The Veil of Eileria

The Veil of Eileria
Mengundurkan Diri



"Apa dia menjawab panggilan darimu Nathan?"


Nathan menggeleng. Dia masih berusaha untuk menghubungi Max.


"Dia menjawab," ucap Nathan. Eileria tersenyum sumringah. Dia meminta Nathan untuk menyerahkan ponsel padanya.


Di sisi yang lain.


"Tuan maaf, ada panggilan dari Tuan Nathan. Sepertinya ini penting, beliau sudah menghubungi saya sejak tadi."


Bara yang sedang menjelaskan sesuatu pada karyawannya mendadak berhenti dan langsung mengambil ponsel Max. Dia berjalan ke arah dinding kaca yang ada di ruangan itu.


"Ada apa Eil?" tanya Bara menjauhkan ponselnya. Dia menatap wanita cantik yang sedang mengerucutkan bibirnya. Bara di buat gemas dengan tingkah manja Eileria. Dia tersenyum lebar membuat para karyawan yang ada di ruangan itu dibuat terheran-heran.


Selama mereka ada didekat Bara, mereka belum pernah melihat senyum tulus Bara. Yang mereka tahu, Bara itu adalah orang yang tegas dan sangat jarang tersenyum.


"Ternyata Pak Bara memiliki sisi lembut seperti ini. Beruntunglah wanita yang mendapat kasih sayang Pak Bara," ucap salah seorang karyawan pada karyawan yang lain.


"Kau belum makan?" tanya Bara pada Eilaria.


Wanita itu menggeleng. "Aku tadi mencari mu, tetapi kau tidak ada. Kenapa tidak mengatakan apapun sebelum kau pergi. Kau juga tidak menjawab panggilan dariku. Kau sudah tidak menyayangi ku Bara?"


Bara terkekeh. Suatu keajaiban untuknya bisa melihat dan merasakan Eil yang begitu manja padanya. Meskipun wanita cantik itu sangat menyukai suaminya, Bara merasa dia sudah cukup bahagia karena Eil sudah mau menganggap keberadaannya.


"Aku tadi sedang rapat Eil. Sekarang juga aku masih belum selesai. Aku akan langsung pulang setelah semua pekerjaan ku selesai. Kau makan dulu ya! Kasihan bayi yang ada di dalam perut mu. Kau tega membuatnya kelaparan hmm?"


Wanita yang ada di sebrang telepon mengangguk. Dia mengatakan kalau dia akan makan dengan baik. Setelah melihat Bara, Eil merasa sangat bahagia dan kini dia bisa makan dengan lahap.


"Kalau begitu kembalilah bekerja Bara! Nathan akan menyuapiku sekarang. Dia sangat baik bukan?"


Eileria melihat Bara mengangguk. Dia tersenyum lalu melambaikan tangannya. Wanita cantik itu kembali sumringah setelah berjam-jam murung sampai Nathan di buat bingung harus melakukan apa.


"Sekarang makan ya!" ucap Nathan mengambil pegangan kursi roda yang diduduki Eil lalu mendorongnya mendekat ke meja makan.


"Aku mau makan yang banyak Nathan."


Nathan mengangguk. Dia memutar kursi roda membuat kursi roda dan orang yang mendudukinya menghadap ke arahnya.


"Makan perlahan," ucap Nathan sambil menyuapkan makanan ke mulut istri kecilnya.


"Nathan apa kau atasan mu tidak marah? Sudah beberapa minggu ini aku tidak melihat mu bekerja. Dia tidak memecat mu bukan?"


Eileria berbicara masih dengan mulut yang penuh dengan makanan. Dia memperhatikan wajah Nathan lekat. Laki-laki yang ditatap mendadak diam. Nathan menyimpan piringnya di atas meja. Dia menarik tangan Eileria dan mengelus punggung tangan mungil itu perlahan.


"Aku akan mengatakan sesuatu padamu Baby. Tetapi, jangan marah. Aku sengaja melakukan ini karena aku tidak ingin kehilangan dirimu untuk yang ke sekian kalinya."


Kembali ke masa di mana Nathan memenuhi panggilan dari atasannya. Laki-laki itu berjalan masuk ke kantor pusat tempatnya bekerja. Dia membungkuk kepada beberapa orang yang membungkuk pada Nathan.


Tok Tok Tok...


"Masuk!" ujar orang di dalam ruangan.


Nathan membuka pintu ruangan itu lalu masuk ke dalamnya.


Orang yang di panggil kapten oleh Nathan mendongakkan wajahnya menatap orang kepercayaannya berdiri di depan meja kerjanya.


"Duduklah terlebih dahulu!"


Nathan duduk. Dia menuruti apa yang dikatakan kaptennya padanya.


"Aku mendapat informasi kalau kau melakukan misi tanpa meminta persetujuan dari ku. Kau sudah melakukan pelanggaran yang sangat fatal Nathan. Seorang prajurit dengan sistem kerja komando seperti mu harusnya menurut dan menunggu perintah dari atasan mu. Tetapi kau malah membuat keputusan sendiri dan membuat kekacauan. Aku mendapat laporan kalau orang yang mati lebih dari 120 orang. Kau ingin membuat reputasi kita hancur hah?"


Nathan diam. Apa yang di katakan kaptennya memang benar. Dia melakukan kesalahan fatal. Meski orang-orang yang mati tidak semuanya dia dan timnya yang membunuh. Tetapi dia pantas dijadikan orang yang harus bertanggung jawab atas kejadian itu.


"Aku akan mengundurkan diri Kapten. Aku sudah tidak bisa bekerja di sini lagi."


Nathan menyodorkan sebuah amplop yang bertuliskan surat pengunduran diri. Nathan memang sudah mempersiapkan ini sejak beberapa hari yang lalu. Dia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya karena ingin fokus mengurus Eileria dan bayi uang ada di dalam perut istrinya.


"Apa yang kau lakukan Nathan!" Kapten itu menggebrak meja membuat Nathan memejamkan matanya untuk sesaat.


"Aku yang berhak memutuskan kau berhenti dari pekerjaan ini atau tidak. Kenapa kau membuat keputusan sendiri. Kau pikir kau berhak?"


"Keputusan ku sudah jelas Kapten. Aku sudah tidak bisa merubah keputusan ini. Istri ku sedang membutuhkan ku. Aku tidak bisa meninggalkannya untuk beberapa waktu ke depan."


Nathan berdiri dari kursinya. Dia membungkuk lalu berjalan menjauhi kaptennya yang sedang menatapnya dengan mata yang berkilat marah.


"Jangan sampai kau menyesal Nathan. Aku tidak akan pernah memberikan mu kesempatan untuk kembali."


Kapten itu berteriak dengan suara yang lantang. Sementara Nathan tidak memperdulikannya dan malah melengos pergi keluar dari ruangan kaptennya.


Semua orang yang ada di ruang kerja menghampiri Nathan yang sedang membereskan semua barangnya dan memasukannya ke dalam sebuah kardus dengan ukuran sedang. Dia tidak menjawab pertanyaan setiap orang yang menanyakan kenapa Nathan berhenti bekerja padahal dia sudah menjadi orang kepercayaan atasan mereka.


"Aku pamit," ucap Nathan. "Terima kasih karena kalian sudah memperlakukan ku dengan baik selam aku bekerja di sini."


Beberapa orang mengangguk lalu memeluk Nathan bergantian. Mereka sangat sedih melihat Nathan harus pergi dari kantor ini.


****


"Itulah yang terjadi Baby. Aku sudah yakin kalau aku akan fokus mengurus mu dan calon bayi kita mulai sekarang."


Mata Eileria berkaca-kaca. Dia yang bahagia mendengar Nathan berhenti dari pekerjaannya langsung melompat dan menghambur ke pelukan Nathan.


Nathan yang kala itu sangat terkejut langsung menangkap Eileria membuat mereka jatuh di atas lantai. Eileria menangis sesenggukan di dada Nathan. Dia tak henti-hentinya mengucapkan kata terima kasih dan maaf.


"Jangan seperti ini Baby! Aku melakukan ini atas keinginan ku sendiri. Kau tidak perlu minta maaf. Kau tidak salah."


Eileria menggeleng. Dia semakin mengeratkan pelukannya di leher sang suami. Suara tangisannya semakin lama semakin keras.


Nathan menepuk punggung Eileria perlahan. Dengan sangat sabar dia menenangkan istri kecilnya sampai istrinya lebih tenang.


"Aku mencintaimu Nathan."


"Aku lebih mencintaimu Baby."


...To Be Continued....