
Brakkkk.... Eil mencengkram kuat gelas yang ada di tangannya lalu memukul kan gelas itu ke atas meja sampai gelas itu hancur berkeping-keping. Eil sama sekali tidak memperdulikan tangannya yang sudah berlumuran darah. Dia merasa sangat kecewa kepada Dragon, kenapa laki-laki paruh baya ini tidak menceritakan semuanya sejak awal. Padahal Dragon juga sangat tahu bagaimana obsesi Bara untuk memilikinya. Apa Dragon sengaja menjadikan Eil sebagai umpan.
"Kau!" geram Dragon dengan mata yang sudah berkilat marah. Bukannya takut Eil malah membalas tatapan itu membuat suasana yang tadinya sudah hangat malah semakin memanas seperti susana di dalam sauna yang terbakar.
Brugghhhh, Dragon menendang meja yang ada di hadapannya... Sruuuuukkkkk... Bughhh... Eil menahan meja yang di tendang Dragon dengan kedua tangannya. Dia langsung menarik ujung kaos yang dia kenakan sampai kaos itu terkoyak. Setelah berhasil menemui titik tumpu jahitannya, Eil menghentakkan sobekan kaos itu sampai benar-benar terlepas dari bagian kaos yang dia pakai. Setelah membalut tangannya, Eil memulai melakukan ancang-ancang untuk menghajar Dragon.
Dragon tersenyum bahagia menerima setiap serangan dari Eil. Gerakan Eil memang sangat lincah, entah karena badannya yang langsing dan mungil atau bagaimana sampai dia bisa mengeluarkan berbagai jurus peringan tubuh.
Jerome hanya bisa memperhatikan kedua orang yang sedang berkelahi itu. Dia bahkan sesekali di buat ternganga dengan gerakan-gerakan yang Eil lakukan. Bahkan saat tubuh Eil berputar di atas udara pun, wanita itu terlihat sangat mahir dan tidak menunjukan ekspresi. Wajahnya dingin, hanya matanya saja yang berkilat menunjukan sebuah amarah.
Setttt ... Brukkkkk.... Eil membanting tubuh Dragon ke atas lantai. Dia ingin mencekik Dragon, tapi Jerome menghentikannya. Bagi Jerome ini sudah sangat keterlaluan, kalau sampai dia membiarkan mereka terus berkelahi, mungkin salah satu dari mereka akan mati di tempat itu.
"Hentikan Eil!" ucap Jerome sambil menarik bahu Eileria. Mau tidak mau Eil menghentikan kegiatannya. Tidak sia-sia dia membawa Jerome bersamanya, kalau tidak, Dragon pasti sudah mati di tangannya saat ini juga.
Dragon terkekeh. Jerome melepaskan Eil lalu membantu Dragon untuk segera berdiri. Laki-laki paruh baya ini tumbang di tangan Eil, padahal perawakannya tinggi besar. Apalah jadinya jika dia yang bertarung dengan wanita pembunuh ini, dia pasti sudah hancur berkeping-keping.
"Ternyata kau masih lihai Lea. Aku tahu, selama ini orang-orang di dalam organisasi selalu menyebutmu si mata elang dan telinga rubah. Kau memang pantas menerima julukan itu. Matamu sangat jeli, dan telingamu juga sangat sensitif. Aku suka itu," ucap Dragon. Dia kembali duduk di kursinya. Sementara Eil malah memalingkan wajahnya karena terlalu kesal kepada Dragon.
"Sebenarnya aku hanya sedang menguji mu Eil, aku hanya ingin tahu, apa keahlian mu akan berkurang jika kau sudah memiliki kelemahan, dan aku sangat mengapresiasi kemampuanmu yang luar biasa itu. Aku sengaja membiarkan mu tahu sendiri tentang apa yang di lakukan Bara, aku ingin kau menjadi lebih waspada dan lebih hati-hati. Orang-orang seperti Bara itu memang tidak bisa kau abaikan, hanya saja, untuk menanganinya kau sangat butuh sebuah kesabaran dan juga sewaktu-waktu dia bisa mengancam keselamatan suamimu."
"Jadi apa yang kau inginkan dariku Dragon?" tanya Eil.
"Aku minta, kau retas jaringan kemanan di sisi Bara. Aku curiga kalau selama ini dia tidak hanya memiliki bisnis mobil mewah itu, ada sesuatu yang lebih besar di baliknya . Dan aku yakin, dia hanya menggunakan perusahaan yang dia miliki sebagai topeng dari usaha lain yang lebih besar."
Eil mengangguk paham. "Biarkan Jerome bekerja bersamaku."
"Hmmmm, kau boleh mengambilnya," ucap Dragon singkat.
Eil mulai melangkahkan kakinya untuk pergi dari ruangan Dragon, tapi sebelum dia melewati pintu, dia kembali berbalik. "Maaf untuk lukamu Dragon," ucapnya singkat. Jerome yang kala itu mengikuti Eil dari belakang lantas membungkukkan badannya ke arah Dragon. Dragon hanya mengangguk dan mengibaskan tangannya seolah dia mengatakan kalau Jerome harus segera mengikuti Azalea.
"Kau memang wanita bar-bar Lea," ucap Dragon sambil menyeka darah di sudut bibirnya.
Sementara di luar bangunan itu, Jerome dan Eil hendak masuk ke dalam mobilnya. Namun, sebelum Eil membuka pintu mobil, dia membalikan badannya untuk melihat Jerome.
"Terimakasih untuk hari ini Jerome, dan ya aku akan mengabarimu jika ada sesuatu yang harus kau kerjakan."
Jerome mengangguk. Dia memang harus mematuhi setiap perintah atasannya bukan? lagipula Eil juga berada si pihak yang benar menurut Jerome.
" Apa tanganmu baik-baik saja?" tanya Jerome.
"Eil tunggu!" cegah Jerome ketika melihat Eil akan masuk ke dalam mobilnya.
"Ada apa Jerome?" tanya Eil.
"Amber menanyakan mu, dia mengira kau sudah tidak mau menemuinya lagi."
Eil terlihat menepuk jidatnya. Karena akhir-akhir ini dia sibuk, dia sampai lupa kalau dia sudah lama tidak menghubungi Amber.
"Sampaikan maaf ku padanya Jerome, aku akan menghubunginya nanti."
Setelah selesai dengan urusan mereka, Eil maupun Jerome langsung pergi dari tempat Dragon. Ya, mereka memang akan langsung pulang ke rumah mereka masing-masing. Hari ini Nathan mengatakan kalau dia akan lembur, mungkin saja laki-laki tampan itu belum pulang.
Seperti biasa, sebelum sampai ke mansion, Eil berganti pakaian dulu di dalam mobil. Lagi-lagi dia di buat pusing karena harus memikirkan alasan kenapa tangannya bisa terluka.
"Sepertinya aku harus mulai belajar akting," gumam Eil sambil mengganti kaos dan juga celana jeans yang tadi dia kenakan dengan sebuah dres dia atas lutut. Dia bahkan sudah melepas ikat rambutnya dan mengibaskan rambutnya kebelakang agar rambutnya itu tidak kusut.
Tiga puluh menit kemudian Eil sudah sampai di ruang bawah tanah mansion milik suaminya. Sebelum turun dari mobil, Eil mengecek kemanan barang-barang yang ada di dalam mobil itu. Kalau sampai ada barang yang terlihat dari luar, mungkin saja penyamaran yang dia lakukan selama ini akan langsung terbongkar.
Eil menoleh saat pintu ruang bawah tanah terbuka, dia yakin, itu pasti suaminya. Dan benar dugaan Eil, hidrolik yang tadi naik ke atas kini turun lagi dan membawa sebuah mobil mewah Bugatti milik suaminya masuk ke dalam kandang.
Eil menunggu Nathan dengan sabar. Dia memasukan kunci mobilnya kedalam tas dan langsung bersiap untuk memeluk suaminya.
"Baby!" panggil Nathan saat dia keluar dari dalam mobil. Dia langsung menghampiri Eil dan mengecup bibir istrinya itu sekilas.
"Kau juga baru pulang?" tanya Nathan.
Eil mengangguk. Dia mengeratkan pelukannya pada Nathan. Wangi tubuh suaminya ini selalu membuatnya mabuk kepayang dan ingin terus menempel seperti seekor anak kola yang masih dalam pengasuhan ibunya.
"Nathan!" panggil Eil lembut.
"Yes Baby."
Eil menghela nafas panjang lalu menghembuskan-nya perlahan. Dia sebenarnya merasa takut untuk mengatakan ini kepada Nathan, tapi daripada harus membuat Nathan lebih khawatir, lebih baik dia menceritakan semuanya lebih dulu.
"Tangan ku terluka," ucap Eil sambil mengangkat tangan kanannya di depan wajah Nathan. Dia bahkan audah memasang wajah sedih dengan mata yang berkaca-kaca.
...To Be Continued....