
Sebelum mulai baca.. Jangan lupa jempolnya ya.. Kasih ratting 5 kalau kalian menyukai cerita ini. Dan author rengginang ini akan sangat bahagia kalau kalian mau nabur bunga juga..
Happy reading semuanya..
Nathan sedang asyik memperhatikan Eil yang tengah menyantap makan siangnya. Bibirnya tersenyum tipis saat Eil makan dengan begitu lahap. Istri kecilnya ini memang sangat suka makan. Tapi apa selama Nathan pergi dia tidak makan dengan baik sampai dia makan dengan begitu lahapnya. Bahkan Nathan sempat menyodorkan jatah makan siangnya. Dan dengan santainya Eil mengambil piring yang di sodorkan Nathan sambil senyum Pepsodent.
"Pelan-pelan," ucap Nathan. Dia mengangkat tangannya lalu menyeka noda sisa makanan di sudut bibir istri kecilnya itu. "Apa selama ini kau tidak makan dengan baik?" tanya Nathan.
Eil mengangguk. Dia memasukan suapan terakhir ke dalam mulutnya lalu menyeka bibirnya dengan serbet yang sudah di siapkan pihak restoran. Eil mengambil air minum lalu meminumnya sebelum dia menceritakan apa yang memang harus dia ceritakan kepada Nathan.
"Selama kau pergi aku memang tidak berselera makan Nathan. Apalagi beberapa hari terakhir ini. Kau ingkar janji, kau bilang kau akan pulang dengan cepat, tapi ini malah tidak sesuai dengan apa yang sebelumnya kau janjikan padaku. Kau telat 3 hari Nathan," cerocos Eil sambil memanyunkan bibirnya kesal. Iya, tadi Eil sempat lupa dengan niat awalnya. Eil berencana akan memarahi dan menghajar Nathan ketika suaminya itu pulang. Tapi saat dia melihat Nathan dia malah lupa diri dan langsung menghambur ke pelukan sang suami.
Nathan mengulurkan tangannya, dia menggenggam tangan Eileria lalu mengecupnya sekilas. "Maafkan aku Eil. Aku sebenarnya ingin cepat pulang. Tapi klien nya Lukas itu sangat rewel. Alhasil jadwal semua orang molor ke mana-mana. Andai ini adalah klien ku, aku pasti akan langsung meninggalkan nya dan tidak akan mau bekerja sama lagi dengan orang seperti itu. Aku sangat merindukanmu Baby, karena itu setelah kembali, aku tidak langsung pulang ke mansion. Aku harus menemui istri cantik ku dulu."
Pipi Eil merona. Dia yang pada awalnya berniat untuk melanjutkan rencana awalnya kini malah tidak kuasa untuk tidak tersenyum. "Kau itu keterlaluan Nathan. Seharusnya kau menghubungiku kalau kau akan datang ke rumah sakit. Bagaimana kalau aku sedang ada jadwal operasi? kau tidak akan bisa menemui ku seperti sekarang."
"Aku akan menunggumu."
"Azalea!".......Panggil seseorang. Eil menoleh ke arah sumber suara.
"Kau memanggil siapa Jerome?" tanya Eil . Dia merubah sorot matanya. Jerome yang seakan mengerti dengan apa yang sedang Eil lakukan lantas menggaruk tengkuknya bertingkah seperti seseorang yang bodoh.
"Akh maaf. Aku salah orang. Aku pikir tadi kau adalah teman wanitaku, maaf," ucap Jerome sambil membungkuk kan badan nya. Nathan yang melihat itu menatap Jerome tidak suka. Di rumah sakit ada Daniel, di rumahnya ada Lukas dan di luar ada Jerome. Kenapa istrinya ini selalu di kelilingi laki-laki yang selalu berusaha untuk mendekatinya.
"Dia Jerome Nathan. Kau juga pernah bertemu dengannya bukan? dia kakak nya Amber." Nathan hanya mengangguk. Dia malas untuk menanggapi Jerome. Sudah cukup di buat panas oleh Daniel, jangan sampai Jerome juga melakukan hal yang sama.
Jerome yang melihat raut tidak suka di wajah Nathan langsung undur diri. Dia tidak ingin menjadi obat nyamuk di antara Eil dan juga suaminya. Anggaplah dia bodoh karena salah menyebut nama Eil. Tapi dia pikir Nathan tahu seluk-beluk Eil, tapi jika di lihat dari ekspresi Eil, sepertinya wanita cantik itu memang belum memberi tahu Nathan tentang jati dirinya yang sebenarnya. Tapi ya sudahlah.. Memikirkan nasibnya saja dia sudah pusing, kenapa dia harus memikirkan nasib orang lain. Orang-orang seperti dia dan Eileria memang tidak mungkin memiliki kehidupan yang mudah. Meskipun orang-orang yang mereka bunuh bukanlah orang-orang baik, tapi membunuh orang tetaplah tindakan kriminal bukan? siapa yang akan menganggap hal seperti itu hal biasa. Hanya segelintir orang yang mau menerima pasangan mereka saat mereka tahu sisi gelap dari pasangannya tersebut.
"Nathan!" panggil Eil lembut. Laki-laki yang ada di hadapannya hanya diam sambil memutar-mutar sendok kecil di dalam gelas teh yang tadi dia pesan.
"Nathan!" panggil Eil lagi..
"Heum..."
"Tidak."
"Eiishhhh... Kau cemburu kan?" tuduh Eil sambil mendekatkan wajahnya dan menatap suaminya lekat. Nathan masih tidak bergeming. Eil yang melihat itu langsung berdiri lalu duduk di sebuah kursi yang ada di samping suaminya.
"Nathan," panggil Eil sambil menangkup wajah Nathan. "Aku tahu kau marah. Jangan seperti ini, aku akan memasuki ruang operasi sebentar lagi, kau mau membuatku menjadi tidak fokus hmmm?"
Nathan akhirnya menatap Eil, dia memegang tangan Eil yang sejak tadi sudah menempel di kedua sisi pipinya. "Aku tidak marah padamu Eil. Aku hanya tidak suka melihat Daniel dan Jerome terlalu dekat dengan mu. Aku ini suamimu, wajar bukan kalau aku memiliki perasan seperti ini?"
Eil tersenyum. Tentu saja wajar Nathan cemburu pada Daniel dan Jerome, tapi kalau sampai cemburunya terlalu berlebihan, Eil akan kesulitan untuk beraktivitas. Eil tahu bagaimana rasanya di bakar api cemburu, tapi keadaan nya berbeda sekarang, Daniel adalah partner kerjanya. Sementara Jerome sudah memiliki nama wanita lain di dalam hatinya. Eil tidak mungkin mengkhianati Nathan, dia sangat mencintai suaminya.
"Nathan dengarkan aku, aku tidak akan mungkin mengkhianati mu. Kau itu suamiku, aku janji aku tidak akan pernah tergoda oleh laki-laki manapun. Hanya kau yang akan ada di dalam hatiku, dan hanya kau yang bisa menyentuhku. Aku tidak bisa menjauhi Daniel karena hanya dialah dokter spesialis bedah jantung yang aku percaya, sementara Jerome, dia hanya Kakak dari teman ku. Hubungan kami tidak sebaik itu."
Nathan akhirnya mengalah. Dia menarik Eil lalu memeluk tubuh mungil itu penuh kasih sayang. Nathan sudah tidak ingin berpisah dengan Eil lagi, dia akan mempertahankan apa yang memang sudah menjadi miliknya. Dia tidak akan membiarkan siapapun merebut Eil darinya.
Tiga puluh menit kemudian, Eil sudah kembali ke rumah sakit, sementara Nathan langsung pulang ke mansionnya untuk beristirahat. Eil memincingkan matanya saat dia melihat Belle berjalan menuju lift yang pintunya masih belum tertutup.
Eil tersenyum. Setttt... Byurrrrr....
"Akhhhh.... " Belle memekik saat kopi yang dia bawa malah tumpah ke bajunya. Tadinya dia hendak pura-pura tersandung dengan kakinya sendiri lalu akan menumpahkan kopi di baju Eil. Sayang, rencananya malah berbalik pada dirinya sendiri karena Eil langsung menghindar sesaat sebelum dia bisa meraih pundak Eil.
"Are you oke?" tanya Eil dengan senyum merekah. Dia jelas-jelas tahu kalau Belle sengaja ingin membuat masalah dengannya. Belle pikir dia sangat pintar sampai Eil tidak akan mengetahui rencana busuknya.
"Cihhh... Aku baik-baik saja," dengus Belle sambil membersihkan sisa-sisa kopi yang ada di baju bagian atasnya.
Ting... Pintu lift terbuka...
"Awas kau Eil, wanita licik sepertimu tidak akan bisa menang melawan ku," geram Belle saat melihat punggung Eil yang mulai menjauh dari pandangan matanya.
...To Be Continued....
...Hai reader. Jangan lupa like nya ya.. Komen juga kalau ada waktu. Author bakal seneng banget kalau kalian mau mengapresiasi karya remahan author ini. Semoga kalian sehat selalu. Terimakasih......