
"Kak!" panggil Amber pada Jerome.
Jerome masih mengacuhkan Amber. Dia sibuk memakan makanan yang ada di di atas meja.
"Kak!" panggil Amber untuk yang kesekian kalinya. Namun Jerome masih tidak menunjukan respon apapun.
Brakkkkkk..
Amber memukul piring yang sedang dia gunakan di atas meja. Jerome terkejut bukan main, bagaimana bisa Amber melakukan hal berbahaya seperti itu di hadapannya.
Jerome ingin memarahi Amber namun dia mengurungkan niatnya ketika melihat darah segar mengalir dari telapak tangan adik kesayangannya itu.
"Apa yang kau lakukan Amber?" teriak Jerome marah.
Amber tersenyum kecut. "Apa aku harus melukai diriku sendiri supaya Kakak mau berbicara padaku?" sarkas Amber. Wajah nya sudah memerah menahan amarah. Bukan hanya wajahnya, tapi matanya juga sudah merah karena Amber sudah sangat ingin menangis sejak tadi.
Jerome tidak menjawab Amber. Dia berlari untuk mencari kotak p3k.
Amber pasrah ketika Jerome menarik tangannya dan mulai membersihkan luka di tangan Amber dengan telaten.
"Apa kau membenciku Kak?" tanya Amber yang membuat Jerome menatapnya lekat.
"Apa yang kau Katakan Amber?" tanya Jerome dingin.
"Apa kau membenciku?" teriak Amber dengan air mata yang bercucuran. Jerome tersentak.
Cup...
Amber membeku. Dia membulatkan matanya dengan sempurna saat bibir Jerome menekan dalam bibirnya. Apa yang sedang terjadi? kenapa Jerome menyentuhnya seperti ini? bukankah mereka bersaudara? kalau hanya mengecup pipi dan yang lain mereka sudah biasa melakukan itu. Tapi ini? kenapa Jerome menciumnya di bibir?
Jerome melepaskan ci umannya. Dia memang hanya mengecup bibir Amber sekilas.
"Pergi ke kamar mu dan istirahatlah! jangan terus menanyakan hal-hal yang tidak penting. Aku tidak pernah membencimu Amber."
Setelah mengucapkan itu, Jerome melengos pergi ke kamarnya. Dia meruntuki dirinya sendiri yang kelepasan mencium Amber . Seharusnya dia tidak melakukan itu bukan? apa yang harus dia katakan kalau Amber mencecarnya dengan berbagai pertanyaan?
"Kau bodoh Jerome. Idiot, kenapa kau melakukan hal tidak senonoh kepada adikmu sendiri? brengsek kau."
Jerome menampar pipinya berkali-kali. Dia benar-benar di buat marah dengan apa yang telah dia lakukan pada Amber.
Sementara Jerome sedang marah-marah . Lain dengan Eil.
Dua minggu setelah pembantaian di mansion terjadi, semua masih berjalan normal. Eil sudah mulai beraktivitas seperti biasa meskipun dia masih belum kembali ke rumah sakit.
"Apa kau mendapatkan semua buktinya Dragon?" tanya Eil pada orang di sebrang telepon.
"Aku sudah mendapatkan beberapa Eil. Tapi sepertinya kita harus menunggu lebih lama lagi."
Eil menghela nafas panjang. Dia menutup telponnya tanpa mau mendengar penjelasan Dragon terlebih dahulu. Sudah terlalu lama baginya untuk menunggu. Dia sudah tidak tahan dan ingin segera membasmi kutu rambut seperti Bara.
Entah kenapa selama beberapa minggu terakhir setelah Eil menyimpan sebuah chip di dalam tubuh Bara, laki-laki itu seperti mengetahui sesuatu, pergerakan yang dia lakukan hanya berputar di sekitar perusahaan yang dia kelola.
"Apa mungkin Bara mengetahui sesuatu?" gumam Eil sambil berpikir cukup lama.
"Aku harus memastikannya," ucap Eil lagi. Dia bergegas menuju pintu setelah menyambar kunci mobil yang ada di atas lemari .
"Irene! kalau Nathan pulang, katakan aku keluar untuk menemui rekan kerjaku sebentar!" Eil berteriak sambil mengenakan sepatu boot kulit kesayangannya.
"Aku pergi!"
Blammmm...
Satu jam setelah berkendara, akhirnya Eil sampai di depan gedung perusahaan milik Bara. Dia sudah tidak menghampiri resepsionis. Para karyawan di sana pun sudah tahu kalau Eil adalah tamu istimewa tuan mereka.
Tok Tok Tok.
"Masuk!" sahut orang yang ada di dalam. Eil menarik nafas panjang lalu masuk ke ruangan Bara.
"Eil!" panggil Bara ketika wanita cantik yang selalu membuat tidurnya tidak nyaman ada di hadapannya. Lebih tepatnya wanita cantik itu sedang duduk di depan meja kerjanya.
"Aku ingin menanyakan sesuatu Bara!" ujar Eil to the point.
Bara memperhatikan Eil lekat. Dia tersenyum kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku jas yang dia kenakan.
"Apa kau mau menanyakan ini?" tanya Bara . Seringai di wajahnya membuat Eil sedikit bergidik. Dia lebih baik melihat Bara marah daripada harus melihat senyuman Iblis Bara. Laki-laki yang ada di hadapannya ini sangat menakutkan.
"Sejak kapan kau tahu kalau aku menanamkan itu di tubuh mu Bara?" ucap Eil, dia sama sekali tidak terkejut karena memang dia sudah menduganya sejak awal. Menumbangkan Bara memang bukan hal yang mudah.
"Kau tidak harus tahu kapan aku mengetahuinya. Yang jelas, sekarang suamimu pasti sedang menggeledah semua isi kamar Irene!"
Deg....
"Kau!" seloroh Eil. Dia langsung berdiri dan menatap Bara tajam.
"Kau tahu, lebih baik suamimu itu tahu kalau kau bukan wanita baik-baik Eil. Dengan begitu Nathan akan meninggalkan mu, setelah itu terjadi, datanglah kepadaku. Kita akan menikah, dan semuanya akan baik-baik saja Eil. Nathan itu tidak cocok untuk mu. Aku yang lebih cocok untuk wanita tangguh seperti mu. Nathan itu cupu."
Plakkkkkkk...
Eil melayangkan sebuah pukulan yang sangat keras di pipi Bara. Dia merasa sangat jengah mendengar taktik kotor yang di lakukan Bara untuk memilikinya. Apalagi ketika Bara menghina suaminya dengan mengatakan kalau Nathan itu cupu. Semakin membuncah lah amarah Eil.
"Kau gila Bara. Aku akan kembali untuk membunuhmu," teriak Eil. Dia berlari ke arah pintu dan segera keluar dari ruangan Bara.
Hati dan pikirannya sudah berkelana kemana mana. Dia sangat takut kalau Nathan akan mengetahui segalanya dari orang yang tidak seharusnya. Eil sudah bertekad kalau dia akan memberi tahu Nathan oleh dirinya sendiri. Kalau sampai Nathan tahu ini dari orang lain, mungkin hubungannya dan Nathan akan berakhir saat ini juga.
"Brengsek kau Bara," ucap Eil sambil memukul setirnya. "Kalau sampai Nathan tahu segalanya, aku akan membunuhmu."
Klik... Pintu apartemen itu terbuka setelah Eil memasukan sandi kemanannya.
Eil langsung masuk ke apartemen nya dan Nathan. "Aku harap aku lebih cepat darimu Nathan."
Dengan langkah tergesa Eil masuk. Dia bahkan tidak membuka sepatu yang dia pakai. Baginya menghilangkan barang bukti adalah hal utama yang harus dia lakukan. Dia harus segera masuk ke kamar Irene dan memindahkan semua barang-barang nya.
Tak....
Eil menghentikan langkahnya ketika sosok laki-laki yang sangat tidak ingin Eil lihat sekarang ada di hadapannya.
"Nathan!" gumam Eil dengan mata yang membulat sempurna.
...To Be Continued....
Author bingung nih.. Menurut kalian Amber baiknya sama Jerome apa sama Lukas sih?... Please kasih jawaban kalian di kolom komentar ya.... 🙏🤗
Thanks untuk dukungan yang selalu kalian berikan untuk Author Newbie ini...♥️🤗