
"Lebih turun!"
Titah Eileria pada pilot helikopter yang dia tumpangi. Helikopter itupun bergerak semakin turun. Saat semuanya sudah siap, dan segala pengukuran yang Eil lakukan sudah akurat, dia mulai menodongkan sebuah senjata yang ukurannya cukup besar.
Bommmm...
Duarrrr....
Semua orang yang ada di rumah itu langsung keluar berhamburan. Mungkin tidak semua, bangunan itu hampir semuanya ambruk. Mungkin hanya sebagian kecil dari mereka yang selamat. Eil juga tidak langsung menargetkan Belle, karena dia masih ingin bermain dengan wanita iblis itu.
"Turun sekarang !" titah Bara pada sang pilot.
Setelah helikopter itu berada 15 meter dari atas permukaan tanah, Eileria dan Bara juga beberapa orang yang ada di dalam helikopter itu turun menggunakan sebuah tali. Sebenarnya Eil dan Bara membawa banyak anggota. Namun mereka hanya di perbolehkan untuk ikut menyerang kalau Bara atau Eileria sudah memberikan instruksi.
"Aku di depan. Kau di belakang Bara!" titah Eil. Sementara yang lain, kalian lindungi kita."
Eil mulai mendekat ke arah rumah Belle. Dia melihat Jay dan wanita iblis itu sedang melakukan persiapan untuk membunuh Eileria dan para pengikutnya.
Serangan demi serangan sudah mereka lakukan. Bukan Eil namanya kalau dia tidak bisa menghindar. Kemampuan yang dia miliki.membuatnya unggul dari yang lain dalam hal hindar menghindar.
"Kalian lindungi saja Bara. Aku akan bisa melindungi diriku sendiri!" ucap Eil.
Bara sebenarnya tidak setuju. Tapi kalau sampai dia mendebat Eil sekarang, mereka bisa saja mati di tangan Belle dan Jay.
Lambat laun orang-orang dari pihak Belle mulai tumbang satu persatu. Mereka ambruk di atas rerumputan hijau.
Bara hilang fokus, dia kehilangan jejak Eileria. Wanita itu hilang entah kemana. Pergerakan nya sangat cepat, kalau Bara tidak jeli dan tidak memperhatikan Eil barang beberapa detik saja, wanita itu pasti akan langsung menghilang dari pandangannya.
"Cari Azalea!" titah Bara pada orang-orang nya. "Tim Tiger, kalian maju!"
Bara kembali menyisir area yang dia lewati setelah memberi perintah pada tim lain yang tadi sudah dia siapkan. Eil pergi dari sisinya. Itu artinya dia sudah harus bergerak lebih cepat. Eileria selain cekatan juga sangat terburu-buru. Dia takut Eil berbuat nekat dan malah membahayakan dirinya sendiri.
Dor....
Dor...
Dor...
Suara tembakan di dalam rumah itu membuat Bara sedikit terkejut. Dia langsung berlari menuju sumber suara. Apa yang terjadi. Siapa yang tertembak, kenapa keadaan menjadi sangat hening. Eilnya baik-baik saja bukan?
"Eileria!" teriak Bara ketika melihat wanita yang dia cintai tergeletak di atas lantai. Di sana juga ada Belle dan Jay yang berpenampilan sama seperti Eileria. Mereka sama-sama berlumuran darah sampai darah yang keluar dari tubuh mereka menggenang seperti air banjir.
"Eileria, Eileria bangun sayang! bangun!"
Bara terus berteriak memanggil Eileria dan mencoba untuk menggoyangkan tubuh mungil itu.
Klak..
Suara sebuah pistol yang di tarik pelatuknya terdengar di belakang kepala Bara. Laki-laki itu ingin menoleh namun orang yang menodongkan pistol terus menekan pistol itu membuat Bara menggeram kesal. Laki-laki itu hanya bisa diam. Dia mengangkat kedua tangannya ke atas menandakan dirinya yang telah mengaku kalah dan minta ampun pada orang yang sedang menodongkan senjata itu.
"Katakan di mana letak perkebunan bungan yang kau tanami itu? jika kau mengatakan nya aku akan melepaskan mu dan juga wanita itu. Dia masih hidup, tapi kalau aku menembak nya sekali lagi, dia akan mati saat ini juga. Bukankah kau sangat mencintai nya?"
Bara menautkan kedua alisnya. Dia tahu, dia mengenal suara ini. Bukankah ini adalah suara orang yang selama ini selalu berada di sisi Eileria?
Beberapa menit yang lalu.
Eileria memasuki area bangun yang sudah tidak berbentuk itu dengan langkah ringan. Dia menelisik setiap sudut rumah untuk mencari sosok Belle dan Jay. Tepat saat dia ingin berbalik, sebuah pistol menempel di kepalanya.
Klak
Dor...
Dor....
Eileria membuka matanya yang tadi terpejam. Dia menoleh ke belakang dan matanya langsung bertemu dengan mata Dragon. Dragon menatap matanya sengit. Eileria melirik tubuh Belle dan Jay yang sudah tergeletak dengan jidat yang berlubang. Mereka sudah mati, dan yang melenyapkan mereka adalah Dragon. Tapi sejak kapan laki-laki itu ada di sini. Bukankah dia tidak tahu apapun tentang Belle dan Jay?
"Dragon!" gumam Eileria.
Dor...
Sebuah tembakan Dragon lepaskan dari pistol nya. Eileria yang tidak waspada dan tidak menduga kalau hal ini akan terjadi langsung ambruk di atas lantai kumuh itu karena sebuah peluru menerobos paha bagian dalam nya membuat Eil langsung tidak bisa berdiri.
"Kau bajingan Dragon. Aku pikir kau adalah orang baik-baik. Ternyata aku salah."
Dor...
Eileria langsung kehilangan kesadaran begitu Dragon menembakan satu pelurunya lagi di lengan Eil. Dari cara Dragon menyerang Eileria, sepertinya dia tidak berniat untuk membuat Eileria mati. Dia hanya ingin membuat Eil lumpuh dan tidak bisa bergerak.
"Maafkan aku Eileria," gumam Dragon sebelum bersembunyi di balik tembok yang tak jauh dari tempat Eileria tergeletak.
****
"Jadi di mana kau menanam semua bunga itu Bara? katakan atau aku akan menembak mati wanita itu!"
Bara mengepalkan kedua tangannya. Sungguh, saat ini dia ingin membunuh dan mencabik-cabik Dragon dengan kukunya. Dia bisa saja melawan kalau Dragon tidak mengancamnya. Eileria sangat penting untuknya. Dia tidak bisa membiarkan wanita itu kehilangan nyawa karena keegoisan nya.
"Itu ada di pulau Nami Dragon. Kau bisa pergi ke sana."
"Apa buktinya kalau pulau itu memang benar-benar ada Bara?"
Bara mengeluarkan sebuah kartu dari dalam saku jaketnya. Dia menyerahkan kartu itu kepada Dragon meskipun tubuhnya dan kepalanya tidak menghadap laki-laki gila itu.
"Kau tinggal menyerahkan kartu ini kepada penjaga di sana. Mereka akan langsung membawamu ke perkebunan bunga yang sangat kau inginkan itu."
Dragon tersenyum menyeringai. Dia mengambil kartu itu lalu beranjak pergi dari sana. Namun sebelum dia benar-benar pergi, dia kembali berbalik dan..
Dor...
Satu tembakan Dragon loloskan melewati bahu Bara. Bara meringis dia memegangi bahunya yang mulai mengeluarkan darah.
"Bajingan kau Dragon!"
Bara berteriak. Dia kembali merengkuh tubuh Eil hendak membawaa nya kembali ke dalam helikopter. Namun, karena tembakan yang di berikan Dragon cukup fatal, tangannya lemah, kekuatan dari tangan itu mendadak menghilang.
"Kau benar-benar bajingan Dragon, kau bajingan," teriak Bara melong-long seperti seekor anjing yang mengaum di tengah malam.
Sementara Dragon, dia tersenyum cerah. Sebuah helikopter terbang setelah laki-laki itu menaiki helikopter itu.
"Aku yakin kalian tidak akan mati hanya karena tembakan seperti itu."
...To Be Continued....