatan, Alard menurunkan Oda dari punggungnya lalu menuntun bocah kecil itu berjalan di sampingnya.


"Alard, Oda!" Kharel berteriak. Dia langsung melompat dari pangkuan Nathan untuk menemui kedua sepupunya.


Eielria dan Nathan berdiri untuk menghampiri bocah-bocah yang sangat mereka sayangi. Sepasang suami istri itu berjalan bersamaan sambil memeluk pinggang satu sama lain.


"Alard!" seseorang berteriak membuat Dil dan Nathan langsung menoleh ke sumber suara.


"Amber!" panggil Eil melihat Amber berjalan sambil memegang pinggangnya. Sedangkan Lukas, laki-laki itu membantu memegangi lengan Amber juga punggung Amber.


"Kenapa kau harus berjalan tergesa seperti itu? Kau ini sedang hamil besar Amber. Bagaimana kalau kau kenapa-napa!"


Eil melepaskan pelukan tangannya di pinggang Nathan kemudian menghampiri Amber dan membantu ibu hamil itu duduk di kursi taman yang memang paling dekat dengan mereka.


"Ini semua gara-gara Oda dan Alard. Mereka berdua sangat tidak sabar untuk menemui Kharel. Aku mengejar mereka karena takut mereka jatuh.


"Mommy, Alard itu sudah besar. Alard sudah bukan anak kecil lagi. Umur Alard sekarang sudah 10 tahun," cicit bocah itu sambil menunjukan semua jarinya.


Amber hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia tentu tidak bisa berdebat dengan Alard. Anaknya memang sudah besar. Jadi dia sudah bisa mengasuh dan menjaga adiknya Oda yang masih berusia 2 setengah tahun.


"Lain kali jangan berlarian sambil menggendong Oda ya sayang! Daddy takut kalian kenapa-napa."


Alard dan Oda mengangguk bersamaan. Oda bertingkah seolah-olah dia mengerti dengan apa yang baru saja Lukas katakan.


Ketika mereka sedang asyik berbincang, tiba-tiba anggota lain datang, dan itu adalah Jerome dengan Sulli, mereka berdua berjalan sambil membawa sebuah kotak hadiah. Entah itu untuk siapa, di antara mereka semua tidak ada yang sedang berulang tahun.


"Apa kabar Sulli?" Eil bertanya sembari memeluk Sulli lama. Dia menatap Sulli sambil tersenyum. "Aku sangat merindukanmu Sulli," gumam Eil dengan wajah sedihnya. Selama hampir 5 tahun ini Sulli selalu bolak balik ke berbagai negara untuk program kehamilan. Semua itu dia lakukan karena Sulli sudah sangat ingin memiliki momongan. Namun selama 5 tahun itu juga Sulli belum diberikan kepercayaan oleh Tuhan.


'Kenapa kau harus sedih seperti itu Eil? Aku tidak pergi untuk jalan-jalan. Aku juga masih tetap kembali bukan?"


Eil mengangguk meskipun hatinya sangat sedih membayangkan Sulli yang sudah berusaha mati-matian untuk mendapatkan seorang anak namun masih belum diberikan kepercayaan itu.


"Aku punya sesuatu untu kalian," ucap Sulli dengan wajah cerah se cerah mentari di pagi hari.


"Apa?" tanya semua orang melihat ke arah Sulli. Sulli menyerahkan sebuah kotak persegi berwarna biru muda kepada Eil.


"Bukalah!" titah Sulli.


Eil mengangguk. Dia membuka kotak itu perlahan. Dan ketika kotaknya sudah terbuka, beberapa balon muncul dan melayang di depan semua orang. Eil meraih salah satu balon itu. Dia membekap mulutnya saat melihat sebuah foto hasil USG.


"Sulli!" Eil bergumam dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Sulli mengangguk. Eil dengan cepat memeluk Sulli. Kini air mata Eil sudah tidak bisa di bendung lagi. Dia menangis sesenggukan di pelukan Sulli. Meskipun bukan dia yang hamil. Namun Eil merasa sangat bahagia untuk Sulli.


"Selamat Jerome," ujar Nathan dan Lukas sembari menepuk bahu laki-laki itu cukup keras.


"Selamat Kak Sulli," Amber bangkit dari duduknya lalu ikut memeluk Sulli.


"Terima kasih Amber," jawab Sulli dengan suara yang pelan.


"Hore! Kita akan dapat teman baru. Kita akan dapat Adek baru." Ketiga bocah kecil itu melompat-lompat di atas rumput karena sangat bahagia.


Eil, Amber , Sulli, serta dua laki-laki yang ada di sama memperhatikan ketiga bocah kecil itu sambil tersenyum.


"Akh!" ...


Tiba-tiba saja Amber memekik sembari memegangi perutnya. Eil dan Amber sangat terkejut. Mereka membantu menahan lengan Amber, namun karena Amber sangat kesakitan, mereka berdua tidak bisa membantu apa-apa. Amber ambruk di atas rerumputan masih dengan suara rintihannya.


"Kak Eil, sepertinya aku akan melahirkan."


"What? Melahirkan?"


Semua orang menjadi sangat sibuk ketika mendengar kata melahirkan. Mereka langsung bergerak untuk memindahkan Amber ke dalam mobil.


The End ...


"Iya. Baiklah, aku akan pergi ke Indonesia sekarang juga."


Seorang laki-laki dengan setelan rapi bangkit dari kursi kebesarannya kemudian keluar dari dalam ruangan.


"Siapkan jet pribadiku! Aku akan pergi ke Indonesia sekarang," ucapnya pada sang asisten.


"Baik Tuan Bara."


.


.


.


Hayo yang kecewa sama endingnya maafkan author ya. In Shaa Allah kisah Bara akan othor lanjutkan kalau othor sudah senggang. Terima kasih semuanya. Semoga kalian sehat selalu. See you di novel yang lainnya.


Jangan lupa mampir ke karya othor yang baru ya, sambil nunggu cerita Om Bara.