The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Hanya Sebuah Kesalahan



"Apa aku kurang cantik sampai Kakak tidak menyukai ku?"


Lukas terdiam. Amber bukan tidak cantik, tapi Lukas sudah mencintai orang lain. Lalu apa yang harus dia katakan? alasan apa yang harus dia buat supaya Amber tidak terluka mendengar ucapannya.


Amber tersenyum kecut ketika melihat Lukas diam tidak mengatakan apapun.


"Pergilah Kak! aku tahu kau tidak mencintai ku. Aku mengerti. Yang kau sukai Kak Eil bukan? tapi dia Kakak ipar mu Kak. Dia istri dari Kakak mu."


Amber langsung berdiri. Dia berdiri di atas kursi lalu menarik kerah baju yang di kenakan Lukas dan mencium bibir laki-laki itu dengan paksa. Bibir ranumnya memaksa menciumi bibir Lukas yang masih diam tidak melakukan pergerakan. Laki-laki itu juga tidak berusaha untuk melepaskan tautan yang Amber lakukan.


Perlahan Lukas yang terbawa suasana ikut membalas ci um an dan lu matan yang di lakukan Amber padanya. Mungkin karena alkohol yang dia minum, otak nya agak sedikit eror. Dia menarik tengkuk Amber dan melahap habis bibir wanita cantik itu, setelah dia puas melakukannya dalam posisi berdiri, kini Lukas menarik paha Amber. Dia mengangkat paha teratas wanita cantik itu lalu mengangkat nya dan membawanya ke dalam gendongannya.


Lukas membopong tubuh itu, dia memojokkan punggung Amber ke dinding. Lima menit berlalu, Lukas kembali memangku Amber danenduduka nya di atas piano yang ada di ruangan bersantai milik Sulli.


"Apa kau mau melakukannya dengan ku?" Bisik Amber di telinga Lukas. Laki-laki diam untuk sejenak. Menit berikutnya, mereka sudah ada di dalam kamar mandi yang terletak di dekat ruang tamu.


"Apa kau yakin kau mau melakukannya dengan ku?" tanya Lukas pada Amber. Amber mengangguk dengan mantap. Dia sudah menunggu ini cukup lama. Dan lagi, kalau dengan cara ini dia bisa mendapatkan cinta dari seorang Lukas, dia akan melakukannya. Dia rela melepaskan segalanya demi Lukas.


Secara perlahan baju yang di kenakan Amber mulai di tanggalkan satu persatu. Ketika semuanya lepas, Lukas memperhatikan setiap lekuk tubuh Amber dari atas sampai bawah. Laki-laki ini hampir meneteskan air liurnya. Bodi Amber sangat pas, segala bagian yang harus di tonjolkan menonjol dengan sangat baik dan sangat pas.


"Aku mencintaimu Lukas," guamam Amber sebelum dia menuntun Lukas untuk melakukan penyatuan. Amber mengigit bahu Lukas ketika sesuatu yang besar mencoba untuk menerobos masuk ke bagian intinya. Dia ingin menjerit tapi dia segan, alhasil dia hanya bisa menggigit bahu Lukas untuk meredam suara jeritannya.


"Apa ini sakit?" tanya Lukas. Dia ingin mengurungkan niatnya namun Amber menahan Lukas dengan menggenggam erat tongkat kebanggaan Lukas dan mencoba untuk memasukannya sendiri.


"Ini sangat besar, bagaimana mungkin ini akan masuk, ke dalam tubuh bagian bawah ku?" gumam Amber dalam hati.


"Relax! aku akan melakukannya dalam satu kali hentakan," ucap Lukas, dia mengecup kening Amber sekilas sebelum dia benar-benar membobol gawang gadis itu.


****


Keesokan paginya susana di dalam apartemen itu terlihat sangat kacau. Botol minuman, bahkan gelas nya juga berserakan di mana-mana. Belum lagi camilan yang berceceran di atas lantai. Apartemen ini lebih terlihat seperti sebuah rumah yang sudah lama kosong daripada hunian baru.


Di satu sisi kamar. Seorang wanita membuka matanya perlahan. Dia memiringkan tubuhnya untuk melihat laki-laki tampan yang sedang tertidur di sampingnya dengan lelap, tidak, dia bukan cuma lelap tapi sangat lelap. Bahkan ketika wanita itu meraba seluruh permukaan wajahnya, laki-laki itu masih tidak bergeming.


"Bangunlah! ini sudah hampir siang. Apa kau tidak takut orang rumah mencarimu!" bisik wanita itu pelan. Saking pelannya, orang yang di bisiki bukan nya bangun malah semakin menyamankan posisi tidurnya. Mungkin dia merasa kalau kalimat yang baru saja dia dengar adalah alunan musik klasik yang membuat tidur seseorang terasa lebih nyaman.


Wanita itu tersenyum tat kala sepasang tangan kekar menulusup dari balik selimut dan menarik pinggang polosnya sampai tubuh bagian depannya dan tubuh bagian depan laki-laki itu menempel kembali.


Suhu panas yang menjalar di permukaan kulit sang pangeran tidur membuatnya merasakan sesuatu yang aneh. Alisnya bertaut , matanya perlahan terbuka. Dan yang pertama kali dia lihat adalah sepasang mata coklat yang bening dan besar membuatnya terlaku untuk beberapa saat.


"Morning Honey!" ucap Sulli dengan senyuman yang lebar. Dia masih menatap lekat Jerome yang sedang menatapnya juga, hanya saja tatapan Jerome bukan tatapan berbinar melainkan tatapan bingung dan terkejut.


Nathan yang masih terlelap langsung bangun dan terduduk sambil bertelanjang dada. Dia ingin turun dari atas ranjang tapi Eil menarik tangannya dan meminta Nathan intuk kembali berbaring.


"Tetaplah di sini Nathan! kau itu jangan mencampuri urusan orang lain. Mereka sudah dewasa. Biarkan merekaenyelesaikan urusannya masing-masing."


"Tapi sepertinya ada yang tidak beres di kamar sebelah Baby. Kita harus memeriksanya."


"Itu Sulli, dan yang barusan berteriak adalah Jerome. Aku yakin mereka baik-baik saja. Percayalah padaku!" ucap Eileria lagi.


Nathan menurut. Dia kembali meringsut ke dalam selimut dan memeluk Eil dengan erat. Laki-laki itu mengecup bibir dan kening Eil bergantian.


"Tidurlah lagi! maaf karena aku membangunkan mu!"


Eil menggeleng. Dia membalas pelukan Nathan lalu kembali terlelap. Hari ini dia ingin bermalas-malasan dan hanya ingin bermanja pada suaminya. Dia juga berencana akan menemani Sulli jalan-jalan di sekitar an kota Paris.


****


"Apa yang kau lakukan di sini Sulli?" teriak Jerome yang mulai mengenakan boxer juga celananya.


Sulli malah menopang kepala dengan tangannya sambil menatap Jerome penuh damba.


"Kau bertingkah seolah kau tidak menyukai tubuhku Jerome. Padahal semalam kau sangat menikmatinya."


Jerome memalingkan wajahnya. Selimut yang di gunakan Sulli merosot membuat buah dadanya menggantung dengan indah di hadapan Jerome.


"Aku anggap ini hanya kecelakaan. Kita tidak ada hubungan apapun lagi setelah ini."


Sulli tersenyum sinis. "Kita lihat saja. Setelah ini kau masih bisa mengabaikan ku atau tidak Jerome," ucap Sulli. Dia kembali merebahkan tubuhnya. Matanya menatap kurus lampu yang ada di langit-langit kamarnya.


Blammmm...


Pintu kamar itu di banting dengan kasar oleh Jerome. Sulli sama sekali tidak tersinggung. Ini wajar, Jerome sudah tidak menyukainya sejak awal. Jadi dia sudah mengantisipasi ini. Lagipula ini hanya permulaan. Dia akan membuat Jerome bertekuk lutut di hadapannya.


Di luar kamar Sulli, Jerome mencari sosok adik kesayangannya. Dia sudah memperhatikan seluruh ruangan yang ada di sana, tapi Amber tidak ada.


"Kau di mana Amber?"....


...To Be Continued....